Mendeteksi dan Mengobati Penyakit Chikungunya

November 25, 2014

penyakit chikungunya

Ada beberapa penyakit yang sering dan terus menerus ada kasusnya sepanjang tahun salah satunya demam berdarah dengue (DBD) dan chikungunya. Kemiripan gejala dan pemeriksaan dua penyakit ini membuat kesulitan tersendiri dalam membedakannya. Gejala chikungunya sering tumpang tindih dengan penyakit demam berdarah dengue (DBD). Keluhan demam yang mendadak tinggi pada kedua penyakit tersebut hampir sama, itulah mengapa sulit dibedakan.

Meningkat Seiring Pemanasan Global

Chikungunya mungkin masih tidak sepopuler DBD. Istilah chikungunya mungkin berkaitan dengan salah satu gejala yang dialami oleh penderitanya yaitu nyeri pada persendian bahkan seperti merasa lumpuh. Nah, karena gejala tersebut, penderitanya sering tampak menekuk kaki karena menahan nyeri, sehingga muncullah istilah tersebut.

Virus dan Nyamuk

Chikungunya merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang tergolong dalam genus alfavirus. Virus jenis ini termasuk dalam famili Togaviridae dan ditularkan melalui nyamuk. Jenis nyamuk yang bertanggung jawab menyebarkan benih penyakit ini sama dengan nyamuk yang menebar teror demam berdarah, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Bedanya, virus yang menyebabkan demam berdarah adalah virus dengue yang masuk dalam kelompok flavivirus. Pada awal penyebaran penyakit ini di Afrika, Ae. aegypti merupakan vektor (agen penyebar penyakit) utama chikungunya, tapi jenis Ae. albopictus ternyata merupakan vektor penyebab utama pada wabah yang terjadi baru-baru ini di India dan negara-negara Asia Tenggara. Intinya, peranan nyamuk sangat penting dalam penyebaran Chikungunya. Itulah sebabnya mengapa angka kejadian penyakit ini meningkat selama dan setelah musim hujan, ketika nyamuk sedang banyak-banyaknya.

Genangan air bersih yang lazim ditemukan pada saat musim hujan, merupakan tempat favorit nyamuk jenis ini untuk berkembang biak. Larva nyamuk sering ditemukan dalam genangan air hujan yang tertampung dalam benda di sekitar rumah, seperti kaleng bekas atau tempat minum burung atau tempat-tempat penampungan air lain seperti bak mandi.

Demam dan Nyeri Sendi

Jadi, apa saja gejala penyakit ini? Penyakit ini dapat menimbulkan gejala yang sangat mengganggu. Dimulai dengan demam yang mendadak tinggi, nyeri sendi dan atau otot, kemerahan di kulit. Gejala lainnya seperti sakit kepala, badan terasa lemas, sampai mual, muntah juga seringkali dikeluhkan.

Demam pada chikungunya biasanya berlangsung 5 hari atau lebih. Pada anak, demam dapat disertai dengan ruam-ruam kemerahan yang muncul 3-5 hari setelah awal demam, atau mata memerah. Pada orang dewasa, selain demam, nyeri sendi dan otot sangat menonjol. Pasien sering mengeluhkan tidak bisa berjalan karena merasa sangat sakit saat berjalan sehingga mereka sering merasa seperti lumpuh (walau tidak benar-benar lumpuh).

Chikungunya sering tumpang tindih dengan penyakit demam berdarah dengue (DBD). Keluhan demam yang mendadak tinggi pada kedua penyakit tersebut hampir sama, itulah mengapa sulit dibedakan. Namun, demam chikungunya selalu disertai dengan nyeri sendi disertai bengkak pada tungkai bawah dan atas yang pada beberapa kasus nyeri sendi bisa bertahan lama sampai beberapa bulan bahkan bisa kambuh, atau timbul bercak kemerahan di punggung atau dada bagian atas yang bisa hilang sendiri (selflimiting).

Di daerah Asia tenggara, beberapa laporan kasus bisa menimbulkan perdarahan sehingga sering diduga sebagai DBD. Namun perdarahan pada chikungunya tidak sehebat DBD dan tidak sampai mengakibatkan renjatan (syok). Yang jelas, angka kematian akibat chikungunya jauh lebih rendah dibandingkan dengan kematian akibat DBD. Walaupun demikian infeksi chikungunya ternyata belakangan ini dilaporkan bisa juga menyebabkan hepatitis atau penurunan kesadaran (ensefalopati) pada penderitanya, faktor risiko untuk menjadi berat pada infeksi chikungunya terkait dengan adanya penyakit penyerta seperti kencing manis, gangguan fungsi hati dan ginjal akibat sebab lain sebelumnya.

Berbeda dengan DBD, chikungunya seringkali didiagnosis secara klinis. Pemeriksaan serologi tentunya dapat dilakukan dengan metode ELISA memeriksa IgG dan IgM terhadap virus chikungunya. Namun pemeriksaan tersebut belum tersedia secara rutin di fasilitas kesehatan pada umumnya.

Atasi Gejala dan Istirahat

Tidak berbeda dengan DBD, chikungunya pada dasarnya adalah self-limiting disease, artinya, dapat sembuh sendiri. Oleh sebab itu, pengobatan ditujukan untuk mengatasi gejala yang mengganggu (simtomatis). Obat-obatan yang dapat digunakan adalah obat analgesik (anti-nyeri) dan anti-piretik (untuk meredakan demam), seperti paracetamol. Terapi lain disesuaikan dengan gejala yang dirasakan. Namun yang terpenting adalah istirahat dan menjaga asupan makanan yang bergizi.

Nyeri Sendi yang Bertahan Lama

Nyeri sendi merupakan satu gejala yang dapat bertahan sampai berminggu-minggu bahkan lebih dari 1 bulan sehingga dapat mengganggu aktivitas pasien. Nyeri sendi dapat terasa sangat hebat sampai membuat penderitanya tidak bisa bergerak. Beratnya gangguan pada sendi terkait langsung dengan masuknya virus ke dalam sendi yang menimbulkan reaksi radang akibat masuknya sel radang ke dalam sendi. Namun, ternyata pada chikungunya tidak hanya sendi yang terkena infeksi tapi dapat pula timbul kerusakan saraf perifer, walaupun mekanismenya belum secara penuh dipahami. Untuk kondisi tersebut, terapi bersifat simtomatik, pemberian kortikosteroid ke dalam sendi bisa membantu mengurangi keluhan.

Basmi Sarang Nyamuk

Mengingat penyakit chikungunya ditularkan oleh nyamuk, maka untuk mencegah penyebaran penyakit ini yang harus dilakukan adalah mengendalikan vektor atau nyamuk itu sendiri. Caranya, pasti sudah tidak asing lagi, karena sudah sering dipublikasikan sebagai pencegahan DBD, yaitu 3M, Menguras, Menutup, Mengubur benda-benda yang dapat menjadi tempat penampungan air tempat berkembangbiaknya nyamuk Ae. aegypti. Selain itu, hindari kontak dengan nyamuk sebisa mungkin, dengan menggunakan repellent, atau menyemprotkan cairan anti-serangga.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: