Hati-hati Menangani Kejang Pada Anak

April 1, 2014

kejang pada anak

Cukup memprihatikan jika melihat kasus-kasus kejang pada anak. Rekam listrik otak yang disebut EEG (Electro-Encephalo-Graphy) dapat memperkirakan adanya fokus epilepsi/kejang. Kejang pada anak sangat berbeda dengan kejang yang pertama kali terjadi setelah usia dewasa. Masalahnya, otak anak belum tumbuh kembang sempurna. Setiap kali episode kejang, membawa kerusakan baru yang lebih membahayakan aspek tumbuh kembangnya. Kejang tidak selalu berupa kekakuan diikuti kelojotan sekujur tubuh, dengan lendir berbusa dari mulut dan tubuh lemas sesudahnya seperti yang selalu jadi gambaran awam. Kadang kejang bisa tampil seperti kedipan mata berulang, ’kedutan’ wajah sebagian, hingga pandangan bengong (’melongo’) sesaat.

Untuk menekan kekejangan pada anak, obat adalah pilihan utama dan yang pertama harus dikerjakan terlebih dahulu, demi mencegah kerusakan syaraf dan sel-sel otak selanjutnya. Obat kejang akan meningkatkan ambang cetus kejang, sehingga tidak semua rangsang dapat memicu kejangnya. Bagi anak yang lebih besar atau orang dewasa, memang lebih mudah mengamati pemicu kejang (seperti stres emosional, kelelahan fisik, rangsang sensorik: penglihatan: kedipan neon atau lampu, suara tertentu, suhu/cuaca, rasa cicip tertentu di lidah). Tapi tidak demikian dengan bayi/ kanak-kanak.

Sangat tidak bertanggung jawab dan tidak etis bila kejang tetap terjadi pada anak sementara kita masih ’coba sana-sini’ untuk mengatasi timbulnya kejang. Selama obat digunakan dengan patokan yang benar, dibawah pengawasan dokter, sesuai dengan indikasi, pasien tentu mendapat manfaat. Demikian juga dengan obat kejang: diberi sesuai dengan tipe kejangnya, waktu pemberian dan takaran yang sesuai usia, bahkan kadang dikombinasi dengan obat kejang ke dua. Kombinasi dua obat kejang bukan berarti meningkatkan kekerasan obatnya tapi salah satu alasannya untuk menghindari resistensi/ kekebalan yang ditimbulkan tubuh.

Gawatnya, pasien (atau orang tua) “bermain dokter-dokteran”, mencoba obat yang dibeli sendiri (sayangnya kontrol pemerintah terhadap apotik sangat lemah), atau mengatur dosis semaunya hingga menghentikan obat tanpa sepengetahuan dokter dengan alasan berhemat atau ’dikira sudah sembuh, karena gejala sudah hilang’.

Ada yang membedakan istilah ’obat kimia’ dengan ’yang bukan kimia’. Jujur saja, semua bahan yang berasal dari tumbuhan pun bisa berjuta kali lipat lebih toksis/beracun dan mematikan jika terjadi penyalahgunaan. Semua unsur tumbuhan pun mengandung istilah ’kimia’. Bahkan banyak jenis buah mengandung phenol, alias alkohol….

Demam kadang hanyalah trigger (pencetus) kejang. Yang lebih penting justru memahami mengapa tubuh menjadi demam. Itulah latar belakangnya. Infeksi selaput otak (meningitis) atau infeksi otaknya sendiri (encephalitis) masih sangat sering dijumpai di Indonesia. Radang tenggorok atau infeksi lainnya yang memberikan panas tinggi juga bisa menimbulkan kejang. Sangatlah penting untuk mengatasi sumber kejangnya.

Sering kali, akibat dari infeksi bisa menimbulkan cedera/jejas pada otak (seperti kecelakaan atau stroke pun demikian) sehingga ketika proses penyembuhan terjadi, tetap masih ada scar (seperti cacat parut pada kulit) atau area yang tidak sempurna di otak. Kejang bisa timbul jika arus listrik syaraf mengalami masalah saat melalui daerah itu.

Tapi ada kalanya pula demam timbul pada bayi usia 3 bulan hingga 5 tahun tanpa ditandai adanya infeksi pada sistem syaraf. Ini disebut sebagai ’kejang demam’. Biasanya kejang tidak lebih dari 5 menit. Belajarlah dari dokter bagaimana mengatasi risiko saat kejang muncul dan upayakan demam tidak berulang. Banyak obat turun panas hanya menurunkan panas, tapi bukan berarti mengobati masalah sebenarnya. Sudah cukup banyak obat turun panas di Amerika Serikat dilarang edar karena memberi efek samping untuk pemakaian yang terlalu sering. Salah satunya justru menyebabkan kejang, dan aspirin pernah dihubungkan dengan gejala ini yang disebut sebagai Reye’s Syndrome.

Bagaimana dengan makanan dan minuman sehari-harinya? Apakah anak anda masih diberi ASI? Apa yang diasup untuk MPASI nya? Jika sudah tidak lagi mendapat ASI, dan sudah tumbuh gigi, apakah stimulasi oralnya cukup baik sehingga bisa mengunyah makanan padat? Bagaimana skor tumbuh kembangnya secara keseluruhan (tinggi/panjang badan? Berat badan) maupun detailnya (motorik, sensorik, integrasi refleks).

Bila anak masih tergantung dengan makanan cair, susu tempe bisa diberikan dan mudah sekali membuatnya. Rebus tempe sampai agak lunak dengan air secukupnya, lalu blender hingga lembut. Tambahkan air sampai menyerupai susu. Saringlah dengan kain yang biasa dipakai untuk membungkus tahu (seperti kain yang tenunannya agak jarang, tapi tidak serenggang kain kasa). Hasil saringan ini dimasak lagi hingga mendidih. Setelah dingin/ hangat siap diberikan kepada bayi/anak.

Kelebihan tempe ketimbang kedelai yang dibuat ’susu kedelai’ karena Jamur Rhizopus oligosporus yang meragi pada kedelai menyingkirkan semua kontaminasi bakteri dan jamur yang merugikan. Selain itu, kedelai yang belum difermentasi masih mengandung banyak masalah. 161 strain (jenis) bakteri baik yang ditemukan pada miso dan produk fermentasi kedelai lainnya menghajar habis infeksi E.coli dan bakteri Staphylococcus aures, penyebab tersering keracunan makanan atau infeksi perut.

Cairan lain sebagai MPASI pertama adalah sari buah (buat sendiri!) yang berasal dari buah tidak terlalu asam. Perasan jeruk baby, sari tomat, sari wortel, jus bayam mentah (cuci bersih dengan air matang-ambil sarinya saja, jangan ampasnya). Setelah nampak tunas gigi, anda bisa blender halus bubur beras merah dengan daging ayam kampung cincang, atau dengan jamur atau ikan kakap. Bulan ke 8 blender kasar bisa diberikan. Bulan ke 10 mulai dengan bubur biasa dengan cincangan halus daging ayam kampung, tempe, jamur, ikan, sayur. Di bulan ke 11 mulai diberikan tim dan selepas ulang tahunnya yang pertama ia duduk bersama ayah ibu menikmati makan di meja makan dengan memperbanyak sayur dan buah sebagai sumber karbohidrat terbaik.

Kelebihan gula dalam pola makan tumbuh kembang justru meningkatkan risiko kejang epileptik. Menggunakan aspartam atau pemanis buatan lebih gawat lagi. Sifat neurotoksik (perusak syaraf) fenilalanin dan asam aspartat sebagai pemanis buatan sudah banyak diulas paling sedikitnya dalam 900 penelitian. Anda bisa mengecek daftarnya hanya dengan membuka National Library Medicine Index (Amerika Serikat). Ada sekitar 10.000 laporan efek yang merugikan dari pemanis buatan ini termasuk kejang. Satu persen penderita yang dirugikan, bukan berarti kita boleh berasumsi ini aman, bukan? Migrain pun merupakan gejala tersering yang disebabkan reaksi aspartam.

Bayi dalam kandungan hingga usia 1 tahun adalah korban paling sensitif. Blood Brain Barrier (‘penghalang aliran darah otak’) belum terbentuk sempurna dan excitotoxin (asam aspartat berfungsi sebagai pembangkit neurotransmitter) mudah dan cepat masuk ke sistem syaraf. Itulah sebabnya ibu hamil dan menyusui perlu mendapat peringatan keras akan penggunaan berbagai pemanis buatan. Perhatikanlah begitu banyaknya permen, cemilan, coklat, minuman dijual dengan label ‘sugar free’. Jangan lupa, selama kehamilan, efek penumpukan dan konsentrasi dalam plasenta bisa membuat fenilalanin melonjak sebanyak 4-6 kali lipat. Yang sering luput dipikirkan adalah, sejauh mana tubuh menjadi begitu sensitif terus menumpuk dan yang dikeluarkan begitu sedikitnya dan tak terpantau pula. Betul bahwa fenilalanin dan asam aspartam adalah bagian dari asam amino alamiah (sebagaimana di’jago’kan oleh yang membuatnya agar publik tidak gelisah), tapi tentu dengan catatan: bila ditemukan dalam makanan alam yang tidak diproses. Tapi begitu keduanya dipertemukan secara industri, “ceritanya” akan berubah.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: