Mengapa Terbentuk Batu Empedu?

August 23, 2013

batu empedu

Seorang ibu bertanya mengapa banyak orang sekarang terbentuk batu empedu? Pertanyaan yang hampir selalu ditanyakan pada banyak kesempatan. Orang merasa takut terkena batu empedu karena selain bisa berbahaya kalau terlambat ditangani, ongkos berobatnya pun tidak murah. Lebih murah mencegahnya. Benarkah bisa dicegah?

Oleh karena kita mengetahui apa saja pembentuk batu empedu, teoretis batu empedu mestinya dapat dicegah. Tidak semua kasus batu empedu perlu terjadi kalau saja faktor-faktor yang membangkitkan terbentuknya batu empedu dapat kita sisihkan.

Dua jenis batu empedu

Ada dua jenis batu empedu. Selain batu yang terbentuk dari kolesterol, ada pula batu pigmen. Lebih sering batu kolesterol, kebanyakan pada kaum ibu. Tentu tidak semua kaum ibu. Hanya ibu yang berumur di atas 40 tahun, gemuk, dan masih masa reproduktif.

Batu kolesterol jelas berasal dari kolesterol. Sedang batu pigmen belum jelas bagaimana pembentukannya. Umumnya sering ditemukan pada mereka yang fungsi hatinya sudah memburuk. Pada kasus cirrhosis hepatis, misalnya. Atau yang pernah infeksi saluran empedu, dan mereka yang mengidap kelainan sel darah merah sickle cell anemia. Sel darah yang mudah rusak meninggikan bahan pembentuk batu empedu.

Batu empedu yang banyak terjadi merupakan gabungan batu kolesterol dan batu pigmen. Maka, pada analisis batu empedu umumnya ditemukan unsur kolesterol, calcium carbonate, dan calcium bilirubinate. Unsur kalsium dalam batu empedu yang membuatnya keras dan tak mudah terlarut.

Mengapa kaum ibu? Oleh karena faktor hormon dan kegemukan memegang peranan dalam pembentukan batu empedu. Maka, upaya tidak membiarkan badan gemuk salah satu cara menyingkirkan risiko terbentuknya batu empedu.

Selain itu hadirnya hormon kewanitaan estrogen juga menambah tinggi risiko terbentuknya batu empedu karena hormon ini meningkatkan kadar kolesterol dalam empedu. Setiap keadaan yang meninggikan kadar estrogen, seperti pada pemakai pil KB hormonal, terapi hormone (hormone replacement therapy), dan pada kehamilan berisiko terbentuk batu empedu. Hormon estrogen juga mengurangi pemompaan empedu dari kantungnya, sehingga empedu lebih kental dari normal. Kekentalan empedu ikut menentukan pembentukan batu empedu juga.

Oleh karena itu wanita sampai umur 60 tahunan, umumnya dua kali lebih sering terbentuk batu empedu dibanding pria. Termasuk mereka yang mengonsumsi obat anti-kolesterol. Obat jenis ini juga meninggikan kadar kolesterol empedu.

Setiap yang kadar kolesterol darahnya lebih dari normal juga berisiko terbentuk batu empedu. Termasuk pengidap kencing manis, karena gula darah yang tinggi, lemak darahnya juga lebih tinggi.

Jangan lupa, orang yang berat badannya menurun secara drastis juga bisa terancam terjadinya pembentukan batu empedu. Pada tubuh orang ini metabolisme lemaknya meningkat. Kelebihan kolesterol yang terbentuk masuk ke dalam empedu juga.

Sama halnya pada orang yang berpuasa. Oleh karena selama berpuasa tidak masuk makanan (termasuk lemak), maka pengosongan empedu juga menurun, sehingga kadar kolesterol empedu meningkat, selain batu empedu ada kecenderugan terbentuk pada etnis tertentu. Orang Amerika, misalnya cenderung lebih berisiko terbentuk batu empedu.

Batu empedu dicegah dengan lebih banyak mengonsumsi lemak tak jenuh tunggal, seperti minyak zaitun, minyak canola, menu berserat tinggi, vitamin C, dan minum kopi teratur takaran rendah.

Gejala tak selalu nyata

Pembentukan batu empedu berlangsung lama. Umumnya proses pembentukan batu memakan waktu 10-15 tahun. Sementara batu empedu bersifat bisu atau silent stone. Sering tanpa keluhan dan gejala nyata. Mungkin baru hanya sering mual, kembung, dan rasa tak enak di ulu hati saja. Orang menyangka hanya maag belaka. Yang agak khas, setiap habis mengonsumsi menu berlemak, keluhan tidak enak itu muncul. Bedanya dengan mag, pada kasus mag rasa tidak enak di ulu hati tidak terkait oleh jenis menu tertentu.

Baru muncul keluhan dan gejala apabila batu sudah cukup besar, atau batu belum besar, namun tersangkut di saluran empedu. Batu yang besar dan yang tersangkut di saluran empedu mengganggu pengeluaran empedu. Empedu yang gagal dikeluarkan untuk metabolisme lemak, sehingga lemak dalam menu tak terolah. Rasa kembung dan tidak enak di ulu hati manifestasi dari gangguan penyerapan lemak.

Bila batu sudah tersangkut di saluran empedu, atau menimbulkan infeksi di saluran empedu, keluhan dan gejala biasanya baru muncul. Muncul serangan nyeri di ulu hati. Mungkin mendadak demam. Demam menunjukkan sudah terjadi infeksi di saluran empedu (cholescystitis).

Bila dibiarkan, infeksi bisa menjalar sampai ke kelenjar ludah perut pankreas yang berhubungan dengan kandung empedu juga. Tak jarang muncul gejala kuning juga seolah sedang radang hati.

Mungkin belum terbentuk batu empedu ketika terjadi infeksi empedu atau salurannya. Kuman tifus paling sering masuk kandung empedu. Salah satu komplikasi tifus berujung di kandung empedu. Kuman tifus mendekam di kandung empedu. Infeksi juga bisa berasal dari kuman usus lainnya (escherechia coli dan streptococcus fecalis).

Infeksi yang berulang pada kandung empedu dan salurannya yang biasanya mencetuskan terbentuknya batu empedu. Maka, adanya infeksi tak boleh diabaikan, karena bakal mencetuskan terbentuknya batu empedu, selain adanya batu empedu mencetuskan terjadinya infeksi yang berulang.

Kejadian serangan pada kasus batu empedu, selain ada demam bila terjadi infeksi juga, ada nyeri di ulu hati atau perut kanan atas, disertai mual hebat, bahkan sampai muntah. Rasa nyeri bangkit saat menghela napas, sedang keluhan nyeri perut kanan atas bisa menjalar sampai ke belikat.

Batu empedu yang disertai infeksi kandung empedu lebih berbahaya, karena kandung empedu terancam pecah. Pecahnya kandung empedu yang menimbulkan keadaan gawat darurat perut sehingga memerlukan tindakan bedah darurat. Namun, bila infeksi mereda dan kandung empedu belum pecah, kondisi infeksi bisa berulang selama batu empedu masih ada.

Oleh karena nyaris tanpa keluhan dan gejala, mereka yang berisiko mengidap batu empedu perlu lebih waspada agar tak kecolongan kandung empedu terancam pecah. Lebih dini batu empedu diketahui, lebih baik. Untuk itu perlu pencitraan perut USG dan kini ada alat pencitraan perut yang lebih baru mampu meneropong saluran empedu juga.

Sebaiknya dioperasi

Pasien batu empedu terpaksa tidak dioperasi bila kondisi tak memungkinkan. Bila pasien sudah berusia lanjut. Bila batu masih kecil dan diduga batu kolesterol saja ada jenis obat-obatan yang diharapkan dapat melarutkan batunya selama beberapa bulan sampai setahun. Obat dapat pula disuntikkan langsung ke kandung empedu bila jenis batunya kurang berkapur (noncalcified).

Namun, oleh karena tidak selalu berhasil melarutkan batu empedu dengan obat, dianjurkan batu empedu untuk dibuang saja. Ada cara pembuangan batu empedu dengan cara ditembak (extracorporeal shock wave lithotripsy), atau kini dengan cara memilih pencapitan batu dengan hanya membuka tiga liang pada dinding perut tanpa perlu membeleknya (laparoscopic cholecystectomy). Cara terakhir ini lebih membuahkan hasil selain lebih aman.

Batu empedu yang dibiarkan, lama-lama bermasalah juga. Komplikasi infeksi kandung empedu dapat berulang dan menahun, terbentuk batu pada saluran empedu (choledocholithiasis), infeksi menjalar ke pankreas (pancreatitis), dan kerusakan hati juga (abscess, cirrhosis), atau bernanah di kandung empedu sendiri, selain kelumpuhan usus duabelas jari akibat sumbatan oleh batu empedu. Kanker kandung empedu acap disertai batu empedu juga. Serangan nyeri melilit oleh batu empedu yang terus berulang, indikasi wajib untuk segera mengeluarkan batu.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: