Mengapa Saya Pelupa?

June 8, 2014

pelupa

Kita bisa melihat masalah lupa dari banyak sisi. Dua sisi terpenting yang selalu saya perhatikan adalah sisi emosional dan sudut pandang nutrisi. Lupa terkadang merupakan mekanisme pertahanan diri (defence mechanism) seseorang dalam menghadapi banyak hal khususnya tekanan emosi. Tubuh mempunyai kemampuan melindungi diri, juga terhadap perusak kesehatan jiwa. Tidak jarang kita temui orang-orang yang mengalami trauma emosional berat (seperti mengalami perlecehan di masa kanak-kanak) ‘lupa’ dengan kejadian tersebut. Alam bawah sadar mempunyai mekanisme kerja yang begitu canggih untuk membuat kita bisa terus berfungsi.

Ada kalanya manusia mengalami banyak sekali trauma dan hal-hal yang membuat jenuh sehingga otak pun berusaha mengimbanginya dengan menjadi lupa. Kasus-kasus seperti ini membutuhkan penanganan intensif berupa konseling yang dijalankan bersama ahlinya.

Nutrisi memang memainkan peran yang sangat besar. Ilmu kedokteran menyebut kecenderungan pelupa dengan istilah demensia/pikun. Biasanya dialami oleh usia lanjut, disebabkan karena kemunduran (degenerasi) syaraf. Ini pun tidak semestinya terjadi bila asupan nutrisi yang baik selalu menyertai kita sampai umur berapa pun. Banyak kasus dementia dapat dihentikan atau bahkan di’balik’ kembali (reversed) bila ditangani dini. Rendahnya kadar vitamin B12 dan perubahan kadar gula darah, garam (sodium) serta kalsium dikategorikan sebagai penyebab metabolik. Penyebab lainnya bisa akibat penggunaan obat penurun kolesterol, simetidin (obat sakit lambung), dan penyalahgunaan alkohol.

“Sering lupa” baru dikategorikan bermasalah bila menyangkut lain diluar sekedar ingatan. Seperti penggunaan bahasa, persepsi, kepribadian, prilaku emosi dan ketrampilan kognitif (menghitung, abstraksi, penilaian). Istilah Mild Cognitive Im-pairment (MCI) adalah tahap antara ‘lupa biasa-biasa saja’ dan perkembangan ke arah dementia. Gejala MCI antara lain: lupa dengan kejadian/pembicaraan baru-baru saja, kesulitan melakukan lebih dari 1 pekerjaan dalam waktu bersamaan (misalnya olahraga sambil nonton tv), membutuhkan waktu lebih banyak dari biasanya untuk menyelesaikan suatu kegiatan berpikir yang lebih sulit.

Gejala awalnya bisa berupa masalah bahasa (sulit menyebutkan nama benda yang sebenarnya familier), salah menaruh benda (sikat gigi diletakkan di dapur), jalan tersesat di rute yang sebenarnya sudah biasa dilewati, perubahan kepribadian (misalnya lebih pendiam), hilangnya ketrampilan sosial (jarang bergaul lagi, bicara tidak luwes), kehilangan minat akan hal yang tadinya dinikmati, dan mood cenderung datar. Gejala lebih seriusnya berujung pada ketidakmampuan mengurus diri. Bukan hanya sekadar lupa dengan hal-hal yang baru, sejarah diri pun seakan lenyap, sulit menulis/membaca, terjadi perubahan pola tidur, buruknya penilaian situasi sehingga tidak dapat memprediksi terjadinya bahaya, muncul halusinasi, bersifat ‘tukang ngotot’, berprilaku kasar dan depresi.

Tidak ada resep mujarab untuk masalah apa pun dalam kesehatan. Semua yang kita makan dan lakukan merupakan kontribusi yang saling ‘mendongkrak’, apabila salah satu unsur hilang maka gagal semualah tujuan yang ingin dicapai.

Untuk tidak mudah lupa, ada banyak hal yang perlu kita jalankan bersamaan:

1. Nikmati hidup. Menjadi rutin, mudah bosan, dikelilingi orang-orang yang membosankan, akhirnya membuat otak ‘lesu’. Sebaiknya saat bangun pagi tubuh luar-dalam pun terasa ‘bangun’, buat daftar apa yang mau dikerjakan dengan antusiasme serta cinta pada orang-orang yang akan dijumpai pasti ‘virus lupa’ hilang. Bahkan anda tidak lupa berdandan cantik.

2. Orang yang menikmati hidup, tentu makan dengan nikmat dan bertujuan. Karbohidrat yang cepat diubah jadi gula (semua turunan gula, terigu, beras, pati) sudah terbukti bukan sahabat otak manusia. Dari mempercepat proses penuaan, meningkatkan kerja gelombang otak alfa, beta, teta sehingga memperburuk kualitas berpikir jernih. Menurunnya asupan gula semakin memperbaiki stabilitas emosional.

3. Semakin seringnya asupan karbohidrat baik (dari sayur segar dan buah asli) bersama kecukupan protein dan lemak yang baik membuat kita merasa lebih nyaman dengan diri, daya tahan kekebalan tubuh kian baik, kesigapan dan ketangkasan berpikir kembali didapatkan.

4. Perbaikan pola makan mencegah anemia (yang berkontribusi pada faktor lupa). Penyebab anemia tersering disebabkan karena kekurangan vitamin B12 dan zat besi. Tempe adalah sumber vitamin B12 yang baik, begitu pula zat besi didapatkan dari semua sayur segar berwarna hijau gelap hingga agak keunguan (selada jenis ini tumbuh di tanah air kita, sayangnya bernama ‘asing’: oakleaf let-tuce), termasuk kol ungu.

5. Yang sering dilupakan, olahraga aerobik dapat meningkatkan fungsi otak secara keseluruhan melalui aktivasi Brain Derived Neurotrophic Factor (BDNF) untuk memperbaiki, dan mencetuskan perkembangan sel-sel saraf yang baru di otak! Pada saat sel otot membutuhkan asam amino dari makanan kaya protein, sel-sel saraf di otak membutuhkan DHA (bagian dari omega 3) yang bekerja sama dengan BDNF untuk performa prima saraf maupun fungsi otak.

6. Kinesiologi adalah ilmu tentang gerak dan sangat erat hubungannya dengan kemampuan manusia mengakses seluruh bagian otaknya, termasuk kemampuan mengingat dan berpikir. Penemu BrainGym®, Paul Dennison menyebutkan, “Movement is a window to learning”. Temukan bagaimana asiknya bergerak mencegah kepikunan, sekaligus meningkatkan performa otak. Semakin kita berkutat berusaha mencegah sifat pelupa (melalui drill, fokus berlebihan, catatan yang semakin banyak) justru membuat otak semakin ‘stuck’, ‘ngeden’, istilah Jawanya lagi. Ayo kita mulai bergerak!

 

 

loading...

Previous post:

Next post: