Kehamilan Di Atas Usia 35 Tahun, Berbahayakah?

February 4, 2014

hamil di atas usia 35 tahun

Selain stress, persoalan telat menikah dan kehamilan merupakan isu yang banyak disorot dari wanita karir masa kini. Seperti halnya wanita lain umumnya, mereka pun idamkan anak dari rahim sendiri. Namun di usia matang, mereka umumnya ragu dan takut untuk hamil karena beresiko tinggi. Benarkah demikian?

30 tahun yang lalu, lebih dari separuh wanita di Indonesia memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Jangankan bekerja, wanita pada masa itu bisa dibilang beruntung jika dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Namun, jaman sudah berubah. Saat ini, dari pabrik hingga perkantoran didominasi oleh kaum pekerja perempuan. Bahkan, wanita-wanita super ini tidak jarang menduduki jabatan-jabatan strategis dalam perusahaan.

Seiring dengan munculnya fenomena ini, banyak kaum hawa yang lebih mendahulukan karir dibanding terbuai kisah percintaan dan menikah. Wanita karir yang baru menikah pada usia lebih dari 30 tahun sudah menjadi pemandangan biasa. Masalahnya, kesehatan reproduksi wanita di atas usia 30 tahun tidak lagi seprima saat ia berusia 20 tahun. Bahkan dapat menimbulkan kesulitan dan risiko dalam merencanakan dan menjalani kehamilan.

Lonceng Kesuburan Wanita

Usia 30 tahun ke atas dapat dianggap sebagai usia matang bagi wanita untuk berkeluarga. Pada usia ini karir biasanya sudah cukup mantap dan Anda pun sudah mulai siap untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan kekasih. Namun, menunda pernikahan sampai usia di atas 30 tahun bukan tanpa risiko.

Ada perbedaan kemungkinan hamil yang sangat besar antara awal usia 30 tahun dengan akhir 30-an. Penuaan ternyata tidak hanya akan menimbulkan kerut-kerut di wajah Anda, tetapi juga menurunkan kemungkinan seorang wanita untuk hamil. Menurut Dokter ahli kandungan Dr. Bramundito, Sp.OG, pada usia matang ini, kemampuan indung telur atau ovarium untuk melepaskan sel telur menjadi berkurang. Jumlah sel telur yang tersisa juga semakin sedikit dan tidak sesehat saat wanita berusia lebih muda. Oleh sebab itu, wanita berusia 30-an dianjurkan untuk tidak menunda kehamilan terlalu lama setelah menikah jika berencana untuk memiliki lebih dari satu anak.

Kemungkinan Sukses Hamil

Meski ada perbedaan yang jauh dalam hal kesuburan dibanding wanita yang berusia 20-an, namun wanita berusia 35 tahun umumnya masih cukup baik. Usia ini dianggap saat yang tepat untuk hamil karena kemungkinannya masih cukup besar.

Pada wanita sehat, kemungkinan hamil adalah 20% dalam setiap siklus ovulasi. Pada usia 30 tahun, ada kemungkinan 15% hamil dalam setiap siklus ovulasi. Dengan demikian, kemungkinan hamil dalam waktu 1 tahun bisa mencapai 75%. Pada usia 35 tahun kemungkinan menurun menjadi 55%, usia 40 tahun menjadi 45%, dan usia lebih dari 45 tahun kemungkinannya tinggal 6%. Kemungkinan ini semakin kecil jika siklus menstruasi tidak teratur atau jarang, tubuh terlalu kurus atau malah terlalu gemuk.

“Risiko keguguran juga meningkat secara bertahap seiring bertambahnya usia,” jelasnya. Pada usia 30-34 tahun kemungkinan keguguran adalah 15%, dan pada usia 35-39 tahun kemungkinannya sebesar 20%. Sedangkan risiko anak mengalami sindroma Down adalah 1 dibanding 950 kelahiran pada usia ibu 30 tahun. Saat usia ibu 35 tahun, risiko melesat hingga 1 banding 365 kelahiran. Pada usia di atas 35 tahun, kemungkinan kehamilan kembar juga lebih besar akibat hormon yang sudah mulai tidak seimbang.

Untung Rugi Hamil Belakangan

Selamat, Anda sudah lepas dari pertanyaan orang-orang sekitar tentang “Kapan kawin?” setiap kali menghadiri undangan pernikahan teman-teman sekelas yang sudah mulai menggandeng suami/ istri atau menggendong anak. Namun sayang, Anda belum lepas dari pertanyaan, “Kapan punya anak?”. Kalau sudah begini, rasanya ingin cepat-cepat menimang buah hati.

Meski demikian, bayang-bayang risiko selama kehamilan bisa menghantui. Belum lagi rasa dikejar-kejar seolah harus segera memiliki anak. Padahal, pada usia ini waktu penantian yang diperlukan untuk hamil bisa lebih lama. Tidak hanya itu, kemungkinan terjadinya keguguran, anak terlahir dengan kelainan genetik, serta gangguan kesehatan yang dapat mengganggu kesuburan juga lebih tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa pada awal usia 30-an, kemungkinan untuk hamil hanya sedikit menurun, dan risiko keguguran atau melahirkan bayi dengan sindroma Down sedikit lebih tinggi. Namun, pada usia 35 tahun penurunan semakin banyak dan cepat, dan risiko keguguran dan kelainan genetik juga jauh lebih besar. Selain keguguran, wanita berusia di atas 35 tahun perlu waspada akan terjadinya kehamilan ektopik.

Saat berhasil hamil, ibu harus tetap waspada, baik terhadap kondisinya sendiri maupun kondisi janin. Apalagi pada usia 35 tahun ke atas, risiko terjadinya diabetes gestasional atau diabetes kehamilan semakin tinggi, dan dapat terjadi komplikasi akibat penyakit yang sudah ada sebelumnya pada ibu, seperti diabetes, obesitas, penyakit jantung, hipertensi, dan sebagainya. Penyakit-penyakit ini tidak hanya mempengaruhi ibu, tetapi juga dapat mempengaruhi keadaan janin. Oleh karena itu, persalinan melalui operasi Caesar juga lebih banyak terjadi pada ibu dalam kelompok usia ini. Pasalnya, ibu akan lebih banyak menemui kendala selama persalinan, seperti proses persalinan yang memanjang atau distress pada janin. Bisa juga bayi terpaksa dilahirkan lebih awal karena adanya komplikasi kehamilan.

Untuk ibu berusia 40 tahun ke atas, dianjurkan untuk melakukan pengambilan cairan amnion (ketuban) atau sampel villi korionik dari janin, untuk diperiksa apakah janin tersebut mungkin memiliki kecacatan atau kelainan genetik. Ibu juga sudah lebih tua dan tidak dapat begadang menjaga bayi sekuat saat ia masih 20 tahun.

Meski menikah dan hamil di usia 30-an seperti banyak ruginya, ternyata ada juga beberapa keuntungannya. Selain sudah cukup puas berkarir dan meraih sejumlah pencapaian, wanita berusia 30 tahun ke atas juga lebih siap secara mental dan finansial. Biasanya wanita ini akan lebih dewasa, realistis, dan lebih memusatkan perhatian pada bayi dan kehamilan dibanding mereka yang hamil di usia 20-an.

Ibu berusia dewasa biasanya lebih waspada dan memiliki pengetahuan yang lebih luas, ia juga sudah siap menghadapi segala tantangan dan rintangan selama hamil dan setelah bayi lahir.

Agar Kehamilan Lancar

Tidak perlu takut dan gentar menghadapi hasil tes kehamilan yang positif. Anda dan janin bisa tetap sehat dengan penanganan yang tepat. “Langkah pertama menuju hari kelahiran yang bahagia, harus dimulai dengan rutin memeriksakan kehamilan sejak dini. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan menyeluruh, edukasi mengenai kehamilan dan persalinan, konsultasi dan dukungan dari dokter. Pemeriksaan rutin memungkinkan dokter untuk memantau kesehatan bayi dan ibu, dan segera mendeteksi serta mengatasi penyulit jika ada,” jelasnya.

Untuk memastikan kesehatan Anda dan janin, dokter mungkin akan menganjurkan sejumlah pemeriksaan. Mulai dari pemeriksaan ulstrasonografi, tekanan darah, gula darah, protein urin, hingga pengambilan sedikit cairan ketuban atau villi korialis. Hal ini dilakukan untuk mendeteksi gangguan kehamilan, serta menentukan risiko lahirnya bayi dengan kecacatan.

Untuk menjaga kesehatan, jangan lewatkan suplemen atau vitamin yang diberikan dokter, terutama yang mengandung asam folat. Asam folat sangat penting dalam 3 bulan pertama kehamilan untuk mencegah kecacatan pada otak dan sumsum tulang belakang pada janin. Saat hamil, ingat untuk makan makanan yang sehat dan seimbang, dan mengonsumsi makanan atau minuman berkalsium tinggi. Jaga agar peningkatan berat badan sesuai dengan yang dianjurkan dokter.

Meski hamil, ini bukan alasan untuk bermalas-malasan. Kebanyakan wanita dapat tetap beraktivitas seperti biasa sepanjang masa kehamilan. Olahraga secara teratur juga akan membantu mempertahankan berat badan yang sehat, menjaga kekuatan otot, dan mengurangi stress. Konsultasikan olahraga apa yang boleh dilakukan berikut intensitas dan lamanya dengan dokter. Jika timbul gangguan pada kehamilan, dokter akan memberikan anjuran sesuai dengan kondisi Anda. Hindari memaksakan diri, jika perlu ambil cuti dari pekerjaan.

Umur berapapun ia, ibu yang sedang hamil dilarang keras merokok dan minum minuman beralkohol. “Minum alkohol meningkatkan risiko cacat janin. Sedangkan merokok meningkatkan kemungkinan bayi lahir dengan berat badan rendah,” jelasnya. Untuk ibu yang minum obat secara rutin untuk penyakitnya, harus menanyakan boleh tidaknya obat tersebut diminum selama hamil dan menyusui. Dalam hal ini termasuk juga obat-obat bebas, suplemen, obat herbal, dan jamu-jamuan.

Jika Tak Kunjung Hamil

Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Demikian juga jika buah hati yang dinanti tak kunjung tiba. Bila hal ini terjadi, jangan putus harapan. Ada beberapa cara untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kesuburan.

Pertama, konsultasi dengan dokter kebidanan dan kandungan. Selain untuk memeriksakan kesehatan organ reproduksi anda dan suami, dokter juga dapat memberi beberapa tips untuk meningkatkan kemungkinan hamil. Jangan lupa juga mencatat siklus menstruasi, untuk memperkirakan waktu ovulasi agar kemungkinan hamil semakin besar.

Hindari lemak trans. Menurut penelitian, lemak trans dapat menggangggu proses ovulasi dan konsepsi (pelekatan bakal janin ke rahim). Efek ini dapat terjadi meski lemak trans yang dikonsumsi berjumlah sedikit. Lemak trans dapat dijumpai pada makanan kaleng, kudapan, dan makanan cepat saji.

Untuk melawannya, dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang kaya antioksidan, zat gizi, dan asam folat seperti jeruk, sayuran hijau, brokoli, dan sereal yang difortifikasi. Konsumsi protein nabati juga lebih dianjurkan dibanding protein hewani.

Jika Anda merokok, stop sekarang juga. Demikian juga jika masih minum alkohol atau lebih parah lagi, menggunakan obat-obat terlarang. Hindari juga mengonsumsi obat-obatan yang dapat berdampak buruk bagi janin. Jika memiliki kondisi atau penyakit kronis seperti darah tinggi, diabetes, dan lain-lain, harus dikontrol terlebih dahulu. Selain itu, jangan lupakan hal-hal sederhana seperti olahraga teratur, cukup tidur, dan vaksinasi.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: