Mata Juling Pada Anak, Ada Obatnya

June 25, 2014

mata juling

“Minggu pagi saya membawa Putri, anak saya yang berumur 2 tahun, untuk bermain ke taman, ia memang suka sekali bermain perosotan, apalagi jika ada banyak anak sebayanya yang juga ikut bermain,” Bu Ani bercerita. “Seperti biasa, saya mengawasinya dari jauh. Namun ada yang lain hari itu. Saat Putri duduk di perosotan ia melambaikan tangan ke arah saya, tetapi anehnya matanya seperti sedang melihat ke tempat lain. Mata yang sebelah kiri memang tertuju pada saya, tetapi matanya yang sebelah kanan tidak.”

Cerita juling pada anak memang tidak asing lagi di telinga kita. Meski demikian, terkadang tetap terbersit rasa cemas, apakah juling tersebut masih dianggap normal atau tidak. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan juling dan apakah bisa disembuhkan?

Tidak Selalu Terlihat

“Saat pulang dari bermain, saya menceritakan hal ini pada suami. Kami lalu memutuskan untuk membawa Putri ke dokter mata. Setelah diperiksa, dokter mengatakan bahwa mata kanan Putri juling. Putri beruntung karena kondisinya diketahui sejak dini, dan bahwa juling dapat disembuhkan, begitu kata dokter.”

Menurut dr. Florence M. Manurung, SpM, mata bayi yang normal, terkadang memang tampak seperti juling. Pada usia kurang dari tiga bulan, bayi sedang belajar untuk mengendalikan dan mengoordinasikan matanya. Setelah usia empat hingga enam bulan, pandangan mata biasanya akan menjadi lurus dengan sendirinya. Namun jika setelah usia ini salah satu atau kedua mata masih terlihat ke samping, ke atas atau bawah, maka Anda perlu curiga bahwa ia mengalami juling.

Pada keadaan normal, bagian mata yang berwarna akan berada di tengah saat melihat lurus ke depan. Mata akan bergerak secara sinergis dan dinamis untuk melihat suatu objek yang berada di sebelah kiri, kanan, atas, bawah, dan sebagainya. Pada anak yang mengalami juling, otak tidak dapat mengendalikan dan mengkoordinasikan kedua mata agar bekerja secara sinergis. Akibatnya, salah satu atau kedua mata dapat terlihat bergerak ke tengah (disebut esotropia), ke pinggir (eksotropia), ke atas (hipertropia) atau ke bawah (hipotropia). “Meski demikian, juling pada anak seringkali tidak terdeteksi. Orang tua baru menyadari ada yang aneh saat si kecil sedang kelelahan atau saat ia sedang melihat suatu benda dari jarak yang sangat dekat,” tambahnya.

Dalam bahasa kedokteran, juling disebut dengan strabismus. Strabismus ini dapat timbul sejak masa kanak-kanak atau bahkan sejak lahir. Apa penyebabnya? Menurut dr. Florence, strabismus dapat terjadi akibat benturan di kepala, stroke, atau penyakit lainnya. Meski demikian, sebagian besar kasus strabismus tidak diketahui penyebabnya.

Mata Jadi Malas

“Saya sedih bercampur cemas saat Putri didiagnosis dengan strabismus. Saya tidak menyangka, apalagi selama ini Putri tidak pernah mengeluhkan matanya buram. Kalau pun ada yang aneh, Putri sering memicingkan mata saat menonton televisi.”

Karena strabismus jelas-jelas terlihat pada mata, orang tua sering berpikir bahwa kalau anak memang mengalami strabismus, pasti ia akan mengeluh matanya buram. Padahal, umumnya anak tidak mengeluhkan hal ini. Maka, tidak jarang strabismus baru diketahui jika ada anggota keluarga atau guru yang tidak sengaja “menangkap” saat anak sedang juling. Namun, tidak tertutup kemungkinan bahwa si kecil juga bisa mengeluhkan matanya buram atau gangguan penglihatan lainnya. Bila si kecil belum bisa berbicara, ia mungkin terlihat sering memicingkan mata, menengok, atau mendongakkan kepala agar dapat melihat lebih jelas.

Meski tampak biasa-biasa saja, juling yang tidak diobati ternyata dapat menimbulkan gangguan mata yang lebih serius. Juling pada satu mata dapat menyebabkan mata sebelahnya yang normal menjadi lebih dominan. Mata yang tidak juling dapat bekerja dengan normal karena mata dan jaringan sarafnya berfungsi dengan baik. Sedangkan mata yang juling tidak dapat menetapkan fokus degan baik dan jaringan saraf ke otak tidak terbentuk sempurna. Akibatnya, otak yang frustasi tidak dapat mengontrol mata yang bandel, akan memilih mata yang penurut sebagai tangan kanannya.

Karena otak tidak dapat menyejajarkan kedua mata dan menggunakannya secara bersamaan, maka masing-masing mata bekerja sendiri-sendiri. Akibatnya, mata dapat bergerak ke arah yang berlainan dan tidak fokus ke satu titik yang ingin dilihat. Ini akan menyebabkan penglihatan menjadi ganda atau buram. Untuk melindungi dari penglihatan ganda, otak akan berusaha menolak atau mengabaikan gambar yang disampaikan oleh mata yang juling. Pada akhirnya mata tersebut tidak lagi dapat fokus atau bahkan penglihatannya menjadi hilang sama sekali. Hal ini disebut dengan mata malas (ambliopia). Maksud otak memang baik, akan tetapi karena hanya satu mata yang bekerja, kemampuan anak untuk melihat secara tiga dimensi atau menentukan jarak dan kedalaman juga menjadi hilang. Akibatnya, anak menjadi sulit menentukan jarak benda-benda di sekitarnya, sering menabrak saat berjalan atau bersepeda, yang juga akan membahayakan keselamatannya.

Kacamata dan Operasi

Juling seringkali dianggap sebagai masalah di otot mata semata, padahal hal ini tidak benar. Sebagian besar kasus juling terjadi akibat kegagalan otak untuk mengirimkan sinyal agar kedua mata bekerja secara bersamaan ke suatu titik. Semakin cepat terdeteksi dan diobati, kemungkinan mata menjadi normal kembali akan lebih besar.

Jenis terapi yang diberkan bergantung pada penyebab dan berat ringannya juling. Bisa hanya dengan menggunakan kaca mata, penggunaan penutup mata, atau dengan pembedahan. Si kecil bisa menggunakan kacamata untuk mengoreksi matanya yang buram. Jika si kecil sudah mengalami ambliopia, mata yang malas tersebut perlu dilatih kembali agar tidak malas. Caranya adalah dengan menutupi mata yang normal menggunakan penutup mata. Dengan demikian, mata yang malas akan ‘dipaksa’ untuk bekerja dengan normal. Seiring waktu, penglihatan mata yang malas akan menjadi semakin kuat. Tidak hanya ototnya yang semakin kuat, mata juga dapat kembali lurus.

Meski demikian, untuk mendapatkan hasil ini diperlukan ketekunan dan tidak bisa terlihat secara instan. Biasanya, si kecil harus mengenakan penutup mata seperti bajak laut selama 2 hingga 3 jam setiap hari pada saat ia tidak sedang tidur. Ini harus dilakukan dengan konsisten selama beberpa bulan hingga tahun, bergantung pada berat ringannya kondisi mata. Bahkan pada kasus yang berat, penutup mata mungkin dianjurkan untuk digunakan 6 jam atau lebih setiap harinya.

Lalu bagaimana jika buah hati Anda dirasa masih terlalu kecil? Jangankan mengenakan penutup mata, terkadang memakaikan topi saja ia menolak. Memang pada awalnya, penggunaan penutup mata bisa menguras kesabaran Anda. Namun, seiring waktu umumnya si kecil akan terbiasa dan menjadi kebiasaan sehari-hari. Tapi jika tidak berhasil juga, ada cara lain. Orang tua dapat meneteskan tetes mata atropin ke mata yang sehat. Sama seperti penggunaan penutup mata, tetes mata ini akan membuat mata yang normal menjadi buram sementara waktu. Dengan demikian, mata yang juling akan dipaksa untuk bekerja lebih keras.

Jika kacamata, penutup mata, dan tetes mata atropin tidak lagi memberikan harapan, maka jalan terakhir adalah dengan melakukan operasi. Pembedahan dilakukan terhadap otot mata untuk membuat mata menjadi lurus. Cara lain adalah dengan menyuntikkan Botox pada otot mata tertentu agar mata tampak lurus dan sejajar, sehingga si kecil juga lebih mudah mengendalikan matanya.

Semakin Cepat Semakin Baik

Perkembangan penglihatan anak akan berakhir pada usia 8 tahun. Selama itu, hubungan antara mata dan otak akan terbentuk, dan jika dibiarkan maka juling akan menetap. Karena itu, sebelum mencapai usia ini intervensi sangat diperlukan. “Semakin cepat didiagnosis dan diterapi, kemungkinan agar mata kembali lurus, penglihatan baik dan penglihatan tiga dimensinya membaik juga akan semakin besar,” jelasnya. Meski lebih baik, tapi anak dan dewasa pun tetap dapat memperoleh manfaat dari terapi ini.

Yang terpenting dari semuanya adalah meyakinkan pada si kecil agar tetap percaya diri dan tidak terlalu menguatirkan penampilannya. Anda bisa memakaikan penutup mata saat ia berada di rumah dan harus sabar menghadapinya. Meski tampak sederhana, terapi ini dapat mengembalikan mata yang juling menjadi lurus, yang lebih penting, terapi ini dapat memulihkan penglihatan binokular anak, sehingga otak dapat ‘mendamaikan’ kedua mata untuk bekerja bersama-sama. Inilah yang akan merekatkan hubungan kedua mata, dengan hasil terapi yang permanen.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: