Mengapa Belum Mempunyai Keturunan?

August 12, 2014

kesuburan

Dari banyak keluhan tentang ketidaksuburan pasangan suami istri, sebenarnya pasangan tersebut sudah mengakui ‘ada yang tidak beres’ – hanya saja masih belum ‘yakin’: hubungannya gaya hidup dengan masalah infertilitas. Bahkan ada yang bersikukuh sudah menjalani gaya hidup ‘bebas masalah’, ‘bebas polusi’ bahkan ‘bebas makanan tak sehat’. Ternyata setelah melalui wawancara yang begitu panjang, istilah ‘bebas’ itu adalah versi ‘orang kota’ yang mengandaikan apa yang sudah dilakukan selama ini dianggap sebagai ‘kewajaran’.

Tidak bertengkar bukan berarti bebas masalah. Masih banyak masalah yang tidak dibahas ’demi menghindari pertengkaran’ – sementara masalah dan ’ganjelan’ sebenarnya tidak tuntas. Tidak mencium asap rokok dan tidak pernah ’nongkrong’ di pinggir jalan menunggu bis dengan kepulan asap kendaraan bukan berarti bebas polusi. Sementara deodoran dan parfum bergelimang, dari semprotan langsung ke tubuh hingga cemaran di ruang lift atau toilet kantor. Begitu pula sarapan roti gandum dan beli makanan serba organik tidak langsung memberi anda label ’bebas makanan tidak sehat’. Kenyataannya, roti tetaplah roti, bukan makanan kodrati tapi bagian dari budaya dan ’fashion’, makna sayur organik pun akhirnya hanya sebatas serat dan abu begitu ditumis dan direbus.

Ada hubungan langsung antara obesitas dan ketidaksuburan karena telur-telur dari wanita obese tak mampu berkembang menjadi embrio sehat. Telur dirusak oleh tingginya lemak dan kolesterol. Inilah yang membuat pola makan menjadi faktor utama dalam mengatasi infertilitas sebagaimana terbukti dari riset yang diadakan oleh Cadenu Minge Adelide University research centre for reproductive health, Australia. Jadi, sangat tidak benar bahwa untuk mempersiapkan kehamilan yang sehat, seorang perempuan bisa ‘makan semau hati’ roti, mi, pasta, nasi dan kue – walaupun dengan label organik – yang justru meningkatkan risiko keguguran, karena konten karbohidrat buruknya.

Ada Apa dengan Suami Saya?

Istilah ‘kurang subur’ pada kasus suami perlu pencerahan lebih lanjut: apakah jumlahnya (kuantitas) kurang? Ataukah kualitasnya – dari sisi kecepatan bergerak, daya tahan, bentuk sperma, dan belum lagi kondisi cairan sperma itu sendiri: bagaimana pH-nya, apakah mendukung sperma untuk hidup dan bergerak lebih gesit, cukupkah mengandung nutrisi untuk kelangsungan hidup sperma? Itu semua tentu saja sangat berhubungan dengan gaya hidup dan pola makan. Apakah dia merokok? Rokok adalah racun terbesar untuk kesuburan seorang laki-laki. Begitu pula kondisi gula dari makanan sehari-harinya. Gula menyebabkan ketidakseimbangan hormonal termasuk halnya peningkatan estrogen (yang semestinya hormon perempuan) pada laki-laki. Jadi, janganlah seperti kebiasaan orang pada umumnya: mencari makanan ‘ajaib’ untuk mendukung cita-citanya, tapi makanan harian yang dikonsumsi akhirnya menjadi sabotase terselubung.

Kasus infertilitas yang saat ini sedang gencar diteliti adalah kaitannya dengan rendahnya kadar vitamin D. Seorang pakar kesuburan, Dr. Anne Clark menemui sepertiga dari 800 pria dengan masalah kesuburan mempunyai kadar vitamin D yang rendah sehingga fragmentasi DNA pada sperma terganggu. Hal ini merupakan kontribusi gaya hidup, dimana pekerjaan dan keseharian manusia tidak lagi berada di bawah matahari sebagai sumber terbaik Vitamin D. Ketakutan akan kanker kulit dengan membatasi paparan cahaya matahari malah membawa malapetaka yang lebih besar karena vitamin D justru menyebabkan kanker payudara, prostat, paru-paru, kulit, usus besar dan kelenjar getah bening.

Sebagai bangsa Asia dengan kulit berwarna, kita tidak perlu mencemaskan kanker kulit seperti halnya ras kulit putih. Pigmen kulit secara alamiah sudah merupakan ‘filter’ terhadap ultraviolet yang merugikan. Itu sebabnya tukang becak atau nelayan kita tenang-tenang saja, sementara gadis-gadis cantik ribut mempermasalahkan bintik coklat yang sebenarnya normal pada kulit manusia dan tidak mengurangi kemolekannya ketimbang menjadi defisiensi vitamin D dengan segala risikonya. Pemakaian tabir surya yang sangat populer pun menyebabkan asupan vitamin D sangat terganggu.

Peran vitamin D yang saat ini sudah dianggap banyak ilmuwan sebagai hormon ternyata meningkatkan serapan kalsium, memperbaiki diferensiasi sel, mengurangi penjalaran (metastasis) dan perbanyakan sel kanker, menekan terbentuknya jaringan pembuluh darah bagi sel/jaringan kanker.

Sebagai tambahan, vitamin C juga meningkatkan jumlah sperma, gerak, dan bentuk yang lebih sempurna (dengan catatan, bila selaras juga dengan gaya hidup dan pola makan yang baik). Masalah infertilitas pada pria sering terjadi karena gerak sperma yang sangat lamban, tidak gesit. Akibat promosi diet yang salah seperti rendah lemak, mengakibatkan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak (termasuk D dan E) mengalami hambatan absorbsi. Risiko kekurangan vitamin E berakibat turunnya kualitas sperma sudah lama diketahui. Suplementasi vitamin E sangat menyesatkan bila asupan lemak yang sehat tidak diperkenalkan dalam makanan sehari-hari.

Oligosperma, (oligo = sedikit, zoosperma atau spermatozoa adalah nama lain dari benih laki-laki dalam bentuk yang sudah matang, siap untuk keluar dari saluran kelamin bhs. Latin) yaitu istilah untuk kurangnya jumlah sperma pada waktu ejakulasi seseorang dibandingkan dengan jumlah normal pada umumnya. Kategori ‘sedikit’ adalah kurang dari 20 juta sperma per cc (ml) cairan ejakulasi. Batasan ‘normal’ jumlah sperma per cc (ml) cairan ejakulasi adalah 20 juta hingga 120 juta – ini pun dengan catatan bahwa kualitas dari morfologi (bentuk)nya yang normal dan kemampuan ‘berenang’/kegesitannya baik.

Pastinya, ada faktor-faktor yang memengaruhi jumlah sperma. Mengenai pengaruh itu sementara atau menetap, tergantung dari seberapa lama dan parahnya penyebab tersebut.

a. Panas tubuh: sperma tidak dapat diproduksi dengan baik dalam kondisi demam, dan lingkup panas. Orang sering tidak menyadari bahwa pemakaian celana ketat apalagi berbahan sintetis (celana dalam maupun celana panjang) atau bekerja seharian dekat dengan mesin yang mengeluarkan panas (seperti pengendara motor, sopir angkutan dengan mesin tepat di bawah jok tempat duduknya, pekerja pabrik dengan ventilasi yang tidak memenuhi syarat). Kebiasaan mandi dan berendam dengan air panas atau sauna juga menjadi salah satu faktor.

b. Obat-obatan yang dipakai, diantaranya steroid yang biasa disebut ‘doping’ bagi olahragawan bahkan disalah gunakan untuk ‘membesarkan badan’. Steroid juga masih banyak diresepkan untuk pengobatan alergi, asma, berbagai penyakit kulit dan autoimun seperti rematik dan nyeri sendi. Riwayat pemakaian obat-obatan sitotoksik (pembunuh sel) seperti pada kanker bahkan beberapa teknik pengobatan yang sangat ekstrim menggunakan obat sejenis untuk masalah kulit kronis juga berefek buruk.

c. “Keracunan pelan-pelan” sering dilupakan orang. Lingkup kerja yang berhubungan dengan pemakaian zat kimia seperti di pabrik perlu menjadi perhatian. Terkadang mereka yang berhubungan dengan ‘thinner’ (seperti montir, tukang cat) lupa bahwa dari uap hingga thinner yang kena kulit bisa diserap tubuh. Mereka yang rutin terpapar bensin pun perlu memikirkan faktor risiko keracunan logam berat. Ini semua adalah toksik yang dapat menghambat pembentukan sperma tentunya.

d. Merokok. Jangan berpikir hanya asap rokok yang dihirup ibu lalu masuk dalam aliran darah merusak janin. Jauh sebelum istri hamil, hitungan sperma bisa melorot drastis atau terbentuk sperma cacat pada tubuh suami yang merokok atau sebagai perokok kedua (orang lain yang merokok, suami terkena asap rokok) bahkan sebagai perokok ketiga (terpapar bekas asap rokok yang disebut tobacco-specific-nitrosamines) sudah berpotensi menyebabkan kanker dan kegagalan pembentukan sperma normal.

e. “Riwayat kehidupan rekreasional” yang tidak sehat sebelumnya seperti konsumsi minuman beralkohol. Penggunaan ‘recreational drugs’ ini sering dijadikan istilah halus bagi mereka yang menggunakan obat terlarang, yang dipakai pada saat pesta, ber’sosialisasi’, walaupun katanya belum sampai taraf ‘kecanduan’. Prinsipnya mirip dengan keracunan logam berat, bahwa benda-benda tersebut bukan ‘kebutuhan alamiah tubuh’, jadi bila dipaksakan masuk maka tubuh tak berdaya dan keracunan pelan-pelan.

f. Gangguan produksi hormon. Ketidakseimbangan hormon termasuk produksi testosteron juga ambil bagian. Jadi, jangan hanya berhenti pada hitungan sperma saja. Telusuri penyebabnya.

g. Penyakit atau gangguan yang pernah terjadi pada testis (buah zakar) atau scrotum (kantung buah zakar) perlu dipertimbangkan. Kerusakan sebagian atau sebagian besar saluran-saluran dalam testis yang memproduksi sperma tentu akan beri andil cukup besar. Begitu pula infeksi masa kecil yang tidak ditangani dengan baik seperti campak dan ‘gondongan’ (infeksi virus pada kelenjar liur/ parotitis epidemica yang biasanya memberikan rasa sakit di bawah telinga, di balik rahang bawah),

h. Masalah radiasi dan gelombang mikro (microwave): sering kali terlupakan di ‘dunia perangkat moderen’. Anda mungkin berpikir bahwa yang bisa memberikan radiasi hanyalah peralatan radiologi seperti di rumah sakit atau instalasi nuklir. Tidak benar sama sekali! Pada edisi Januari/Februari 1990 Nutrition Action Newsletter telah melaporkan kebocoran bahan kimia berbahaya dari kemasan makanan yang dipanaskan dengan microwave. Biasanya makanan tersebut disebut ‘cepat saji’, baik yang disajikan di kafe maupun di rumah keluarga sendiri – dari pizza, berbagai produk makanan beku hingga popcorn.

Bahan kimia yang terdapat dalam kemasan tersebut adalah poly-ethylene terpthalate (PET), benzeney toluene dan xylene (bukan suatu kebetulan, ini semua juga ditemukan pada rokok). Pemanasan dengan microwave membuat terlepasnya dioksin (dikenal juga sebagai penyebab kanker) dan racun lainnya masuk ke dalam makanan.

Salah satu kontaminan yang paling buruk adalah BPA (Bis-Phenol A) yang banyak terdapat pada bahan plastik, dari wadah makanan hingga botol minum. Itulah sebabnya mengapa sekarang banyak produk memproklamirkan diri dengan label “BPA-Free”. Tapi banyak masyarakat kita yang tidak peduli dan tidak paham. Bahkan para pakar kesehatan pun hampir tidak ada yang menyinggung soal ini

Suatu penelitian yang telah dipublikasi di bulan November 2003 dalam “The Journal of the Science of Food and Agriculture” menyatakan bahwa brokoli yang ‘dikukus’ dengan microwave telah kehilangan 97 persen antioksidannya! Sebagai perbandingan, cara mengukus ‘tradisional’ di atas kompor hanya menghilangkan 11% antioksidan.

Itulah sebabnya, pemerintah Rusia pernah mengeluarkan peringatan tentang kerusakan lingkungan dan biologis yang dihubungkan dengan penggunaan microwave dan perangkat elektronit dengan frekwensi gelombang serupa (misalnya telepon genggam). Menyimpan telepon genggam dalam tas tangan atau ransel kerja anda jauh lebih bijaksana ketimbang membiarkannya menempel pada tubuh sekalipun dalam kantong.

Pasien fokus pada upaya mencari ikhtiar dan apa yang harus dikonsumsi supaya masalahnya teratasi. Tapi kita lupa, yang pertama harus dilakukan justru untuk menyadari dahulu apa yang selama ini berjalan tidak baik, berhenti dengan kebiasaan yang tidak sehat dan hal-hal yang tidak berjalan baik itu, kemudian memilih cara hidup menjadi lebih alamiah dan melakukannya untuk lebih sehat.

Karena, proses menghasilkan keturunan pun adalah hal yang alamiah – sekalipun Anda akhirnya memilih teknik reproduksi yang dibantu, seperti inseminasi atau bayi tabung. Syarat sel sperma dan sel telur yang sehat secara alamiah adalah hal dasar sebelum tindakan apa pun!

Mengenai pola makan:

1. Dalam penelitian ‘Biophotics’ yang lebih banyak dilakukan di Jerman, pada tahun 2008 Dr. Dietrich Klinghardt membicarakan dampak ‘biophoton’ dalam kehidupan. Biophoton adalah unit fisik terkecil dari cahaya yang disimpan dan digunakan oleh semua makhluk hidup, termasuk Anda dan saya. Energi cahaya matahari ‘masuk’ dalam sel melalui makanan yang diasup, dalam bentuk biophoton. Unit fisik terkecil ini memuat informasi kehidupan (‘bio-informat ion’) dan sangat penting bagi banyak proses vital tubuh manusia. Anda hanya dapat mendapatkan cukup biophoton dengan mengonsumsi makanan yang tumbuh secara alamiah dalam rupa yang masih segar, ’kaya akan energi cahaya’. Semakin banyak energi cahaya yang disimpan suatu bentuk makanan, maka semakin bergizi jadinya. Efek microwave menghancurkan biophoton karena microwave mampu memporak-porandakan ikatan DNA sel (termasuk sel sayur dan sel protein bahan pangan).

Selada-timun-tomat segar dalam jumlah cukup ditambah banyak lalapan lain dan buah yang tidak mengandung fruktosa terlalu tinggi (seperti alpukat) dapat dijadikan sumber karbohidrat tersehat. Jangan lupa protein dalam bentuk berbagai lauk dan kandungan lemak sehat (alpukat tadi sudah mempunyai asam lemak esensial yang sangat bagus).

2. Zinc (seng) adalah salah satu trace mineral (mineral yang dibutuhkan dalam jumlah amat kecil). Amat berperan dalam metabolisme indung telur dan testis, dalam pertumbuhan dan pembelahan sel serta pembentukan hormon pria/testosteron. Zinc juga dibutuhkan untuk sintesa protein, DNA serta aktivitas insulin normal – karenanya, zinc pun terlibat dalam metabolisme protein, karbohidrat dan lemak. Sel yang paling peka dan paling mencerminkan keberadaan mineral ini adalah sel kulit, rambut dan kuku. Sejak usia tumbuh kembang, anak manusia membutuhkan zinc dalam jumlah cukup selain tentunya mempengaruhi aspek kekebalan tubuh.

Tubuh manusia hanya mengandung zinc sebanyak 2-3 gram saja. Laki-laki membutuhkan lebih banyak dari perempuan, karena cairan semen pria mengandung 100 kali lebih banyak zinc ketimbang yang ditemukan dalam darah! Itu sebabnya kebutuhan zinc laki-laki dewasa 30% lebih banyak dari perempuan. Hanya 20% zinc yang terdapat dalam makanan sehari-hari dapat diserap tubuh. Fitat dalam banyak serat sayur membentuk serat kompleks dengan zinc, membuatnya tak dapat diserap. Itulah sebabnya ada beberapa sayur yang perlu dimasak dahulu (seperti kangkung, kailan, bakcoy dan sejenisnya) untuk meniadakan efek fitat. Tapi tentunya selada segar tidak perlu dimasak, karena fitatnya sangat kecil (bahkan ada yang 0), efek pemanasan mematikan biophoton dan enzimnya yang justru dibutuhkan tubuh!

Sumber zinc yang baik dan cukup terkenal di dunia adalah tiram. Itu sebabnya tiram/oyster mentah dikenal bangsa barat sebagai ‘aphrodisiac’. Tapi hati-hati dengan masalah polusi laut. Alih-alih mempunyai sperma sehat, malah tercemar merkuri dan logam berat dengan risiko yang lebih fatal. Kacang-kacangan dan lentils, biji-bijian (termasuk kuaci biji semangka dan biji labu) adalah sumber zinc yang jauh lebih aman. Pemanasan/ pemasakan merusak potensi zinc.

Berkonsultasilah dengan dokter yang paham tentang suplementasi bila anda memikirkan tentang penambahan zinc dalam bentuk bukan-makanan. Begitu pula multivitamin yang diasup sekaligus memberi efek saling meniadakan, seperti zinc dan besi.

Adalagi istilah “astheno” yang menandakan adanya masalah gerak sperma, yang lamban atau sama sekali malah tidak menunjukkan gerak aktif. Sedangkan imbuhan “terato” berhubungan dengan adanya cacat, yang perlu diperjelas lagi dalam analisis sperma: apakah cacat terdapat pada bentuk kepala sperma, tubuhnya, atau ekornya. Asthenoteratozoospermia perlu dipastikan dengan analisa sperma yang komplit bukan hanya sekadar melihat bentuk dan gerak spermanya saja, tapi juga melalui standar pemeriksaan/ tata cara yang benar (tentunya dijelaskan oleh petugas laboratorium sebelum suami mempersiapkan diri untuk pemeriksaan ini). Sejak mulai puasa hubungan suami istri 3-7 hari, cara menampung cairan mani di laboratorium hingga jarak waktu yang ideal saat cairan semen (cairan mani) diperiksa di meja laboratorium.

Analisa sperma yang akurat tidak bisa hanya dilakukan sekali. Semen harus diperiksa sekurangnya 2 kali dengan jarak waktu 1-2 minggu setelah pemeriksaan sebelumnya. Ini karena kita sering menemui variasi produksi cairan mani pada seorang individu.

Dengan demikian, sejak awal cairan mani dikeluarkan, bahkan sebelum dilihat di bawah mikroskop, sudah harus dicatat berapa lama cairan yang awalnya pekat itu mulai mencair (disebut ber-likuifaksi/ menjadi likuid=cair). Normalnya, 20 menit setelah ejakulasi. Itulah sebabnya mengapa banyak perempuan merasa “kok sperma suami saya tumpah/keluar dari vagina” beberapa saat setelah melakukan hubungan seks. Bisa jadi karena itu saatnya cairan sperma mulai mencair. Analisa sperma hanya bisa dilakukan setelah semen/cairan mani mencair.

Dengan demikian, jauh sebelum sperma-nya sendiri dilihat di bawah mikroskop, banyak hal yang harus menjadi catatan penting: bagaimana dengan warna keseluruhan cairan mani, pH (keasamannya diukur), kekentalannya (viskositas), bau dan jumlah volume keseluruhan cairan mani dalam 1 kali ejakulasi (sekadar informasi, normalnya cairan mani orang Indonesia yang subur berkisar 2-5ml, dan 5ml = 1 sendok teh).

Dari situ baru mikroskop digunakan: kita hitung berapa jumlah sel sperma yang berhasil ditemukan per ml (cc) cairan mani, berapa persen sperma per ml (cc) yang bergerak aktif, berapa persen sperma per ml (cc) yang mengalami cacat bentuk, juga menentukan kecepatan gerak rata-rata dari 25 sperma yang ditemukan untuk menempuh jarak l/20mm. Sebagai catatan yang tak kalah penting, juga bila ditemukan sel-sel muda, sel darah putih, sel darah merah, epitel (kelupasan sel pembuluh saluran sperma).

Pada kasus ketidaksuburan pria, sel darah putih biasa banyak ditemukan dalam cairan sperma yang ternyata berhubungan dengan kelainan bentuk sperma dan fungsinya (termasuk kegesitan gerak sperma). Kita tahu bahwa sel darah putih akan meningkat bila terdapat masalah imunitas dan juga peningkatan radikal bebas tanpa pertahanan antioksidan. Masalah daya tahan kekebalan tubuh (bisa dikatakan tubuh ditantang dengan hal-hal yang membahayakan dirinya) selama proses pematangan sperma (dari buluh-buluh halus dalam buah zakar hingga masuk ke saluran kelamin pria) tentu akan menghasilkan spermatozoa yang tidak sempurna, alias cacat – baik dari segi fungsinya (tidak bisa bergerak gesit) maupun bentuk/morfologinya yang tidak sempurna, sehingga menghasilkan istilah astheno-terato-zoospermia.

Daya tahan kekebalan tubuh dipaksa meningkat dengan memproduksi sel darah putih lebih banyak tidak hanya saat infeksi bakterial (seperti yang kita kenal dalam bentuk radang dan semua gejalanya yang bisa dirasakan). Tapi juga pada paparan zat-zat berbahaya yang tidak kita sadari (sehingga tubuh bereaksi untuk membentengi diri). Asap rokok, segala sesuatu yang tidak alamiah dihirup/terserap kulit/tertelan seperti polusi kendaraan bermotor, pewangi ruangan/wc/mobil, pewangi baju dan lemari, parfum, insektisida, pestisida, pewangi tubuh, zat kimia yang tak sadar dipakai setiap hari tanpa pelindung seperti pekerja pabrik, petugas parkir, polisi jalan raya, janitor/cleaning service.

Indonesia adalah negara Asia tenggara yang paling menderita karena asap rokok, karena gerakan anti asap rokok tidak pernah membuahkan hasil, bahkan rancangan undang-undang pun tak tentu arahnya. Rokok menyebabkan cacat bukan hanya pada spermanya saja. Sperma itu masih bisa menembus sel telur dan membuahkan keturunan tapi mewariskan kecacatan pada keturunannya. Saya ingin menggarisbawahi lagi dengan masalah asap rokok, karena dari penelitian terbaru ditemukan fakta mengerikan bahwa penderitanya bukan lagi si perokok, juga bukan lagi si penghirup langsung asap rokoknya melainkan orang ke tiga, yang tidak pernah mencium asam rokoknya langsung, tapi terpapar bekas asap rokok yang menempel. Bau bekas asap rokok yang lama menempel di mebel, karpet, tembok dan baju tingkat bahayanya lebih tinggi dari menghisap asapnya langsung. Hugo Destaillats menunjukkan residu berupa asam nitrat pada rokok yang terbakar membentuk carcinogenic tobacco-specific nitrosamine (TSNA).

Terungkapnya informasi bahwa sperma yang tidak lagi berfungsi dan berbentuk ‘sebagaimana yang diharapkan’ adalah suatu ‘cubitan’ kesadaran. Jangankan sperma, tapi ternyata diam-diam semua sel kita sebenarnya mengalami kecenderungan yang sama: berubah bentuk, berubah fungsi (hanya tidak kita sadari saja, sampai akhirnya muncul berbagai keluhan). Ini menjelaskan mengapa sekarang bermunculan masalah kanker dan penyakit yang dulu jarang sekali terdengar.

Bagaimana Jalan Keluarnya?

Menjadi pilihan bagi para pasangan, hidup seperti apa yang ingin didapatkan setelah menikah. Banyak pasangan muda menjadi begitu “asyik masyuk” dengan pekerjaannya ketimbang merawat kasih sayang dalam bentuk hubungan yang bersifat terbuka, jujur, peduli, dan penuh cinta. Pandangan-pandangan yang terlalu kaku, terpatri mati membuat hubungan cinta menjadi nomor yang ke sekian dalam prioritas hidup. Banyak orang masih melihat pilihan-pilihan hidup sebagai permainan menang-kalah. Ketimbang membuat semuanya masuk dalam area ’menang’. Ada orang yang berpikir berhenti dari pekerjaan demi kehamilan sebagai “kalah” di area pekerjaan, “menang” di area keluarga. Sebenarnya tidak perlu demikian. Perempuan masih bisa tetap bekerja dan juga menjadi hamil. Pertanyaannya adalah apakah pekerjaan anda membuat anda terlalu larut di dalamnya sehingga anda tidak imbang lagi, tidak ‘well balanced’ di area hidup anda yang lain?

Banyak orang bertanya: Apa sih makanan peningkat kesuburan? Sejujurnya, tidak ada makanan “jenis tertentu” yang benar-benar bisa mendongkrak kesuburan seseorang. Kesuburan adalah perwujudan dari kesiapan untuk menerima kehidupan baru dalam dirinya. Untuk itu dibutuhkan suasana imbang. Juga makanan yang berimbang. Sehat bukan melulu tentang makanan sehat tapi masih ada ‘sabotase’ lain: rokok (baik diri anda maupun pasangan anda dan lingkup kerja anda), stres emosional (dari dikejar dead line sampai kekhawatiran akan segala sesuatunya: keuangan, keamanan, kepercayaan, kesetiaan) dan masih banyak lagi yang akhirnya juga membuat anda merasa perlu ‘lari’ dari stres tersebut dan masuk dalam kebiasaan lain yang lebih tidak menguntungkan lagi: ngopi-ngopi, pulang malam.

Menikah dan memiliki keturunan adalah proses yang sangat alamiah. Namun gaya’ ‘medikalisasi kehidupan’ seakan-akan semua tahap dalam hidup adalah proses yang butuh campur tangan pakar kesehatan, dianggap kurang fit, dianggap perlu ‘ditambal’ sana sini. Pendapat ini membuat manusia merasa dirinya selalu tidak sehat. Keluarlah dari paradigma itu. Jadilah percaya diri, fokus pada tujuan, ciptakan semua menjadi hal yang mungkin, Tanggalkan segala sesuatu tentang kekurangan dan ketidakberdayaan – berangkatlah selalu dari keberlimpahan, Alam semesta ini adalah tentang kekayaan dan keberlimpahan. Masalah infertilitas janganlah sekali-kali hanya dipandang sebagai masalah suami atau istri saja, walaupun secara fisik barangkali salah satu dari pasangan tidak bermasalah. Tapi perkawinan dan memperoleh keturunan adalah tentang kebersamaan. Berada ‘dalam perahu yang sama’ membuat pasangan bisa ’nyambung’ menghadapi semua tantangan hidup, tidak ada pihak yang merasa bersalah atau terugikan.

Secara rasional dan saintifik baku, prinsipnya bila suami masih bisa menghasilkan sperma dan istri mempunyai sel telur, maka membuahkan keturunan bukanlah hal yang mustahil. Dalam persiapan IVF (In Vitro Fertilisation) alias pembuahan di luar tubuh alias prosedur bayi tabung, sperma suami akan dipilih yang terbaik (biasanya tetap bisa ditemukan yang tidak cacat) dan melalui sekian banyak tahapan prosedural laboratorium akan dipertemukan dengan sel telur istri (juga akan dipilih yang terbaik) di luar tubuh istri. Bila kegesitan/gerak sperma menjadi kendala, ada tindakan khusus yang disebut ICSI (Intra-Cytoplasmic-Sperm-Injection) alias sperma ’ditembakkan’ (didorong) masuk secara buatan menembus dinding telur istri di laboratorium. Semua dilakukan dengan sangat canggih, menggunakan mikroskop elektron. Bila akhirnya terjadi pembuahan (masih di lab) maka akan ditunggu hingga tingkat pembelahan sel tertentu, sampai tiba saatnya hasil pembuahan itu ’disuntikkan’ masuk ke dalam saluran telur ibu atau bahkan langsung ke dalam rahim ibu (yang juga sudah dipersiapkan secara hormonal untuk menerima hasil konsepsi/pembuahan dari laboratorium).

Selain kontroversi/perdebatan seputar keabsahan prosedur buatan ini dari sisi agama, sisi moral juga mempunyai tantangan yang tidak sedikit. Karena mahalnya biaya (di Indonesia berkisar Rp.50-60 juta saat ini tergantung tingkat masalah), maka ’teknisi’ lab tidak mau ambil risiko dengan ’hanya’ mempersiapkan 1 butir telur saja. Istri akan dipersiapkan secara hormonal untuk mampu mematangkan beberapa sel telurnya sekaligus yang tentu akan dibuahi oleh beberapa sperma terpilih. Nah, bagaimana bila terdapat 3-4 pembuahan sempurna yang terjadi? Membahas tentang kembar 2 barangkali sudah biasa. Tapi bagaimana dengan ’sisa telur ke 3 dan ke 4 tadi yang sudah dibuahi’ (sudah menjadi embrio hidup, calon manusia)?

Ilmu kedokteran juga sedang tertantang dengan penelitian berkelanjutan terhadap tumbuh kembang anak yang berasal dari pembuahan ’buatan’, apakah mempunyai kecenderungan penyakit/kelainan tertentu dan bagaimana mereka saat nanti merencanakan keturunan juga.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: