Manfaat Delima Sebagai Sumber Antioksidan

January 17, 2013

delima

Dalam bahasa Inggris delima disebut pomegrade (pommer berati apel, sedangkan grain yaitu biji: apel penuh biji). Buah yang berasal dari Persia ini bukan saja penuh dengan biji, namun juga penuh khasiat. Kandungan nutrisinya termasuk unggul. Sebagian di antaranya merupakan antioksidan berkelas. Komponen antioksidan yang terdapat pada buah delima berupa antosianin dalam berbagai bentuk (delphinidin, malvidin, pelargonidin, dan cyanidin), tanin, dan sejumlah polifenol.

Pelindung jantung yang baik

Hiperkolesterolemia merupakan salah satu faktor risiko PJK. Kolesterol LDL yang tinggi sangat membahayakan kesehatan kardiovaskular kita. Kolesterol tak sehat tersebut jika teroksidasi dapat membuat pembuluh darah kita cacat dan memicu terjadinya serangan jantung. Meskipun banyak serangan jantung dialami oleh mereka yang level kolesterol darahnya rendah, namun individu dengan level kolesterol darah tinggi lebih berisiko mengalami serangan jantung daripada yang individu lain yang level kolesterol darahnya normal.

Untuk menurunkan kadar kolesterol darah Anda, Anda dapat mengonsumsi buah delima secara rutin. Buah delima kaya fitosterol yang sangat ampuh untuk menurunkan kadar kolesterol darah. Efek penurunan kolesterol terjadi karena fitosterol yang dikandungnya mengaktifkan vitamin D3 yang sangat bermanfaat untuk menurunkan kolesterol darah. Peneliti dari Universitas Neples School of Medicine di Itali menyebutkan bahwa tikus yang diberi makan ekstrak buah delima mengalami penyusutan lemak yang semula menumpuk di pembuluh darahnya. Disebutkan pula bahwa plak yang telah terbentuk mengalami penyusutan akibat peningkatan produksi nitrit oksida sebesar 10% setelah beberapa saat mengonsumsi jus delima. Nitrit oksida merupakan agen yang meningkatkan reaksi endotel (endothelium-derived ralaxaxing factor/ EDRF), serta pengatur tonus otot polos. Efek serupa juga ditunjukkan oleh obat vasodilator yang selama ini banyak digunakan untuk penderita PJK.

Dalam menjalankan aktivitasnya, fitosterol dibantu oleh antosianin. Kita tahu bahwa antosianin merupakan antioksidan yang sangat hebat. Bersama dengan tanin yang jumlahnya cukup banyak dalam delima, pigmen merah ini mampu meningkatkan level parazixonase, yakni enzim yang sangat efektif untuk mencegah pembentukan LDL teroksidasi yang dapat melukai dinding pembuluh darah. Penurunan jumlah LDL teroksidasi menurunkan risiko pembentukan plak — materi yang menyebabkan pembuluh darah tersumbat.

Tak hanya mencegah pembentukan plak, bioaktif delima juga mampu mereduksi plak yang sudah terbentuk. Seorang ahli kardiologi dari Universitas Kansas mengungkap bahwa kemampuan mencegah aterosklerosis (efek anti aterogenik) yang dimiliki buah delima lebih disebabkan kemampuannya dalam mencegah penumpukan plak di dinding arteri yang dipicu oleh bioaktif yang terkandung dalam delima.

Aktivitas bioaktif delima semakin lengkap karena memiliki bioaktif yang mampu menyembuhkan luka pada dinding arteri. Bioaktif tersebut adalah paraoxonase. Penyembuhan luka pembuluh darah sangat diperlukan untuk mencegah serangan jantung.

Sebuah studi epidemiologi menyatakan bahwa konsumsi 3 gram fitosterol yang diperoleh dari ekstraksi buah delima secara rutin setiap hari dapat menurunkan risiko PJK hingga 25%. Penurunan risiko tersebut terkait dengan kemampuan fitosterol untuk menurunkan kadar gula dan kolesterol dalam darah. Selain itu, fitosterol juga merupakan antioksidan yang sangat membantu mencegah pajanan radikal bebas yang merusak pembuluh darah dan jantung.

Cegah kanker dengan delima

Buah delima juga memiliki khasiat sebagai antikanker. Bioaktif yang memiliki kemampuan sebagai antikanker adalah fitosterol.

Beberapa studi telah berhasil membuktikan bahwa fitosterol mampu menghambat pertumbuhan sel tumor. Dalam melakukan aktivitasnya, fitosterol menonaktifkan hormon yang giat memacu pertumbuhan sel tumor sehingga pertumbuhan tumor dapat dicegah. Selain itu, fitosterol juga menghambat pemecahan sel tumor sehingga penyebarannya dapat dihentikan. Penelitian lain menyebutkan bahwa fitosterol bahkan dapat memusnahkan sel tumor melalui mekanisme yang disebut apotosis.

Meskipun memiliki kemampuan untuk mencegah kanker, beberapa studi menyebutkan bahwa biji delima justru dapat memicu kanker esophagus. Biji-bijian yang banyak mengandung tanin dapat mengiritasi jaringan esophagus sehingga meningkatkan risiko kanker. Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi, sebaiknya Anda harus membuang biji delima yang keras saat Anda menikmatinya. Jika terlalu merepotkan, Anda pun dapat memilih delima berbiji lunak yang kini dapat Anda peroleh di toko buah segar.

Source : dari berbagai sumber

 

 

loading...

Previous post:

Next post: