Mengenal Akar Kuning dan Berbagai Khasiatnya

May 17, 2014

akar kuning

Nama lokal: Albutra, tali kuning, daun bulan (Indonesia); areuy ki koneng, oyod sirawanan (Jawa); peron (Jawa); uwas (Minahasa); gumi modoku (Halmahera); katola (Sulawesi Tenggara)

Nama asing: Yellow-fruited moonseed, abutra, albotra, alibodra, butl, lagtal, khamln khruea (Thailand); fu shan long (Cina)

Ikhtisar

Akar kuning merupakan tumbuhan liar yang umum ditemukan di pantai berbatu atau di tepi-tepi hutan, pada ketinggian 100 m sampai 1.000 m di atas permukaan laut. Kayu kuning dapat dijumpai tumbuh liar di hutan-hutan di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan sebagian di Papua. Sinonimnya Arcangelisia lemniscata, Arcangelisia loureiri, Anamirta flavescens, Anamirta lemniscata, Menispermum flavescens, Tuba flava, Cocculus flavascens, dan Menispermum flovum.Termasuk bangsa Ranuncuiales dan suku Menispermaceae.

Kandungan Kimia

Furanoditerpenold, fibaruretin B (dengan nama sistematik: 2ß,3α-dihydroxy-2,3,7,8α-tetrahydropenlanthic acid lactone), dan C20H24O7, diisolasi dari akar Arcangelisia flava. Empat furanoditerpene baru, 6-hydroxyarcangelisin (la), 2-dehydroarcangelisinol (2), tinophyllol (3a), dan 6-hydroxyfibleucin (4b), diisolasi dari Arcangelisia flava. Fibraurin (5a), 6-hydroxyfibraurin (5d) dan fibleucin (4a) juga teridentifikasi. Ekstrak batang Arcangelisia flava menghasilkan palmatine, berberlne, jatrorrhizine, dlhydroberberine, dan 20-hydroxyecdysone. Bagian akar tanaman akar kuning mengandung alkaloid, fenolhidrokuinon, steroid, tanin, dan saponin.

Pemanfaatan Akar Kuning

Buah akar kuning berwarna kuning, berbiji besar dan pipih dapat digunakan untuk membius ikan. Kayu mengandung berberina yang aktif sebagai zat pewarna kuning. Berberine yang terdapat pada kayu bagian dalam (tidak terlalu keras) mengandung 4,8% alkaloid yang menyebabkan rasa pahit. Batangnya yang mengandung berberine juga dapat dimanfaatkan sebagai pewarna pakaian. Kayunya yang berwarna kuning bermanfaat untuk mengobati penyakit kuning, pencernaan, cacingan, obat kuat/tonikum, demam, peluruh haid, dan sariawan.

Setyowati FM dan Wardah, peneliti Pusat Biologi LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), mengungkapkan dalam penelitiannya bahwa masyarakat Talang Mamak di sekitar Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Riau, menggunakan kayunya untuk obat. Namun, tidak disebutkan pemanfaatannya secara khusus untuk mengatasi penyakit tertentu. Peneliti Biologi LIPI lainnya yaitu Harini M Sangat menyebutkan 7 etnis di Indonesia memanfaatkan akar kuning untuk mengatasi penyakit kuning.

Kissinger bersama Thamrin GAR dan Muhayah R yang meneliti di kawasan hutan kerangas di Kabupaten Banjar, Tanjung-Muarakelanis, Kalimantan Selatan, dan Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah menemukan bahwa masyarakat lokal di sekitar hutan kerangas menggunakan batang akar kuning untuk antidiabetes. Karengas adalah suatu tipe lahan yang dicirikan dengan tanah podsol yang miskin hara dengan material tanah yang kaya akan pasir kuarsa, pH rendah, dan kerap memiliki lapisan gambut tipis di atas permukaan tanah

Senyawa 2ß, 3α-dihydroxy-2,3,7,8α-tetrahydropenianthic acid-2,17-lactone menunjukkan aktivitas antifungal tertinggi dari lima furanoditerpene lainnya yang diisolasi dari akar tanaman akar kuning melawan cendawan busuk putih Trametes versicotor dan cendawan busuk cokelat. Keduanya merupakan cendawan perusak kayu.

Aktivitas Farmakologis

Hepatoprotektor: Berdasarkan uji in vivo pada metabolit sekunder akar kuning, ekstrak saponin tanpa alkaloid menunjukkan aktivitas hepatoprotektor. Glikosida yang dihasilkan yaitu 7,4%. Fraksi glikosida dapat menghambat 58% peningkatan aktivitas transaminase aspartat dan 52% aktivitas transaminase alanin pada kerusakan lever tikus sprague dawley, yang disebabkan parasetamol. Pada riset lain, aktivitas hepatoprotektor saponin akar kuning diuji menggunakan Chang cell ATCC No. CCL-13 yang sebelumnya diberi perlakuan parasetamol. Saponin pada fraksi 1 (500 ppm dan 250 ppm) dapat meregenerasi sel hingga 9% dibandingkan penggunaan parasetamol sebagai kontrol negatif dan penggunaan Cursil ®-70 sebagai kontrol positif.

Bukti ilmiah lain menunjukkan pemberian oral tunggal ekstrak metanol pada dosis 250 mg/kg bobot badan hewan percobaan terbukti mencegah kenaikan enzim hepatik. Itu artinya, ekstrak akar kuning memiliki aktivitas antihepatoksisitas. Pemberian akar kuning juga mempercepat mekanisme detoksifikasi hepatik dengan meningkatkan aktivitas glutathione transferase dan jumlah kandungan GSH hepatik pada hewan yang diberi perlakuan CCI4. Senyawa kimia utama pada ekstrak diidentifikasi sebagai berberine. Akar kuning menunjukkan efek kemopreventif melawan hepatotoksisitas yang diinduksi CCI4. Akar kuning dapat bermanfaat dalam pencegahan inflamasi hepatik. Namun, karena tingkat keamanannya, penggunaannya harus benar-benar diperhatikan.

Antibakteri: Ekstrak kasar akar A. flava menunjukkan aktivitas antibakteri ampuh melawan S. aureus pada konsentrasi 5 mg/ml.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: