Kanker Paru, Bukan Hanya Dialami Para Perokok

November 29, 2014

kanker paru

Belum diketahui secara pasti apa penyebab kanker paru. Mengenali gejalanya pada tahap dini dan memberikan pengobatan sejak awal merupakan upaya yang dapat dilakukan agar hasil pengobatan menjadi lebih baik.

Sebagian besar penderita kanker paru adalah perokok (sekitar 90%), namun bukan berarti orang yang tidak merokok terbebas dari kanker yang mematikan tersebut. Risiko perokok aktif untuk menderita kanker paru 13,6 kali lebih besar dibandingkan dengan nonperokok, sedangkan perokok pasif risikonya 20% lebih tinggi dibandingkan nonperokok. Asap rokok juga merupakan sumber utama polusi dalam ruangan (indoor air pollution).

Jika jumlah kasus baru kanker lain menurun, jumlah kasus baru kanker paru meningkat tajam, pada laki-laki atau perempuan, seiring dengan meningkatnya jumlah perokok aktif atau pasif. Pada tahun 2008, angka perkiraan kasus baru kanker paru di Amerika Serikat adalah sekitar 215.020 jiwa, dengan angka kematian per tahun adalah 161.680 jiwa. Di Indonesia pun angka kejadian kanker paru meningkat tajam.

Penyebab

Penyebab utama kanker paru adalah rokok, baik perokok aktif atau perokok pasif. Rokok tidak hanya mengandung zat iritan, namun juga zat karsinogen yang secara langsung dapat mengubah karakteristik sel menjadi ganas, dan menimbulkan kanker. Karena paru banyak mengandung pembuluh darah dan pembuluh limfe (getah bening), maka sel kanker mudah menyebar ke tempat lain (metastasis), bahkan penyebaran tersebut dapat saja terjadi meskipun belum muncul gejala penyakit.

Faktor risiko lain adalah pajanan polusi udara. Polusi udara mengakibatkan iritasi kronik epitel saluran napas, yang kemudian akan mengakibatkan tingginya risiko terjadinya kanker paru. Pajanan debu asbes yang sering digunakan sebagai bahan bangunan, meningkatkan risiko terjadinya kanker paru. Di beberapa negara maju, penggunaan asbes untuk keperluan sehari-hari telah dilarang keras. Faktor risiko lain adalah faktor genetik dan faktor keturunan.

Gejala

Pada tahap awal gejalanya tidak terlalu tampak. Saat penyakitnya sudah sampai tingkat lanjut, baru muncul gejala yang parah. Selalu diskusikanlah dengan dokter mengenai keluhan dan gejala pernapasan yang timbul terutama pada orang-orang dengan risiko tinggi, agar tindakan deteksi dini kanker paru dapat terlaksana. Gejala kanker paru tidak khas, di antaranya :

□ Batuk yang tidak sembuh-sembuh

□ Batuk darah meskipun dalam jumlah sedikit

□ Nafas menjadi sesak

□ Dada terasa nyeri

□ Suara nafas berbunyi seperti asma (mengi)

□ Penurunan berat badan yang nyata

□ Suara serak

Faktor Risiko

Siapa saja yang berisiko terkena kanker paru? Pertanyaan itu mungkin sering muncul di benak kita. Mereka yang berisiko terkena kanker paru di antaranya adalah:

□ Perokok merupakan faktor risiko utama mengalami kanker paru. Belum diketahui secara pasti berapa jumlah rokok yang dihisap dan berapa lama kebiasaan itu dilakukan hingga dapat menimbulkan kanker paru. Hanya saja semakin banyak rokok yang dihisap dan semakin lama waktunya, risiko mengalami kanker paru semakin besar.

□ Jenis kelamin. Perempuan perokok lebih rentan terkena kanker paru dibanding laki-laki yang merokok dengan asumsi menggunakan rokok dalam jumlah yang sama.

□ Terpapar dengan gas radon. Gas jenis itu merupakan hasil pemecahan uranium di tanah, batu atau air yang pada akhirnya menjadi bagian udara yang dihisap manusia.

□ Terpapar dengan asbestos, arsenik, khromium, nikel dan tar juga dapat meningkatkan risiko terkena kanker paru.

□ Riwayat keluarga menderita kanker paru. Mereka yang memiliki keluarga pernah menderita kanker paru, risikonya juga meningkat.

Diagnosis

Diagnosis dini kanker paru sulit. Karena itu penderita biasanya datang pada saat stadiumnya telah lanjut, sehingga angka kematian tinggi. Pemeriksaan foto rontgen toraks (dada) tidak dapat menemukan kelainan pada tahap awal. Jika pada foto rontgen sudah tampak kelainan, biasanya sudah masuk dalam stadium lanjut dan sulit disembuhkan.

Hingga saat ini belum ada metode penapisan kanker paru. Salah satu cara mengetahui adanya kelainan dini pada paru adalah dengan foto rontgen paru berkala.

Jika tidak didapatkan gambaran yang memadai, dilakukan pemeriksaan menggunakan CT scan toraks. Pemeriksaan dahak (sputum) juga dapat membantu memastikan diagnosis. Dari dahak yang keluar dilakukan pencarian adakah sel kanker menggunakan mikroskop.

Pemeriksaan contoh jaringan paru (biopsi) merupakan pemeriksaan dengan tingkat akurasi paling tinggi. Untuk memastikan ada tidaknya kanker paru dengan menggunakan teknik yang dikenal dengan bronkoskopi. Teknik itu memasukkan pipa lentur dengan kamera serat fiber ke dalam bronkus, bagian dari saluran nafas. Selanjutnya dari bagian tersebut diambil contoh jaringan paru untuk diperiksa apakah ada sel kanker atau tidak.

Komplikasi

Kanker paru dapat menimbulkan komplikasi, di antaranya: pengumpulan cairan pada dinding dada (efusi pleura). Hal itu terjadi karena kanker mengakibatkan paru memproduksi cairan abnormal. Jika dibiarkan dapat mengakibatkan kesulitan bernafas. Pertumbuhan kanker akan menyebabkan massa tumor yang akan menyumbat saluran napas, sehingga menyebabkan penderita sulit bernapas.

Komplikasi lain misalnya penyebaran (metastasis) ke tempat lain, misalnya penyebaran ke saraf Laryngeus Superior yang akan menyebabkan lumpuhnya pita suara dan suara serak, penyebaran ke otak, kelenjar anak ginjal dan hati.

Pengobatan

Secara garis besar jenis pengobatan yang dapat dilakukan adalah tindakan pembedahan, kemoterapi, dan radioterapi, dengan pilihan terapi multimodalitas. Tindakan pembedahan dilakukan pada kanker paru stadium dini. Pada stadium lanjut, biasanya diberikan tindakan kemoterapi dan radioterapi. Pada stadium terminal, tujuan pengobatan adalah pemberian terapi yang hanya bersifat meningkatkan kualitas hidup (paliatif), tidak lagi bertujuan untuk mengatasi penyakit.

Tindakan kemoterapi digunakan pada kanker stadium lanjut atau pascabedah pada kanker paru stadium dini. Kemoterapi pada prinsipnya adalah memasukkan obat-obatan ke dalam tubuh untuk menghentikan kanker dan penyebarannya. Kemoterapi dapat diberikan melalui suntikan, atau dapat masuk melalui mulut (oral). Lama pengobatan bergantung dari tingkat keganasan, dapat berlangsung dalam beberapa minggu atau bulan. Selain mengobati kanker, kemoterapi juga berperan dalam mengurangi efek yang ditimbulkan kanker, misalnya rasa nyeri.

Terapi radiasi (penyinaran) juga dapat diberikan untuk membunuh sel kanker. Radioterapi dapat diarahkan langsung pada paru-paru dari luar tubuh (external beam radiation), atau dimasukkan melalui jarum didalam kateter, dan sinar radiasi dipancarkan melalui jarum tersebut (dikenal dengan brachytherapy).

Pencegahan

Meskipun belum diketahui secara pasti upaya apa yang dapat dilakukan untuk mencegah kanker paru, setidaknya ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir risiko, di antaranya:

□ Jangan merokok. Jika tidak pernah merokok, jangan pernah mencoba. Jika Anda seorang perokok, maka berhenti segera. Bila usaha nonmedikamentosa tidak berhasil untuk menghentikan kebiasaan merokok, diperlukan pengobatan, terutama untuk mengurangi ketergantungan nikotin. Upaya berhenti merokok, dapat dilakukan secara mandiri, atau berdiskusi dengan dokter di klinik-klinik berhenti merokok.

□ Hindari orang yang merokok. Meskipun tidak merokok, asap yang keluar dari seorang perokok (sidestream) juga dapat meningkatkan risiko terkena kanker paru-paru.

□ Pastikan bahwa di tempat tinggal atau tempat kerja Anda bebas dari zat yang dapat memicu terjadinya kanker paru. Misalnya saja zat radon, asbestos, atau polutan lainnya. Jika memang bekerja pada tempat yang mengandung polutan tersebut, pastikan menggunakan pelindung yang memadai.

Dukungan Untuk Penderita

Seseorang yang sudah divonis menderita kanker paru tentu saja mengalami masalah fisik dan psikis. Akan banyak komplikasi yang muncul akibat kanker paru, misalnya batuk darah, rasa nyeri, atau keluhan lainnya. Pada kondisi itu biasanya pasien merasa depresi dan membutuhkan bantuan. Keluarga sebaiknya mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang kanker paru, sehingga dapat melakukan tindakan yang diperlukan jika terdapat komplikasi yang membahayakan jiwa. Dari segi psikis, perlu adanya dukungan mental. Misalnya saja dengan tidak hanya mendiamkan di rumah, memberikan kesempatan pada penderita untuk menjalani kehidupannya secara normal.

Penderita juga sebaiknya diberikan penjelasan yang lengkap tentang penyakitnya, dan jika memang dirinya mampu, jelaskan pula risiko berbagai risiko yang akan terjadi. Buatlah target pengobatan yang realistis, misalnya mengurangi nyeri, mengurangi komplikasi, mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik, namun jangan menjanjikan kesembuhan, terutama untuk jenis kanker yang sudah masuk stadium lanjut.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: