Manfaat Brokoli Sebagai Sumber Antioksidan

November 30, 2012

manfaat brokoli

Kubis-kubisan yang memiliki kapasitas antioksidan tinggi adalah brokoli dan sawi hijau. Dibanding kubis-kubisan lainnya, brokoli lebih populer sebagai pemasok antioksidan. Kapasitas antioksidan yang dimiliki sangat hebat karena memiliki nilai ORAC yang tergolong unggul, yakni sebesar 890.

Angka ORAC yang tinggi pada brokoli tidak terlepas dari komponen antioksidan yang dimilikinya. Brokoli memiliki komponen antioksidan yang lengkap, yakni vitamin A, C, dan E, sulfur, seng, mangan, dan selenium. Selain itu, brokoli juga kaya pigmen alami berupa klorofil, beta-karoten dan lutein yang memiliki efektivitas tinggi sebagai antioksidan. Kinerja antioksidan brokoli semakin meningkat karena di dalam sayuran dataran tinggi ini mengandung sulforafran, glucobrassicin, glucoerucin, glucoibcrin, asam -D – glutaric, caffeic acid, dan quercetin. Zat-zat nirgizi ini memiliki kemampuan melemahkan radikal bebas yang sangat andal.

Bioaktif yang memiliki khasiat antioksidan pada brokoli mampu melindungi seluruh tubuh tanpa pandang bulu. Berbagai macam radikal bebas termasuk radikal bebas karsinogenik mampu diatasinya. Semua itu terjadi karena jasa beragam bioaktif yang terdapat pada brokoli.

Brokoli tersohor sebagai antioksidan penghadang kanker

Khasiat brokoli sebagai antikanker telah diketahui sejak tahun 1940. Sebuah studi yang dilakukan di John Hopkin University pada masa itu berhasil mengungkap khasiat antikanker pada brokoli. Pada waktu itu para peneliti menemukan bahwa bioaktif yang dimilikinya mampu meningkatkan aktivitas enzim fase-2 untuk melemahkan zat-zat karsinogenik penyebab kanker.

Beberapa ahli sepakat bahwa pigmen hijau klorofilin yang dikandungnya sanggup menghambat reaksi enzimatis yang menyebabkan terbentuknya sel kanker. Sebuah uji biokimia menyatakan, klorofil dan turunannya memiliki kemampuan untuk mengikat aflatoxin BI yang diduga kuat sebagai pemicu kanker lever. Selain itu, klorofilin juga merupakan antivirus. Dengan efektivitas ini, maka brokoli memiliki kekuatan yang sangat baik dalam mencegah berbagai faktor yang memungkinkan terjadinya kanker.

Dari semua zat aktif yang ada pada brokoli, sulfanofram disebut oleh banyak ahli paling efektif sebagai zat antikanker. Sebuah studi yang dilakukan di Prancis menyatakan bahwa fitokimia yang banyak terdapat pada brokoli ini mampu menghambat proliferasi serta menggiatkan aktivitas apoptosis kanker, terutama kanker kolon. Kedua proses tersebut merupakan langkah yang sangat diharapkan untuk mencegah penyebaran kanker.

Studi lain menyebutkan bahwa isothianat merupakan penghalang kanker yang utama. Isotianat mampu mendetosifikasi senyawa karsinogenik dengan cara meningkatkan efektivitas enzim fase ke-2, yakni UDP-gluconosyl transferase (UGTs), glutamate cysteine ligase, dan euinone reduetase. Dalam upaya mencegah kanker, eleminasi toksin karsinogenik sangat bermanfaat untuk mencegah inisiasi kanker, terutama pada saluran cerna.

Konsumsi brokoli secara rutin dapat mencegah kanker paru-paru dan kanker saluran napas bagi para perokok. Isothiosianat terbukti mampu mereduksi racun tembakau yang memicu kanker. Selain itu, bioaktif ini bekerja sama dengan berbagai karotenoid dan mineral mampu menghalangi kinerja enzim pemicu tumor, yakni sitokrom P450.

Kerja sama antara vitamin dan mineral yang terdapat pada brokoli menciptakan hubungan yang sangat serasi dalam menjalankan tugasnya sebagai antioksidan. Kerja sama tersebut menghubungkan zat karsinogenenik dengan molekul lain, menonaktifkan radikal bebas oksigen dengan cara mengikatnya dengan sejumlah fitokimia dan kemudian membuangnya keluar dari tubuh. Perlindungan ini berlangsung lama karena zat-zat aktif yang dipasok brokoli ke dalam tubuh sekaligus juga meningkatkan kadar antioksidan enzimatis. Beragam jenis kanker dapat dicegah oleh fitokimia yang terdapat pada brokoli.

Lebih dari sepuluh studi menjelaskan bahwa brokoli merupakan antioksidan andal untuk mengatasi kanker reproduksi wanita terutama yang ada hubungannya dengan estrogen, antara lain kanker payudara. Dalam menjalankan perannya, sulfanofram dan Indole-3-carbinol (I3C) bekerja sama menjaga keseimbangan estrogen alami dengan cara meningkatkan kadar estrogen baik dan menurunkan kadar estrogen buruk yang memicu kanker payudara.

Senyawa Indol-3C pada brokoli dan kubis-kubisan lain efektif untuk menghambat perkembangan kanker payudara dan kanker lain yang faktor pemicunya terkait dengan hormon. Bioaktif ini mampu meningkatkan komponen metabolit penyebab kanker payudara yang disebabkan oleh estrogen pemicu kanker, yakni 2-hydroxyestrone. Selain itu, I3C juga mempercepat proses apotosis sel kanker hingga tahap penyembuhan kanker segera tercapai.

Secara umum, antioksidan yang dimiliki brokoli mampu memberi perlawanan terhadap berbagai jenis kanker secara menyeluruh. Asam-D- glutaric yang dimilikinya mampu menghalangi oksidasi radikal bebas karsinogenik yang berasal dari PAH yang terbawa pada makanan yang dibakar dan rokok, heterocyclic amine, dan beragam nitrosamin dari produk hewani. Zat-zat beracun ini jika teroksidasi, maka akan menyebabkan kanker usus, lever, kantung empedu, dan kulit. Para peneliti menemukan ada sejumlah kanker yang sudah pasti dihambat oleh I3C, yakni kanker mulut rahim (serviks), kanker leher rahim, dan kanker usus besar.

Brokoli sebagai pelindung jantung yang baik

Tak hanya bermanfaat untuk mencegah kanker, kebiasaan mengonsumsi brokoli juga memberi pengaruh positif bagi kesehatan jantung kita. Antioksidan yang dimilikinya dapat mencegah oksidasi LDL yang berpotensi merusak pembuluh arteri. Dinding pembuluh arteri yang dipenuhi oleh LDL teroksidasi akan menarik sel darah putih (manocytes atau macrophage). Pada saat macrophage? tertarik ke dinding pembuluh, maka posisinya akan diganti oleh LDL teroksidasi yang akhirnya menyebabkan sel dinding pembuluh darah rusak, menyisakan serpihan protein yang membentuk plak dan berakhir pada aterosklerosis.

Bioaktif yang memiliki pengaruh kuat untuk mencegah aterosklerosis adalah lutein. Meskipun jumlahnya relatif sedikit, namun lutein tersebut telah mampu mencegah penebalan pembuluh carotid yang mempercepat terjadinya aterosklerosis. Didukung oleh vitamin E dan karotenoid lain, lutein mampu melakukan perannya sebagai anti-aterogenik yang sangat menjanjikan.

Kandungan asam folat pada kubis-kubisan terutama brokoli dan kembang kol yang tinggi turut membantu mengatasi persoalan kardiovaskular. Kecukupan asam folat sangat diperlukan untuk menurunkan kadar homosistein yang merupakan faktor pemicu serangan jantung.

Source : dari berbagai sumber

 

 

loading...

Next post: