Hal Penting Tentang Anemia

August 15, 2013

tentang anemia

Kita akrab sekali dengan istilah anemia. Namun, bisa jadi wawasan kita ihwal anemia sebatas kurang zat besi. Anemia acap diartikan sebagai serba lemah belaka. Padahal, makna anemia bisa juga berarti lebih dari sekadar pucat, lesu, dan lemah belaka. Anemia sendiri berdampak luas terhadap kesehatan. Dan, itu bukan semata milik orang yang tak cukup makan dan tak lengkap gizinya belaka. Orang gedongan dan banyak orang modern mengidap anemia, sering tanpa mereka menginsafinya. Apa yang sebetulnya terjadi?

Ibu Dewi, 43 tahun, tidak tahu kalau ia anemia. Yang dikeluhkan sering pusing, lemah, dan lekas letih saja. Tak jelas kelihatan ia bertambah pucat. Teman-teman yang setiap hari bertemu, tak melihat ada perubahan berarti pada paras wajah Bu Dewi. Ia bekerja seperti biasa.

Baru ketika bertemu dengan dokter, Ibu Rus dicurigai anemia. Dokter melihat bukan saja kulit wajah Bu Dewi lebih pucat dari orang kebanyakan. Telapak tangan dan kelopak mata bagian dalam Bu Dewi kelihatan pucat. Itu cara mudah dokter menilai anemia tidaknya seseorang.

Tetapi, makan Ibu Dewi tidak berkurang. Ia tergolong pemakan segala, tak ada makanan yang ia tak suka. Berat badannya pun tidak susut. Bahkan semenjak ia mengeluh lesu, ia menambah porsi makan dan mengonsumsi ekstra vitamin yang dibelinya sendiri. Tak urung, keluhan yang mencemaskannya tak berkurang.

“Myoma uferi”

Lebih dari sekadar hanya anemia. Di balik keluhan yang tak kunjung mereda itu ternyata ada yang mencemaskan. Ibu Dewi mengidap myoma. Ada tumor jinak di dalam rahimnya. Dokter mengira sudah lebih setahun tumor itu bersarang di pojok rahimnya. Diperkirakan sudah sebesar buah duku.

Tumor jinak rahim itulah penyebab anemia Bu Dewi. Kita tahu, myoma uteri bersifat “makan” darah. Pengidap tumor jinak ini akan kekurangan zat pemerah sel darah merah atau haemoglobin-nya. Waktu diperiksa, kadar Hb-nya sekitar 7 g/dl. Nilai itu jauh di bawah nilai normal yang sekitar 12 g/dl.

Ibu Dewi baru sadar kalau belakangan haidnya bertambah banyak. Ia mengira karena ia sudah mulai mau menopause. Kata teman-temannya, menjelang menopause, haid jadi bertambah banyak. Ia tak merasa apalagi mengira kalau itu sebab ada daging bertumbuh di dalam rongga rahimnya.

Gejala myoma tak hanya itu. Makin lama tumor jinak akan kian bertambah ukuran besarnya. Makin bertambah besar myoma-nya makin bertambah berat anemia yang terjadi. Namun, oleh karena keluhan dan gejala umumnya belum terasakan sebelum myoma cukup besarnya, maka anemia harus menjadi petunjuk lain yang tak boleh .

Dari penyakit ginjal sampai kanker

Anemia sendiri ada beberapa jenis. Tiap jenis anemia berbeda penyebabnya. Ada anemia sebab kehilangan darah. Yang ini jelas diawali dengan pendarahan hebat dalam waktu singkat. Sehabis kecelakaan, pascamelahirkan, pascabedah, bisa terancam anemia juga. Jenis anemia kehilangan darah dadakan ini bisa terlihat dari sifat darah yang sel darah merahnya yang masih normal.

Berbeda halnya jika anemianya sebab gangguan produksi sel darah merah. Untuk membuat sel darah merah diperlukan bukan saja zat besi (Fe), melainkan juga vitamin B12, asam folat, copper, dan cobalt, selain protein. Kekurangan salah satu bahan pembuat sel darah merah akan berujung anemia juga.

Pada penyakit menahun seperti kanker, infeksi menahun, encok jenis rheumatoid arthritis, selain penyakit ginjal, hati, pada kehamilan, juga terancam anemia. Jenis anemianya terlihat dari sifat gambaran sel darah merah di laboratorium.

Selain itu ada juga jenis anemia sebab perusakan abnormal sel darah merah oleh suatu penyebab. Kasus begini terjadi bila sel darah sudah abnormal sejak lahir. Kasus thalasemia, misalnya. Pada kasus ini sel darah merah akan lekas rusak sebelum waktunya. Umurnya lebih pendek dari sel darah merah normal. Ujungnya anemia juga.

Yang sama terjadi bila pabrik sel darah sendiri mengalami gangguan produksi. Pada penyakit pada sumsum tulang sebagai pabrik pembuat sel darah, misalnya, berujung anemia juga (aplastic anaemia). Sifat anemianya juga dapat terlihat dari gambaran sel darah merahnya.

Jadi, begitu anemia ditemukan, perlu dianalisis apa jenis anemianya. Dari hasil pemeriksaan anemia baru dapat digolongkan jenis anemia yang mana. Dari sifat anemianya, ditambah dengan keluhan, gejala, dan kondisi fisik pasien, dokter baru dapat menentukan apa penyebab anemianya.

Mengobati penyebab anemia

Mengobati pasien anemia tak cukup hanya melakukan koreksi terhadap kekurangan darahnya semata. Terlebih penting melacak siapa di balik anemianya. Selama hanya mengatasi anemianya belaka, tak ubahnya sekadar menutupi asapnya, namun tidak memadamkan apinya.

Anemia baru selesai dituntaskan jika penyebab anemianya ditemukan, lalu disembuhkan. Hanya dengan mengatasi penyebab anemianya, keadaan anemia dapat tuntas disembuhkan. Karena jika hanya anemianya saja yang dikoreksi, anemia akan terus hilang timbul.

Anemia sendiri sebetulnya bukan penyakit, melainkan gejala dari suatu penyakit. Orang yang sudah lama mengidap wasir, dan wasirnya sering kumat, bisa saja lama-kelamaan akan anemia juga. Tetesan darah yang terus menitik sekian lama, menghabiskan darah tubuh juga.

Begitu juga wanita yang haidnya berlebihan dalam jumlah, maupun hari haidnya. Haid berlebihan dan berlangsung lama (menometrorhagia), juga penyebab tersering anemia pada ibu di usia reproduktif. Tanpa menyelesaikan gangguan haidnya, anemianya akan tetap mengancam.

Ginjal juga bagian dari sistem pembuatan sel darah (haematopoetic). Jika ginjal terganggu, maka produksi sel darah pun terganggu. Maka, orang dengan payah ginjal, gagal ginjal, juga biasanya disertai dengan anemia. Yang sama pada yang livernya terganggu.

Kehamilan normal sekalipun, memerlukan pembentukan sel darah yang lebih banyak. Untuk itu diperlukan bahan baku pembuat sel darah merah yang tak boleh kurang. Seperti sudah disebut di atas, bukan saja zat besi, melainkan dibutuhkan pula asam folat, vitamin B12, copper, cobalt, dan tentu protein. Anemia pada kehamilan, berdampak buruk pada mudigah dan janin yang dikandung.

Jangan lupa cacingan

Betul. Jangan lupa cacingan sebagai penyebab anemia juga. Lebih separo orang Indonesia mengidap cacingan. Sebagian cacing tambang pengisap darah penyebabnya.

Kasus berat cacing tambang bisa menurunkan kadar Hb (hemoglobin) sampai di bawah 5 g/dl.

Cacing tambang ditularkan lewat kulit telapak kaki. Larva cacing tersebar di permukaan tanah atau lumpur, dulu banyak di tanah pertambangan. Bila tanah tercemar tinja orang pengidap cacing tambang, maka telur cacing menetas dan berubah menjadi larva cacing. Larva cacing ini yang secara aktif menembus kulit telapak kaki, lalu memasuki darah, dan akhirnya tiba di usus.

Ukuran cacing tambang hanya beberapa millimeter. Seekor cacing mengisap sekitar 0,03 cc darah setiap hari. Jumlah cacing bisa ratusan. Bisa dihitung berapa banyak darah hilang selama berbulan-bulan kalau jumlah cacing bertambah banyak.

Kasus anemia berat pengidap cacing bisa sampai menjadi gagal jantung. Artinya jantung sudah membengkak sebab anemia memaksa jantung berdegup lebih kuat untuk mencukupi kebutuhan darah yang sudah menurun kualitasnya. Lama-lama jantung membengkak dan akhirnya bisa gagal jantung, tak ubahnya orang dengan kasus payah jantung umumnya.

Perlu melengkapi menu harian

Yang selera makannya berkurang, yang tak menyukai banyak jenis menu, yang sedang berpantang makan, yang tengah menguruskan badan, waspadalah terhadap ancaman anemia. Bahan baku pembuat sel darah tak boleh kurang. Dan, pasokannya berasal dari menu harian kita. Bukan saja porsi makan yang perlu diperhatikan, melainkan juga kelengkapan jenis menunya. Dan, kalau sudah terbukti banyak yang kurang, melihat dari laboratorium darah, maka perlu diberikan suplementasi. Umumnya kekurangan zat besi.

Jadi, tidak bisa membabi buta mengatasi anemia. Yang kekurangan asam folat tentu gagal bila diatasi dengan pemberian ekstra zat besi. Begitu juga yang sebab kekurangan asam folat, copper, B12, harus diberikan yang tengah kekurangannya itu, dan bukan dengan yang lainnya.

Anemia pada kasus kanker, TBC, penyakit ginjal, encok RA, akan pulih sendiri anemianya, setelah penyakit yang mendasarinya disembuhkan. Termasuk bila penyebabnya myoma uteri, cacingan, atau gangguan haid.

Jadi, sesungguhnya lebih sukar melacak siapa di balik anemianya ketimbang mengatasi jenis anemianya. Karena untuk melacaknya itu diperlukan aneka pemeriksaan laboratorium selain pemeriksaan lainnya untuk memastikan siapa di balik anemianya.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: