Infeksi Menular Seksual Kini Mengintai Kaum Muda

June 9, 2014

infeksi menular seksual

“Saat itu saya sedang praktek di rumah. Ada seorang pasien remaja laki-laki, usianya 17 tahun, la mengeluhkan keluar nanah dari kemaluan. Setelah saya periksa dan tanyakan lebih teliti, ternyata anak ini benar mengalami gonore alias raja singa, salah satu infeksi yang menular melalui hubungan seksual. Terus terang saya kaget, karena makin ke sini usia penderita infeksi menular semakin muda. Dan yang bikin saya geram, setelah saya terapi dan berikan edukasi, ia datang lagi 2 bulan kemudian dengan keluhan yang sama dan mengaku melakukan hubungan seks dengan pasangan yang lain lagi,” demikian keluh kesah seorang dokter.

Infeksi menular seksual (IMS) adalah infeksi yang dapat ditularkan dari orang yang satu ke orang yang lain melalui kontak seksual. Kontak seksual yang dimaksud tidak hanya meliputi aktivitas seksual melalui vagina dan anus, melainkan juga melalui berciuman, kontak antara mulut dengan kelamin, serta penggunaan alat bantu seks yang tidak bersih. Infeksi ini tidak hanya menimbulkan masalah di kelamin, melainkan juga masalah kesehatan lain yang lebih serius.

Rantai yang Tidak Putus-putus

Apakah Anda punya kenalan dokter? Coba tanyakan apakah ia memiliki pengalaman menangani pasien infeksi menular seksual. Hampir semua dokter punya cerita lucu dan menarik saat menangani pasien dengan IMS. Pasien IMS seringkali berbohong, bahwa ia terkena kencing nanah akibat duduk-duduk di bawah pohon, buang air di toilet yang kotor, digigit serangga, atau bahkan pura-pura tidak tahu sama sekali. Belum lagi, saat diberitahukan untuk membawa pasangannya berobat, ia malah berkelit karena takut dimarahi atau ketahuan selingkuh. Ada juga yang enggan membawa istrinya berobat padahal istrinya sedang hamil, dan penyakit tersebut dapat mengganggu kesehatan anaknya.

Meski tampak jarang, kasus IMS sebenarnya cukup banyak. Hal ini disebut dengan fenomena gunung es, jumlah orang yang tidak terdeteksi jauh lebih banyak daripada yang terdeteksi. Ini disebabkan karena penderita malu memberitahukan pasangan-pasangan seksnya bahwa ia menderita IMS dan malu untuk memberitahukan bahwa mereka harus berobat. Padahal, IMS tidak selalu menunjukkan gejala yang jelas, sehingga pasangan seksnya tersebut dapat menularkan penyakitnya kepada orang lain secara tidak sadar. Menurut dr. Laksmi Duarsa SpKK, banyak yang belum sadar bahwa IMS bukan hanya soal penyakit yang memalukan, melainkan juga penyakit yang berdampak serius. IMS dapat menimbulkan komplikasi seperti kemandulan atau bahkan kematian.

Jumlah penderita penyakit menular seksual semakin banyak dan semakin muda setiap tahun. Siapapun bisa terkena, bisa laki-laki atau perempuan, anak-anak atau orang dewasa, kaya atau miskin, berpendidikan tinggi atau berpendidikan rendah, dan lain sebagainya. Ada banyak faktor yang bersumbangsih dalam bertambahnya kasus IMS. Salah satunya adalah kurangnya pengetahuan mengenai seks, bahaya infeksi menular seksual, dan kesadaran pentingnya melindungi diri dari IMS. Faktor lain adalah karena di Indonesia pemeriksaan IMS secara berkala dan sukarela belum lazim dilakukan. Padahal, banyak penderita IMS yang tidak menunjukkan gejala dan menularkan penyakit-penyakit ini kepada orang lain. Pelaku aktivitas seksual saat ini juga semakin muda. Kelompok ini sangat rentan tertular IMS karena pada masa ini mereka sedang dalam masa coba-coba, sehingga mengabaikan praktik seksual yang sehat. Dan yang menjadi masalah, penyebaran IMS semakin cepat karena banyak penderita ini yang memiliki pasangan seksual lebih dari satu orang.

Mitos atau Fakta?

“Ah, tidak mungkin saya terkena IMS. Kan saya selalu menggunakan kondom.” Eits, tunggu dulu. Sesungguhnya, tidak ada hubungan seksual yang benar-benar aman. Satu-satunya cara efektif untuk mencegah IMS adalah dengan tidak melakukan seks. Seks hanya disebut aman jika kedua pihak yang melakukan hubungan seksual bebas dari IMS. Terkadang, orang berpikir bahwa jika menggunakan kondom maka ia tidak akan tertular IMS. Kondom hanya berguna untuk mengurangi risiko penularan IMS, bukan mencegah total. Kondom yang bocor, kadaluarsa, atau disimpan di tempat yang kurang tepat akan menurun efektivitasnya.

“Bagaimana mungkin saya terkena IMS. Saya tidak pernah berhubungan seks dengan pacar saya.” IMS dapat menular melalui semua bentuk aktivitas seksual. Artinya, IMS tidak hanya dapat menular melalui seks vaginal dan anal, tetapi juga dapat melalui seks oral, berciuman, bahkan bersentuhan dengan daerah yang terinfeksi.

“Tetapi pasangan saya terlihat sehat-sehat saja. Tidak mungkin ia terkena IMS.” Salah satu penyebab mengapa IMS menyebar dengan cepat adalah karena IMS tidak terlihat dari luar. Bahkan tidak jarang penderitanya sendiri tidak tahu bahwa mereka terkena IMS. Orang yang seperti ini sangat mungkin menularkan pasangan seksualnya tanpa disadari.

“Untuk apa menggunakan kondom. Kan saya sudah minum antibiotik.” Pandangan ini 100% salah, karena IMS tidak dapat dicegah dengan meminum antibiotik. Penggunaan antibiotik yang seram-pangan seperti ini akan menyebabkan kuman menjadi kebal terhadap obat dan IMS menjadi sangat sulit untuk diobati.

“Saya sudah pernah terkena IMS dan sembuh. Tidak mungkin saya terkena lagi.” Nyatanya, IMS dapat terjadi berulang kali. Bahkan, infeksi berulang dapat menyebabkan kuman semakin agresif, sulit diobati dan menimbulkan kerusakan yang luas. Pada wanita, IMS dapat menimbulkan bisul di indung telur, yang dapat meninggalkan jaringan parut sehingga wanita tersebut menjadi mandul. IMS pada wanita hamil dapat menyebabkan bayi lahir dalam keadaan meninggal, kematian bayi, prematuritas, berat badan lahir rendah, infeksi berat, infeksi paru, infeksi mata berat hingga kebutaan, dan kecacatan pada janin. Infeksi HPV (Human Papilloma Virus) dapat menyebabkan kanker serviks yang mematikan. IMS juga merupakan penyebab utama terjadinya peradangan panggul, gangguan kesuburan, dan gangguan saat penderitanya hamil.

“IMS tidak terjadi secara bersamaan.” Hal ini salah, karena beberapa IMS dapat menular pada saat yang sama meski tidak disadari penderitanya. Orang yang pernah mengalami IMS memiliki risiko tiga kali atau lebih terkena HIV.

Kenali Gejalanya

Terkadang, gejala IMS tidak jelas terlihat. Hal-hal berikut dapat menjadi petunjuk bahwa sedang terjadi IMS:

  • Benjolan, luka, atau kutil di daerah mulut, anus, penis, atau vagina.
  • Pembengkakan atau kemerahan pada daerah sekitar penis atau vagina.
  • Ruam atau merah-merah pada kulit.
  • Nyeri atau perih saat buang air kecil.
  • Keluar cairan atau nanah dari kemaluan. Wanita dapat mengalami keputihan yang berbau.
  • Berat badan turun, diare, keringat pada malam hari.
  • Nyeri perut, pegal-pegal, demam, menggigil.
  • Kulit tampak kuning.
  • Perdarahan dari vagina pada saat tidak sedang haid.
  • Nyeri saat berhubungan seksual.
  • Gatal berlebihan di daerah sekitar penis atau vagina.

Menurut dr. Laksmi, pada pria, gejala mungkin terlihat dan terasa lebih jelas karena saluran kelaminnya sama dengan saluran kencing, sehingga saat buang air kecil ia akan menyadari rasa nyeri dan memperhatikan ada cairan tidak normal yang keluar dari kemaluan. Sedangkan pada wanita, saluran kelaminnya berbeda dari saluran kencing, sehingga gejala seringkali tidak jelas. Untuk memastikannya, Anda perlu memeriksakan diri ke dokter. IMS umumnya dapat diobati dengan mudah dan cepat jika diketahui sejak dini. Karena itu, orang yang aktif berhubungan seksual dianjurkan untuk memeriksakan diri secara rutin.

IMS juga tidak selalu hanya menimbulkan gejala di sekitar kelamin. IMS seperti hepatitis B atau C dapat menyebabkan peradangan hati yang berat dan terkenal sulit dan lama disembuhkan, serta menyebabkan gagal hati dan kematian. Sifilis dapat menimbulkan gangguan kulit hingga gangguan saraf. Dan HIV, seperti kita ketahui merupakan infeksi berbahaya yang dapat menyebabkan kematian.

Beberapa jenis IMS memerlukan terapi antibiotik. Dalam meminum antibiotik, yang wajib diperhatikan adalah Anda harus meminum semuanya sampai habis sesuai dengan jadwal yang dianjurkan, termasuk setelah gejala sudah tidak dirasakan lagi. Jika dilanggar, IMS dapat semakin sulit dikenali dan diobati.

Selama dilakukan terapi, Anda tidak boleh melakukan hubungan seksual sama sekali dengan orang lain, termasuk dengan suami/istri. Hubungan seksual baru boleh dilakukan jika Anda sudah dipastikan sembuh oleh dokter, bukan hanya saat gejala sudah hilang. Selain itu, Anda wajib memberitahukan kepada semua pasangan seksual bahwa Anda terkena IMS, sehingga mereka juga harus diobati. Yang menjadi masalah adalah orang seringkali malu dan takut mengungkapkan hal ini. Akibatnya, ‘korban’ penularan Anda dapat menderita penyakit serius dan menularkannya kepada orang lain. Di luar negeri, jika Anda menderita IMS dan tidak memberitahukan pasangan seksual Anda, maka Anda bisa dituntut di meja hijau.

Pasangan tetap Anda juga wajib diberitahu, bagaimanapun sulitnya. Karena jika Anda berhubungan seksual dengan pasangan tetap Anda, maka kemungkinan besar sudah tertular. Meskipun Anda berobat dan sembuh, Anda dapat tertular kembali saat berhubungan seksual dengannya. “Karena itu, semua pasangan seksual harus diobati agar tidak terjadi saling tular menular, atau yang disebut degan efek ping pong,” jelasnya. Akan jadi persoalan yang lebih besar lagi jika ternyata pasangan atau istri sedang hamil. Janin juga dapat terganggu kesehatan serta keselamatannya.

Tips Melindungi Diri Dari Infeksi Menular Seksual

♦ Satu-satunya cara untuk mencegah penularan IMS adalah dengan tidak melakukan aktivitas seksual sama sekali.

♦ Gunakan kondom setiap kali berhubungan seksual. Jika menggunakan pelumas atau lubrikan, gunakan yang berbahan dasar air.

♦ Bersikap setia dengan satu partner seksual, dan minta partner Anda untuk juga hanya berhubungan seks dengan Anda. Semakin banyak partner seksual, kemungkinan Anda terkena IMS semakin besar.

♦ Hati-hati dalam memutuskan dengan siapa Anda akan berhubungan. Namun jangan lupa juga bahwa IMS tidak terlihat dari luar dan siapapun dapat terkena IMS tanpa ia sadari.

♦ Periksakan diri secara rutin, misal setahun sekali, jika Anda berhubungan seksual secara aktif.

♦ Jangan minum alkohol atau menggunakan obat-obatan sebelum berhubungan seksual, karena kemungkinan lupa menggunakan kondom.

♦ Kenali tanda dan gejala IMS pada diri Anda dan pasangan.

♦ Edukasi diri Anda mengenai IMS. Semakin banyak yang diketahui, Anda dapat melindungi diri lebih baik lagi.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: