Inilah Fakta Tentang Kopi dan Teh

September 4, 2014

kopi dan teh

Kebudayaan Asia yang tinggi di mana pun mempunyai ritual tertentu yang salah satunya dalam bentuk minum teh. Tapi kisahnya menjadi jauh berbeda jika tehnya “harus” bersifat “nasgitel” (panas, legit, kentel) seperti istilah orang Jawa belakangan ini. Dalam menata hidup, memang unsur perasaan sangat berperan agar kita tidak kehilangan sisi kemanusiaan kita. Namun bila perasaan dan faktor kebiasaan negatif menjadi satu-satunya pijakan dalam memilih tindakan, maka hampir bisa dipastikan hasilnya malah bertolak belakang dengan keinginan kita.

Tiap hari minum teh manis, dengan penganan bertepung dan bergula, ditambah ’makanan pokok’ nasi sepiring, kebiasaan sarapan roti, arisan bertabur jajan pasar nan legit,.. nampaknya “biasa” dan “tradisi”. Namun di penghujung usia 50 ada yang menjerit karena tiba-tiba tekanan darahnya melonjak atau serangan muncul. Istilah “penyakit keturunan” yang sering digunakan sebagai alasan ternyata pada masa ini perlu dikaji ulang. Banyak penyakit yang sungguh-sungguh diturunkan (karena dibawa secara genetik) pun sudah dapat diputus jalur penurunannya karena jasa perkembangan ilmu. Apalagi penyakit “keturunan” yang baru muncul di atas usia 40 tahun! Yang perlu dipertanyakan adalah gaya hidup dan gaya konsumsi macam apa yang “diturunkan” selama tumbuh kembang seorang manusia sejak lahir hingga 40 tahun itu? Dalam hal ini, bukan lagi ilmu kedokteran yang sebenarnya pcrlu turun tangan, melainkan ilmu prilaku.

Perasaan pusing, lemas, atau hal-hal subyektif lainnya sering timbul sebagai masalah psikosomatis apabila antara rasionalitas dan emosi tidak berjalan sejajar. Ini terjadi saat orang mulai memutus ’kebiasaan’ (menghentikan rokok, menghentikan teh manis, putus kopi, berhenti ngemil) – tak masalah selama anda tahu bahwa kebutuhan fisik tubuh tidak terganggu (cukup tidur, cukup minum, cukup makan).

Keluar dari zona nyaman (comfort zone) bukan berarti anda masuk dalam zona bahaya. Zona nyaman bisa diartikan ”nya man” karena tidak ada perubahan, hidup berjalan rutin, bergaul dengan orang dengan kebiasaan, cara pikir, bahkan cara kabur yang sama. Otak kita senang dengan hal-hal yang seperti itu. Membawa kepastian, kerutinan, kebiasaan, sehingga tidak perlu berpikir lagi. Namun di dalam zona nyaman ini sama sekali tidak ada pertumbuhan. Tidak ada pendewasaan. Tidak ada kemungkinan baru, tepatnya.

Hanya orang-orang yang mau tumbuh (hari ini beda dari kemarin, besok pun beda dari hari ini) berani keluar dari zona nyamannya. Termasuk mempertanyakan tradisi yang tidak lagi mendukung. Sebenarnya saat ini kita perlu meragukan istilah tradisi. Mengapa? Banyak hal yang disebut sebagai ’tradisi’ ternyata bila ditelusuri sudah melenceng jauh dari ’tradisi’ yang sebenarnya. Jajan pasar misalnya. Dari perjalanan kultur dan budaya, jaman dahulu tidak ada pasar tiap hari seperti sekarang. Maka itu ada istilah ‘hari pasar’. Jajan pasar pun hanya disuguhkan dalam “festival-festival” tertentu. Titik-titik seremonial tertentu dalam perayaan hidup seorang manusia.

Teh yang memiliki kandungan antioksidan terbaik yaitu ketika diseduh masih menghasilkan air teh yang berwarna hijau (yang mampu seperti ini hanyalah jenis teh hijau / green tea). Hal tersebut menandakan proses pengeringan teh yang tidak mengalami oksidasi terlalu jauh. Bila daun teh teroksidasi lebih lama, maka warnanya akan semakin gelap. Semua jenis teh (hijau, merah, hitam) sebenarnya berasal dari jenis daun teh yang sama. Kualitas tergantung dari lamanya teroksidasi, tanah tempat tumbuh, iklim tanam dan teknik pengambilan/pemetikan serta penyimpanan daun teh. Dalam penelitian, flavonoid dalam teh hijau lebih terfokus pada masalah penurunan risiko kanker dan menurunkan berat badan, sedangkan flavonoid teh hitam terfokus pada masalah kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah) serta performa mental.

Berbeda dengan teh, kopi mengandung dua kali lipat kafein. Yang perlu diwaspadai dalam hal ’kecanduan kopi’ bukan semata kandungan kafein-nya yang membuat orang terstimulasi (terjaga, detak jantung lebih tinggi). Meminum kopi sama saja dengan menghalangi tubuh anda untuk mempertahankan homosistein dan kolesterol teroksidasi agar tidak melejit. Homosistein dalam tubuh manusia yang memicu terjadinya stroke dan kerusakan pada dinding pembuluh darah. Kolesterol teroksidasi (sering diberi istilah ’buruk’) adalah bagian dari lemak yang berat jenisnya sangat ringan, sangat mudah teroksidasi (akibat peningkatan insulin dan pola makan yang salah) serta mempunyai kecenderungan menempel pada dinding pembuluh darah menyebabkan plaque. Plak adalah benjolan pengerasan pembuluh darah yeng menyebabkan menyempitnya saluran pembuluh dan meningginya tekanan darah. Lebih fatal lagi bila terjadi di pembuluh darah jantung yang disebut: koroner.

Kafein dalam kopi menghambat banyak kerja vitamin seperti B12, B6 dan asam folat. Dengan demikian kopi menjadi ‘haram terbesar’ bagi wanita hamil karena berakibat pada keguguran dan kematian janin mendadak. Sebagai stimulan (perangsang), kopi bukannya meredakan stres, melainkan justru meningkatkan kadar hormon stres.

Mengkonsumsi kopi yang telah diambil kafeinnya (decaffeinated) pun tidak menyelesaikan masalah. Ini karena zat kimia yang konon digunakan untuk mengekstraksi kafein keluar dari kopi (dari teknik ”swiss water process” hingga penggunaan zat kimia: Tri-kloro-etilen/ metilen-klorida dan etil-asetat) ternyata menurut penelitian terakhir menimbulkan masalah baru. Alih-alih menghindari efek buruk kafein, decaffeinated coffee malah meningkatan risiko penyakit jantung/ kardiovaskuler, disebabkan karena peningkatan asam lemak non-esensial hingga 15% dan kelebihan produksi LDL (8% apolipoprotein tipe B) – ini yang sering disebut sebagai efek samping fatal para peminum kopi ’decaf’.

Selain itu, kandungan kimiawinya membuat kepadatan tulang turun, berakibat risiko patah tulang (panggul, terutama), radang sendi, glaukoma pada mata, kanker dan kerusakan organ lainnya. Bagaimana supaya dampak buruk kopi tidak terjadi pada diri anda? Ya berhentilah minum kopi. Mudah, bukan? sama halnya dengan pertanyaan bagaimana membuat dampak buruk rokok tidak terjadi pada seorang perokok. Berhentilah. Semudah itu, karena letaknya bukan di cara/ metoda yang membuat diri kita berhenti mengkonsumsi, melainkan terletak di niat, akal sehat. Selama akal kita memegang peranan dalam semua tindakan yang dilakukan, maka dorongan atau apapun akan minggir dengan sendirinya. Akal sehat membuat seseorang bisa membuat pilihan sadar. Dengan memilih, maka bahasa yang kita gunakan bukan lagi “tidak boleh”, melainkan “tidak mau”. “Tidak boleh minum kopi” (sesuai anjuran dokter atau siapa pun – padahal diri anda masih “pengin”) membuat kopi yang harum menantang itu memberi nilai “godaan”. Sebaliknya, bila anda mengatakan “Saya memilih tidak mau minum kopi lagi” – maka sekali pun anda harus rapat dengan rekan bisnis di kafe-kafe beraroma kopi merangsang, tidak ada masalah sekali. Anda bisa menikmati aroma harumnya kopi, tetapi tidak ada dorongan lagi untuk mencicipinya, dengan alasan apa pun.

Dan dapat anda katakan, “Saya memilih untuk mau menikmati hidup di hari tua dengan sehat dan rasional, menikmati keindahan dan semua berkah – dengan tubuh yang tetap bugar tanpa harus “didongkrak” oleh obat atau apa pun di luar makanan sehat”. Berikan tubuh apa yang menjadi haknya, bukan kecanduan anda. Merasa ngantuk dan kurang istirahat? Barangkali memang kuncinya disitu: imbangi dengan istirahat cukup berkualitas bukan memaksa tubuh di luar kemampuannya.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: