Mengapa Kita Terkena Alergi

June 12, 2014

alergi

Mengonsumsi karbohidrat buruk adalah salah satu sumber alergi yang sering dilupakan orang. Dengan meningkatnya insulin (sebagai ‘jawaban’ atas kelebihan gula) maka hormon-hormon eikosanoid yang buruk pun ikut dibentuk. Inilah cikal bakal alergi dan peradangan (peradangan bukan hanya sebagai ‘infeksi’ seperti bisul, tapi ‘peradangan’ disini adalah segala sesuatu yang ditolak tubuh). Peradangan serupa yang tidak disadari si empunya tubuh juga terjadi pada dinding pembuluh darah, akibat oksidasi kolesterol dengan berat jenis rendah yang sering dikonotasikan sebagai ‘buruk’/LDL (low density lipoprotein).

Reaksi alergi bisa juga melalui sel-sel kekebalan tubuh: dikenal sel mast (mast cells)- reaksi ini dikenal ketika anda biduran, gatal-gatal, timbul ruam kulit. Sel mast selalu “awas” berjaga-jaga terhadap bahaya masuknya penyusup asing yang merugikan tubuh (racun bakterial, panas, udara kelewat dingin, radiasi ultraviolet, trauma, enzim pemecah protein dari sel-sel tubuh yang rusak, penyebab alergi lain).

Bila terjadi penyusupan tersebut, sel mast melepaskan histamin, sebagai pertanda bagi sistem kekebalan tubuh untuk melakukan serangan. Histamin ini menyebar ke dalam darah melalui tahapan reaksi yang dikenal sebagai ‘alergi’, diawali dengan ledakan sekelompok hormon eikosanoid yang pro-peradangan (sering disebut juga eikosanoid buruk). Pembuluh darah lalu berespons dengan cara melebarkan diri agar ‘tentara radang’ (netrofil dan makrofag) mencapai target secepat mungkin. Lebarnya pembuluh darah ini seringkali menyebabkan tekanan darah drop mendadak dan bila reaksinya hebat sekali (misalnya alergi obat), orang tersebut bisa pingsan/ kolaps, dikenal sebagai ‘syok anafilaktik’.

Melalui kelenjar anak ginjal (adrenal), tubuh juga berupaya mengatasi peradangan dengan mengeluarkan hormon kortisol (anti-stress hormone). Pada tingkat seluler, kondisi stres sel disebabkan oleh produksi berlebihan eikosanoid pro-peradangan. Namun bila kortisol terus rnenerus dikeluarkan karena peradangan tak kunjung reda, akibatnya kortisol menekan kepekaan hormon lain, yakni insulin. Semakin tidak peka insulin, manusia semakin gemuk, risiko diabetes di depan mata, sel-sel saraf menjadi rusak, kekebalan tubuh semakin melorot, semakin pula cenderung menjadi alergi. Lingkaran ‘setan’ yang kian besar melebar!

Penyakit asma, sebagai fenomena alergi saluran pernafasan yang cukup serius telah meningkat 50% di negara maju selama 25 tahun terakhir. Asma sendiri adalah reaksi berlebihan saluran nafas terhadap pencetus alergi. Di Amerika Serikat sendiri peningkatannya 300 persen dalam 20 tahun terakhir. Sekitar 150 juta orang di seluruh dunia adalah penderita asma dan 180.000 jiwa meninggal setiap tahunnya. Pengobatan klasik terhadap asma bukan tanpa efek samping. Menekan reaksi tubuh dengan steroid selain menimbulkan keropos tulang juga ’menutup’ gejala infeksi yang sedang terjadi.

Salah satu rilis terbaru dalam dunia kedokteran adalah tentang pentingnya vitamin D dalam mencegah banyak masalah kesehatan, termasuk asma dan infeksi saluran nafas sejak usia dini. “Dosis aman” 400IU per hari untuk bayi sebagaimana diatur oleh the American Academy of Pediatrics saat ini semata-mata hanya untuk mencegah penyakit tulang (rickets) tidak untuk proteksi terhadap kanker, penyakit jantung, infeksi dan asma. Lebih gawatnya, hanya 5-37% bayi Amerika yang memenuhi Standard 400IU tersebut. Bagaimana dengan negeri kita?

Salah satu dari 3000 gen yang diatur oleh vitamin D memproduksi lebih dari 200 rangkaian peptida yang bersifat anti-mikroba alamiah. Jadi bisa disebutkan bahwa tubuh membuat antibiotik berspektrum luasnya sendiri. Tahun 2009, penelitian yang dilakukan terhadap bayi baru lahir dengan infeksi saluran nafas atas menegaskan adanya hubungan kuat antara level vitamin D bayi dan ibunya. Lebih dari 87% bayi dan 67% ibu mempunyai kadar vitamin D lebih rendah dari 20ng/ml, yang termasuk defisiensi berat sekali.

Mengoptimalkan kekebalan tubuh merupakan bagian terpenting dari penanganan asma dan vitamin D terbukti merupakan imuno-modulator yang sangat kuat. Di negara katulistiwa, sumber vitamin D alamiah adalah cahaya matahari. Berjemurlah cukup 15 menit dengan ’menyerap’ pro vitamin D3 dari sumber asli kodrati. Kebiasaan penggunaan tabir surya secara tidak tepat membuat tubuh kehilangan kesempatan untuk menyerap pro-vitamin D3 dari cahaya matahari. Dan akhirnya tubuh sendiri yang menanggung risiko kekurangan vitamin D. Isu kanker kulit sebetulnya bukan milik bangsa kita, karena kita mempunyai pigmen yang merupakan perlindungan otomatis terhadap paparan ultraviolet yang berlebihan. Tabir surya yang tidak diperlukan bagi orang kulit berwarna justru mencegah kulit untuk menyerap vitamin D yang sangat berharga ini.

Prinsipnya, atur pola makan, pola bergerak dan pola berpikir. Pilihan apa yang dimakan: Perkembangan fase kehidupan pun perlu menjadi bahan pertimbangan saat memilih produk pangan. Sering orang lupa, bahwa pilihan asupan pangan tidaklah sama antara rentang usia satu dengan rentang usia lainnya. Yang sama adalah, kebutuhan konsisten seperti misalnya makro nutrien berimbang: karbohidrat – protein – lemak.

Sedih sekali jika anjuran Pedoman Umum Gizi Seimbang yang sudah dicanangkan Departemen Kesehatan sejak 1995 hanya sekadar jargon pada akhirnya. Sekalipun tertulis: asuplah 3-5 porsi sayur dan buah segar setiap harinya, adakah masyarakat kita yang sungguh-sungguh melakukannya? Atau jangan-jangan mereka malah tidak tahu sama sekali ada anjuran seperti itu?

Tingkatkan asupan asam lemak esensial omega 3 dari sumber ikan. Kurangi asupan omega 6. Orang sering salah kaprah, bahwa omega 3-6-9 harus diasup sama banyak. Padahal jaman sudah berubah. Perbandingan yang imbang 3-6-9 memang terjadi dahulu kala, jaman purba. Tapi dengan penyalahgunaan minyak goreng dan asupan kacang-kacangan yang begitu banyak, akhirnya di era ini omega 3:6 = 1:25. Kelebihan omega 6 menyebabkan bukan saja munculnya asma, tapi juga berbagai reaksi peradangan dan penyakit degeneratif.

Sama sekali tidak mengonsumsi produk ’processed foods’. Banyak orang pula salah paham, mengira makanan kemasan yang perlu diwaspadai semata-mata hanya yang mengandung pengawet dan pewarna buatan. Industri tentunya tidak bodoh. Mereka tidak lagi menggunakan istilah ’mencurigakan’ dalam membuat label. Alih-alih mengaku menuliskan “trans fat”, mereka akan memasang kalimat: mengandung ”hydrogenated vegetable oil”. Di benak awam, yang terbaca hanya ’vegetable oil’-nya saja. Paling tidak bukan lemak hewan, seperti ancaman kesehatan yang dibaca di mana-mana.

Di Amerika Serikat, keharusan memberikan label trans fat pada produk pangan diperkirakan FDA telah menyelamatkan 600-1200 kasus jantung koroner dan 250-500 kematian tiap tahunnya. Cobalah sekali-kali men’survey’ label berbagai makanan/minuman kemasan. Akan sangat mencengangkan sekali. Salah satunya juga dengan menyalahgunaan gula dan pemanis. Begitu banyak peanganan anak yang sudah jelas mengandung gula, masih ditambah HFCS (High Fructose Corn Syrup), sukrosa, malitol, hingga aspartam.

Pilih karbohidrat yang tidak cepat diubah menjadi gula (artinya indeks glikemik rendah) dan bersumber dari alam (sayur lalap dan buah segar), dengan jumlah yang tepat (bukan ‘hanya’ beberapa lembar selada dan 1 butir tomat).

Biasakan selada segar 1 ikat atau sekitar 200 gram (perhatikan variasi dan rotasi jenisnya) dan kombinasikanlah dengan berbagai jenis tomat (2 buah besar atau sekitar 6-8 tomat ceri), 1-2 timun, dengan tambahan poh-pohan, kemangi, kacang panjang mentah dengan buah. Hati-hati mengonsumsi buah berlebih pada kasus kegemukan. Buah mengandung 70% fruktosa (gula sederhana berantai karbon 5 dan sangat cepat menaikkan gula darah).

Asuplah protein sebagai lauk, bersama karbohidrat dari berbagai jamur dan ayam kampung yang dimasak tanpa minyak goreng (bisa dipepes, sup, soto tanpa tumis, pangeh, woku, arsik, bakar dengan daun, tim) sambil pelan-pelan ‘perkenalkan’ kembali tubuhnya dengan ikan begitu reaksi alergi mereda. Lemak bisa dari extra virgin olive oil (sebagai tambahan 1 sendok makan untuk 1 mangkuk kecil sambel ulek buatan sendiri misalnya) dan kemiri untuk bumbu atau alpukat pun sebenarnya sudah mengandung asam lemak esensial yang baik.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: