Hadang Penyakit TBC Dengan Meniran

January 20, 2014

meniran

Penyakit TBC tak perlu menjadi momok menakutkan dengan adanya harapan kesembuhan baru dari herbal meniran. Bagaimana tingkat kesembuhannya?

Penelitian Herbal di Indonesia terus berkembang, sejalan dengan berbagai riset yang dilakukan. Salah satunya meniran, yang terbukti mampu meningkatkan sistem imun dan memberikan manfaat pada penyakit hepatitis, asam urat dan ginjal.

Tanaman obat meniran (Phylanthus niruri) sebenarnya sudah lama digunakan oleh sebagian masyarakat di Indonesia. Sudah dari dulu, meniran dimanfaatkan untuk mengobati penyakit kuning (jaundice), diabetes, kencing nanah, gangguan mestruasi, serta kulit bengkak dan gatal-gatal. Di Amerika Selatan, meniran digunakan untuk asam urat, mengobati batu ginjal, batu empedu, flu dan demam. Meniran juga berguna sebagai diuretik dan obat infeksi saluran kemih. Di Thailand, meniran dimanfaatkan untuk mengobati demam dan sebagai diuretik.

Meniran Kaya Flavonoid

Di berbagai penjuru dunia meniran memiliki berbagai sinonim seperti Phylanthus amarus di Amerika Selatan, Di Afrika dan Asia disebut dengan nama P. debilis, P. fraternus atau P. rotundifolius. Sedangkan di Indonesia P. urinaria. Herba semusim ini memiliki ciri khas yaitu adanya buah yang menggantung di setiap ruas bagian bawah tangkai daun majemuknya. Secara alami herba ini tumbuh baik pada kondisi tanah yang cukup lembab, namun tidak tergenang.

Seluruh bagian tanaman mulai daun hingga akar bisa dimanfaatkan sebagai obat. Daun meniran mengandung senyawa antibakteri seperti filantin, hipofilantin, nirantin, dan nirtetrakin. Terdapat banyak khasiat yang digunakan seperti untuk berbagai jenis penyakit hepatitis, gonorrhea, infeksi saluran kencing, penurun demam, sakit perut, batu ginjal, diuretik, diabetes dan juga disentri.

Menurut Dr. Henry Naland, Sp.B.Onk, praktisi medis yang juga ahli herbal di Jakarta, menyebutkan zat-zat yang dihasilkan tanaman atau yang disebut dengan metabolit sekunder jumlahnya sekitar 10% misalnya alkaloid, flavonoid dll. Metabolit sekunder inilah yang ternyata dapat digunakan untuk mengobati berbagai keluhan penyakit.

“Dari ratusan kandungan kimia meniran, yang dimanfaatkan paling banyak adalah senyawa flavonoidnya” tambahnya. Pada tanaman lain, flavonoid sejenis ini sebenarnya juga ada. Bedanya, pada meniran, peningkatan aktivitas sitem imunnya ternyata lebih baik. Menurut Dr. Henry Naland, flavonoid dari meniran bekerja pada sel-sel tubuh yang menjadi bagian dari sistem imun. Caranya dengan mengirimkan sinyal intraseluler pada reseptor sel, sehingga sel bekerja lebih optimal. Jika sistem imun dalam sel berfungsi memakan bakteri (fagosit) nafsu makan jadi bertambah. Jika fungsinya mengeluarkan mediator yang menambah ketahanan tubuh, hasil pengeluaran akan lebih baik. Atau jika kerjanya mengurai sel lain, prosesnya akan berlangsung lebih mulus.

Uji klinis meniran membuktikan mampu meningkatkan sistem imun tubuh. Uji klinis meniran sebagai imunomoduiator dilakukan hingga 12 kali dengan hasil yang memuaskan. Salah satu uji klinis yang dilakukan yaitu pada pasien penderita infeksi saluran napas akut (ISPA) pada anak mampu mempercepat turunnya suhu badan. Kondisi dan gejala demam tinggi pada anak penderita ISPA ini seringkali menjadi penyebab kekuatiran orang tua pasien.

Sebagai imunomodulator, meniran tidak semata-mata berefek meningkatkan sistem imun, namun juga menekan sistem imun apabila aktivitasnya berlebihan. “Jadi, meniran berfungsi sebagai penyeimbang sistem imun,” tambahnya.

Selain untuk kasus ISPA, uji klinis meniran juga dilakukan pada beberapa kasus penyakit lain seperti TBC, Hepatitis dan Keputihan. Uji klinis tersebut dilakukan di berbagai tempat yang berbeda seperti RS. Dr. Sutomo Surabaya,
RS. Dr. M. Djamil Padang, RS.Cipto Mangunkusumo Jakarta dan RS. Dr. M. Hoesin Palembang. Uji klinis yang dilakukan berdasarkan Good Clinical Practice tersebut telah mendapat persetujuan dari Komite Etik di masing-masing rumah sakit.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) menunjukkan, meniran mengandung 0,01 % tannin yang dapat berperan sebagai antidiare dan 827 mg/100 mg kalium bahan segar yang berfungsi sebagai diuretik. Disamping untuk meningkatkan daya tahan tubuh, meniran juga terbukti berkhasiat memperbaiki fungsi ginjal dan hati.

Penelitian serupa tahun 2011 menyebutkan, kapsul uji berisi ekstrak meniran yang setara dengan 0,5 mg phylllantin, memberikan perubahan bermakna pada kadar transaminase penderita hepatitis kronis.

Obati Penyakit TBC

Menurut penelitian, meniran juga memiliki kemampuan untuk mengobati penyakit tuberkulosis (TBC), bahkan dapat dikembangkan untuk pengobatan terbaru dalam pemberantasan TBC. Sebuah riset desertasi yang dibuat oleh Dr. Zulkifli Amin SpPD, dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Jakarta, disebutkan bahwa obat anti-TBC yang ditambahkan ekstrak meniran pada pasien tuberkulosis paru pasca primer dapat merangsang perubahan pada BTA menjadi tiga kali lebih besar dan campuran antara ekstrak meniran dan obat anti-TB ini telah dibuktikan aman untuk dikonsumsi.

Dalam penelitian lain dikatakan bahwa memberikan ekstrak meniran secara oral dapat mempengaruhi fungsi dan aktivitas komponen sistem kekebalan, salah satunya adalah produksi IFN-y (Interferon-Gamma) dan TNF-a (Tumor Necrosis Factor-Alfa). Peran sitokin (zat kimia yang dapat membunuh sel) IFN-y dan TNF-a, telah dibuktikan kemudian oleh para peneliti berefek langsung pada penyembuhan penderita TBC. Para dokter pun tahu bahwa IFN-y dan TNF-a bermanifestasi terhadap perubahan BTA di dalam sputum (dahak).

Zulkifli lebih lanjut menjelaskan, obat-obat anti-TBC saja tidak cukup untuk mengeradikasi kuman mikrobakterium tanpa bantuan sistem kekebalan yang efektif. Dalam perjalanannya, masing-masing penderita mendapat gejala klinis dan dampak yang berbeda-beda.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: