Kehamilan di Atas 40 Tahun

April 22, 2014

kehamilan di atas 40 tahun

Kita sedang masuk dalam era dimana usia reproduktif seharusnya semakin panjang, karena taraf kesehatan manusia semakin baik dengan pengetahuan tentang nutrisi dan penyakit yang semakin luas. Namun rupanya usia harapan hidup yang meningkat tidak selalu berarti rentang usia reproduktif semakin lebar. Menopause dini terjadi pada banyak perempuan kita, dengan berbagai faktor penyebab.

Sangat disayangkan bila baru memasuki usia 40 kita sebagai perempuan ‘dihantui’ munculnya periode menopause yang mengisyaratkan banyak hal yang selama ini dianggap ‘merugikan’. Dari sekadar merasa diri tua, hingga kecemasan melemahnya fungsi tubuh dan perubahan anatomi tubuh – hal yang sangat merisaukan bagi perempuan, bukan?

Tahukah anda, rata-rata usia menopause sebenarnya bagi perempuan sebenarnya 51 tahun? Memang betul, ada pula mereka yang mengalaminya sebelum usia 40, begitu pula ada yang masih mendapatkan haid di usia 52. Prinsipnya adalah segala sesuatu yang mempengaruhi kondisi kadar hormon kewanitaan (estrogen dan progesteron) akan mempengaruhi kondisi kesuburan seorang perempuan beserta gejala dan tanda yang menyertainya.

Hal yang merisaukan adalah justru perempuan mengalami menopause lebih awal yang disebabkan oleh banyak ‘faktor moderen’: yang tidak lepas dari masalah pola makan dan gaya hidup. Salah satunya adalah merokok atau jadi perokok pasif maupun perokok ketiga (tidak menghirup asap rokok secara langsung, tapi bekas menempelnya asap rokok entah di karpet, perabot). Nah, semakin jelaslah sekarang kerusakan yang menjadi sumbangan para perokok, bukan?

Operasi pengangkatan rahim karena satu dan lain hal (bukan indung telur) membuat haid berhenti, tapi tanda dan gejala menopause tidak akan terjadi karena indung telur masih aktif menghasilkan hormon.

Saat seorang perempuan mulai memasuki tahap menopause, ada fase transisi yang disebut perimenopause -yang terjadi beberapa tahun sebelum haid berhenti dan 1 tahun setelah haid berhenti. Bila dalam setahun penuh sama sekali tidak terjadi haid, maka itulah masa sebenarnya dari menopause, dan otomatis perimenopause telah usai.

Pada masa perimenopause, haid bisa menjadi tak teratur baik dari lamanya (lebih singkat/panjang), derasnya (darah jadi sedikit/lebih banyak). Beberapa orang mulai mengalami ‘hot flashes’(wajah seperti terbakar), gangguan tidur dan kekeringan vagina. Masalah emosional biasanya tidak berhubungan dengan perubahan hormon, tapi lebih pada persepsi perempuan tersebut tentang makna menopause. Keringnya vagina membuat hubungan seksual tidak menyenangkan, ditambah masalah emosional yang akhirnya berimbas pada libido (dorongan seksual). Turunnya (‘kendur’) kekencangan otot sekitar saluran kencing juga kadang meningkatkan frekwensi ingin berkemih.

Masa perimenopause tidak menutup kemungkina seorang perempuan untuk menjadi hamil! Dengan kata lain, bila rata-rata usia menopause adalah 51 tahun, maka hingga usia tnersebut bisa saja kehamilan terjadi. Bila kehamilan bukan menjadi harapan, maka pilihan metode Keluarga Berencana harus diperhatikan dengan baik sampai haid berhenti total selama setahun penuh. Sekalipun terjadi penurunan fungsi hormonal, tapi kehamilan setiap saat bisa terjadi kapan saja. Sebaliknya, bila kehamilan merupakan harapan, maka ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian serius:

1. “Titik awal” sehat/tidaknya kehamilan anda dimulai dari saat anda belum hamil. Pada usia di atas 40 tahun, kerap bermunculan masalah kesehatan yang baru diketahui setelah pemeriksaan lengkap karena yang bersangkutan belum tentu mempunyai gejala/tanda. Hipertensi seringkah baru diketahui setelah pengecekan, padahal sehari-hari sama sekali tidak terasa apa pun. Begitu pula dengan kadar gula darah. Apalagi muncul masalah baru

belakangan ini: pengentalan darah. APS (Anti Phospolip-id Syndrome) ditandai dengan peningkatan ACA (Anti Cardiolipin Antibody)sering menjadi sumber keguguran berulang yang tidak disadari. Masa Protrombin dan INR (International Normalised Ratio) bisa dijadikan salah satu patokan laboratorium awal untuk menilai normal-tidaknya pembekuan/pengentalan darah seseorang.

Jadi, untuk memulai kehamilan di usia ini, memang sebaiknya pastikan diri anda sungguh-sungguh sehat. Jadi, pemeriksaan pra-kehamilan tentunya bukan hanya sekadar skrining infeksi TORCH (toxoplasma, rubella, CMV, Herpes Simplex).

2. Pada usia di atas 40 tahun, perempuan mempunyai beberapa ‘masalah’ baru – yang tersering adalah risiko melahirkan bayi dengan Down Syndrome (terdapat 3 buah kromosom no.21- yang semestinya hanya sepasang) dengan segala akibatnya, termasuk retardasi mental. Dr. Miriam Stoppard merincikan statistik risiko Down syndrome:

  • Usia ibu 25 th risiko 1: 1300 kelahiran
  • Usia ibu 30 th risiko 1: 965 kelahiran
  • Usia ibu 35 th risiko 1: 365 kelahiran
  • Usia ibu 40 th risiko 1: 109 kelahiran
  • Usia ibu 45 th risiko 1:32 kelahiran
  • Usia ibu 49 th risiko 1:12 kelahiran

Banyak kehamilan dengan cacat kromosom/bawaan yang cukup berat berujung pada keguguran spontan atau lahir mati. Selain itu perempuan yang berusia lebih tua cenderung mengalami kelahiran prematur, tekanan pada rongga panggul dengan nyeri, seiring dengan risiko penyakit yang juga muncul dengan meningkatnya usia. Untuk bisa hamil, selain indung telur masih aktif melakukan ovulasi (pengeluaran sel telur yang matang) dan kadar hormon yang mendukung, juga kualitas sel telur itu sendiri -yang tidak mengindikasikan adanya gangguan kromosom.

Menurunnya aktivitas hormon dan turunnya peluang untuk ‘segera hamil’ pada perempuan di atas 40 tahun membuat IVF (in vitro fertilization, alias program bayi tabung/ fertilisasi di luar tubuh ibu) menjadi salah satu pilihan di banyak negara maju. Biaya yang dikeluarkan tentu tidak sedikit. Pada beberapa pusat pelayanan infertilitas dan masalah reproduksi terpadu di Indonesia untuk IVF kita perlu menyediakan sedikitnya 60 juta rupiah ke atas. Fase termahal terjadi saat pengambilan sel telur ibu dan setelah ‘dikawinkan’ dengan sperma suami di lab serta berhasil terjadi pembelahan sel maka dilakukan ‘transfer embrio’ ke dalam rahim ibu. Itu pun masih ditambah pemeriksaan kadar hormon ibu secara berkala dan pemakaian berbagai hormon tambahan yang tidak sedikit harganya.

Sebagai catatan, sekalipun transfer embrio telah berjalan sukses, tidak berarti kehamilan normal langsung terjadi, karena sekali lagi: faktor kelainan kromosom masih memungkinkan terjadinya keguguran. IVF adalah teknologi kedokteran canggih dan tidak sembarang dokter ahli kebidanan bisa mampu melakukannya.

Perlu diingat, hingga saat ini belum ada penelitian terfokus tentang tumbuh kembang anak hingga usia dewasa dari bayi-bayi yang berasal dari metode IVF. Tumbuh kembang bukan hanya aspek fisik dan intelegensia saja tapi juga emosional dan aspek holistik keseluruhan. Apakah kemungkinan faktor risiko -dari penyakit hingga kelainan yang mungkin baru muncul di usia yang lebih tua, hingga umur harapan hidupnya – dibandingkan mereka yang dibuahi dengan cara alamiah tanpa bantuan asupan hormonal dari luar tubuh ibunya.

Dari tabel angka kecukupan gizi, pertambahan energi dan mikronutrien (seperti mineral dan vitamin A) ternyata sama bagi ibu hamil di usia berapa pun. Hamil di usia 25 atau 43, tidak peduli berapa pun berat badan awal atau tinggi badan sebelum kehamilan, kita semua sama-sama membutuhkan tambahan energi. Wanita hamil membutuhkan tambahan 180 kilokalori di tri-mester I dan 300 kilokalori di trimester II dan III. Tambahan nutrisi ini untuk pertumbuhan janin dengan berat badan lahir normal yang diharapkan sekitar 3 kg.

Jadi, tetaplah mengonsumsi pola makan sehat seimbang, baik untuk persiapan menjadi hamil maupun menuju usia matang. Sehat artinya alamiah (seperti sayur lalap dan buah segar sebagai sumber karbohidrat dalam jumlah cukup), seimbang artinya kita juga perlu protein dan lemak setiap kali makan. Apa yang bisa diharapkan dari seporsi mi rebus atau nasi goreng pinggir jalan? Bukankah lebih baik memenuhi piring makan siang anda dengan: 200 gr selada segar, 2 buah tomat, 2 ketimun ukuran sedang, separuh alpukat, sambel tomat buatan sendiri diulek dengan tauge mentah, kemangi segar dimakan dengan ikan bawal bakar (bungkus dengan daun pisang untuk menghindari terbentuknya senyawa karbon) plus pepes jamur merang atau sup ikan.

Banyak kalangan masih menganjurkan asupan kedele sebagai ‘suplementasi’ peningkatan kadar hormon perempuan. Namun penelitian terbaru justru menguak sisi kontroversinya. FDA (Food and Drug Administration/ BPOM) Amerika Serikat pada awal 1998 sudah menerima laporan dari Inggris perihal kandungan phytoestrogen kedele (menyerupai hormon estrogen perempuan) yang ternyata gagal membuktikan pengaruh positifnya malah sebaliknya.

Ditambahkan pula, Ronald M. Krauss, MD, pimpinan the Molecular Medical Research Program and Lawrence Berkeley National Laboratory menyatakan bahwa penelitian yang menghubungkan kedele dengan penurunan kolesterol sangatlah ‘tidak dewasa’. Promosi berlebihan yang mengatakan kandungan antioksidan pada kedele dapat mencegah kanker payudara, rahim dan prostat pada orang Jepang yang mengonsumsi kedele 30x lebih banyak dari penduduk Amerika utara, ternyata lupa mengutip bahwa orang Jepang dan kebanyakan bangsa Asia memiliki angka kesakitan penyakit kanker tipe lain yang lebih tinggi. Kanker yang diidap terutama kerongkongan, lambung, pankreas dan hati. Orang Asia pengonsumsi kedele yang tidak difermentasi di seluruh dunia juga punya tingkat kanker tiroid yang tinggi. Hal yang sama terjadi pada hewan percobaan yang diberi makan kedele.

Namun sisi gelap kedele dan semua masalah yang ditimbulkannya (termasuk masalah tinggi fitat, yang menghalangi penyerapan zat besi dan seng) hilang begitu kedele melalui proses fermentasi. Sebagaimana penduduk Tiongkok jaman Dinasti Chou menemukan bentuk fermentasi yang kita kenal; tempe, oncom, tauco, miso, natto (seperti di Jepang). Mereka tidak mengonsumsi kedele tanpa difermentasi apalagi dibuat susu. Ini karena kedele tanpa fermentasi masih mengandung ‘anti-nutrien’, salah satunya adalah penghambat enzim (tripsin inhibitor) yang malah menghalangi penyerapan protein. Kedele tanpa fermentasi juga mengandung hemaglutinin, zat yang merangsang terjadinya pembekuan darah berlebihan.

Sebagai tambahan, fitoestrogen yang menyerupai estrogen ini ternyata berakibat buruk bagi mereka di atas usia 65 tahun. Dalam suatu penelitian Loughborough University- Britania Raya terhadap 719 penduduk separuh baya pemakan tahu rutin di wilayah perkotaan dan pedesaan pulau Jawa terbukti bahwa kenaikan dosis estrogen justru menyebabkan kerusakan pada sel-sel otak tertentu dengan cara membentuk radikal bebas. Hal yang sama dibuktikan dengan penelitian yang dikenakan pada para penduduk Amerika keturunan Jepang sebagai pengonsumsi tahu yang cukup tinggi. Temuan ini sudah dilansir di salah satu jurnal terbaru dalam Dementias and Geriatric Cognitive Disorder. Namun bukan berarti kita berhenti mengonsumsi kedele. Ternyata fermentasi jamur tempe dengan fitoestrogen justru meningkatkan kadar asam folat. Dan asam folat ini menekan risiko pikun pada orang tua!

Nah, berada di usia 40-50 tahun bagi perempuan adalah tentang melihat ke dalam diri dengan lebih bijak, ‘kita tahu apa yang kita mau’! Life begins at 40, bukankah begitu?

 

 

loading...

Previous post:

Next post: