Kejang pada Anak Belum Tentu Epilepsi

November 5, 2013

epilepsi

Epilepsi pada anak masih menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat Indonesia, bahkan kondisi ini tak pelak menjadi buah bibir dan tak jarang kemudian dikaitkan dengan stigma negatif, seperti; kerasukan setan, bisa menular jika kena air liurnya, dan masih banyak hal lain yang tidak masuk akal.

Diperkirakan penderita epilepsi di Indonesia jumlahnya mencapai 1,8 juta. Dengan penderita epilepsi baru 250.000 penderita per tahun. Dari sekian banyaknya jumlah penderita epilepsi, kasus epilepsi lebih banyak ditemukan pada anak-anak, dibandingkan orang dewasa.

Menurut Dr. Gea Pandhita MKes SpS, Dokter Spesialis Saraf RS Islam Pondok Kopi, Jakarta, epilepsi merupakan sebuah gangguan fisik yang menyerang bagian otak manusia. Epilepsi bukan gangguan mental, penyakit ini tidak menular melewati air liur, atau melalui perantara lain. “Stigma negatif ini akan berdampak pada problem psikosisal yang buruk bagi penderita. Kurangnya kepercayaaan diri akan menimbukan kecemasan sehingga mengganggu kualitas hidup pasiennya. Selain itu keluarga juga menjadi tertekan dengan kondisi anggota keluarganya yang mengalami epilepsi,” jelas Dr. Gea.

Kejang yang Khas

Menurut Dr. Gea, epilepsi merupakan suatu keadaan yang ditandai oleh bangkitan berulang, berselang lebih dari 24 jam dan timbul tanpa adanya provokasi. “Bangkitannya itu tidak boleh di hari yang sama saja. Serangannya harus stereotipik,” tambahnya.

“Otak memiliki milyaran sel saraf. Supaya bisa berkomunikasi satu sama lain, maka terjadilah aliran listrik yang kecil. Tegangannya tidak besar hanya dalam mikro volt. Nah, bila aliran listriknya tidak normal atau seimbang, terjadilah epilepsi,” ujar Dr. Gea.

Gejala epilepsi atau bangkitan epilepsi (epileptic seizure) terbagi menjadi beberapa kondisi, yaitu partial seizure, general tonic clonic seizure, tonic seizure, absence seizure. Mudahnya, gejalanya mulai dari kejang, terkejut, anak tiba-tiba melamun atau tubuh kaku sementara.

“Gejalanya tergantung saraf apa yang terganggu aliran listriknya. Misal, kalau motorik, tangannya kejang. Jika sensorik, anak tersebut tiba-tiba melamun sementara,” kata dia. Namun apakah semua kejang adalah tanda epilepsi? Belum tentu. Dijelaskan Dr. Gea, kejang sebagai epileptic seizure terjadi berulang, berselang 24 jam dan stereotipik. “Stereotipik contohnya, hanya tangan saja yang kejang. Jika 24 jam kemudian yang kejang bukan tangan lagi melainkan kaki, ini tidak stereotipik dan bukan epilepsi,” jelas dia. Biasanya kejang diawali tubuh yang menegang, lalu mulai mengejang. Kondisi ini berlangsung 1 sampai 3 menit. Paling lama 5 menit. “Yang jelas kejang terjadi secara spontan tanpa provokasi dari penyakit lain seperti demam,” lanjut dia.

Otak manusia, memiliki bagian dan fungsinya sendiri-sendiri, seperti digunakan untuk fungsi bahasa, motorik dan lain-lain. Menurut Dr. Gea, pada penderita epilepsi bangkitan di sebabkan oleh karena ketidak seimbangan antara aktifitas listrik positif dan negatif. Hal ini bisa diakibatkan oleh beberapa hal, seperti; stroke, infeksi atau diakibatkan oleh trauma. “Jadi epilepsi bukan merupakan penyakit menular, kutukan atau gangguan kejiwaan. Bahkan epilepsi bisa diobati,” jelasnya.

Jenis epilepsi absence muncul jika seseorang bernafas terlalu cepat dan dalam. “Absence masuk ke dalam jenis epilepsi general karena tidak bisa berkomunikasi dengan orang di luar saat bangkitan terjadi,” jelasnya. Bangkitan lain adalah Atonia (tidak ada kekuatan otot). Jika pasien mengalami epilepsi atonia, ia kemana-mana harus memakai helm. Menurut Dr. Gea, perlu kehati-hatian pada anak dengan atonia” tambahnya.

Namun tidak semua epilepsi ditandai dengan kejang, dan tidak semua kejang adalah epilepsi. Kejang demam biasa muncul pada anak usia 4 bulan. Dan umumnya akan sembuh dengan sendirinya pada usia 6 tahun. “Jika kejang yang timbul pada anak disertai demam umumnya itu bukan merupakan epilepsi,” tambah Dr.Gea.

Pengobatan Epilepsi

Jika seorang anak dicurigai epilepsi, ditandai dengan kejang tanpa provokasi, anak harus dibawa ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dokter umumnya akan melakukan pemeriksaan tambahan dengan EEG (Electroencephalography). “Pasien akan dilihat hasil gambaran listrik otaknya, selama 30-60 menit,” jelas Dr.Gea. Untuk mencetuskan bangkitan pasien biasanya diganggu dengan lampu atau dengan hal lain.

Tujuan utama terapi adalah mengupayakan tercapainya kualitas hidup optimal, untuk penyandang epilepsi sesuai dengan perjalanan penyakit dan disabilitas fisik maupun mental yang dimilikinya. “Bebas bangkitan tanpa efek samping, adalah tujuan utamanya,” tambahnya. Pasien biasa akan diberikan obat anti epilepsi selama kurang lebih 2 tahun. Jenis obatnya bermacam- macam seperti penobarbita, phenytoin, atau obat anti epilepsi golongan ke-2 dan ke-3.

Hal pertama yang dilakukan jika melihat seseorang mengalami kejang karena epilepsi adalah dengan tidak menahan gerakan penderita. Jangan memindahkan penderita kecuali penderita dalam bahaya. Jangan memasukan makanan dan minuman atau apapun ke dalam mulut penderita, termasuk obat obatan ketika muncul bangkitan. Serta jangan coba menyadarkan penderita secara paksa.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: