Membaca Informasi Nilai Nutrisi Makanan Kemasan

January 10, 2014

makanan kemasan

Mencermati label makanan seperti melihat bobot-bibit-bebet pasangan hidup. Membuat kita yakin bahwa pilihan kita sudah tepat.

Ketika berbelanja makanan atau minuman dalam kemasan, apa saja yang Anda pertimbangkan? Harga, prioritas kebutuhan, rasa, keinginan mencicip suatu produk baru, kemasan, apa lagi? Pernah terpikir untuk memilih suatu produk makanan kemasan berdasarkan perbandingan nilai nutrisi yang tertera pada kemasannya?

“Kok, repot sekali, sih? Boro-boro membandingkan, membaca saja kadang-kadang nggak sempat.” Begitu mungkin pikir Anda.

Tetapi, kebiasaan kurang baik seperti itu jangan lantas dibiarkan, dong. Mari, mulai sekarang biasakan membaca label makanan yang tertera pada setiap kemasan. Meski tujuan setiap orang berbeda-beda, biasa membaca label makanan akan mendatangkan banyak manfaat. Salah satunya, menjadikan Anda konsumen yang cerdas. Sebagai konsumen cerdas yang rajin membaca label, Anda bakal lebih yakin bahwa produk yang Anda pilih sesuai dengan persyaratan yang Anda tetapkan. Misalnya, produk tersebut sudah sesuai dengan tujuan diet Anda, sesuai dengan standar kesehatan yang Anda yakini, atau Anda anggap sesuai dengan harganya.

Tetapi, apa iya, yang ditulis di kemasan selalu benar? Memang sih, idealnya, keinginan Anda untuk selalu mencermati label makanan didukung oleh informasi yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan pada setiap label. Tetapi, kalau selalu berpikir negatif soal kejujuran para produsen, kita, sebagai konsumen, tidak akan pernah menjadi cerdas. Langkah terbaik, ya, mengetahui cara membaca label makanan yang benar.

Ini maksudnya apa, ya?

Marilah kita berasumsi dahulu bahwa segala keterangan yang ditulis pada kemasan makanan adalah benar adanya. Dipaparkan secara jujur oleh produsen atau pembuat bahan makanan tersebut untuk kepentingan konsumen. Karena itu, pada setiap kemasan, secara umum seharusnya tercantum hal-hal berikut:

  • nama makanan (misalnya: susu cokelat rendah lemak)
  • daftar bahan-bahan pembuatnya (misalnya: susu sapi segar, bubuk cokelat)
  • kadar atau komposisi bahan yang membuat makanan tersebut bisa dinamai atau diasosiasikan dengan namanya tersebut (misalnya: 100% susu sapi segar)
  • informasi nilai gizi
  • masa bahan pangan tersebut bisa dikonsumsi (misalnya: baik digunakan sebelum 17 Agustus 2014)
  • saran penyimpanan
  • nama pembuat atau nama pabrik
  • tempat pembuatan
  • petunjuk penggunaan

Dari bermacam informasi tentang makanan tersebut, yang perlu dibaca lebih teliti adalah informasi nilai gizi atau sering tertulis sebagai ‘nutrition facts’. Informasi nilai gizi biasanya berupa tabel. Ada banyak hal yang bisa diketahui dari sini, seperti:

Takaran saji dan jumlah sajian

Takaran saji merupakan jumlah atau banyaknya makanan yang sebaiknya dikonsumsi untuk satu kali makan. Takaran saji umumnya menggunakan ukuran yang mudah dimengerti, seperti sekian cangkir, sendok teh, sendok makan, potong, yang juga diikuti ukuran seperti sekian gram atau mililiter.

Jumlah sajian adalah berapa banyak atau berapa kali suatu produk dalam suatu kemasan bisa dikonsumsi. Perhatikan jumlah sajian dan jumlah yang Anda konsumsi. Bila jumlah sajian satu kemasan kotak besar susu adalah 4 gelas, misalnya, sementara Anda menghabiskan setengahnya, berarti Anda sudah menghabiskan 2 gelas susu.

Kadar dan jumlah kalori

Pada kemasan akan tertera kadar kalori dan kalori yang berasal dari lemak. Hal ini menunjukkan seberapa besar jumlah enerji yang akan masuk, bila Anda mengonsumsi produk tersebut. Dengan membaca jumlah kalori dan takaran saji, Anda bisa memperkirakan besar kalori yang masuk ke tubuh. Contohnya, satu takaran saji susu cair cokelat memiliki 180 kalori yang 45 kalorinya berasal dari lemak. Bila anda minum 2 takaran, berarti anda memasukan 360 kalori yang 90 kalorinya berasal dari lemak. Untuk Anda perhatikan, makanan dengan kandungan 40 kalori bisa digolongkan rendah, 100 tergolong sedang, dan 400 termasuk tinggi.

Komposisi makanan

Pada label akan tercantum macam-macam kandungan nutrisi yang terdapat dalam produk makanan, seperti lemak, karbohidrat, protein, dan vitamin. Tanpa membaca kemasan, mungkin Anda sudah tahu bahwa produk mi, roti, biskuit, atau selai, misalnya, merupakan produk yang kadar karbohidratnya tinggi. Tetapi, dengan membaca kandungan nutrisinya, Anda bisa memperoleh gambaran, jenis nutrisi apa lagi yang bisa Anda dapat selain karbohidrat. Misalnya, apakah cukup protein, mengandung kalsium, atau kalau diklaim ‘high vitamin C’, benarkah kandungan vitamin C-nya cukup besar? Anda bisa memilih produk yang cukup tinggi kandungan serat, vitamin A, vitamin C, kalsium, dan zat besinya.

Angka kecukupan gizi (AKG)

Sering juga dituliskan sebagai ‘daily value (DV)‘. AKG merupakan besar asupan suatu zat gizi yang dianjurkan untuk dikonsumsi dalam sehari. Biasanya dibuat berdasarkan kebutuhan kalori orang normal (yang tidak sedang melakukan diet penurunan berat badan), yaitu 2000 kalori per hari. Meski Anda, seperti kebanyakan orang, mungkin tidak memperhatikan berapa kalori yang masuk ke tubuh dalam sehari, Anda masih bisa menggunakan %AKG ini sebagai panduan. Kuncinya, 5% AKG berarti zat nutrisi tersebut tak perlu dikonsumsi dalam jumlah besar, 20% AKG berarti dibutuhkan dalam jumlah cukup banyak.

Kadar lemak

Ada beberapa kategori lemak yang patut Anda perhatikan, yaitu bebas lemak (mengandung 0,5 gr per takaran) dan rendah lemak (kurang lebih 3 gr per takaran).

Makanan bisa disebut bebas kolesterol bila dalam tiap takaran terdapat kurang dari 2 mg kolesterol dan 2 gr lemak jenuh (saturated fat). Hindari produk yang berkadar lemak jenuh tinggi. Selain itu, makanan kemasan di Indonesia umumnya masih mengandung lemak trans (trans fat). Padahal, di negara-negara maju, penggunaan lemak trans sudah sangat dibatasi. Bahkan, ada kemasan yang mencantumkan ‘bebas trans fat’. Karena itu, pilih produk yang kandungan lemak tak jenuhnya lebih tinggi dibanding lemak jenuhnya. Sehingga Anda bisa meminimalkan kadar lemak trans yang masuk ke tubuh. Minimalkan pula produk yang mencantumkan hydrogenated oil atau minyak kedelai/canola hidrogenasi. Minyak macam ini biasanya menjadi lemak trans. Selain itu, pastikan total lemak dalam suatu makanan antara 20%-30%.

Garam

Menurut penelitian, konsumsi sodium atau garam kurang dari 2300 mg per hari bisa menurunkan tekanan darah tinggi. Jadi, perhatikan kadar sodium yang tertera di label. Kebanyakan sodium yang Anda konsumsi berasal dari makanan olahan, bukan dari garam yang ditambahkan ke masakan. Sehingga bila Anda cukup banyak mengonsumsi makanan kemasan tertentu, tanpa sadar Anda sudah memasukkan cukup banyak sodium. Untuk meredam efek yang ditimbulkan oleh sodium pada tekanan darah, banyak-banyaklah menyantap makanan yang mengandung potasium.

Gula

Gula berarti tambahan kalori. Jadi, lebih baik pilih produk makanan yang tidak memuat gula tambahan dalam kadar yang tinggi. Nama lain gula yang perlu Anda tahu adalah sukrosa (sucrose), glukosa (glucose), dan fruktosa (fructose). Sekarang banyak pula produk yang menyatakan produknya rendah kalori, karena menggunakan gula buatan. Pertimbangkan baik-baik untung-rugi pemilihan produk dengan gula buatan atau gula sungguhan ini.

Membaca trik produsen

Selain memahami dengan baik segala hal yang tersurat pada kemasan makanan, ada baiknya Anda juga mengerti hal-hal yang seringkali tersirat pada kemasan. Keterangan yang tersirat ini, sebenarnya tak selamanya membohongi konsumen. Namun, menurut Dr. Ir. Sugiyono MAppSc, dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor, masih banyak produsen yang menuliskan klaim atau pernyataan yang berlebihan pada labelnya. Misalnya, ‘sumber vitamin atau mineral’. Padahal, pernyataan bahwa produk pangan merupakan sumber zat gizi tertentu boleh dicantumkan, apabila jumlah zat gizi dalam produk tersebut minimal 10% lebih banyak dari jumlah kecukupan zat gizi sehari yang dianjurkan dalam satu takaran saji.

Ini bisa berarti, tak semua deskripsi pada label makanan sesuai dengan makanan di dalamnya. Bila dituliskan dengan tidak sesuai, bukan hanya konsumen yang dibohongi, tetapi berarti si produser juga telah berlaku curang pada produsen lain yang memproduksi barang sejenis. Meski ‘tricky‘, masih banyak produsen yang melakukan hal-hal tersebut. Misalnya, produk saos tomat yang tidak dibuat dari tomat, pada labelnya ditulis ‘saos tomat’ dengan gambar tomat dan salah satu bahannya mencantumkan tomat. Padahal, untuk bisa disebut saos tomat, sekian persen produk tersebut harus terbuat dari tomat.

Ada pula produsen yang mengganti bahan baku dengan bahan campuran lain, sehingga harganya lebih murah. Bila Anda menemukan produk yang menuliskan ‘dengan olive oil’, misalnya, tetapi harganya sangat murah, mungkin Anda perlu curiga. Bukan tak mungkin olive oil tersebut sudah dicampur dengan minyak sayur biasa. Hal yang sama dapat juga terjadi pada jus jeruk, yang mungkin cukup banyak dicampur air.

Kini banyak juga konsumen yang ingin menghindari bahan pengawet, pemanis atau pewarna sintetik. Mestinya, bahan-bahan tersebut tertulis jelas pada label. Tetapi, seringkali bahan-bahan ini tidak dituliskan atau ditulis secara tidak jelas dalam label. Bahan-bahan yang berbunyi asam benzoat, kalium nitrit, atau metil-p-hidroksibenzoat biasanya merupakan pengawet. Selama kadarnya jauh di bawah ketentuan asupan harian yang diizinkan, Anda masih bisa tenang.

Ada beberapa produk yang bisa dipercaya tidak mengandung pengawet. Misalnya yang dikemas dengan teknik UHT, produk makanan kering, atau makanan yang expired date-nya pendek. Hati-hati bila suatu produk terasa getir atau berwarna indah, tetapi mencantumkan kata ‘tanpa pewarna atau pemanis buatan’.

Begitu juga dengan penulisan ‘tidak mengandung kolesterol’ pada kemasan minyak kelapa sawit atau kacang. Seakan-akan produk tersebut menggunakan bahan baku khusus atau mengalami proses pengolahan khusus, sehingga tidak mengandung kolesterol, mengesankan produk yang sama dari produsen lain mengandung kolesterol. Padahal, secara alamiah, produk yang berasal dari tanaman (nabati) memang tidak mengandung kolesterol.

Klaim berlebihan juga bisa Anda temui dalam bentuk efek yang ditimbulkan, misalnya, ‘menurunkan kadar kolesterol’, ‘menurunkan gula darah’, atau ‘mencegah osteoporosis’. Menurut Sugiyono, klaim berlebihan ini sebetulnya ada benarnya. Tetapi, pernyataan yang dibesar-besarkan itulah yang bisa membingungkan bahkan mengecoh konsumen. “Lagipula, aturan mainnya, pernyataan pada label yang menyangkut manfaat produk terhadap kesehatan boleh dicantumkan apabila didukung fakta ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Sugiyono. Untuk hal-hal macam Ini, tidak bisa tidak, sebagai konsumen Anda harus membuka mata lebar-lebar, mencermati label makanan. Misalnya, konsumen muslim perlu memperhatikan ada tidaknya tulisan atau logo halal pada label. Begitu juga dengan komposisi yang digunakan, apakah terdapat unsur yang diharamkan.

Label makanan memang perlu dibaca dengan seksama untuk mengetahui ‘bobot, bibit, dan bebet’ suatu produk. Apalagi bila Anda ingin menghindari bahan tertentu, ingin berdiet, atau ingin memilih suatu produk untuk alasan kesehatan. Mari berasumsi, produsen dan BPOM telah berusaha menyajikan informasi yang benar yang patut dipercaya. Kalau tidak percaya, Anda bisa memilih produk lain dari produsen yang menurut Anda bisa dipercaya. Kalau belum cukup, Anda bisa menelepon nomor layanan konsumen yang terkadang tercantum pada kemasan. Kalau Anda tetap tidak percaya, tinggalkan produk tersebut dan semoga Anda punya pengganti yang menurut Anda bisa lebih dipercaya. Yang penting juga, buka mata dan wawasan, agar Anda pun semakin cerdik membaca label makanan. Semoga, seperti memilih calon pasangan hidup, pilihan Anda soal makanan tak lagi salah.

Harus diregistrasi

Sebelum dipasarkan, suatu produk makanan harus mendaftarkan produknya ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di tingkat pusat atau nasional dan propinsi. Pada saat mendaftarkan, produsen menyertakan contoh produk beserta kemasannya serta dokumen yang diperlukan. BPOM akan meneliti produk dan labelnya.

Penelitian terutama dilakukan pada kelayakan dan keamanan produk yang akan dikonsumsi oieh konsumen. Juga pada kebenaran dan kelengkapan informasi yang tertulis. Jika semuanya disetujui, produk itu diberi nomor registrasi ‘MD’ untuk makanan dari dalam negeri, atau ‘ML’ untuk makanan yang berasai dari luar negeri. Jika tidak disetujui, produk tersebut tidak akan mendapatkan nomor registrasi ‘MD’ atau ‘ML’ dan seharusnya belum boleh dipasarkan.

Selain itu, semua produk pangan yang dikemas wajib diberi label, kecuali kemasan yang terlalu kecil (sehingga tidak seluruh keterangan bisa ditulis), produk pangan yang dikemas secara langsung di hadapan pembeli, atau bahan pangan yang dijual dalam ukuran besar/curah (di atas 500 kg). Produk pangan olahan yang wajib didaftarkan harus mencantumkan nomor pendaftaran (registrasi) dari BPOM.

Menurut Sugiyono, layaknya informasi penting, deskripsi pada labei yang berupa tulisan atau gambar harus benar dan tidak menyesatkan. Sayangnya, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak labei yang mengandung informasi yang tidak benar atau benar tetapi menyesatkan. Atau, tidak semua produk yang dijuai di pasaran diberi label yang memuat semua informasi tersebut. Karena itu, tanpa mengecilkan stempel ‘MD’ atau ‘ML’, Anda memang sebaiknya berhati-hati memilih suatu produk dan dengan teiiti membaca kemasannya sebelum membeli.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: