Mengenal Adem Ati dan Khasiatnya

April 27, 2014

adem ati

Nama lokal: Huru batu, huru beusai, huru tangkalak, madang kapas, madang (Sunda); malih (Kalimantan Barat); wuru lilin, adem ati, kapu ketek, nyampu wingka, wuru beling (Jawa); malai (Bangka)

Nama asing: Gluey bark litse, gluey litse, pond litse, adhesive litse, indian laurel (Amerika, Inggris); cangaojiang (kulit kayu dan daun, Cina), cangaojianggen (akar, Cina), chan gao mu jiang zi (Cina); puso-puso, sablot (Filipina); medaasaka, maidaa-lakdi, medh, chandna, maidalakri (India); malek (Malaysia); mai mi-myen, mai ong-tong (Myanmar); kawala (Nepal); muthaluang, mimen, thang-buan (Thailand); bollygum, avocat marron (Perancis); bo-mi (Srilanka); boi loi nhot (Vietnam)

Ikhtisar

Adem Ati merupakan satu dari 622 spesies dalam genus Litsea. Tanaman itu banyak ditemukan tumbuh di hutan primer dan sekunder terutama di wilayah beriklim hangat, ia tumbuh hingga ketinggian 1.300 m dpl. Adem ati tersebar mulai dari India, Nepal, Bhutan, Cina, Malaysia, Filipina, Kamboja, Myanmar, Srilanka, Indonesia, dan negara di Asia tenggara lainnya hingga Australia.

Di wilayah dataran tinggi Vietnam, tanaman bangsa Laurales dan suku Lauraceae itu umum ditanam dengan model agroforestri bersama dengan padi, kopi, atau singkong. Salah satunya di Distrik Mang Yang, Provinsi Gia Lai. Budidaya litsea dimulai sejak 1991.

Kayunya cukup berkualitas untuk menghasilkan papan. Dalam Prosea (Plant Resources of South Eost Asia), 1995, tanaman yang buahnya dapat dikonsumsi itu termasuk dalam golongan pohon berkayu komersial minor. Adem ati termasuk salah satu tanaman koleksi di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat. Selain di Bogor, litsea juga ditemukan di Jambi, Bangka, Cianjur, dan Lampung.

Daging buahnya yang berwarna krem dapat dimakan dan rasanya manis sehingga kerap menjadi incaran anak-anak. Lemak yang berasal dari biji memiliki titik cair 36°C kerap dijadikan lilin penerangan sehingga ada yang menyebutnya wuru lilin. Biji adem ati mengandung minyak aromatik yang banyak digunakan sebagai bahan pembuat sabun dan lilin. Rendaman daun yang diinapkan selama beberapa hari menghasilkan cairan seperti lendir yang dapat digunakan sebagai sampo. Sementara kayunya banyak dimanfaatkan untuk konstruksi ringan, mebel, pahatan, dan kayu lapis. Litsea mudah tumbuh dari biji maupun tunas yang muncul dari tanaman induk. Tanaman mulai berbuah umur 5-6 tahun. Sinonimnya Litsea chinensis, L glabrania, L tetranther, L germinata, dan L sebifera.

Rupa Adem Ati

Tanaman: Tanaman dewasa tumbuh membentuk pohon. Kulit kayu bagian luar berwarna putih keabu-abuan sedangkan bagian dalamnya berwarna kekuningan dan memiliki aroma. Tinggi tanaman 3-25 m dengan diameter 20-30 cm.

Daun: Aromatik. Panjang daun 12-13 cm dengan lebar 3-4 cm. Urat daun lateral berjumlah 5-12 pasang. Bentuk daun elips memanjang dan berujung agak membulat atau bulat telur agak memanjang. Tumbuh berselang-seling atau spiral. Panjang tangkai daun 1-2,6 cm. Daun muda memiliki permukaan berbulu halus pada kedua sisi. Daun tua hanya pada tulang daun utama di permukaan atas yang berbulu, permukaan bawah berbulu kuning atau tidak berbulu. Tepian daun ada yang berambut, sebagian berambut, dan ada yang gundul.

Bunga: Muncul di ketiak daun. Berukuran kecil berwarna putih kekuningan, tumbuh membentuk tipe umbel-payung. Satu umbel terdiri dari 9-15 bunga. Bunga uniseksual-satu bunga jantan saja atau betina saja. Berumah dua (dioceous)-satu tanaman hanya mempunyai bunga jantan saja, dan tanaman lain mempunyai bunga betina saja.

Buah: Bulat (globose) berdiameter sekitar 8-11 mm. Berwarna hijau dengan titik-titik putih berubah hitam atau ungu ketika tua. Permukaan gundul. Mengilap. Tangkai buah 5-6 mm.

Biji: Berdiameter, sekitar 0,5 cm. Satu kilogram buah memiliki sekitar 3.200-3.400 biji.

Kandungan Kimia

Ekstrak bubuk kulit kayu Litsea glutinoso memiliki kandungan alkaloid, flavonoid, glikosida, fenol, tanin, dan saponin. Dengan menggunakan analisis kromatografi gas-spektrometer massa (GC MS), ekstrak metanol total menunjukkan keberadaan oleic acid (asam oleat), tricosene, erucic acid (asam erukat), tetra decanoic acid (asam tetra dekanoat), pyrrolidinone, piperidine, dan eicosanoic acid (asam eikosanoat). Fraksi alkaloid mengandung senyawa potensial terapeutik seperti eicosane, pieprizine, pyridine, thio-coumarin, dan tetrahydroisoquinoline. Selain itu juga terdapat androstane, androsta-trione, dan pregnene yang mirip fitoestrogen, kandungan tersebut memperkuat manfaat efek afrodisiak dan osteoprotektif tanaman.

Pada penelitian minyak zaitun, asam oleat disinyalir berperan dalam pencegahan kanker payudara. Eicosanoid-turunan eicosanoic acid-diketahui memiliki peran penting agar otak berfungsi normal dan memiliki peran dalam menghambat pertumbuhan tumor dengan aktivitas antiinflamasi yang ditimbulkannya.

Dalam penelitian Hosamath (2011), kulit kayu adem ati tercatat mengandung tanin, beta-sitosterol, boldine, norboldine, laurotetanine, N-methylactinodaphnine, quercetine, sebiferine, litsiferine, kaempferol-3-glucoside, asam amino, quercetine-3-rhamnoside, kaempferol-7-aminoglucoside, pelargonidine-5-glucoside, naringenin-7-monorhamnoside, monosesquiterpene, sesquiterpene, dan beta-amirine acétate.

Daun dan buah Litseo glutinoso mengandung minyak volatil (mudah menguap), masing-masing 83 dan 33 jenis. Kandungan utama pada daun yaitu phytol (22.42%), caryophyllene (21,48%), thujopsene (12,17%), dan (3-myrcene (5%). Sementara buah mengandung asam laurat (44,84%), 3-octen-5-yne, 2,7-dimethyl (28,72%), alfa-cubebene (6,84%), dan caryophyllene (5,04%).

Hasil isolasi ekstrak etil asetat Litseo glutinoso ditemukan satu turunan asam absisik bernama litseaglutinan A (1) dan arylnaphthalene-type lignan, (7[prime]S,8R,8[primelS)-4,4[prime], 9-trihydroxy-3,3[prime], 5-trimethoxy-9[prime]-0-[beta]-D-xylopyranosyl-2,7[prime]-cyclolignan (2).

Daun segar adem ati didistilasi uap untuk menghasilkan minyak dengan hasil 0,15%. Sejumlah 78 kandungan kimia terdeteksi pada minyakdengan lebih dari 95,18% merupakan terpenoid. Adapun komponen utamanya terdiri dari (E)-b-ocimene (13,35%), b-caryophyllene (27,20%), dan bicyclogermacrene (18,16%). Ekstrak butanol daun dan ranting wuru lilin yang diambil dari Xishuangbanna, Cina, menghasilkan alkaloid aporphine: litseglutine A, litseglutine B, boldine, dan laurolitsine.

Penelitian di Indonesia pun menyebutkan adanya kandungan senyawa golongan alkaloid pada L glutinosa seperti alkaloida aporfin yang terdapat pada kulit akar dan fenantren yang berhasil diisolasi dari ranting. Aporfin juga berhasil diisolasi dari fraksi fenolik tanaman adem ati pada penelitian Suprihatna AA (1989). Hasil penelitian Helmi (1989) menunjukkan adanya senyawa boldine.

Pemanfaatan Adem Ati

Daun mudanya digunakan sebagai pakan ternak. Getah batangnya mengandung cairan kental seperti lem. Bagian tanaman yang digunakan dalam pengobatan yaitu kulit kayu, daun, dan akar. Selain dijadikan pakan ternak, daunnya di daerah Jawa dahulu dijadikan bahan campuran jamu bagolan-jamu untuk sakit perut. Daun juga berefek menenangkan. Akarnya dipakai untuk mengobati diare, diabetes mellitus, dan radang usus. Sebagai obat luar, akar juga dimanfaatkan untuk mengatasi radang kulit.

Dalam pengobatan India, kulit kayu adem ati bermanfaat sebagai obat luar untuk melemaskan anggota tubuh yang terkilir, luka memar, rematik, dan sakit persendian. Sementara bubuk kulit kayu yang ditambah madu dapat diminum untuk mengatasi sakit rematik dan patah tulang. Di Banglades tercatat kulit kayu, daun, buah, dan akar dimanfaatkan untuk mengatasi diare dan disentri.

Bukti Ilmiah

Analgesik: Pemberian ekstrak etanol kulit kayu adem ati pada mencit dengan dosis 100 mg dan 300 mg/kg bobot badan (BB) menunjukkan peningkatan signifikan (p<0,05) ambang nyeri pada lempeng panas dibandingkan dengan kelompok kontrol. Artinya, ekstrak etanol kulit kayu adem ati berpotensi sebagal obat penahan sakit yang kuat atau analgesik.

Afrodisiak: Pemberian ekstrak etanol kulit kayu adem ati pada mencit dengan dosis 300 mg/kg BB dan ekstrak air pada dosis 500 mg/kg BB menunjukkan aktivitas afrodisiak yang signifikan (p<0,05) dibandingkan kontrol. Empat belas hari pascaperlakuan terdapat peningkatan secara signifikan jumlah tunggangan sebelum ejakulasi, jumlah ejakulasi, latensi (waktu antara) ejakulasi, interval intromisi-penis masuk ke dalam vagina saat tunggangan (mounting)-inter, serta latensi intromisi pertama. Hal ini menunjukkan potensi adem ati untuk mengatasi ejakulasi dini, mengurangi jumlah waktu yang diperlukan untuk stimulasi seksual, dan cenderung mengurangi interval pasca ejakulasi dengan peningkatan efisiensi kopulasi. Diduga kandungan saponin pada ekstrak berperan meningkatkan level testosteron endogenus alami tubuh dengan meningkatkan level leutinizing hormone (LH). LH secara normal dihasilkan kelenjar pituitari untuk menjaga level testosteron. Dengan meningkatnya LH maka meningkat pula testosteron. Testosteron berperan dalam meningkatkan gairah seksual dan energi.

Antelmintik (obat cacingan): Pemberian ekstrak etanol kulit batang adem ati sebanyak 40 mg/ml kepada cacing tanah Pheretima posthuma menunjukkan efek antelmintik. Itu tampak dari singkatnya waktu untuk melumpuhkan dan kematian cacing bila dibandingkan dengan kelompok perlakuan obat standar Albendazole.

Antiinflamasi: Pengujian aktivitas antiinflamasi ekstrak air Litsea glutinoso pada tikus wistar dilakukan dengan menggunakan metode induksi edema pada telapak kaki tikus. Sebagai penginduksi edema digunakan karagenan, dekstrin, dan histamin. Bahan uji diberikan secara oral dengan dosis 250 mg/kg dan 500 mg/kg BB, sedangkan pembanding digunakan obat standar indometasin 10 mg/kg BB. Hasil riset menunjukkan ekstrak air adem ati mempunyai aktivitas inflamasi yang signifikan. Pada dosis 250 mg/kg diperoleh persentase penghambatan radang sebesar 16,3% pada tikus yang diinduksi keragenan, 15,36% (dekstrin), dan 22,21% (histamin) setelah 3 jam perlakuan. Sementara pada dosis 500 mg/kg BB, persentase penghambatannya sebesar 46,21% (keragenan), 43,13% (dekstrin), dan 35,08% (histamin).22 Penyembuh luka: Pengujian efek penyembuh luka ekstrak etanol daun adem ati pada tikus wistar dilakukan melalui 2 model luka: pemotongan dan sayatan. Bahan uji diberikan dalam bentuk salep dengan konsentrasi 3% dan 5% per kilogram bobot tubuh tikus. Sementara sebagai pembanding digunakan salep nitrofurazon dengan konsentrasi 0,2% per kilogram bobot tubuh tikus. Hasilnya, kedua ekstrak etanol daun adem ati memiliki efek penyembuh pada 2 tipe luka. Bahkan lamanya waktu penyembuhan luka salep ekstrak L glutinosa berkonsentrasi 5% per kg BB sama dengan pembanding, salep nitrofurazon, yaitu 20 hari.

Antioksidan: Uji aktivitas antioksidan ekstrak daun adem ati ditentukan melalui dua metode: penangkap radikal diphenylpicrylhydrazyl (DPPH) dan hydrogen peroxide (H202). Sebagai pembanding digunakan butil hidroksi toluene (BHT) dan asam askorbat. Hasilnya ekstrak daun adem ati bersifat sebagai antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 30,24 µg/ml dan 216,53 µg/ml untuk DPPH dan H202. IC50 merupakan konsentrasi dari antioksidan yang dapat meredam atau menghambat 50% radikal bebas.

Antibakteri: Ekstrak etanol kulit kayu puso-puso-nama lokal di Filipina— menunjukkan aktivitas antibakteri dengan konsentrasi penghambat minimal 2,5 mg/ml melawan Bacillus subtilis (19,20 ± 1,52), Escherichia coli (16,40 ± 0,55), dan Stophylococcus aureus (15,20 ± 0,84). Hal itu mengindikasikan adem ati potensial sebagai obat diare dan disentri. Di antara ekstrak petroleum eter, kloroform, dan etanol, ekstrak etanol daun adem ati menunjukkan aktivitas antibakteri paling ampuh melawan Klebsiella pneumoniae (16,40 ± 0,80) dan dapat berperan sebagai obat penyakit pernapasan. Penelitian antibakterial juga ditunjukkan Hosamath (2011). Ekstrak petroleum eter, etanol, dan ekstrak cair L glutinosa memiliki efek antibakteri melawan bakteri gram positif Staphyiococcus aureus dibandingkan obat standar procain penicillin dan bakteri gram negatif Pseudomonas aeruginosa, Salmonella typhi, dan E. coli dibandingkan obat standar referensi streptomycine sulphate.

Anticendawan: Kulit kayu adem ati menunjukkan aktivitas antifungal melawan Aspergillus fumigatus dan Candida albicans dibandingkan standar referensi griseofulvin. Efek terlihat paling kuat pada ekstrak petroleum eter dibandingkan ekstrak etanol maupun ekstrak cair. Diameter zona rata-rata penghambatan setelah 24 jam hingga 48 jam pada A fumigatus yang menggunakan ekstrak petroleum eter dengan dosis 50 mg/ml yaitu 17 mm. Nilai penghambatan yang sama juga diperoleh pada penggunaan griseofulvin dengan dosis yang sama. Sedangkan pada penggunaan ekstrak petroleum eter dengan dosis 100 mg/ml menghasilkan penghambatan 18 mm. Angka itu lebih tinggi dibandingkan efek penghambatan griseofulvin sebesar 18 mm. Untuk penghambatan melawan C. albicans, ekstrak petroleum eter berbanding griseofulvin masing-masing memiliki nilai 19:15 pada dosis 50 mg/ml dan 23:15 pada dosis 100 mg/ml. Itu menunjukkan ekstrak adem ati berpotensi menjadi agen anticendawan.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: