Manfaat Jamur Sebagai Sumber Antioksidan

December 9, 2012

jamur

Jamur termasuk sayuran yang banyak penggemarnya. Ternyata, sayuran yang memiliki cita rasa unik ini bukan saja kaya zat gizi, namun dapat pula kita jadikan sebagai sumber antioksidan. Jamur banyak mengandung mineral yang mendukung produksi dan kinerja antioksidan yang endogen. Mineral yang dimaksud adalah seng, selenium dan mangan. Menurut Ramino Gonzales, dkk., (2011), tembaga dan seng yang terdapat pada jamur bekerja sinergis dengan bioaktif lain sehingga memperkuat efektivitas jamur sebagai antioksidan.

Sebuah studi pada jamur crimini membuktikan bahwa konsumsi jamur crimini dapat menurunkan stres oksidatif yang merupakan dampak positif dari peningkatan SOD, Glutathione peroksidasi (GPO), dan katalase (CAT). Peningkatan antioksidan sentral tersebut merupakan kabar baik bagi kita untuk memilih jamur sebagai sumber antioksidan pilihan.

Cegah kanker dengan jamur

Sebagian besar suplemen antikanker yang saat ini ada di pasaran menggunakan jamur sebagai simplesianya. Ada jamur linzhi dan beberapa jamur lain yang saat ini digunakan sebagai simplesia suplemen kesehatan yang bermanfaat untuk membantu penyembuhan kanker, jamur tersebut hanya digunakan sebagai simplesia, bukan untuk dikonsumsi sebagai makanan. Selain jamur “obat”, jamur yang dapat konsumsi pun ternyata memiliki kemampuan sebagai antikanker yang tidak diragukan.
Kemampuannya sebagai antikanker dipengaruhi oleh bioaktif yang dikandungnya, jamur mengandung sejumlah mineral yang terbukti mampu meningkatkan produksi antioksidan enzimatis di dalam tubuh kita. Selain itu, jamur juga merupakan pemasok sejumlah antioksidan eksogen yang patut kita beri apresiasi.

Beberapa jenis jamur merupakan sumber beta-karoten yang menjadi tulang punggung jamur untuk menjalankan kinerjanya sebagai antioksidan. Jamur shitake (Lentinus edodes), Poriococcus sp, Poluporus umbelatus, Coriolus vesicolor, dan Trimela fociformis merupakan sumber beta-karoten yang baik. Sejumlah penelitian menyimpulkan bahwa beta-karoten merupakan antioksidan, anti karsinogenik, sekaligus antiproliferatif untuk menghambat sejumlah kanker yang menyerang tubuh manusia. Beberapa peneliti sepakat menyatakan bahwa kecukupan beta-karoten di dalam tubuh akan menjauhkan kita dari kanker paru-paru, kanker prostat, dan kanker payudara.

Antioksidan sekaligus antikanker pada jamur yang telah teruji khasiatnya adalah selenium. Jamur memiliki kandungan selenium yang sangat tinggi. Konsumsi 100 gram jamur telah mecukupi sekitar 60% kebutuhan harian selenium yang dibutuhkan oleh tubuh. Unsur mikro tersebut memiliki kinerja sebagai antikanker yang kuat. Dalam hal ini, kecukupan selenium akan mendukung kinerja GSH-Px dalam mencegah kerusakan DNA yang berpotensi menimbulkan kanker.

Antikanker lain dapat kita temukan pada jamur adalah conjugated linoleic acid (CLA). Lemak esensial ini sangat efektif menjalankan tugasnya sebagai pemicu peradangan pada sel kanker. Peradangan merupakan peristiwa alami yang sangat bermanfaat untuk melemahkan sel kanker. Kebalikan dari sel sehat yang harus dilindungi dari peradangan, sel kanker justru didorong agar mengalami peradangan. Tersedianya bioaktif pro-peradangan akan meningkatkan aktivitas molekul peradangan prostaglandin-E2 dan PGE-2 yang jika terus berlangsung akan mendorong terjadinya apoptosis.

Konsumsi jamur juga sangat membantu untuk mencegah kanker yang ada kaitannya dengan estrogen seperti kanker payudara dan kanker rahim. CLA yang terdapat pada jamur dapat mengikat enzim aromatase dan menurunkan produksi estrogen buruk yang menyebabkan peningkatan pertumbuhan sel kanker.

Sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti dari Harvard Medical School membuktikan bahwa CLA jamur juga menghambat enzim aromatase dan enzim 5-alfa reduktase yang bermakna positif untuk menghambat kanker prostat. Kerja sama sinergis antara antioksidan sekaligus antiinflamasi sangat bermanfaat untuk menekan perkembangan beberapa jenis kanker, namun sebagian kanker justru membutuhkan adanya senyawa pro-inflamasi yang dapat menekan perkembangan kanker.

Sejumlah penelitian tentang jamur menyatakan bahwa sejumlah jamur khususnya shitake banyak mengandung polisakarida-glucan yang bermanfaat sebagai antiinflamasi, antitoksin, sekaligus sebagai bioaktif untuk meningkatkan imunitas. Shitake mengandung beberapa jenis glucan (alfa-1.6 glucan, alfa-1.4 glucan, beta 1.3 glucan, glucan fosfat, laminarin, dan lentinan) serta non poiysacaride glucan (fucoidan dan galactomannin) yang sangat efektif untuk mencegah dampak buruk radiasi dan toksin yang berpotensi memicu kanker.

Khasiat jamur dalam menghambat perkembangan kanker prostat telah dibuktikan oleh Kuvibidilla da French (2011). Dalam riset yang dipublikasikan di jurnal FASEB disebutkan bahwa jamur potabella, white button, dan shitake mampu mencegah sekresi vaseular endothel growth faetor (VEGF) dan proliferasi yang ada kaitannya dengan androgen yang memicu perkembangan kanker prostat. Menurut Martin dan Brophy (2010), konsumsi jamur tertentu juga dapat mencegah proliferasi sel kanker payudara.

Peningkatan imunitas membawa pengaruh positif untuk mencegah perkembangan kanker. Sebuah studi menyatakan bahwa bioaktif jamur shitake mampu melemahkan kekuatan sel kanker untuk bermetataksis. Dalam sebuah percobaan laboratorium tampak bahwa bioaktif shitake mampu menurunkan interleukin-10, interleukin-beta-1, dan tumor necrosis faetor-alpha yang menjadi indikator peningkatan imunitas dalam melawan kanker.

Rob, dkk., (2009) mengatakan bahwa bioaktif jamur yang berkhasiat sebagai imunoregulator adalah beta-glucan. Selain itu, masih banyak lagi fitokimia jamur yang belum diteliti khasiatnya sebagai antikanker. Beberapa ahli menyatakan setidaknya ada lebih dari 100 macam senyawa antikanker terdapat pada jamur shitake.

Jamur untuk kesehatan kardiovaskular

Salah satu indikator kesehatan kardiovaskular dapat dilihat dari level kolesterol darah. Meskipun bukan sebagai faktor primer yang memicu penyakit kardiovaskular, level kolesterol darah yang tinggi dapat membahayakan kesehatan karsiovaskular. Untuk menjauhkan diri dari penyakit kardiovaskular, sangat diharapkan agar level kolesterol darah dalam ambang batas normal.

Berbagai bioaktif dalam makanan bermanfaat untuk menurunkan kadar kolesterol darah. Jamur adalah salah satu makanan yang memiliki kemampuan hipokolesterolemik yang sangat baik. Bioaktif yang berperan untuk menurunkan kolesterol adalah beta-glucan, d-eritadenin atau lentinacin. Fitokimia tersebut sangat efektif dalam menghambat adesi molekul ICAM-1, VSAM-1, dan E-selectin yang menyebabkan pembuluh darah tersumbat.

Para ahli berpendapat bahwa efektivitas terpenting dari jamur adalah untuk mencegah dampak buruk stres oksidatif yang menyebabkan gangguan kardiovaskular. Dalam hal ini bioaktif antioksidanlah yang lebih berperan. Seng, mangan, dan selenium pada jamur memiliki kekuatan sebagai antioksidan yang andal untuk mendukung metaloenzim. Di samping itu, jamur juga merupakan sumber ergothioneine (ET) yang merupakan antioksidan andal yang sangat bermanfaat untuk mencegah kerusakan dinding pembuluh darah oleh radikal bebas.

Dengan kapasitasnya sebagai antioksidan andal disertai sejumlah efek farmakologis lainnya, konsumsi jamur sangat bermanfaat untuk mengendalikan tekanan darah. Ibrahim Mujic, dkk., (2011) menyatakan bahwa asam lemak yang terdapat pada jamur liar memiliki efektivitas yang baik untuk mengendalikan tekanan darah. Pengendalian tekanan darah mencapai level normal merupakan salah satu upaya untuk menjaga kesehatan kardiovaskular.

Cegah arthritis dengan jamur

Paparan radikal bebas menimbulkan stres oksidatif dan menurunkan fungsi imun di dalam tubuh kita. Stres oksidatif diikuti dengan penurunan imunitas tubuh meningkatkan inflamasi yang menjadi pemicu penyakit yang terkait erat dengan inflamasi. Salah satu penyakit yang erat kaitannya dengan radikal bebas pemicu inflamasi adalah reumathoid arthritis atau rematik.

Sebuah studi yang dilakukan Yu, dkk., (2009) menyebutkan bahwa secara umum jamur yang biasa kita konsumsi mengandung zat aktif antiinflamasi yang dapat kita manfaatkan untuk mengatasi berbagai macam penyakit. Konsumsi jamur dapat menurunkan laju inflamasi sehingga sangat bermakna untuk membantu penyembuhan penyakit yang disebabkan inflamasi.
Di pasaran banyak beredar obat antiinflamasi, namun memiliki berbagai efek samping yang cukup serius terhadap kesehatan lambung dan lever, jika Anda bermaksud mendapatkan antiinflamasi alternatif, tak ada salahnya jika Anda sering mengonsumsi jamur dan sumber antiinflamasi botani lain yang aman untuk Anda konsumsi.

Source : dari berbagai sumber

 

 

loading...

Previous post:

Next post: