Hati-hati Kalau Sering Cegukan

September 2, 2013

cegukan

Cegukan bukan penyakit. Wajar kalau orang suka cegukan. Kalau cegukan jadi lebih sering, atau menetap berbulan-bulan, mungkin ini gejala suatu penyakit. Apa penyebabnya, bagaimana mengatasi, berbahayakah?

Pak Mus, suka cegukan kalau habis makan malam. Itu dialaminya sudah lebih tiga tahun. Temannya bilang mungkin Pak Mus sudah bertambah gemuk sekarang. Apa betul itu sebabnya, ia tidak tahu. Yang pasti ia terganggu. “Biasanya kalau langsung minum hangat, sudah reda. Sekarang nggak lagi, tuh. Kenapa ya, Pak Dokter?”

Ibu Mar, juga begitu. Setiap kali habis makan rendang atau asinan, ia langsung cegukan, dan susah berhenti. Mula-mula heran kok bisa begitu, lama-lama jadi sudah hapal. Maka, sampai sekarang ia takut kalau ditawari rendang atau asinan bogor. “Bisa repot kalau sudah cegukan, lama hilangnya,” seru Ibu Mar.

Diafragma mengejang berulang

Orang terserang cegukan jika otot diafragma atau sekat rongga badannya mengejang berulang, tanpa terkendali, yang diikuti dengan penutupan pita suara, sehingga menimbulkan bunyi yang khas. Orang bule menyebutnya hiccup, dan dokter memberinya istilah singultus. Nenek bilang cegukan terjadi jika kita menenggak minuman yang kelewat dingin. Benarkah begitu?

Hampir kebanyakan cegukan tidak tahu penyebabnya. Pada orang-orang tertentu begitu saja muncul cegukan. Mungkin ada musim-musim tertentu. Ada yang cegukan kalau terpapar gas tertentu. Yang lain cegukan kalau kena rangsangan zat yang merangsang, seperti bumbu-bumbu pedas, cairan berbau menyengat, dan gas-gas terbang.

Cegukan bisa muncul jika ada gangguan di tenggorokan dan lambung, usus besar, kelenjar ludah, perut, pancreas, dan hati. Begitu juga jika ada sesuatu yang tak beres di dalam rongga dada. Paru-paru basah, infeksi paru-paru, dan gangguan fungsi paru-paru bisa disertai dengan gejala cegukan yang lebih sering dan biasa.

Tidak semua orang rajin cegukan. Jika tadinya hampir tidak pernah cegukan, mendadak jadi sering cegukan, waspada. Mungkin memang ada sesuatu yang tidak beres dengan diafragma, atau apa saja yang menyebabkan diafragmanya sering terpicu.

Tumor otak yang memicu pusat saraf yang mengurus diafragma juga bisa mendadak membuat orang sering cegukan. Kita tahu saraf yang mengurus diafragma sama dengan saraf yang mengurus lambung, dan jantung juga. Sehabis dioperasi perut, orang bisa cegukan juga. Termasuk jika sedang hamil, atau ada rangsangan pada kandung kemih, dan jika sel kanker sudah menyebar ke hati.

Kasus “Dowell’s hiccup”

Seorang teknisi farmasi di Amerika Serikat bernama Dowell, 21 tahun, mengalami cegukan selama 8 bulan. Cegukannya bangkit setiap 30 detik sejak 23 Agustus 2000 silam. Cegukan terus saja berlangsung sepanjang malam, bahkan membuatnya tak bisa tidur jika cegukannya menghebat. Orang yang cegukannya lama seperti itu dijuluki dokter sebagai Dowell’s hiccup.

Dilaporkan di Iowa, AS, ada orang yang cegukan sampai lebih dari 60 tahun. Sudah berbagai cara terapi dilakukan dokter, namun belum juga berhasil. Begitu juga dengan kasus Dowell. Tidak jelas apa penyebabnya.

Para ahli sependapat kalau cegukan berlangsung lama, seperti kasus Dowell, sering-seringnya disebabkan oleh faktor kejiwaan (persistent hiccup). Pria lebih sering kena cegukan dibanding wanita.

Bernapas dengan kantung kertas untuk mengatasi cegukan

Cara sederhana mengatasi cegukan yang membandel dilakukan dengan bantuan kantung kertas dan bukan kantung plastik. Beberapa kali bernapas dengan mengembuskan udara ke dalam kantung kertas, umumnya bisa menolong. Tujuannya agar kadar gas asam arang (CO2) dalam udara yang dihela napas, cukup tinggi. Kadar CO2 tinggi menghambat cegukan. Sedang jika kadar CO2 rendah justru memicu cegukan. Untuk meninggikan kadar CO2 udara napas, dapat dilakukan juga dengan menahan napas beberapa saat.

Upaya lain mengatasi cegukan dapat dilakukan dengan minum air cepat-cepat, menelan roti kering, mengunyah es batu, menelan gula pasir, merangsang pangkal lidah supaya terjadi muntah, atau menarik lidah. Jika masih gagal, dokter mempertimbangkan untuk melakukan basuh lambung (gastric lavage), melebarkan kerongkongan, atau dengan memberikan rangsangan galvanis.

Namun, jika penyebabnya jelas, seperti yang sudah disebut di atas, dengan meniadakan penyebabnya, cegukannya akan mereda. Untuk itu perlu minta bantuan dokter. Organ-organ seperti lambung, kerongkongan, pancreas, usus besar, dan hati harus dilacak, apakah ada gangguan di sana. Tanpa meniadakan gangguan yang ada di organ-organ tersebut, cegukannya tak bakalan hilang.

Kemungkinan juga stroke

Jangan lupa, cegukan yang tiba-tiba muncul, apalagi jika sebelumnya tidak pernah, perlu dipikirkan kemungkinan gejala permulaan stroke. Jadi, apabila cegukan terjadi pada orang yang berisiko kena stroke, timbulnya cegukan perlu diwaspadai betul.

Kita tahu kalau stroke juga sering memberi tanda-tanda. Orang kegemukan, kolesterol tinggi, kencing manis, perokok, tergolong mereka yang berbakat stroke. Jika kelompok orang demikian mengalami cegukan, perlu dipikirkan kemungkinan bakal munculnya stroke.

Tanda stroke pendahuluan lainnya, seperti sering kesemutan sebelah badan, merasa lemah separuh tubuh, tidak tangkas memakai sandal jepit, atau mengikat tali sepatu, tanda tangan jadi jelek, tulisan tak terbaca, mendadak penglihatan gelap sebagian.

Tentu tidak semua cegukan perlu dicurigai. Hanya cegukan yang lama, atau Dowell’s hiccup yang dianggap tanda suatu penyakit. Cegukan sporadis dan hanya beberapa saat saja, tentu tak perlu dirisaukan. Cegukan Pak Mus sehabis makan, mungkin bukan apa-apa. Makan yang kelewat cepat dan banyak sering bikin cegukan juga. Begitu juga cegukan Ibu Mar di atas. Bumbu masak, rempah-rempah, dan gas yang menyengat pada orang-orang tertentu bisa memicu munculnya cegukan juga.

Apa cegukan waktu hamil harus diobati juga? Tentu saja tidak perlu. Itu cuma tanda ada rangsangan berlebih pada saraf diafragma akibat semakin meregangnya perut oleh kehamilan.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: