Melawan Kanker Dengan Radioterapi

March 28, 2014

radioterapi

Kanker masih menjadi momok banyak orang. Mendengar namanya saja, sudah terbayang merananya bila terkena penyakit mematikan ini, makin miris bila mendengar mahalnya terapi yang harus ditebus. Seringnya masyarakat awam mengaitkan kanker dengan kemoterapi sebagai terapi kanker yang paling populer. Padahal pengobatan kanker tidak hanya itu saja, ada yang lain, misalnya radioterapi.

Mengenal Terapi Radioterapi

Menurut dr. Yuddi Wahyono SpOnk.Rad, Radiation Oncologist, Siloam Hospital Simatupang, Jakarta, dalam menangani penyakit kanker setidaknya dibutuhkan beberapa modalitas terapi, meliputi terapi radiasi, bedah atau medikamentosa seperti kemoterapi, hormonal atau terapi mengunakan agen biologie. “Ini bisa dilakukan salah satu atau campuran beberapa modalitas terapi,” jelasnya.

Sayangnya, masih banyak masyarakat yang kurang tahu tentang apa radioterapi, tidak seperti kemoterapi atau bedah yang sudah lebih akrab dikenal masyarakat. Radioterapi merupakan metode pengobatan mengandalkan energi radiasi tinggi untuk mengecilkan tumor atau membunuh sel kanker. Radiasi yang digunakan disini adalah sinar gamma. Sinar gamma dihasilkan oleh mesin yang mengandung zat radioaktif. Mesin tersebut dapat diletakkan di luar tubuh dan akan menembakkan sinar gamma ke arah sel kanker yang dituju. “Sifat sinar ini tidak terlihat, tidak berasa atau berwarna jadi kasat mata,” tambahnya.

Tujuan radioterapi, lanjut dia, di antaranya kuratif atau penyembuhan, khususnya untuk kanker stadium awal dan juga paliatif untuk mengurangi kanker stadium lanjut.

Yuddi mengungkapkan, saat ini sudah ada teknik tercanggih yang akan meminimalkan kerusakan jaringan sehat, bahkan bentuk dari penyinaran yang dilakukan bisa disesuaikan bentuk tumor, namanya Linear Accelerator (LINAC) Varian Trilogy. LINAC merupakan alat radioterapi dengan daya megavolt yang dapat mengaplikasikan teknik radioterapi modern. Dengan alat ini seorang onkologi radiasi dapat mengaplikasikan beberapa teknik modern meliputi:

1. Stereotactic radio surgery (SRS)

Melalui teknik ini onkologi radiasi dengan presisi tinggi memfokuskan sinar radiasi hanya pada sel kanker sehingga akan menyelamatkan jaringan sehat lebih banyak . Umumnya untuk tata laksana malvormasi pembuluh darah otak (AVMs) atau kondisi neurogenik non kanker lain yang tidak memungkinkan dilakukan operasi oleh seorang dokter bedah syaraf. “Misalnya pada tumor otak yang berada di belakang kornea mata, ini menjadi sangat sensitif dan berisiko jika dilakukan operasi,” jelas Dr. Yuddi.

2. Image-guided radiation therapy (IGRT)

Penggunaan IGRT dimaksudkan untuk mempermudah terapi kanker dengan tumor dengan pergerakan, seperti pengisian organ atau pergerakan nafas. IGRT merupakan terapi radiasi konformal yang dibantu pencitraan seperti CT, ultrasound atau sinar X yang dilakukan sesaat sebelum radiasi diberikan. Dengan metode ini dokter akan lebih mudah meradiasi kanker sekaligus menghindari jaringan sehat. Contohnya kanker paru.

3. Radiosensitizer

Beberapa obat kemo terapi dan terapi target dapat menyebabkan sel kanker lebih sensitif terhadap radiasi yang disebut radiosensitizer. Kombinasi radiasi dengan radiosensitizer memungkinkan dokter merusak lebih banyak sel tumor.

4. Three Dimensional Conformal Radiation Therapy (3D-CRT)

Bentuk tumor yang beragam baik dari ukuran, bentuk dan lokasi, menjadi tantangan dalam dunia radioterapi. Teknologi 3D-CRT mampu merencanakan teknik pencitraan khusus untuk membentuk representasi 3 dimensi dari tumor dan organ sekitarnya. Onkologis radiasi pun bisa membentuk radiasi sesuai bentuk dan ukuran tumor menggunakan multileaf collimators. Keuntungannya, jaringan normal sekitarnya mendapat dosis radiasi yang kecil sehingga dapat kembali pulih dengan cepat.

Meja untuk terapi pasein juga dapat distel maju atau mundur, dapat berputar 180 derajat, bahkan dinaikturunkan. Mesin LINAC sendiri dapat berputar 360 derajat, untuk mendapatkan posisi penyinaran terbaik. Posisi pasien saat terapi selalu tidur pada meja, kadang ditambah alat bantu seperti masker atau alat penahan agar supaya posisi pasien tidak berubah setiap harinya. Toleransi hanya 2-3 mm, lebih dari itu tidak alat tidak dapat bekerja.

Ada beberapa tahap yang mesti dilalui pasien dalam menajalani perawatan LINAC. Setelah melalui diagnosis dokter, pasien direncanakan melakukan treatment planning system (TPS). Dalam tahap ini, pasien akan diminta menjalani pemeriksaan CTscan atau MRI. Onkologi radiasi akan menentukan target, apa juga yang menjadi organ atrisk (organ yang berisiko). “Disinilah kita menentukan dosis, menetukan bagaimana cara menyinarnya, bagaimana arah sinarnya, dan teknik apa yang akan kita pakai atau bahkan alat bantu yang akan kita pakai,” tambah dr. Yuddi.

Sebelum terapi radiasi menggunakan LINAC, pasien terlebih dahulu masuk dalam ruangan CT simulator. CT simulator ini bertujuan untuk melakukan simulasi penyinaran. Mesin CT simulator duplikasi LINAC ini akan menentukan posisi pasien, penyinaran, dan alat bantu bila perlu.

Jika sudah, pasien kemudian dioper ke ruang radioterapi. Dalam ruangan terpasang kamera yang dapat pantau oleh operator atau dokter dari luar ruangan. Bahkan pembuatan ruang radiasi juga khusus, sehingga radiasi tersebut tidak bisa keluar. “Jadi tetap ada tahapan keamanannya, baik untuk operator maupun pasien. Tidak sembarangan pasien tidur di LINAC kemudian di pencet tombol start lalu beam on (radiasi menyala). Semuanya itu ada tahapan verifikasinya,” jelasnya.

Pasien dilakukan penyinaran setiap hari, tanpa harus rawat inap. “Jadi konsep terapinya adalah rawat jalan. Pasien datang tiap hari pada jam tertentu sesuai dengan perjanjian. Hendaknya dilakukan pada jam yang sama setiap harinya.” Jika sebelumnya pasien direncanakan 10 kali sinar, maka dalam 10 hari terapi akan selesai.

Setelah selesai dengan radioterapi, pasien akan dikembalikan pada dokter yang merujuk. Dari sini pasien dievaluasi dan diminta melakukan pemeriksaan rutin, bisa 1 minggu sekali, kemudian 2 minggu, hingga 6 bulan sekali dengan tujuan memantau kondisi pasien pasca terapi, agar bisa diketahui apakah terapi berhasil atau gagal.

Efek Samping Radioterapi

Efek samping yang mungkin timbul dari radioterapi modern ini adalah timbulnya kulit kering pada area yang disinar, untuk kasus tumor otak pasien bisa mengalami pitak pada lokasi penyinaran. “Bukan seperti kemoterapi yang mengakibatkan rambut rontok secara menyeluruh,” tambahnya. Rasa mual mungkin terjadi jika dilakukan penyinaran di sekitar perut. Pada radioterapi konvensional, efek samping yang bisa muncul umumnya lebih parah seperti kulit yang tidak hanya kering dapat juga terjadi lecet. Contoh pada kasus kanker leher rahim, dengan konvensional radioterapi, seluruh organ pelvis bisa terkena dampak buruk radiasi, bahkan hingga usus maupun kandung kemih. Efek jangka panjang pada usus, bisa mengakibatkan pasien diare atau perdarahan.

Dengan radioterapi modern dalam hal ini LINAC Trilogy, efek samping dapat seminimal mungkin, lebih cepat sehingga kualitas hidup pasien akan menjadi lebih baik. Tidak ada persiapan khusus selama terapi dilakukan, pasien juga bisa tetap mengenakan baju untuk menjaga privacy-nya.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: