Manfaat Alpukat Sebagai Sumber Antioksidan

April 6, 2013

alpukat

Alpukat mengandung glutathione. Kandungan glutathione pada 100 gram daging buah alpukat sebesar 21 mg. Merupakan buah yang memiliki kandungan glutathione tertinggi dari semua jenis buah yang umum dikonsumsi manusia.

Glutathione memiliki efek ganda, yakni sebagai antioksidan sekaligus sebagai antikanker. Setidaknya ada 30 jenis penyebab kanker dapat dinonaktifkan dampak buruknya oleh glutathione. Selain itu, glutathione juga merupakan penawar racun yang logam berat yang hebat. Darah yang memiliki kadar glutathione tinggi dapat menghindari kerusakan sel oleh timah.

Tak hanya mengandung glutathione, alpukat juga kaya vitamin, mineral, dan berbagai macam karotenoid yang dapat kita jadikan sebagai antioksidan eksogen berkualitas tinggi. Komponen antioksidan yang dimilikinya sangat lengkap.

Senyawa antioksidan pada alpukat:

  • Karotenoid: alfa-karoten, beta-karoten, beta-cryptoxanthin, zeaxanthin, violaxanthin, neoxanthin, chrysantemasantin, neochrom, violaxanthin, dan lutein.
  • Flavonoid: epicathecin dan epigallocathechin 3-0 gallate.
  • Asam lemak esensial: omega-3 ALA.
  • Fitosterol: beta-sitosterol, stigmasterol, campesterol.
  • Mineral: mangan, seng, selenium

Kombinasi berbagai antioksidan tersebut membuat kapasitas antioksidan yang dimilikinya tinggi. Nilai ORAC dari buah alpukat sebesar 782.

Sebagai antioksidan, efek perlindungan antioksidan avokad sangat menyeluruh. Glutahione melindungi sel dari serangan radikal bebas yang alarut dalam air, sedangkan vitamin E, karotenoid, flavonoid, dan omega-3 melindungi terhadap radikal bebas yang larut dalam lemak. Karena itu, efek perlindungan yang diberikannya menjadi sempurna. dengan mengonsumsi avokad, maka sitoplasma dan sel kita terlindungi dari paparan radikal bebas.

Kinerja antioksidan avokad sangat didukung oleh lemak esensial – omega-3 ALA. Keberadaan lemak sehat ini bukan saja bermanfaat sebagai antioksidan, namun jaga membantu meningkatkan kapasitas antioksidan lain agar lebih dapat dimanfaatkan oleh tubuh. Berbagai macam karoteniod avokad hanya dapat dimanfaatkan tubuh jika ada senyawa pengangkut yang mengedarkan ke seluruh tubuh, yakni lemak esensial. Itulah yang menjadi alasan mengapa bioaktif yang terdapat pada avokad dapat dimanfaatkan tubuh dengan baik.

Avokad dapat meningkatkan kesehatan kardiovaskular

Asam oleat dari avokad bermanfaat untuk menjaga kestabilan kadar lemak dalam darah. Konsumsi MUFA khususnya asam oleat dapat membantu menurunkan kadar kolesteol dan trigliserida (TG) dalam darah. Efektivitas tersebut merupakan hasil kerja dari fitosterol.

Avokad merupakan sumber beta-sterol unggul, di mana setiap 100 gram daging buah terdapat 76 mg beta-sitosterol. Jumlah tersebut tidak terlalu tinggi jika dibanding kacang-kacangan, namun jauh lebih tinggi dibanding pisang, apel, jeruk, dan sayur-sayuran. Efektivitas penurunan kolesterol oleh avokad tidak lepas dari peran biologisnya dari omega-3 ALA.

Konsumsi avokad secara rutin dapat menurunkan resiko PJK. Bukan hanya karena efeknya sebagai penurunan kadar kolesterol darah, namun karena kemampuannya dalam menurunkan kadar homosistein. Penurunan kadar homosistein dilakukan oleh vitamin B6 dan folat yang banyak terdapat pada avokad. Selain itu, bioaktif antioksidan yang dimilikinya mampu mencegah peradangan yang disebabkan oleh paparan radikal bebas.

Bantu atasi diabetes

Konsumsi avokad secara rutin sangat bermanfaat untuk menjaga kestabilan kadar gula dalam darah. Kinerja avokad dalam mengontrol kadar gula darah terjadi melalui beberapa mekanisme yang sanggup dilakukan oleh bioaktif yang dimilikinya.

Dalam kadar tertentu, MUFA yang dimilikinya dapat membantu mengefektifkan kinerja insulin dalam memproses gula menjadi energi. efek anti peradangan yang dimiliki dapat mengatasi resistensi sel terhadap insulin dan gula sehingga gula yang ada dalam darah dapat diproses menjadi energi metabolisme.

Avokad termasuk menu yang memiliki indeks glikemik rendah shingga cocok buat penderita DM. Karbohidrat yang dimiliknya tidak berpotensi menaikkan kadar gula darah karena avokad mengandung gula khusus dengan 7 atom karbon yang mampu menghambat ensim heknokinase serta meningkatkan laju perombakan gula. Gula khusus yang jarang terdapat pada tanaman lain banyak terdapat pada avokad yang belum terlalu matang dan akan mengalami penurunan menjelang pematangan. Sejalan dengan proses pematangan buah, gula tersebut berubah menjadi sukrosa.

Senyawa antikanker ada pada alpukat

Sejumlah karotenoid alpukat efektif untuk memutus rantai yang mendorong pembentukan radikal peroksida dan superoksida yang berpotensi mengacau DNA. Kekacauan DNA merupakan permulaan buruk yang memicu terbentuknya tumor dan kanker.

Kemampuan alpukat dalam mencegah kanker terkait dengan kemampuannya sebagai antioksidan sekaligus antikanker. Dalam hal ini, seluruh bioaktif yang dimiliki alpukat akan bekerja sama menyingkirkan radikal bebas yang berpotensi mengawali kanker.

Bagi sel sehat, alpukat bekerja mencegah stres oksidatif dan inflamasi yang berpotensi sebagai pemicu awal berbagai jenis kanker. Di sisi lain, alpukat juga mampu mendorong inflamasi pada sel kanker sehingga sel yang telah bermutasi tersebut dapat dimusnahkan melalui mekanisme apoptosis (pemusnahan). Dalam studinya, Ding dan Guo (2009) menyebutkan bahwa alpukat mampu mendorong apoptosis sel kanker mulut melalui aktivitas oksigen reaktif pada sel yang telah cacat. Kesimpulan serupa juga dikemukakan oleh Donnarumma, dkk., (2010) yang mengatakan bahwa gula alami yang terdapat pada alpukat dapat menginduksi inflamasi sel kanker yang merupakan proses awal menuju proses apoptosis.

Sejauh ini para ahli berhasil membuktikan bahwa alpukat sanggup mencegah kanker kulit, mulut, dan kelenjar prostat. Lu, dkk., (2005) mengatakan bahwa efektivitas alpukat dalam menghambat perkembangan kanker prostat terkait dengan bioaktif larut dalam lemak yang dimilikinya. Seperti kita ketahui, alpukat kaya omega-3 ALA, omega-9 linoleat, dan sejumlah karotenoid yang larut dalam lemak. Secara keseluruhan, bioaktif-bioaktif tersebut mencegah perkembangan kanker prostat agar tidak berkembang ke arah yang lebih buruk.

Penelitian lain menyatakan bahwa khasiat antikanker dari alpukat sangat dipengaruhi oleh tingginya kandungan folat dari buah alpukat. Asam folat merupakan determinan penting dari total homosistein yang diproduksi tubuh. Peningkatan kadar homosistein memicu aktivitas karsinogenesis karena berkurangnya DNA di jaringan penting saat terjadi peningkatan S-Adenosishomosistein. Proses inilah yang mendorong terjadinya inisiasi kanker. Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa kecukupan folat dapat menurunkan risiko kanker, terutama kanker usus besar.

Kulit cantik berkat alpukat

Bagi Anda yang menginginkan kulit sehat terhindar dari dampak buruk radikal bebas, alpukat dapat menjadi solusinya. Antioksidan yang terdapat pada alpukat sangat efektif untuk menghalangi radikal bebas yang berasal dari matahari yang memapar kulit Anda.

Dalam studinya, Rosenblat, dkk., (2010) mengatakan bahwa alpukat mengandung Polyhydroxylated Fatty Alcohol (PAS) yang bermanfaat sebagai tabir surya. Fitokimia ini merupakan antioksidan yang memiliki kemampuan sangat baik untuk mencegah oksidasi molekul radial dari sinar UV yang berasal dari matahari.

Lawan arthritis dengan alpukat

Radikal bebas merupakan salah satu faktor yang perlu dicurigai sebagai penyebab arthritis. Penyakit autoimun ini terkait kuat dengan paparan radikal bebas yang mendorong terjadinya inflamasL Mencegah dan menyembuhkan inflamasi merupakan

Senyawa antikanker ada pada alpukat

Sejumlah karotenoid alpukat efektif untuk memutus rantai yang mendorong pembentukan radikal peroksida dan superoksida yang berpotensi mengacau DNA. Kekacauan DNA merupakan permulaan buruk yang memicu terbentuknya tumor dan kanker.

Kemampuan alpukat dalam mencegah kanker terkait dengan kemampuannya sebagai antioksidan sekaligus antikanker. Dalam hal ini, seluruh bioaktif yang dimiliki alpukat akan bekerja sama menyingkirkan radikal bebas yang berpotensi mengawali kanker.

Bagi sel sehat, alpukat bekerja mencegah stres oksidatif dan inflamasi yang berpotensi sebagai pemicu awal berbagai jenis kanker. Di sisi lain, alpukat juga mampu mendorong inflamasi pada sel kanker sehingga sel yang’telah bermutasi tersebut dapat dimusnahkan melalui mekanisme apoptosis (pemusnahan). Dalam studinya, Ding dan Guo (2009) menyebutkan bahwa alpukat mampu mendorong apoptosis sel kanker mulut melalui aktivitas oksigen reaktif pada sel yang telah cacat. Kesimpulan serupa juga dikemukakan oleh Donnarumma, dkk., (2010) yang mengatakan bahwa gula alami yang terdapat pada alpukat dapat menginduksi inflamasi sel kanker yang merupakan proses awal menuju proses apoptosis.

Sejauh ini para ahli berhasil membuktikan bahwa alpukat sanggup mencegah kanker kulit, mulut, dan kelenjar prostat. Lu, dkk., (2005) mengatakan bahwa efektivitas alpukat dalam menghambat perkembangan kanker prostat terkait dengan bioaktif larut dalam lemak yang dimilikinya. Seperti kita ketahui, alpukat kaya omega-3 ALA, omega-9 linoleat, dan sejumlah karotenoid yang larut dalam lemak. Secara keseluruhan, bioaktif-bioaktif tersebut mencegah perkembangan kanker prostat agar tidak berkembang ke arah yang lebih buruk.

Penelitian lain menyatakan bahwa khasiat antikanker dari alpukat sangat dipengaruhi oleh tingginya kandungan folat dari buah alpukat. Asam folat merupakan determinan penting dari total homosistein yang diproduksi tubuh. Peningkatan kadar homosistein memicu aktivitas karsinogenesis karena berkurangnya DNA di jaringan penting saat terjadi peningkatan S-Adenosishomosistein. Proses inilah yang mendorong terjadinya inisiasi kanker. Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa kecukupan folat dapat menurunkan risiko kanker, terutama kanker usus besar.

Kulit cantik berkat alpukat

Bagi Anda yang menginginkan kulit sehat terhindar dari dampak buruk radikal bebas, alpukat dapat menjadi solusinya. Antioksidan yang terdapat pada alpukat sangat efektif untuk menghalangi radikal bebas yang berasal dari matahari yang memapar kulit Anda.

Dalam studinya, Rosenblat, dkk., (2010) mengatakan bahwa alpukat mengandung Polyhydroxylated Fatty Alcohol (PAS) yang bermanfaat sebagai tabir surya. Fitokimia ini merupakan antioksidan yang memiliki kemampuan sangat baik untuk mencegah oksidasi molekul radial dari sinar UV yang berasal dari matahari.

Lawan arthritis dengan alpukat

Radikal bebas merupakan salah satu faktor yang perlu dicurigai sebagai penyebab arthritis. Penyakit autoimun ini terkait kuat dengan paparan radikal bebas yang mendorong terjadinya inflamasL Mencegah dan menyembuhkan inflamasi merupakan prosedur penyembuhan arthritis, namun mereduksi dampak buruk radikal bebas tentu memberi makna yang menguntungkan dalam penyembuhan arthritis.

Komponen nutrisi nonnutrisi yang terdapat pada alpukat memiliki kekuatan untuk mereduksi radikal bebas penyebab inflamasi. Omega-3, vitamin E, karotenoid, dan sejumlah fitokimia yang dikandungnya telah terbukti sebagai antiinflamasi yang dapat diandalkan.

Khasiat alpukat dalam mengatasi arthritis telah dibuktikan melalui sejumlah penelitian. Boileau, dkk., (2009) dalam percobaannya terhadap anjing yang mengalami osteoarthritis membuktikan bahwa anjing yang diberi makan alpukat mengalami perbaikan kondisi arthritis yang dialaminya. Efek positif tersebut terjadi melalui aktivitas bioaktif alpukat dalam menghambat aktivitas nitrit oksida sintetase dan matrix- proteinase-1 yang mendorong terjadinya inflamasi—penyebab osteoarthritis. Menurut Heinecke, dkk., (2010), efek antiinflamasi juga ditunjukkan dengan kemampuan epigallocatechin gallat dari alpukat dalam menghambat produksi cylloxygenase-2 dan prostaglandin E2.

Alpukat bisa juga mengatasi HIV

HIV adalah virus yang menurunkan imunitas tubuh dan menjadi faktor penyebab AIDS. Selain karena infeksi virus, penyakit ini dapat semakin parah jika penderitanya terpapar oleh radikal bebas yang tidak dapat diatasi oleh tubuh. Untuk itu, peningkatan kapasitas antioksidan sangat penting untuk diperhatikan.

Sebuah studi yang dilakukan di Universitas Cornell Amerika Serikat menyebutkan bahwa bioaktif yang terdapat pada alpukat dapat menekan infeksi HIV. Mekanisme mana yang bekerja belum terungkap jelas, namun ahli yang melakukan riset tersebut nieyakini bahwa peningkatan imunitas tubuh oleh bioaktif alpukatlah yang mendorong tubuh kuat menghadapi infeksi HIV.

Source : dari berbagai sumber

 

 

loading...

Previous post:

Next post: