Memilih, Menyimpan dan Mengolah Makanan Instan

September 18, 2013

makanan instan

Makanan instan sering dipilih para wanita karir sebagai solusi praktis dalam menyiapkan menu keluarga. Jangan kuatir, makanan instan tidak selalu buruk. Asal cermat di dalam memilih, menyimpan, dan mengolah makanan instan bisa menjadi solusi praktis bagi Anda yang sibuk.

Tidak bisa dipungkiri, merebaknya produk makanan instan seiring dengan gaya hidup masyarakat perkotaan yang menuntut serba cepat dan praktis. Keterbatasan waktu di dalam mengolah masakan karena alasan pekerjaan seringkali menjadi alasan memilih makanan instan. Coba kita menengok isi kulkas, pasti terdapat terdapat beragam makanan instan seperti nugget, bakso, sosis, sayuran beku, kentang beku, sarden, kornet kalengan, sereal instan bahkan mungkin makanan kemasan siap saji yang tinggal kita panaskan. Praktis memang, namun perlu kita cermati agar hidangan yang tersaji tidak hanya praktis dan lezat, namun juga sehat dan bergizi.

Makanan instan bisa menjadi solusi praktis bagi Anda yang sibuk. Namun banyak hal yang harus dicermati sebelum mengonsumsi makanan instan. Seperti tanggal kedaluwarsa, kelayakan kemasan, penyimpanan yang benar, pengolahan, komposisi bahan, hingga kandungan gizinya. Tentu agar makanan instan tetap berkualitas, bergizi dan tercipta menu keluarga dengan kandungan gizi yang seimbang. Cermati hal-hal berikut sebelum memilih dan mengolah makanan instan.

✓ Tanggal Kadaluwarsa dan Kelayakan Kemasan

Saat berbelanja makanan instan, jangan lupa untuk selalu memperhatikan tanggal kadaluwarsa. Tanggal kedaluwarsa biasanya ditulis di dalam kemasan. Urungkan niat untuk membeli jika makanan sudah terlalu dekat masa kedaluwarsanya. Dengan mencermati tanggal kadaluwarsa, Anda akan terhindar dari keracunan akibat kontaminasi mikroba. Jangan pernah membeli makanan instan di dalam kemasan jika tidak terdapat expire date. Produk yang tidak memiliki tanggal kedaluwarsa menandakan produk diolah tanpa menghindahkan syarat mutu yang ditentukan oleh lembaga pengawasan pangan Indonesia.

Makanan olahan biasanya dijual di dalam kemasan. Fungsi dari kemasan adalah untuk melindungi produk dari kontaminasi mikroba dan mencegah kerusakan fisik akibat benturan selama distribusi atau penyimpanan. Cek keutuhan kemasan, contohnya, makanan instan dalam kaleng, apakah kondisi kaleng masih utuh, tidak penyok, berkarat atau kembung. Jika makanan dikemas dalam wadah plastik atau aluminium foil, teliti apakah kemasan memiliki logo foodgrade yang aman untuk kesehatan. Kondisi kemasan yang baik ditandai dengan bentuk kemasan yang utuh, tidak robek atau terkoyak. Kemasan yang rusak dapat merusak makanan yang dikemas dan bisa membahayakan kesehatan. Seperti kemasan yang kembung, menunjukan adanya aktifitas organisme yang menimbulkan gas di dalam kemasan. Kemasan karatan, robek atau rusak dapat memungkinkan makanan terpapar kotoran, debu, dan bakteri.

Produk makanan instan yang dijual dipasaran harus lolos uji kesehatan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPPOM) serta mendapat izin edar dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia (DEPKES RI). Makanan yang memiliki label BPPOM dan ijin dari DEPKES RI menandakan makanan lolos sarat uji mutu kesehatan dan kelayakan kandungan nutrisi. Hindari membeli produk makanan yang tidak memiliki syarat mutu dari kedua lembaga pengawas makanan ini. Bagi umat muslim, kehalalan juga menjadi syarat penting produk makanan. Beli makanan instan yang memiliki label halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

✓ Cermati Mutunya

Syarat mutu makanan instan bisa dilihat dari sisi warna, aroma, rasa, dan teksturnya. Makanan instan yang baik memiliki warna yang sesuai dengan bahan dasarnya. Seperti sayuran beku, harus tetap berwarna hijau segar. Kemudian, rasa juga tidak boleh memiliki indikasi rasa yang menyimpang karena hal tersebut menandakan kualitas makanan yang sudah tidak baik diakibatkan jamur atau tercemar bakteri pembusuk.

Selanjutnya kita dapat meneliti kualitas makanan instan dengan mencium aromanya. Aroma yang baik adalah yang segar dan khas, sesuai dengan karakteristik jenis makanannya. Jika muncul aroma tengik, asam atau tercium bau busuk, ini menandakan makanan sudah rusak. Selain itu, tekstur makanan juga harus dicermati. Misalnya makanan berbentuk bubuk harus berupa butiran halus, tidak bergumpal. Makanan berbentuk biji harus utuh, tidak ada bekas termakan kutu. Makanan yang kental, seperti saus tidak boleh terlihat ada lapisan terpisah, gumpalan atau endapan. Karena perubahan tekstur pada makanan menandakan kualitas makanan yang sudah menurun.

✓ Simpan Dengan Benar

Menyimpan makanan instan harus sesuai dengan jenis bahannya. Seperti daging beku, ikan beku, nugget, sayuran beku, atau ice cream harus disimpan dalam freezer. Yoghurt, susu kemasan siap minum dan jus sebaiknya disimpan dalam kulkas. Sereal, mi instan atau spaghetti sebaiknya disimpan dalam tempat yang tertutup rapat, sejuk, dan kering. Menyimpan makanan instan di tempat yang sesuai menjadikan makanan tahan lama dan dapat mempertahankan kualitas gizi dengan baik. Makanan yang disimpan sebaiknya dalam wadah yang tertutup rapat agar terhindar dari kontaminasi mikroba selama masa penyimpanan. Selalu memeriksa warna, aroma, dan tekstur bahan makanan sebelum diolah karena kerusakan dapat saja terjadi selama masa penyimpanan, apalagi jika makanan kemasan sudah dibuka.

✓ Cermati Kandungan Gizi

Periksa kandungan gizi dalam kemasan makanan instan. Memeriksa kandungan gizi menjadikan kita tau apakah makanan sesuai kebutuhan keluarga atau tidak. Hal ini penting agar kita terhindar dari ganguan kesehatan. Misalnya, untuk penderita hipertensi, obesitas atau diabetes, tentu harus membeli makanan yang rendah garam, gula, lemak dan karbohidrat. Berbeda dengan memilih produk makanan instan untuk anak. Pilih yang bergizi lengkap, kaya protein dan kalsium yang baik untuk pertumbuhannya.

✓ Variasikan Bahan dan Olah Sesuai Petunjuk Kemasan

Makanan instan biasanya terdiri dari satu jenis komposisi bahan, seperti nugget ayam, kentang beku, sayuran beku, buah kalengan, mi instan, sereal, atau pasta. Kondisi ini menjadikan makanan instan hanya mengandung salah satu kandungan gizi yang dominan. Seperti pasta instan, dominan mengandung karbohidrat. Perlu diolah menjadi masakan dengan tambahan sumber protein, vitamin, mineral, dan serat agar tercipta hidangan dengan komposisi gizi seimbang.

Di dalam kemasan produk makanan instan biasanya menyertakan petunjuk cara pengolahan dan saran penyajian. Ikuti sesuai petunjuk agar tidak terjadi kesalahan dan kegagalan saat mengolah makanan instan.

✓ Makanan Segar Lebih Baik

Meskipun produk makanan instan bisa menjadi solusi praktis, makanan yang sudah diolah tetap memiliki kualitas nutrisi tidak sebaik makanan segar. Untuk produk seperti daging, ikan, buah, dan sayuran yang mudah dijumpai sebaiknya tetap menggunakan bahan makanan segar. Proses pemanasan, pemasakan, dan lama penyimpanan dapat menurunkan kualitas gizi makanan instan terutama golongan vitamin dan mineral yang mudah rusak selama proses produksi.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: