Melawan Penyakit TBC

March 14, 2014

penyakit TBC

TBC atau TB adalah sebutan untuk Infeksi Tuberkulosis, dan tahukah Anda? Kalau ternyata tidak hanya dapat menjangkit paru-paru, tapi juga tulang dan organ-organ penting lain. Bagaimana mengatasinya?

Penyakit TBC masih menjadi momok di seluruh dunia, terutama di negara berkembang. Penyakit ini merupakan salah satu penyebab kematian terbesar pada dewasa muda, dan diduga diidap oleh lebih dari 2 juta orang dari seluruh populasi dunia.

Penyakit TBC juga menimbulkan masalah kesehatan yang mengganggu kualitas hidup kelompok masyarakat usia produktif, bahkan dapat menimbulkan komplikasi serius. Oleh sebab itu, pemerintah menaruh perhatian penuh terhadap terapi TBC. Namun, tidak jarang penderitanya sendiri yang membandel, akibat tidak menyadari konsekuensi serius yang mungkin terjadi jika tidak melaksanakan terapi hingga tuntas.

Menular Lewat Udara

Tuberkulosis atau TBC adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tubercolosis. Kuman ini merupakan bagian dari ordo Actinomicetales dan famili Mycobacteriase. Secara mikroskopis, basil kuman ini berbentuk batang lengkung, masuk dalam kuman gram positif lemah yang sulit untuk diwarnai. Namun sekali kuman ini berhasil diwarnai, ia akan sulit untuk dihapus walaupun dengan zat asam, sehingga disebut sebagai kuman batang tahan asam. Ini disebabkan karena kuman bakterium memiliki dinding sel yang tebal yang terdiri dari lapisan lilin dan lemak (asam lemak mikolat). Selain itu ia juga bersifat pleimorfik, tidak bergerak dan tidak membentuk spora, dengan panjang sekitar 2-4 pm.

Penyakit TBC dikenal sebagai penyakit pada paru, meski sebenarnya juga dapat menyerang organ lain seperti tulang, hati, usus, kelenjar getah bening, hingga otak. TBC adalah penyakit menular, meskipun biasanya hanya akan menular setelah paparan yang lama dengan penderitanya. Maka itu, TBC sering menular kepada anggota keluarga yang hidup dalam satu rumah yang sama.

Penyakit TBC mulai merebak dan meluas setelah tahun 1985, saat HIV/AIDS mulai dikenal dan diketahui menyebar di masyarakat. HIV/AIDS adalah penyakit yang mengganggu sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh mudah terserang penyakit dan tidak mampu melawan kuman yang jinak sekalipun. Kuman yang biasanya menjadi sahabat manusia pun dapat berbalik menjadi musuh pada orang yang terinfeksi HIV/ AIDS. Selain HIV/AIDS, TBC juga lebih mudah menyerang orang dengan kekebalan tubuh lemah lainnya, seperti penyandang diabetes, lansia, bayi dan anak-anak. Penderita penyakit kronik, kanker, minum obat-obatan steroid atau pencegah reaksi transplantasi, dan kekurangan gizi (malnutrisi) juga rentan tertular. Pada orang-orang ini, kontak lama dan dekat dengan penderita TBC dapat segera membuat mereka tertular dan biasanya lebih sulit diobati.

Berdasarkan laporan WHO, Indonesia menyumbang jumlah penderita TBC ketiga terbesar setelah India dan China dengan jumlah kasus baru 583.000 orang per tahun, dimana 140.000 orang meninggal setiap tahunnya.

TBC memang penyakit baru buat Indonesia. Sudah ada sederet upaya memberantas penyakit ini dari pemerintah, tapi tidak juga berhasil membuatnya lenyap. Indonesia hingga kini masih saja dirundung ancaman kematian akibat TBC.

TBC Paru: Patuh Pangkal Sembuh

Salah satu gejala utama TBC paru adalah batuk dalam waktu lebih dari satu bulan. Saat batuk, kuman tuberkulosis akan menyebar melalui droplet atau dahak dan kemudian terhirup oleh orang lain. Bersin yang tidak terlihat sekalipun, juga dapat mengandung kuman TBC dan menular ke orang lain. Pada orang yang sehat, sistem kekebalan tubuh akan membunuh bakteri TBC sehingga tidak timbul gejala. Semantara, jika tubuh tidak mampu membunuh dan gagal mencegah penyebaran kuman, kuman dapat menginfeksi paru atau organ lain di seluruh tubuh, dan menimbulkan gejala dalam hitungan minggu atau bulan. Inilah yang dikenal dengan TBC aktif.

Meski terkadang kuman gagal diberantas, tetapi penyebarannya ke seluruh tubuh dapat dicegah. Dengan demikian, gejala TBC tidak akan muncul, meski sebenarnya kuman masih ada di dalam tubuh. Hal seperti ini dikenal sebagai TBC laten.

Penderita TBC aktif pada tahap awal tidak dapat dibedakan dari orang yang sehat. Gejala yang dirasakan mungkin belum terlalu menonjol sehingga mereka enggan memeriksakan diri ke dokter atau ke rumah sakit. Salah satu gejala utama TBC adalah batuk berdahak yang berkepanjangan selama lebih dari satu bulan. Batuk dapat ringan-ringan saja, dan seringkali diabaikan hingga tiba-tiba dahak bercampur dengan darah segar. Darah yang keluar pun dapat hanya sedikit, tapi ada juga yang sangat banyak sehingga membuat orang di sekitarnya menjadi panik. Nyeri dada juga dapat timbul saat batuk, bersin, atau bernapas biasa.

Jika berat badan tiba-tiba turun drastis atau orang di sekitar Anda mengatakan bahwa Anda tampak kurusan, jangan senang dulu. Ini karena penderita TBC biasanya juga mengalami penurunan berat badan yang drastis dalam waktu satu hingga dua bulan. Bila berlanjut, tubuh bisa sangat kurus dan terlihat seperti tinggal kulit dan tulang. Kondisi tubuh yang kurus ini juga akan memepersulit proses penyembuhan.

Selain batuk lama dan kurus, terkadang penderita TBC juga mengeluh berkeringat banyak pada malam hari meski cuaca tidak panas, sering demam, mudah terasa capek dan lemah, serta kurang nafsu makan. Untuk memastikannya, ada beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan. Mulai dari pemeriksaan dahak, pemeriksaan darah, penyuntikan di bawah kulit atau tes Mantoux, serta pemeriksaan rontgen dada. Untuk TBC selain paru, mungkin juga diperlukan pemeriksaan lain.

Penyakit Berbahaya, Tapi Dapat Disembuhkan

TBC adalah penyakit berbahaya. TBC paru yang tidak diobati akan menyebabkan kerusakan paru seumur hidup dan dapat menyebar ke seluruh tubuh, bahkan hingga ke otak dan menyebabkan kematian. Jika terlambat diobati, paru yang sudah terlanjur rusak berat dapat menyebabkan pasien sering sesak napas dan kualitas hidupnya terganggu. Akibatnya, penderita TBC yang berusia produktif akan sulit melakukan aktivitas, bahkan tidak jarang terpaksa harus mengundurkan diri dari pekerjaannya. Penderita juga dapat dikucilkan dari lingkungan di sekitarnya karena takut tertular.

Dampak TBC dapat bermacam-macam. Tidak hanya mempengaruhi dari segi kesehatan, tetapi juga dari segi psikososial. Namun penderita TBC tidak perlu berkecil hati, karena infeksi TBC dapat disembuhkan. Dengan meminum sejumlah antibiotik dalam jangka waktu tertentu, pasien dapat terhindar dari dampak-dampak serius TBC. Antibiotik standar yang diberikan biasanya ada empat macam, yaitu Rifampicin, INH, Pyrazinamid, dan Ethambutol. Pada kasus-kasus tertentu dapat juga diberikan Streptomisin. Antibiotik yang harus diminum memang berjumlah banyak. Hal ini dilakukan karena beberapa jenis TBC sudah kebal terhadap antibiotik tertentu. Bahkan pada orang yang terinfeksi TBC yang sudah kebal terhadap obat antibiotik, terapi dapat berlangsung hingga selama 18 bulan.

Pada pengobatan kasus TBC standar, dua bulan pertama, antibiotik yang diberikan ada dua macam, yaitu Rifampicin dan INH saja. Terapi ini dilanjutkan dengan penambahan Pyrazinamid dan Ethambutol selama 4 bulan berikutnya. Pada anak, Ethambutol seringkali tidak diberikan karena dapat menimbulkan efek samping berupa ketulian. Meski demikian, obat ini tetap dapat diberikan secara hati-hati pada kasus-kasus tertentu, berdasarkan pertimbangan bahwa manfaatnya lebih besar dibandingkan risiko.

Pengobatan ini tampaknya sederhana, padahal tidak semudah itu di lapangan. Pasien yang menderita TBC harus meminum obat sedikitnya 6 bulan. Padahal, jika kita sakit, minum antibiotik selama 5 hari saja sering tidak dihabiskan karena bosan minum obat terus. Apalagi obat-obatan TBC jumlahnya ada 4 macam dan ukuran tabletnya cukup besar. Tidak heran banyak pasien yang kemudian menghilang dan tidak kontrol lagi setelah beberapa kali pengobatan dan merasa badan sudah terasa enak. Ini karena mereka tidak/kurang tahu bahwa dengan melakukan hal ini kuman TBC dalam tubuh akan semakin kuat, bahkan menjadi kebal terhadap antibiotik. Akibatnya, proses penyakit terus berlangsung dengan kerusakan yang semakin parah, dan tidak dapat diobati lagi.

Strategi pemerintah yang menggratiskan pengobatan TBC ternyata tidak cukup untuk membuat penderitanya patuh minum obat. Karena itu, sekarang sudah tersedia obat-obatan dalam bentuk fixed dose, yaitu keempat obat dimasukkan dalam satu tablet. Dengan demikian, pasien diharapkan lebih patuh minum obat karena hanya perlu meminum satu obat setiap hari. Kepatuhan minum obat juga harus didukung oleh keluarga atau orang lain yang bertugas mengawasi penderita agar benar-benar meminum obat sesuai dengan aturan.

Satu hal lagi yang dapat menyebabkan pasien malas minum obat dan memutuskan terapi adalah efek samping obat. Obat dapat menimbulkan rasa mual dan tidak nafsu makan, menimbulkan hiperbiliru-binemia sehingga tubuh terlihat kuning akibat gangguan hati, dan demam terus menerus tanpa sebab. Meski demikian, pasien harus tetap diobati dengan modifikasi agar tetap dapat sembuh dengan optimal dan tidak kambuh lagi.

Penyakit TBC Dapat Dicegah Dengan Vaksinasi

TBC dapat dicegah melalui vaksinasi. Vaksinasi ini diwajibkan di Indonesia untuk bayi berusia kurang dari 3 bulan. Vaksin yang digunakan adalah BCG (Bacillus Calmette-Guerin). 8 dari 10 orang yang mendapat vaksinasi akan terlindung dari TBC. Jikapun terkena, dampak TBC tidak akan separah jika tidak divaksinasi. Bayi, misalnya, jika terkena TBC dapat menyerang seluruh bagian paru, bahkan menyebar hingga ke selaput otak dan otak sehingga berakibat fatal.

Selain pada bayi, BCG juga dianjurkan untuk orang yang berisiko tinggi mengalami TBC. Misalnya anak-anak yang tinggal di daerah yang banyak penderita TBC atau memiliki keluarga dekat yang menderita TBC. Vaksinasi ini juga dianjurkan bagi petugas kesehatan, karena pekerjaannya yang berisiko tinggi tertular TBC saat bekerja.

Selain dengan vaksinasi, penularan TBC juga dapat dicegah dengan menghindari tidur di ruangan yang sama dengan penderita TBC. Penderita TBC aktif juga dianjurkan untuk libur dulu dari sekolah atau kerja selama beberapa minggu di awal pengobatan. Pastikan ventilasi ruangan cukup, agar udara dapat mengalir keluar masuk dengan mudah. Kuman TBC akan menyebar lebih cepat di ruangan yang udaranya tidak bergerak. Penderita TBC juga dianjurkan untuk menggunakan tissue menutupi mulut saat tertawa, batuk, atau bersin. Setelah itu, masukkan tissue ke dalam kantong, baru buang ke tempat sampah. Penggunaan masker standar operasi (bukan masker kain) juga dianjurkan pada tiga minggu awal pengobatan untuk mencegah penularan.

Baca juga Hadang Penyakit TBC dengan Meniran.

Saat TBC Mampir di Perut

TBC bukan monopoli paru tetapi juga dapat menyerang organ lainnya seperti usus dan saluran pencernaan lain, lantas bagaimana mengatasi dan mencegahnya?

Menurut dr. Betty Dwi Lestari SpPD.Msc, TBC bisa menyerang saluran pencernaan yang biasa disebut dengan TBC abdomen (TBC perut). TBC pencernaan bisa mengenai seluruh saluran pencernaan dari mulai esophagus sampai dengan anus, tetapi paling sering terjadi di ileocaecal (perbatasan usus halus ileum dan usus besar caecum).

Penyakit TBC pencernaan terbagi menjadi empat bagian yakni: TBC esophagus,TBC gastro-duodenal, TBC usus halus atau intestinal, dan TBC colon atau usus besar.

Gejalanya

Gejala umum TBC pencernaan bisa berupa kembung, mual-muntah, nyeri perut dan diare. Jika terletak di esophagus (jarang terjadi), bisa menyebabkan nyeri menelan dan luka di esophagus. Jika yang terinfeksi adalah usus besar, BAB nya akan berdarah.

Pada kondisi yang parah, kuman TBC akan menyebabkan obstruksi atu penyumbatan saluran cerna dan perforasi atau lubang. Bila sudah mengenai dinding perut dapat menyebabkan ascites atau cairan bebas di perut.

Hampir sama dengan penyakit TBC di paru, terdapat pula tanda-tanda seperti berat badan menurun, keringat malam, demam. “Sekitar 20-25% kasus bersamaan dengan TBC paru,” jelas dokter yang berpraktek di RS Graha Permata Ibu ini.

Siapa yang Rentan?

Penularan TBC biasanya melalui butiran ludah seperti dikemukan sebelumnya. Pada umumnya seseorang yang mengalami TBC pencernaan, setelah kuman tuberkulosa di udara terhirup masuk ke paru, kemudian kuman tersebut akan menyebar ke luar paru.

Ada beberapa faktor yang mempermudah penularan kuman TBC yaitu kondisi udara yang pengap, adanya penderita TBC paru yang tidak diobati atau tidak tuntas pengobatannya, serta orang di sekitar yang memiliki kekebalan tubuh rendah seperti lansia, penderita penyakit paru, penderita diabetes, penderita HIV, dan pasien malnutrisi.

Peminum alkohol, perokok juga rentan terkena. Bahkan Perokok berisiko 2 kali terkena TBC. Seseorang yang sedang mengkonsumsi obat-obatan imunosupresant dan steroid juga beresiko.

Komplikasi

TBC Pencernaan jika tidak diobati, dapat menimbulkan komplikasi serius, misalnya perlengketan usus yang dapat menyebabkan saluran pencernaan menjadi tersumbat. Dampak negatif lain, timbul perforasi atau lubang di saluran pencernaan sehingga terjadi peritonitis atau peradangan dinding perut.

Yang patut diwaspadai, pasien dengan TBC pencernaan akan mengeluarkan dan menularkan kuman TBC melalui feses. Penyakit ini akan berubah menjadi berbahaya jika tidak segera ditangani dan akan menimbulkan komplikasi yang berujung pada kematian. Angka kematian jika sudah terjadi komplikasi sekitar 12-25%. Pada kasus TBC pencernaan yang segera terdeteksi sejak awal, pengobatan oral sudah cukup. Namun jika sudah sampai muncul komplikasi, perlu dipikirkan untuk dilakukan operasi.

Jadi, untuk menjaga agar keluarga Anda tidak tertular penyakit TBC adalah dengan menjaga kesehatan pada umumnya, seperti: gizi yang baik, istirahat yang cukup, olahraga teratur serta lingkungan sekitar dengan udara yang bersih. Imunisasi untuk mencegah penularan TBC diberikan pada semua anak dalam bentuk program imunisasi nasional melalui penyuntikan BCG. Lindungi diri dengan masker bila ada pasien di sekitar kita. Segera konsultasi ke dokter jika muncul gejala yang dicurigai TBC pencernaan.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: