Kok Anak Gadis Kita Belum juga Menstruasi?

May 9, 2014

menstruasi

Memang kebanyakan anak perempuan mendapat menstruasi pertama (disebut menarche) kurang lebih di umur ketika ibunya juga mengalami menarche. Menarche biasanya didahului oleh perubahan seks sekunder secara fisik yang kasat mata, seperti mulai timbulnya bulu kemaluan, perkembangan buah dada (si gadis biasanya mengeluh nyeri kalau kesenggol atau muncul seperti “lempeng koin” yang membesar di area coklat sekitar puting susu).

Secara umum menstruasi pertama dimulai sekitar usia 11-14 tahun. Namun ada yang dini di usia 9 tahun atau baru usia 15 tahun mendapatkan haid.

Dua tahun pertama menstruasi biasanya belum teratur. Siklus bisa antara 21 hingga 45 hari. Begitu pula dengan kualitas pendarahannya. Kadang ada yang sangat minimal (cukup 2 pembalut per hari) tapi ada pula yang deras hingga saat jam sekolah pun perlu ganti pembalut. Sistem hormonal masih dalam taraf tumbuh kembang, hormon progesteron pun tidak cukup tinggi selama siklus untuk membantu selaput lendir rahim (endometrium) luruh tuntas saat haid. Akibatnya lapisan selaput lendir ini bisa begitu tebalnya hingga perdarahan terjadi agak lama dan cukup banyak.

Betul dugaan bahwa kebiasaan menonton televisi mempunyai hubungan dengan masalah ini. Suatu analisis dari 35 penelitian ilmiah yang berbeda menandai tidak kurang dari 15 efek negatif terhadap kesehatan akibat kebiasaan berjam-jam di muka televisi. Di antara efek tersebut adalah kanker, autisme dan Alzheimer. Bagi kebanyakan orang sekarang waktu yang dihabiskan untuk menonton TV ternyata lebih panjang dari aktivitas lainnya. Istilah “terpaku” di depan layar ini sudah berkembang hingga layar monitor komputer. Anak-anak berusia 11-15 di Amerika serikat sekarang menghabiskan 55 persen masa terjaga nya menonton TV atau main komputer. Penelitian tersebut juga berhasil menarik benang merah antara aktivitas ’di depan layar’ dengan turunnya kadar hormon melantonin, yang mengatur ’jam biologis internal’ dan perkembangan pubertas. Hal ini menjelaskan munculnya kecenderungan rasa lelah pada orang dewasa dan pubertas dini.

Yang tak kalah menariknya adalah konsumsi susu formula yang berasal dari kedele. Angka yang sangat mengejutkan menandai pubertas dini terjadi pada anak-anak perempuan. 1% anak perempuan di usia kurang dari 3 tahun menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan seks sekunder, dan muncul di usia 8 tahun pada 14.7% (kelompok kulit putih Amerika) dan 50% (kelompok kulit hitam Amerika).

Bagaimana dengan bayi laki-laki? Mereka normalnya mengalami ’lonjakan testosteron’ selama bulan-bulan awal kehidupannya, hingga kadarnya bisa menyamai pria dewasa. Selama masa ini, bayi ‘terprogram’ untuk menunjukkan karakteristik laki-laki selepas pubertas, bukan hanya perkembangan organ reproduksi atau kondisi fisik pria saja, tapi juga karakter prilaku otak laki-laki. Bayi laki-laki yang selama proses pertumbuhan janin terpapar dengan di-ethyl-stilbestrol (DES) – yaitu estrogen sintetik yang mempunyai efek sama dengan fitoestrogen kedele – akhirnya terbukti mempunyai buah pelir (testis) lebih kecil dari normal. Gangguan belajar, terutama pada anak laki-laki mencapai ‘porsi epidemik’nya saat ini, dimana pemberian susu kedele sudah dimulai sejak tahun 1970.

Penelitian terbaru juga menyebutkan jenis asupan protein pada usia tumbuh kembang pun mempengaruhi pubertas dini. Semakin banyak porsi protein hewani diasup pada usia 5-6 tahun, maka anak-anak ini semakin cepat mengalami menstruasi pertama (pada perempuan) dan perubahan suara (pada laki-laki). Pubertas dini bukan hal yang bisa dianggap kemajuan teknologi pangan atau derajat kesehatan. Dari penelitian di atas terbukti bahwa asupan protein hewani yang menyebabkan pubertas dini anak ternyata bersumber pada insulin dan insulin-like growth factor 1 (IGF-1) pada susu hewan. IGF-1 memengaruhi pertumbuhan manusia yang mengasupnya. Masih dalam makalah yang sama, disebutkan munculnya pubertas dini berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit kanker di kemudian hari yang berhubungan dengan hormon. Suatu meta-analisis dari 26 penelitian epidemiologi melaporkan 9% turunnya risiko kanker payudara justru untuk penundaan 1 tahun dimulainya menstruasi pertama.

Menghadapi masa pancaroba anak di usia transisi/ akil balik, orang tua yang tanggap perlu segera bertindak. Masalah kadang bukan hanya tentang fisik, tapi juga gejolak emosi dan sikap yang kadang belum tentu sejalan dengan orangtuanya. Cara yang paling jitu adalah meluangkan waktu untuk mendengar. Terbuka bukan semata membuka diri dan membeberkan segala sesuatu nya sehingga orang lain bisa melihat kita dengan gamblang, tapi terbuka pun bisa berarti membuka kemungkinan untuk bisa memahami dan menerima tanpa penilaian atau praduga.

Kesulitan orang tua terletak di hal yang satu itu. Mengapa? Orang tua cenderung menganggap diri ’pihak yang paling tahu’ dan ‘lebih berpengalaman’. Referensi masa lalu atau cerita-cerita yang pernah kita dengar menyebabkan tuturan anak tidak lagi ditanggapi secara netral. Menghadapi remaja dengan pendekatan pro-aktif ibarat menggenggam sebongkah tahu. Bila terlalu erat, tahu akan hancur tak berbentuk. Bila terlalu longgar, tahu akan meluncur jatuh lewat sela-sela tangan kita. Tapi begitu genggaman itu pas, maka hubungan kita dengannya jadi begitu indah. Kita bahkan seperti menemukan cermin kemudaan kita di wajah si anak remaja. Sangat banyak yang bisa dipelajari ulang, dirasakan kembali bersama, dan dijalani lagi.

Itulah yang banyak dialami orang tua dengan si gadis yang sebentar lagi hidup mandiri memasuki babak baru kehidupannya. Masa remaja seorang anak begitu singkatnya seperti kita menikmati harumnya kulit si bayi – yang tahu-tahu sudah bisa berjalan dan berlari. Apa pun tahapan masa itu, hubungan orang tua dan anak sebaiknya selalu indah dan mesra, bukan?

 

 

loading...

Previous post:

Next post: