Mengatasi Keluarga Depresi

February 1, 2014

depresi

Depresi bukan masalah sepele. Di dunia, depresi menjadi gangguan kesehatan jiwa yang tak hanya jadi beban keluarga tetapi jadi beban bersama yang penderitanya terus meningkat. Lebih mengkhawatirkan, depresi akut bisa mendorong seseorang bunuh diri.

Gejala apa yang harus diwaspadai?

Tema tersebut menandakan bahwa depresi menjadi masalah krusial yang harus ditanggulangi bersama-sama. Menurut Presiden World Federation for Mental Health (WFMH), Deborah Wan, depresi unipolar menempati ranking ketiga penyakit yang paling membebani dunia pada tahun 2004. Dan diperkirakan akan menjadi nomor satu pada tahun 2030. Depresi unipolar adalah gangguan suasana hati yang ditandai oleh beragam tingkatan kesedihan, kekecewaan, kesepian, keraguan akan diri sendiri, dan rasa bersalah. Selain depresi unipolar, ada juga depresi bipolar. Depresi ini ditandai dengan pergantian suasana hati seseorang yang begitu cepat dari dua kutub yang berlawanan, yaitu kebahagiaan (mania) dan kesedihan (depresi).

Depresi sendiri disebutkan sebagai gangguan mental yang menyebabkan perasaan galau, berkurangnya energi, kehilangan minat, merasa tak berguna atau perasaan bersalah, selera makan rendah, gangguan tidur, dan kurangnya konsentrasi. Dampak paling buruk dari depresi adalah bunuh diri. Dan ternyata kecenderungan ini terus meningkat belakangan ini. Menurut data WHO, hampir sejuta orang meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya di dunia karena depresi atau sekitar 3000 kasus bunuh diri setiap hari.

Tentu saja kita tak ingin ada keluarga kita yang melakukan hal itu. Karenanya mengenali faktor faktor penyebabnya akan sangat bermanfaat baik untuk diri sendiri, keluarga, atau di-sharing-kan ke teman, kerabat, atau lainnya sehingga mereka yang punya kecenderungan akan bunuh diri bisa dicegah.

Depresi

Menurut American Association of Suicidology, orang yang mengalami depresi berat memiliki risiko bunuh diri 20 kali lebih besar dibanding orang normal. Dan orang yang mengalami depresi yang berulang-ulang memiliki risiko paling besar. Bunuh diri bisa dilakukan saat depresi tiba-tiba memuncak (impulsif) atau dilakukan dengan cara direncanakan. Namun tak ada periode tertentu yang menunjukkan kapan waktunya seseorang akan bunuh diri karena penderita depresi bipolar justru banyak yang melakukannya pada saat fase bahagia (mania).

Bagi keluarga yang memiliki anggota keluarga yang mengalami depresi, sangat penting untuk menemukan penyebabnya agar lebih mudah mengatasinya. Selain itu, kerabat pun sebaiknya diberi tahu agar mereka juga memiliki akses untuk berkomunikasi dengan penderita sehingga bisa sama-sama mengatasinya. Komunikasi memang kunci utama mengatasi orang depresi.

Meski pada umumnya orang bisa mengenali apakah seseorang mengalami depresi, namun gejalanya akan berbeda-beda antara penderita yang satu dengan yang lainnya. Ada sembilan gejala yang paling umum menurut para ahli, yaitu:

  • Perubahan pola tidur.
  • Perubahan selera makan.
  • Kehilangan minat dalam kegiatan-kegiatan yang semula disukainya.
  • Merasa tidak berharga, putus asa, kekosongan jiwa, dan tidak berdaya.
  • Menyalahkan diri sendiri.
  • Bermasalah dengan cara berpikir, konsentrasi, dan perhatian.
  • Berulang kali memikirkan kematian dan bunuh diri.
  • Rasa sedih dan duka yang dalam.
  • Gejala fisik seperti lelah dan kehilangan libido.

Tetapi, gejala depresi juga dilaporkan seperti kehilangan mood, sulit mengambil keputusan, sakit fisik, murung, kurangnya motivasi, sering menyalahkan diri sendiri, pikiran yang campur-aduk, ketakutan yang tak masuk akal, dan sebagainya.

Kita mungkin mencoba berkomunikasi dengan mereka. Namun sering kali mereka yang mengalami depresi berat “tak nyambung” saat diajak ngobrol. Atau mereka memutus pembicaraan tanpa sebab. Atau mereka tidak merespons dengan semestinya. Mereka tertutup dan tampak terbebani. Mereka juga sering merasa bahwa mereka tidak dapat bertahan hidup satu hari lagi.

Perubahan mood

Seseorang yang mengalami depresi bipolar yang perubahan mood-nya dari depresi ke mania (gembira) berlangsung secara drastis memiliki risiko tinggi untuk bunuh diri.

Gejala berikut merupakan gejala mania yang dialami penderita depresi bipolar, namun gejala ini tidak berarti merupakan gejala seseorang akan bunuh diri. Yaitu kegembiraan yang tak wajar, sifat cepat marah yang tidak biasa, insomnia (sulit tidur), jadi banyak bicara, hasrat seksual meningkat, kelebihan energi, keputusannya jadi sering salah, jadi provokator dan bertindak agresif, dan sebagainya.

Gejala psikologi lain

Sejumlah orang yang pengidap penyakit schizophrenia atau depresi bipolar ketika mendengar suara-suara yang bernada tidak mengenakkan, menghina, mengancam, atau menyuruh, kadang tak memberikan reaksi berlebihan. Tetap: ada kalanya, suara itu mendorongnya untuk bunuh diri. Suara-suara itu mungkin biasa bagi orang lain. Tetapi kadang seperti perintah bagi yang memiliki gejala depresi bipolar. Seperti, jika seseorang mengatakan, meloncat dari jembatan akan menyelamatkan dunia dari kehancuran maka ia pun akan meloncat. Baginya suara itu seperti perintah. Namun, gejala ini bisa diatasi dengan obat-obatan antipsychotic.

Impulsif

Menurut penelitian lain, ide bunuh diri mungkin memiliki hubungan dengan orang-orang dengan karakteristik kepribadian impulsif. Dan impulsif lebih tinggi ditemukan pada orang-orang yang pernah mencoba bunuh diri sebelumnya. Namun, sulit untuk mengatakan apakah impulsif itu yang menyebabkan seseorang bunuh diri atau bunuh diri itu direncanakannya tanpa memberi tahu keluarga atau temannya akibat depresi yang dialaminya. Karena itu, jika melihat anggota keluarga bertindak impulsif tak berarti itu gejala akan bunuh diri.

Gejala di atas merupakan gambaran umum tentang kecenderungan orang depresi yang mungkin mengarah ke tindakan bunuh diri. Akan tetapi untuk mengetahui dan mengatasi masalah depresi yang dialami seseorang, sebaiknya konsultasikan dengan ahlinya sehingga akan ditemukan jalan keluar yang bisa ditempuh.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: