Hati-hati Apotik Nakal Penguras Kantong

March 20, 2014

apotik

Langkah kaki terasa berat setelah Ratna meninggalkan apotik. Sambil menggendong anak bungsunya yang berusia delapan bulan, ibu tiga anak ini bercerita kalau dirinya tidak jadi membeli obat panas untuk si kecil. “Nggak cukup uangnya. Saya kira tadi bisa dapat sepuluh ribu, ternyata harganya 30 ribu,” kisahnya. “Paling-paling nanti dikompres saja dengan bawang merah.” Lain Ratna, lain lagi dengan Pak Subur. Meski rumahnya di Tangerang, tapi Pak Subur tak enggan naik bis untuk membeli obat hipertensi, diabetes, dan jantung untuk persediaan sebulan di Pasar Pramuka, Jakarta Pusat. “Di sini lebih murah, soalnya. Selisihnya lumayan banyak.”

Sakit itu mahal, bahkan timbul perkataan bahwa orang miskin dilarang sakit. Padahal, buat orang kaya ataupun miskin, harga obat bisa sama mencekiknya. Hal ini terutama dirasakan untuk obat-obat bermerk dan masih berlaku hak patennya. Belum lagi, harga bahan baku obat yang semakin lama semakin naik. Namun, yang lebih menyakitkan, ternyata harga obat yang dipatok oleh perusahaan farmasi pun masih dinaikkan lagi di apotik. Sebenarnya bagaimana peraturannya? Mengapa hal ini bisa terjadi?

Obat dan Perusahaan Farmasi

Pemberitaan di media mengenai mahalnya harga obat seringkali menyudutkan perusahaan farmasi, dengan mengatakan harga obat tinggi karena keserakahan, keegoisan, dan ketidakpedulian perusahaan farmasi. Perusahaan farmasi sendiri berkilah bahwa harga tinggi karena biaya riset obat yang tinggi. Hal ini dibalas oleh media dengan mengatakan bahwa perusahaan farmasi lebih banyak menghabiskan biaya untuk pemasaran dibanding riset. Jawaban atas mengapa harga obat begitu mahal, ternyata sangat rumit dan tidak sesederhana itu.

Mula-mula, diperlukan riset untuk mencari senyawa baru yang dapat memberikan efek menguntungkan terhadap penyakit. Untuk memastikan bahwa senyawa ini dapat dijadikan obat baru, maka diperlukan tiga tahap penelitian. Tahap pertama dilakukan untuk meneliti sifat biologi dan kimia senyawa tersebut. Misalnya cara senyawa tersebut diserap, didistribusi, dan dikeluarkan dari tubuh, dan keamanannya. Menurut Drs. Ahaditomo Apt, riset ini dilakukan di laboratorium dan diuji pada kultur jaringan dan hewan. Jika senyawa tersebut terbukti aman dan efektif untuk hewan, baru dilakukan pengujian pada beberapa relawan yang sehat untuk memastikannya pada manusia, dan mencari tahu efek lain terhadap manusia. Jika penelitian ini dapat dilewati dengan baik, barulah obat dicobakan pada manusia dengan penyakit yang sesuai. “Obat hanya boleh diproduksi dan dijual ke pasar setelah terbukti efektif dan aman melalui uji tahap ke tiga tersebut,” jelasnya.

Sama seperti perusahaan lain, perusahaan farmasi juga perlu mengambil keuntungan agar dapat bertahan dan berkembang. Apalagi dari ribuan senyawa baru yang ditemukan, mungkin hanya akan menghasilkan satu jenis obat yang boleh beredar. Setelah beredar, masih juga perlu biaya untuk memasarkan dan memberitahu tentang efek obat ke rumah sakit, dokter, dan apoteker, serta untuk melakukan penelitian pasca obat dipasarkan.

Secara kasar, harga yang dibayarkan seorang pasien untuk membeli suatu obat, juga harus menanggung biaya penelitian senyawa-senyawa dan obat yang akhirnya gagal diproduksi menjadi obat, termasuk juga biaya pemasaran, penelitian pasca pemasaran, dan keuntungan perusahaan pembuat.

Rasionalkah Harga Obat?

Tidak dapat disangkal jika harga obat memang mahal. Namun, kita perlu ingat bahwa harga obat harus dipertimbangkan sesuai dengan manfaatnya. Misalnya obat pereda nyeri, untuk mencegah penyakit, atau bahkan memperpanjang usia tentu tak seberapa dibanding harganya. “Tetapi, akan tidak rasional jika harga obat yang jauh lebih mahal ternyata memiliki efek yang sama degan obat yang lebih murah,” jelasnya.

Di Indonesia, semua obat yang beredar adalah obat yang sudah diteliti dan disetujui penggunaannya di luar negeri. Ada yang dijadikan obat generik dan ada juga yang dijadikan obat paten. Obat yang baru diketemukan, biasanya memiliki hak paten selama 17 tahun. Dengan demikian, yang boleh memproduksi dan memasarkan hanya perusahaan farmasi yang memiliki hak paten tersebut. Oleh sebab itu, beberapa obat memiliki harga yang sangat mahal karena tidak ada pesaingnya. “Penentuan harga obat tidak hanya berdasarkan biaya produksi dan pemasaran, tetapi juga jumlah permintaan pasar dan suplai yang tersedia,” ujarnya.

Untuk obat generik, harga eceran tertingginya biasanya sudah ditentukan oleh pemerintah. Sedangkan untuk obat paten, harga eceran tertingginya ditentukan oleh perusahaan farmasi yang bersangkutan. Meski demikian, ternyata masih ada bahkan banyak apotik yang menjual obat di atas harga eceran tertinggi ini. Harga ini dapat meningkat bahkan hingga tiga kali lipat dari harga yang dianjurkan. Inilah yang menyebabkan obat semakin tidak mampu terbeli oleh masyarakat. “Fenomena ini tak jarang ditemukan di tempat-tempat yang minim pesaing, sehingga seolah pemilik apotik dapat menaikkan harga sesukanya,” ujarnya.

Memang harga dari perusahaan farmasi hanya harga eceran tertinggi yang dianjurkan. Namun hingga saat ini, belum ada peraturan tertulis mengenai harga maksimal yang boleh dibebankan apotik kepada pembeli. Padahal, tanpa menaikkan harga pun apotik sudah mendapatkan untung yang cukup lumayan. Belum lagi jika mendapat diskon dari perusahaan farmasi dan distributor. “Sayang memang, tak ada sanksi bagi apotik nakal seperti ini. Satu-satunya sanksi hanyalah risiko apotiknya tidak laku lagi dan dicap mahal. Namun, jika ini adalah satu-satunya apotik terdekat dan saat itu kondisinya sedang darurat, apa boleh buat,” tukasnya.

Bisnis adalah Bisnis

Meski tampaknya tidak adil, tapi konsumen seringkali tak berdaya menghadapi harga obat yang mahal. Apalagi jika obat sangat diperlukan, sedangkan tidak ditanggung oleh asuransi dan dibutuhkan dalam keadaan genting. Bagi lansia yang tinggal mandiri, hal ini juga dapat sangat memberatkan. Misalnya karena dirinya memiliki kondisi yang harus rutin meminum obat, namun sulit membeli obat di apotik yang jaraknya jauh. Mau protes harganya yang terlalu mahal, apotik pun berkilah karena harus sewa tempat dan menggaji pegawai.

Untuk Anda yang sedang mengalami hal ini, mungkin ada beberapa pilihan yang dapat dilakukan. Pertama, jika memungkinkan carilah apotik lain yang lebih murah. Jika perlu, coba berkeliling apotik untuk membandingkan harga. Jangan lupa untuk tetap waspada dan memperhatikan keaslian obat, terutama jika harga yang ditawarkan sangat jauh dari harga eceran tertinggi.

Apotik Ramah Pasien

  • Jika Anda jenis pasien yang harus rutin membeli obat, ada baiknya meminta diskon khusus dari apotik langganan. Bisa juga membeli suplai obat dalam jumlah banyak, misal untuk persediaan selama tiga bulan, supaya bisa mendapat diskon yang lebih besar.
  • Saat berobat, minta dokter untuk menuliskan resep obat generik. Obat generik memiliki efektivitas yang sama seperti obat paten dan harganya bisa jauh lebih murah.
  • Tawar harga obat semurah mungkin, dan coba cari tahu pasaran harga dan harga eceran tertinggi obat yang ingin dibeli.
  • Beberapa obat mencantumkan harga eceran tertinggi di kemasannya. Jika harga yang Anda bayar lebih dari itu, silakan protes.
  • Bandingkan harga dari apotik ke apotik. Mungkin saja apotik pertama yang Anda datangi ternyata yang mematok harga paling mahal.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: