Melirik Obat Jerawat

June 23, 2013

obat jerawat

Jerawat merupakan momok menakutkan bagi pendamba kulit mulus dan sehat. Jerawat memang mengganggu penampilan seseorang, untuk itu beragam cara dilakukan untuk mengatasi sekaligus membasmi jerawat. Salah satu alternatif yang biasa digunakan untuk membasmi jerawat adalah pemakaian pencuci muka maupun cream anti jerawat dan mengonsumsi obat-obatan yang berkhasiat menghilangkan jerawat. Lantas bagaimana memilih obat jerawat yang baik?

Mengenal Obat Jerawat

Berbicara tentang jerawat seperti tiada habisnya. Memang, jerawat tak ubahnya seperti permasalahan sejuta umat. Siapa saja pernah dan mungkin sedang mengalaminya. Tak hanya mengganggu penampilan, beberapa kasus jerawat bisa mengganggu kenyamanan seseorang dalam beraktivitas. Kalau sudah begini, segala macam cara dilakoni agar jerawat segera enyah, salah satunya dengan berburu obat jerawat.

Permasalahan tak rampung di situ saja, pertanyaan yang muncul, obat seperti apa yang pas, yang tidak akan melahirkan masalah baru?

Sebelum sampai pada obat yang tepat untuk jerawat, Dr. Irma Bernadette, Sp.KK, akan menjelaskan obat jerawat secara umum.

Menurut Dr. Irma, obat jerawat digolongkan menjadi dua jenis yaitu; obat jerawat jenis OTC yang artinya obat yang dapat dibeli bebas di pasaran, jenis kedua adalah obat yang berasal dari dokter.

Secara umum, pola penggunaan obat jerawat masyarakat umumnya didahului dengan mencoba membeli obat-obatan bebas dahulu, setelah tidak ada perubahan, barulah akan pergi ke dokter. Nah pada saat pasien berkunjung ke dokter, dokter tersebutlah yang menentukan obat apa yang harus diberikan kepada pasien.

Berdasasarkan penuturan Dr. Irma, pemberian obat jerawat kepada pasien didasarkan pada jenis acne atau jerawatnya. Bila jerawatnya masih dalam taraf ringan, umumnya akan diberikan obat jerawat berjenis obat oles, sedangkan untuk jenis jerawat yang lebih berat akan diberikan obat oral berupa antibiotik. Berbeda lagi bila yang ditangani adalah jerawat yang sudah berat, maka obat yang harus dikonsumsi pasien selain oral atau obat minum seperti antibiotik, pasien akan dibekali juga turunan vitamin A yang disebut dengan Isotretinoin. Pemberian obat jerawat juga dapat dilihat berdasarkan jenis kelainan psikologis yang dialami oleh pasien.

Sesuai namanya, tujuan dari pemberian obat jerawat adalah untuk menekan pembentukan jerawat baru, mengobati jerawat yang sudah ada, dan mencegah pembentukan scar. “Oleh obat jerawat, saluran tempat jarawat tumbuh mengalami eksfoliasi dan merangsang pertumbuhan dari jaringan epidermis baru,”jelasnya.

Jenis Obat Jerawat

Obat jerawat bagi mereka yang mengalami jerawat memang bukan hal asing lagi. Bila diperhatikan, ada banyak ragam jenis dan bentuk dari obat jerawat. Mungkin anda mengalami kebingungan, manakah yang paling bagus buat sang kulit yang sedang meradang ini. Dijelaskan oleh Dr. Irma, obat jerawat memang memiliki banyak jenis, ini diantaranya:

  1. Obat jerawat jenis topical/oles
    Obat jenis ini diaplikasikan langsung ke kulit seseorang dan diberikan pada kasus jerawat ringan sampai berat.
  2. Obat jerawat jenis Interlesional Kortikosteroid injeksi
    Obat jerawat berbentuk injeksi/ suntik dalam rangka untuk mengobati kista yang meradang parah. Dokter kulit akan menyuntikkan setiap kista yang ada dengan menggunakan kortikosteroid injeksi, yang dapat mengurangi kemungkinan jaringan parut.
  3. Isotretinoin
    Obat ini merupakan retinoid oral yang sangat kuat dan digunakan pada jerawat yang paling parah bersama dengan jerawat yang telah terbukti tahan terhadap jenis lain dari obat.
  4. Antibiotik (Oral)
  5. Doksisiklin, Klindamisin, Eritromisin
    Antibiotik ini efektif terhadap bakteri penyebab jerawat. Iritasi gastrointestinal adalah efek samping yang paling umum.

Kapan Harus ke Dokter?

Jerawat bagi sebagian besar orang merupakan musibah bagi penampilan. Apalagi kalau semua produk obat jerawat di pasaran sudah dicoba, tetapi jerawat masih setia memenuhi wajah. Seringnya, setelah mengalami ‘putus asa’ seperti itulah, pasien berbondong-bondong datang ke dokter. Namun ada pula yang segera mengayunkan langkah ke dokter meski jerawat baru hadir dalam hitungan jam bahkan menit. “Biasanya terkait dengan profesi tertentu yang sangat menuntut penampilan yang prima,” ungkap Dr. Irma.

Hal-hal seperti contoh di atas yang menjadikan perawatan jerawat tidak sama antara satu pasien dengan pasien lain. “Semua itu harus kembali ke individunya masing -masing karena treatment terkait dengan kepercayaan dirinya, jenis pekerjaannya dan lain-lain,” imbuhnya. Ini artinya dokter tidak bisa serta-merta memiliki hak untuk menentukan dan mengatakan bahwa jerawatnya harus diobati, karena sebenarnya jerawat bisa sembuh sendiri dan tidak mematikan. “Memutuskan berobat atau tidaknya berada di tangan pasien bukan di dokter. Jika jerawat sudah mengalami peradangan atau luka, penanganannya juga harus berpegang pada pedoman yang ada,” katanya.

Tentang banyaknya obat jerawat yang tersedia di pasar, Dr. Irma memandangnya sebagai hal yang sah-sah saja, selama dijadikan sebagai pertolongan pertama sebelum ke dokter. Bilamana ke dokter, dokter hanya memberikan obat kepada pasien-pasien berjerawat, namun bila sudah tidak berjerawat, pemberian obat akan dihentikan, kecuali bila dibutuhkan untuk tujuan maintenance.

Sebagai penutup, Dr. Irma menyarankan untuk segera ke dokter bilamana jerawat sudah sampai mengganggu kepercayaan diri anda. Langkah ini dirasa lebih tepat ketimbang melakukan uji coba menggunakan obat-obatan yang dijual bebas di pasaran.

Source : dari berbagai sumber

 

 

loading...

Previous post:

Next post: