Mengapa Bisa Terjadi Gagal Jantung

July 10, 2014

gagal jantung

Istilah ‘gagal jantung’ sebenarnya tidak jauh beda dengan serangan jantung, tapi bukan mendadak, melainkan perlahan-lahan setelah melalui berbagai upaya kompensasi (cara-cara mengatasi) oleh jantung itu sendiri. Artinya, jantung pada akhirnya tidak dapat lagi memompa cukup darah memenuhi kebutuhan tubuh.

Cara paling tepat menghindari gagal jantung adalah dengan mengendalikan faktor risiko dan kondisi yang melatari penyebab gagal jantung seperti penyakit jantung koroner, darah tinggi, kolesterol tinggi, peningkatan gula darah, dan obesitas.

Gejala gagal jantung akibat masalah menahun yang tidak tuntas antara lain berupa napas tersengal (khususnya bila capek atau tidur terlentang), merasa lemah, bengkak pada tungkai, pergelangan kaki dan telapak kaki, debar jantung cepat atau tidak beraturan, kemampuan gerak badan yang menurun, batuk dengan dahak putih, berbusa terkadang semu darah, perut membengkak, kenaikan berat badan tiba-tiba karena penimbunan cairan, kehilangan nafsu makan, pusing, kesulitan konsentrasi dan menurunnya kewaspadaan.

Gagal jantung sering merupakan akibat dari berbagai masalah yang merusak atau melemahkan otot jantung. Bilik jantung menjadi kaku dan tidak dapat terisi penuh darah untuk dialirkan ke seluruh tubuh. Akibat kelemahan otot dan akhirnya ’kendor’, bilik jantung melebar berlebihan sehingga jantung pada akhirnya tidak bisa memompakan darah dan menerima darah balik dari seluruh tubuh secara efisien. Akibatnya darah seperti ’menggenang’ dimana-mana: hati, rongga perut, tungkai bawah dan paru-paru. Gagal jantung bisa melibatkan seluruh bagian jantung, tapi biasanya dimulai dari sisi kiri, yaitu bilik kiri yang memompakan darah ke seluruh penjuru tubuh.

Kondisi yang Melatarbelakangi Gagal Jantung

1. Penyakit jantung koroner/ serangan jantung. Ini adalah penyebab yang tersering. Penyempitan pembuluh darah yang melingkari (karenanya disebut ’koroner’) dan memberi makan jantung mengakibatkan jantung mengalami ’infark’ – kerusakan/kematian sel jantung akibat kurang suplai oksigen. Sel-sel yang sudah amburadul ini lemah dan pastinya tidak berfungsi baik dengan akibat menurunkan fungsi pompa jantung.

2. Darah tinggi/ hipertensi. Tekanan darah yang terlalu tinggi memaksa otot jantung bekerja lebih keras. Dengan berjalannya waktu terjadi penebalan otot jantung untuk berkompensasi ’kerja ekstra’nya dan akhirnya jantung membesar.

3. Gangguan katup jantung. Katup-katup yang memisahkan serambi (tempat darah masuk ke jantung) dan bilik (tempat darah meninggalkan jantung) perlu bekerja dengan baik. Katup akan membuka bila darah sedang mengalir dari serambi ke bilik dan bila bilik sudah penuh maka katup tersebut menutup secara otomatis (karena dorongan isi bilik). Kalau terjadi kebocoran akibat infeksi atau cacat atau sebab lainnya maka ’hemodinamika’ jantung pun terganggu, melemahkan jantung yang ribet berkompensasi untuk tetap setia memompa darah demi kebutuhan setiap sel tubuh.

4. Kerusakan otot jantung (kardiomiopati). Bisa diakibatkan oleh infeksi, penyalahgunaan alkohol, dan efek racun beberapa jenis obat termasuk kokain dan khemoterapi. Lupus dan masalah kelenjar gondok pun bisa merusak otot jantung.

5. Miokarditis. Nama lain dari peradangan otot jantung. Umumnya disebabkan virus.

6. Cacat jantung bawaan. Bila bilik, serambi atau katup bermasalah sejak lahir, maka akan ada bagian jantung yang harus bekerja ekstra keras dengan akibat gagal jantung.

7. Gangguan irama jantung, lebih dikenal sebagai aritmia. Juga mengakibatkan kompensasi otot jantung bekerja di luar kebiasaannya. Seiring berjalannya waktu, jantung menjadi lemah dan terjadi kegagalan fungsi.

8. Penyakit kronik lain seperti diabetes mellitus, anemia berat, hiper/hipotiroid (gangguan fungsi kelenjar gondok), emfisema, lupus, hemokromatosis dan penumpukan protein jantung (amiloidosis) pun mengarah pada gagal jantung.

9. Pemakaian obat-obatan: obat penurun kolesterol (golongan simvastatin) menyebabkan penurunan ko-enzim Q10, yang berdampak buruk pada sel jantung karena terjadi ketidakmampuan sel untuk menghasilkan cukup tenaga pompa. Obat kencing manis golongan rosiglitazone dan pioglitazone juga terbukti berefek pada gagal jantung.

Resiko Kelanjutan Gagal Jantung

1. Kerusakan ginjal/ gagal ginjal. Penurunan aliran darah ke ginjal membuat ginjal berkompensasi pula. Sirkulasi/ hemodinamika aliran darah sangat berdampak pada keberlangsungan fungsi organ-organ tubuh lainnya. Jadi, jangan keburu senang bila bendungan cairan pada tungkai kelihatan ‘kempes’ secara ajaib dengan bantuan obat, sementara sirkulasi dan permasalahan sebenarnya masih menggantung! Ginjal tidak akan senang dengan penurunan jumlah cairan (darah) yang disaringnya untuk menjadi air seni.

2. Masalah katup jantung. Ini seperti ‘lingkaran setan’: bila gangguan katup jantung bisa mengakibatkan gagal jantung, sebaliknya gara-gara gagal jantung pun katup jantung bisa rusak – akibat penumpukan cairan yang terjadi karena jantung tidak mampu memompa dengan baik.

3. Kerusakan hati/ gagal hati. Penumpukan dan bendungan cairan yang memberi beban berat pada hati menjurus pada kerusakan sel-sel hati sehingga terjadi gangguan fungsi.

4. Serangan jantung dan stroke. Diakibatkan aliran darah melalui jantung berada dalam kecepatan yang terlalu pelan sehingga terbentuk gumpalan darah yang menyumbat pembuluh darah dengan risiko serangan jantung (bila sumbatan pada pembuluh darah koroner) dan stroke (sumbatan pada pembuluh darah otak).

Pola makan sehat seimbang secara menyedihkan hanya dikutip sebatas jargon. Tapi jarang ada orang yang sungguh paham apa maknanya. Sehat berarti: segala sesuatu yang anda makan, masih semakin dekat dengan bentuk aslinya di alam. Seimbang, berarti: setiap kali makan selalu ada karbohidrat, protein, dan lemak.

Satu-satunya bahan makanan yang masih sangat dekat dengan bentuk aslinya di alam adalah kelompok karbohidrat. Karbohidrat yang baik bersifat lambat dicerna menjadi gula, tinggi serat, tinggi antioksidan, masih kaya dengan enzim, dan bersifat basa seperti sayur lalap dan buah segar.

Dapat mencukupi kalori dan kebutuhan hidup tentunya bila karbohidrat baik dimakan dalam jumlah yang cukup banyak serta ‘tidak disabotase’ (artinya: sayur dan buah dimakan, tapi masih juga mengonsumsi karbohidrat buruk entah dalam bentuk mi, roti, kueh, biskuit, bakpao, bihun, kuetiaw). Itulah sebabnya mengapa tidak ada perubahan berarti pada mereka yang mengatakan “mengurangi yang manis-manis/ yang bertepung”. Sabotase jalan terus, penyakit jalan terus bukan? Kabar buruknya, kecepatan laju penyakit bisa lebih cepat memburuk dari perbaikan pola makan bergaya ‘pelan-pelan’ itu.

Protein sebagai tempe, ayam, ikan, jamur, kacang-kacangan dan putih telur diolah menjadi berbagai masakan nikmat dengan bumbu asli (garam, lada, kunyit, jinten, jahe, ketumbar, lengkuas, belimbing wuluh, daun bawang, bawang merah/putih, adas) tanpa minyak goreng. Lemak bisa diperoleh dari ekstra virgin olive oil yang tidak dipanaskan (sebagai dressing), alpukat atau kemiri bumbu pepes.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: