Kemoterapi Baru Untuk Kanker Payudara

October 19, 2014

kemoterapi kanker payudara

“Saat dokter bilang benjolan pada payudara kiri saya ternyata kanker, saya kira semua sudah berakhir. Dokter menganjurkan saya untuk melakukan pengangkatan payudara dan kemoterapi. Memang saya punya semangat untuk sembuh, tetapi rasanya sulit membayangkan untuk hidup hanya dengan satu payudara,” kenang (Karin) beberapa waktu lalu.

Tidak ingin berputus asa, Karin mencari second opinion. “Setelah berkonsultasi mendalam, dokter mengatakan bahwa ada pilihan lain agar payudara saya mungkin tidak perlu diangkat seluruhnya, yaitu dengan menggunakan neoadjuvant chemotherapy”. Alhasil mantan perawat ini, kini bisa hidup sehat menikmati masa pensiunnya dan terbebas dari kanker, meski saat di-diagnosis beberapa tahun lalu stadiumnya sudah mencapai stadium IIIb.

Sepengal cerita diatas menunjukan bahwa ada harapan hidup yang menjanjikan yang bisa didapat meski seseorang sudah divonis oleh dokter mengalami kanker dan harus menjalani beberapa sesi terapi.

Horor Kanker

Penyakit kanker sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan yang menyita perhatian banyak orang, baik di Indonesia, maupun di seluruh dunia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi kanker di Indonesia, sudah mencapai 1,4 per 1000 penduduk, dan menjadikan penyakit ini penyebab kematian nomor tujuh.

Setidaknya terdapat beberapa modalitas pengobatan kanker yang ada saat ini, meliputi; pembedahan, radioterapi, kemoterapi, hormonterapi untuk kanker yang sensitis dan dapat dipengaruhi hormon, immune-molecular targeted terapi dan complementary alternative medicine (CAM),” terang ahli bedah onkologi RS Omni Pulomas dr. Hendry Naland SpB(K) Onk.

Dikatakan oleh dr. Hendry, tumor sendiri dapat dibagi menjadi 2 golongan yakni tumor solid dan tumor non solid. Dan dapat juga dibedakan dari keganasannya, yaitu tumor ganas dan tumor jinak. “Tumor ganas dikarenakan sel-selnya dapat melepaskan diri dari induknya, yang kemudian dapat masuk melalui aliran limfe atau aliran darah yang memungkinkan penyebarannya ketempat atau organ lain pada tubuh,” jelasnya.

Hingga saat ini, untuk kasus tumor non solid yang ganas, pengobatan adalah melalui kemoterapi, misalnya kanker leukemia, atau lymphoma malignum. Sementara pada tumor solid seperti contoh kanker payudara yang di alami Karin, pengobatan utamanya adalah dengan pembedahan sejauh masih bisa dioperasi artinya semua jaringan tumor ganas dapat diangkat dengan menggunakan pisau bedah, dan dapat ditingkatkan dengan radioterapi untuk lebih lanjut, bahkan untuk tingkatan yang lebih tinggi lagi digunakan pengobatan sistemik berupa kemoterapi.

Beda Dulu dan Sekarang

Dikatakan oleh dr. Hendry, dari waktu ke waktu konsep pengobatan tumor solid mengalami evolusi. Dahulu, secara estafet dokter akan melakukan proses yang pertama yaitu pembedahan, bila kemudian ada sisa atau kembali kambuh dilakukan radioterapi, dan bila lebih lanjut lagi baru kemudian pasien dikemoterapi. Saat ini urutan pengobatan bisa dimulai dengan kemoterapi terlebih dahulu, lalu disinar dan bila masih ada sisanya akan dilakukan operasi.

“Mungkin tidak bisa disalahkan juga jika orang-orang dahulu banyak yang menolak kemoterapi karena mereka berpendapat bahwa kemoterapi merupakan cara pengobatan yang menakutkan karena banyak efek sampingnya. Dahulu juga kemoterapi selalu diberikan pada kasus berat atau stadium lanjut,” jelas dr. Hendry.

Tujuan dilakukannya kemoterapi adalah untuk mematikan atau menghambat pertumbuhan sel kanker. “Sel kanker adalah sel yang memiliki aktifitas sangat tinggi untuk membelah diri dan memperbanyak dirinya,” jelasnya. Sayangnya dalam tubuh kita juga ada beberapa sel yang cepat berganti seperti misalnya sel darah merah, sel darah putih, sel thrombocyt. Itu sebabnya obat kemoterapi juga dapat mengakibatkan kerusakan sel-sel yang sesungguhnya sehat pada tubuh. Ini juga yang selanjutnya dapat mengakibatkan beberapa efek samping seperti anemia, infeksi dan lain-lain.

“Namun tak perlu takut, pada jangka waktu tertentu sel normal ini dapat kembali sehat seperti sediakala,” jelasnya. Kemoterapi sendiri dapat diberikan per-oral atau melalui infuse.

Mengecilkan Tumor Sebelum Operasi

“Neoadjuvant chemotherapy merupakan strategi terapi kanker yang masih cukup baru di Indonesia,” jelas dr. Hendry. Dari namanya, kita dapat menebak bahwa terapi ini masih bersaudara dengan adjuvant chemotherapy. Neoadjuvant chemotherapy memang mirip dengan adjuvant chemotherapy, tetapi waktu pemberian keduanya berbeda. Jika adjuvant chemotherapy diberikan setelah operasi untuk membunuh sel-sel kanker yang masih tersisa, neoadjuvant chemotherapy diberikan untuk mengecilkan tumor primer sebelum operasi atau terapi utama kanker diberikan.

Neoadjuvant chemotherapy biasanya hanya dianjurkan pada kasus-kasus khusus, misalnya kanker yang sulit dioperasi karena berukuran besar, dekat dengan pembuluh atau saraf yang penting, atau pada wanita penderita kanker payudara yang tidak ingin kehilangan sebelah payudaranya. Dengan pemberian obat ini, tumor diharapkan dapat mengecil sehingga lebih mudah dioperasi dan diharapkan memberi hasil yang lebih baik. Jika berhasil baik, penderita kanker mungkin tidak memerlukan terapi seintensif kanker yang berukuran besar.

Pemberian Sama Seperti Kemoterapi

Pemberian neo adjuvant chemotherapy sama seperti adjuvant chemotherapy. Neoadjuvant chemotherapy dapat berupa terapi sistemik (kemoterapi, imunoterapi, terapi hormon) atau terapi radiasi. Jika tumor tidak kunjung mengecil atau bahkan bertambah besar saat obat diberikan, dokter dapat menghentikan pengobatan dan mencoba kemoterapi lain atau langsung melakukan operasi, tentunya dengan mempertimbangkan stadium kanker dan kondisi pasien.

Terapi ini biasanya dianjurkan pada kanker yang bersifat ganas tapi setempat, sehingga pembedahan dapat dilakukan pada stadium lanjut. Pada beberapa kasus, pemberian neoadjuvant chemotherapy dapat mempermudah dokter bedah dalam menentukan batas antara tumor dengan jaringan yang sehat. Terapi ini terbukti tidak hanya mempermudah pengobatan selanjutnya, tetapi juga menurunkan angka kematian penderita, terutama karena pasien tidak perlu menghadapi pembedahan yang besar dan luas.

Bahkan, terapi ini dapat merubah kanker yang tidak dapat diobati menjadi dapat diobati.

Tidak Dapat Untuk Semua Kasus

Yang menjadi kekurangan neoadjuvant chemotherapy adalah terapi ini tidak dapat diberikan pada semua kasus. Pada kanker payudara, terapi ini cocok untuk kanker yang masih berada pada stadium awal. Pemberian terapi ini juga dapat menimbulkan efek samping sama seperti kemoterapi pada umumnya. Karena itu, dokter harus mempertimbangkan manfaat dan risiko yang mungkin ditanggung oleh penderita kanker.

Neoadjuvant chemotherapy dapat bersifat sangat toksik dan pada beberapa pasien dapat menimbulkan efek samping yang berat sehingga menurunkan kondisi pasien. Akhirnya, pasien malah tidak dapat menjalani prosedur utama, yaitu operasi. Beberapa jenis neoadjuvant chemotherapy juga dapat menimbulkan reaksi alergi yang berat dan berbahaya.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: