Memaafkan Sudah, Melupakan Belum Tentu!

November 17, 2013

memaafkan

Dengan memaafkan dan melupakan, kita tidak lagi kemana-mana membawa ‘koper’ yang berisi sakit hati, dendam, dan amarah sehingga kita bisa maksimal dalam mencintai, menikmati dan menghargai hidup.

Kata “maaf” sudah memiliki efek baik dan manjur dalam meredakan hubungan yang sedang bergejolak ataupun emosi seseorang yang sedang memanas. Sayangnya, banyak orang yang mengucapkan maaf hanya sekadar memenuhi tuntutan sosial dan norma kesopanan. Ketika bulan puasa dan Lebaran, misalnya, orang menjadi sangat mudah mengucapkan maaf. Dan ada semacam keharusan untuk memaafkan orang lain. Padahal, mungkin hati masih menyimpan rasa kesal dan amarah.

Memang, memaafkan tidak semudah yang diucapkan. Dibutuhkan proses dan waktu untuk menemukan satu titik di mana Anda tidak hanya bisa memaafkan, tapi juga mampu melupakannya. Psikolog Micha Catur Firmanto, MPsi menguraikan bahwa memaafkan adalah hal paling mendasar agar hati terbebas dari hal negatif sehingga hati menjadi tenang dan damai. Itulah bahagia yang sesungguhnya dalam kehidupan.

Makna Maaf dan Memaafkan

Psikolog Micha menguraikan, memaafkan adalah sikap melepaskan segala hal-hal negatif, seperti:sakit hati, dendam, amarah, kepahitan dan keinginan kita untuk membalas dendam dengan sebuah kesadaran yang mendasari seseorang dalam mengambil keputusan dalam bertindakan/ respon positif. Agar lebih tenang dan mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya, memaafkan penting dilakukan.

“Dengan memaafkan, Anda tidak lagi kemana-mana membawa ‘koper’ yang berisi sakit hati, dendam, amarah, hal-hal negatif lainnya sehingga kita bisa maksimal dalam mencintai, menikmati dan menghargai setiap hal baik kecil maupun besar yang ada di dalam hidup Anda,” paparnya.

Sebaliknya, menyimpan maaf adalah membiarkan diri Anda menumpuk ‘sampah-sampah’ luka hati, dendam, amarah, sehingga sadar maupun tidak sadar berpengaruh pada kesehatan tubuh Anda, ekspresi wajah, tutur kata kalimat dan pandangan Anda mengenai hidup.

Agar Sampai ke Hati

Memang, memaafkan memang tidak semudah yang dikatakan. Memaafkan adalah sebuah pilihan dari banyak pilihan dalam daftar menu kehidupan. Memaafkan tidak dapat instan karena manusia adalah rangkaian proses, dimana memori adalah bagian yang indah dalam sejarah manusia yang tersimpan di alam bawah sadar. “Namun, tidak ada salahnya jika rasa syukur tetap terus harus tertanam karena membuat Anda belajar menjadi orang yang lebih baik,” katanya.

Psikolog Micha menuturkan, satu kunci untuk memaafkan, yaitu didasari oleh motif dan mindset yang positif serta berorientasi pada tujuan yang lebih mulia dan besar. Anda perlu melepaskan semua hal-hal negatif dan mulai mengisi pikiran, hati, emosi dengan hal-hal yang positif, seperti: berdoa, berkegiatan sosial, mengerjakan hobi-hobi kita, bersosialisasi dengan orang-orang yang menurut kita mencintai dan menghargai hidup, dll. Dibutuhkan kemauan, kerelaan, kebesaran hati untuk melepaskan dan membuang ‘koper’ yang berisi sakit hati, dendam, amarah, segala hal negatif dalam memaafkan.

“Memang, sejarah di masa lalu tidak dapat dihapuskan, namun kita dapat mengubahnya dengan membuat sejarah baru di masa depan mulai hari ini, dengan berpikir, bertindak dan bersikap positif,” ujarnya.

Agar tidak hanya menjadi sebuah simbol, Psikolog Micha menegaskan memaafkan perlu keikhlasan hati dalam menerima dan melihat kembali jauh kedepan tujuan hidup di dalam diri Anda yang nantinya akan dituangkan dalam pikiran maupun tindakan sehari-hari secara konsisten.

“Setiap pribadi yang ingin memaafkan harus memiliki dan meyakini sebuah nilai positif terlebih dahulu, dimana kesadaran ini akan mendorong dalam setiap tutur kata, tindakan bahkan perilaku maupun pikirannya didorong pada tujuan yang lebih mulia dan besar dalam merespon situasi/ kejadian negatif sekalipun menjadi sebuah respon positif yaitu sikap memaafkan,” urainya.

Agar memaafkan sampai ke hati, maka Anda sebaiknya berkomitmen untuk melibatkan hati dalam proses memaafkan. Maafkanlah diri Anda sendiri, sebelum memaafkan orang yang menyakiti Anda.

“Kita pun perlu memaafkan diri kita sendiri, tidak perlu menghakimi atau terlalu keras pada diri kita. Memaafkan adalah sebuah proses. Memerlukan waktu, kemauan, kebesaran hati,” tuturnya

Memaafkan dan Melupakan

Di balik saran ‘maaf dan lupakan’ itu, seolah tersirat harapan tertentu. Orang yang meminta maaf, berharap orang lain akan langsung menerima maafnya dan ‘melupakan’ kesalahan mereka. Sebaliknya, di saat kita berada di pihak yang memberi maaf, terkadang kita pun merasa berat untuk melupakan kesalahan yang sudah termaafkan tersebut. Saran forgive and forget, meski kedengarannya indah, sesungguhnya tidak gampang untuk dilakukan.

Menurut Micha, memaafkan bukan berarti melupakan. Namun, tidak menutup kemungkinan, fase setelah memaafkan adalah melupakan. Memaafkan dan melupakan tahapan atau fase di dalam diri seseorang untuk mengubah stimulan negatif menjadi positif yang merupakan suatu teknik dari emotional focused coping.

“Sadar tidak sadar, mau tidak mau, memori tersebut tersimpan di alam bawah sadar sehingga secara tidak sengaja ter- recall. Jika ini menjadi hal yang sangat traumatis, tentu saja memerlukan proses antara jarak waktu dengan jarak yang menjadi pusat stressor dari respon negatif itu sendiri. Misalnya, ketika mendengarkan lagu tertentu perasaanya menjadi sedih kembali, melihat suatu barang menjadi marah, dll,” paparnya.

Namun, bukan berarti ini mustahil dilakukan. Bagi Anda dengan karakter yang matang, memaafkan bukan sesuatu yang sulit dan lama karena menurut Psikolog Micha cepat tidaknya memaafkan sangat bergantung dari kematangan karakter dan cara seseorang dalam merespon sesuatu dalam kehidupannya yang sangat dipengaruhi nilai-nilai yang diyakininya.

“Memaafkan secara utuh ataupun tidak adalah bagian dari kematangan serta nilai yang diyakini seseorang dalam tindakan positif yang dipilih oleh orang tersebut sebagai sebuah sikap dan keputusan positif, Apakah orang yang memaafkan utuh dalam secara konstan melupakan? Tidak. Dalam ambang kesadaran ‘iya’, namun dalam ambang ketidaksadaran hal tersebut menjadi catatan yang terlukis dalam memori yang bisa diubah juga menjadi catatan positif namun sang waktu lah yang memahami pribadi orang tersebut kapan dapat mengubahnya sesuai dengan kematangan yang dimilikinya,” urainya.

Tak Lagi Mengungkit

Psikolog Micha berkata, bagi Anda yang memaafkan dengan kesungguhan hati, Anda akan sanggup melihat semua kejadian sebagai pelajaran, dan bukan kesalahan sehingga mampu mensyukuri segala hal yang telah terjadi. Biasanya, akan nampak saat Anda tidak lagi mengungkit-ungkit, menyalahkan seseorang/ keadaan yang membuat Anda sakit hati.

“Mungkin pada saat itu Anda bisa mengingat kejadian sebagai memori yang tersimpan, namun rasa dendam dan marah tidak lagi mendominasi atau mempengaruhi setiap tindakan dan sikap Anda, bahkan tidak mempengaruhi ekspresi wajah Anda,” ujarnya.

Micha meneruskan, pencapaian tertinggi dari memaafkan secara utuh adalah saat Anda tidak lagi merasa bermasalah dengan orang atau kejadian yang pernah membuat Anda sakit hati sehingga Anda sanggup mendoakan dan mengharapkan segala yang terbaik terjadi dalam hidup orang tersebut.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: