Manfaat Kedelai Sebagai Sumber Antioksidan

May 4, 2013

kedelai

Kedelai disebut banyak pihak sebagai makanan super dengan segudang manfaat. Keluarga palawija yang merupakan kelompok legum (polong-polongan) ini memiliki berbagai macam keunggulan, antara lain sebagai protein nabati berkualitas tinggi, biji yang sarat dengan komponen gizi unggul, makanan fungsional yang mampu meningkatkan status kesehatan, serta makanan fungsional yang mampu mengatasi berbagai macam penyakit. Tepat sekali jika julukan hebat tersebut diberikan pada kedelai sebab semua keunggulan tersebut memang dimiliki oleh kedelai.

Kekuatan antioksidan ada pada isoflavon

Di balik ketenarannya sebagai makanan fungsional, kedelai dan produk turunannya juga merupakan sumber antioksidan yang unggul. Efektivitasnya sebagai antioksidan tak lain karena peran zat aktif yang dikandungnya. Zat aktif pada kedelai yang memiliki aktivitas fisiologis terkuat sebagai antioksidan adalah flavonoid.

Ada 2 macam flavonoid utama pada kedelai, yaitu daidzin dan genistin. Dalam perkembangannya, ada sejumlah isoflavon yang telah berhasil diisolasi dari kedelai, yakni daidzin, asetil daidzin, giisitin, malonildaidzin, genistin, asetil genistin, malonilgenistin, asetilglisitin, malonil genistin. Kadar daidzin dan genistin lebih tinggi dibanding giisitin.

Kedelai utuh ataupun produk olahannya semuanya mengandung isoflavon-isoflavon tersebut. Kedelai utuh memiliki kandungan isoflavon lebih tinggi dibanding produk olahannya.

Mengonsumsi kedelai atau produk olahannya bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas antioksidan alami yang tersedia di dalam tubuh. Studi laboratorium mengungkap bahwa asupan isoflavon akan memacu peningkatan kadar SOD di dalam darah sehingga aktivitasnya sebagai antioksidan enzimatis meningkat. Dalam beraktivitas, SOD mampu mengubah radikal superoksida yang reaktif menjadi molekul yang lemah. Kinerja ini sangat menguntungkan karena radikal bebas superoksida merupakan radikal bebas ganas yang memiliki dampak luas sebagai penyebab berbagai macam penyakit.

Secara simultan, isoflavon juga merupakan agen pereduksi yang menjadi donor hidrogen untuk molekul radikal dan pengelat metal (metal chelator) yang berpotensi sebagai radikal bebas. Kemampuannya dalam mereduksi ROS cukup kuat, maka keberadaannya mampu memberi perlindungan yang baik bagi tubuh sehingga membuat tubuh dapat bertahan saat terpapar oleh radikal bebas endogen yang dihasilkan sendiri oleh tubuh.

Efek antioksidan kedelai semakin kuat dengan adanya kerja sama mineral dan vitamin yang dimilikinya. Kedelai banyak mengandung seng yang mendukung kinerja SOD. Selain itu, kedelai juga kaya vitamin E yang kita kenal sebagai antioksidan sekunder yang efektif melindungi sel yang terlindung oleh lemak. Aktivitas bioaktif antioksidan kedelai turut terbantu dengan adanya kandungan zat besi yang cukup tinggi pada kedelai dan produk olahannya. Zat besi merupakan chelator yang berguna untuk mengikat radikal bebas sebelum direduksi oleh SOD. Melalui mekanisme ini, efektivitas seluruh senyawa antioksidan yang terdapat pada kedelai menjadi semakin kuat. Efek perlindungan yang diberikannya menyeluruh, tak hanya pada sitoplasma, namun juga hingga mencapai tingkat DNA yang mengendalikan seluruh sistem tubuh.

Kedelai sebagai antikanker

Isoflavon merupakan estrogen alami atau disebut pula fitoestrogen. Sejumlah studi laboratorium dan studi klinis membuktikan bahwa fitoestrogen memiliki kemampuan serupa dengan estrogen alami yang dihasilkan oleh tubuh kita. Karena itu, asupan fitoestrogen ke dalam tubuh dapat berfungsi layaknya terapi sulih hormon estrogen.

Efek biologik yang dimiliki fitoestrogen nyata tampak pada kemampuannya sebagai antikanker. Sejumlah penelitian menyimpulkan bahwa asupan fitoestrogen yang memadai dapat menghambat beberapa jenis kanker yang terkait dengan faktor hormonal ataupun yang disebabkan oleh faktor lainnya.

Dengan efektivitasnya yang tinggi sebagai antioksidan sekaligus antikanker, bioaktif kedelai, khususnya isoflavon, terbukti efektif dalam mencegah beberapa jenis kanker. Melalui uji yang dilakukan terhadap biakan kanker di laboratorium, para ahli biokimia berhasil mengungkap bahwa fitoestrogen pada kedelai dan produk olahannya terbukti mampu menghambat pertumbuhan kanker payudara, uterus, kolon, dan prostat. Penelitian lain menyatakan bahwa daidzin atau genistin memiliki khasiat antikanker yang sama kuatnya dengan flavonoid pada teh, anggur, dan sumber antioksidan lain yang selama ini dikenal efektif sebagai antikanker.

Bagi Anda yang gemar mengonsumsi lemak tak jenuh ganda (PUFA) yang banyak mengandung asam linoleat dan arakhidonat seperti minyak sayur (minyak kedelai, minyak kacang, minyak biji bunga matahari), sangat baik jika Anda menggemari produk olahan kedelai, seperti tahu, tempe, sari kedelai, miso, dan sebagainya. Peningkatan kadar asam linoleat dan asam arakhidonat dari minyak sayur yang Anda konsumsi meningkatkan risiko terhadap kanker. Untuk menurunkan risiko kanker yang kemungkinan Anda alami, tambahkanlah sejumlah flavonoid ke dalam tubuh Anda. Salah satu sumbernya adalah produk olahan kedelai tersebut di atas.

Djuric Z, dkk., (2001), dalam studi epidemiologinya menyatakan bahwa pria dan wanita yang terbiasa mengonsumsi olahan kedelai memiliki kecenderungan stres oxidatif lebih rendah dari individu lain. Dampak positif ini sangat dipengaruhi oleh isoflavon kedelai dalam menghambat radikal bebas penyebab stres oksidatif. Penurunan stres oksidatif memberi pengaruh positif pada penurunan risiko terhadap kanker.

Penelitian yang dilakukan pada wanita Jepang membuktikan bahwa fitoestrogen kedelai memiliki manfaat yang mengagumkan untuk mencegah kanker pada wanita, terutama kanker payudara. Studi epidemiologi menyatakan bahwa risiko kanker payudara yang rendah di negara yang masyarakatnya akrab dengan menu berbasis kedelai tergolong rendah dipengaruhi oleh flavonoid kedelai yang menjadi menu kegemaran mereka. Karena itu, bagi Anda yang peduli terhadap kesehatan dan khawatir terkena
kanker, ada baiknya jika Anda menggemari produk olahan kedelai, seperti tempe, tahu, miso, dan sebagainya.

Kemampuan isoflavon kedelai dalam mencegah kanker payudara telah terbukti melalui berbagai penelitian. Genisten yang terdapat pada kedelai terbukti memiliki sifat estrogenik lemah sekaligus sebagai antiestrogenik. Kedua sifat yang bertolak belakang ini memungkinkannya untuk digunakan sebagai antioksidan yang memiliki kapasitas sebagai antikanker.
Efektivitas genisten dalam mengatasi kanker payudara yang tidak terkait estrogen sangat kuat. Sebuah studi yang dimuat di jurnal Cancer menyatakan bahwa flavonoid utama dari kedelai ini mampu menghambat deferensiasi sel kanker payudara yang terbentuk akibat pajanan radikal bebas. Dalam kinerjanya, isoflavon ini menghambat aktivitas topoisomerase tahap II dan angiogenesis sel kanker yang memungkinkan sel kanker berkembang lebih ganas.

Khasiat antikanker kedelai juga didukung oleh keberadaan protease inhibitor yang dimilikinya. Protease inhibitor merupakan anti karsinogen yang bersifat universal. Dalam menjalankan aktivitasnya, penghambat enzim protease ini sanggup mengatasi berbagai macam senyawa pemicu kanker dengan kemampuan yang sangat baik. Uji klinis yang dilakukan terhadap hewan percobaan menunjukkan bahwa protease inhibitor sanggup menghalangi perkembangan kanker uterus, kanker hari, dan kanker payudara.

Kanker lain yang efektif dihambat oleh isoflavon kedelai adalah kanker prostat. Yan L, dkk., (2009) menyatakan bahwa pria yang membiasakan diri mengonsumsi produk olahan kedelai memiliki risiko kanker prostat lebih rendah dibanding pria lain yang tidak memasukkan produk olahan kedelai dalam dietnya.

Jantung sehat berkat rutin mengonsumsi olahan kedelai

Efek lain dari isoflavon terkait dengan kemampuannya untuk pengaturan kadar kolesterol darah, mencegah penggumpalan darah, anti-peradangan, dan sebagai pelindung hati. Mekanisme kerja yang dilakukannya melalui beberapa tahapan, salah satunya melalui aktivitasnya sebagai antioksidan. Dengan efektivitas ini, konsumsi kedelai sangat menguntungkan untuk menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Studi epidemiologi menyebutkan bahwa masyarakat yang terbiasa mengonsumsi produk olahan kedelai secara umum memiliki profil lemak darah yang bagus. Studi meta analisis yang dilakukan oleh Zhan S, dkk., (2005) menyatakan bahwa isoflavon kedelai sangat bermakna dalam memperbaiki profil lipid.

Beberapa ahli menyimpulkan bahwa kedelai memiliki efek yang sangat baik untuk menurunkan kadar LDL melalui aktivitas fitostcrol. Kadar LDL darah yang tinggi berpotensi merusak dinding arteri, setelah kelebihan LDL yang tidak digunakan oleh tubuh membentuk plak. Studi lain menyatakan bahwa penurunan kadar kolesterol darah terkait dengan penurunan aktivitas HMG Co reduktase yang terjadi akibat peningkatan glukagon. Peningkatan glukagon sendiri terjadi karena pengaruh asam amino kedelai. Meskipun demikian, peran antioksidan yang dimiliki kedelai tidak dapat diabaikan.

Beberapa penelitian lainnya menyebutkan adanya korelasi positif antara konsumsi kedelai dengan penurunan cacat terosklerosis yang disebabkan oleh oksidasi LDL di dinding arteri. Dalam hal ini, kedelai menjalankan fungsinya sebagai antioksidan yang berhasil melindungi oksidasi LDL penyebab kerusakan dinding arteri.

Secara keseluruhan, kebiasaan mengonsumsi produk kaya isoflavon, seperti kedelai, dapat memperbaiki kesehatan kardiovaskular. Kreijkamp Kasper, dkk., (2005) meneliti bahwa wanita post menopause yang rutin mengonsumsi produk kaya isoflavon memiliki fungsi pembuluh darah yang jauh lebih baik dibanding wanita placebo. Efektivitas tersebut memberi dampak positif bagi kestabilan tekanan darah dan risiko penyakit kardiovaskular secara umum. Dalam American Journal of Nutrition (2006) disebutkan bahwa kebiasaan mengonsumsi produk kedelai yang kaya isoflavon sangat bermakna untuk mengendalikan tekanan darah serta meningkatkan fungsi arteri pada penderita hipertensi.

Efektivitas kedelai berjalan setahap demi setahap

Bagi Anda yang ingin memiliki pembuluh darah yang sehat, Anda harus bersabar untuk menanti efek kedelai bekerja pada tubuh Anda karena efektivitas kedelai dalam pengendalian kolesterol tidak terjadi serta-merta. Pada individu yang memiliki kadar kolesterol normal, kebiasaan mengonsumsi kedelai dan produk olahannya akan menjaga kolesterol darah mereka tetap normal. Namun, bagi mereka yang hiperkolesterolmia, manfaat yang akan mereka rasakan berlangsung secara bertahap. Demikian kesimpulan dari riset yang dilakukan oleh K.K Caroll dari Universitas Western di Ontario – Amerika Serikat.

Bagi penderita hiperkolesterolemia, mereka dianjurkan untuk mengganti sumber lemak hewani dengan lemak nabati berupa produk olahan kedelai. Penelitian yang dilakukan di Universitas Illinois di Urbana Amerika Serikat mengatakan bahwa penderita hiperkolesterol yang mengganti menu daging dengan kedelai selama 2 bulan berhasil menurunkan kolesterol total sebesar 14% dan LDL sebesar 17%.

Produk kedelai unggul

Pada dasarnya baik kedelai utuh ataupun produk olahannya dapat kita jadikan sebagai pemasok antioksidan sekunder, namun tentu saja kita ingin mendapatkan manfaat yang lebih sempurna dari menu yang kita pilih. Untuk itu kita harus pandai memilih produk olahan kedelai mana yang baik untuk kita konsumsi.

Kedelai yang masih utuh memiliki kandungan nutrisi yang relatif utuh, sayang banyak mengandung zat antigizi yang mengganggu penyerapan zat gizi lainnya. Zat antigizi tersebut berupa asam fitat. Keberadaannya dapat menghambat penyerapan kalsium dan zat besi yang merupakan mineral makro yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Karena itu, jika tujuan Anda ingin memperoleh kedua mineral tersebut, maka sangat dianjurkan agar Anda tidak mengonsumsi kedelai utuh. Sebagai penggantinya Anda harus mengonsumsi olahan kedelai hasil fermentasi, seperti tempe, miso, kecap, tauco, dan sebagainya.

Meskipun merupakan zat antigizi, sesungguhnya asam fitat memiliki peran penting bagi tubuh kita. Asam fitat adalah antioksidan. Keberadaannya dapat melindungi biji kedelai dari kerusakan. Selain itu, asam fitat juga merupakan antioksidan bagi yang mengonsumsi biji tersebut. Asam fitat merupakan chelator yang mengikat molekul radikal bebas karsinogenik yang merangsang pertumbuhan tumor. Di satu sisi asam fitat menghambat serapan zat lain yang berguna, namun di lain pihak berguna.

Untuk mendapatkan manfaat yang lebih optimum dari seluruh zat yang terdapat pada kedelai, kita harus menghilangkan zat antigizi yang dikandungnya. Beberapa teknik yang bermanfaat untuk menghilangkan zat antigizi pada kedelai, yakni dengan merendam hingga tumbuh menjadi kecambah atau setidaknya telah merekah (berimbibisi), merebus dan membuang kulitnya, serta melakukan fermentasi. Meskipun sebagian isoflavonnya telah hilang saat diolah, namun tahu dan tempe memiliki biovialitas isoflavon yang lebih tinggi dibanding kedelai yang masih utuh. Karena itu, tempe dan tahu dapat kita jadikan sebagai makanan unggulan untuk menambah pasokan antioksidan bagi tubuh.

Source : dari berbagai sumber

 

 

loading...

Previous post:

Next post: