Dilema Minum Obat Hipertensi

April 10, 2014

obat hipertensi

Punya penyakit memang tidak enak, apalagi jika penyakit itu tidak bisa sembuh seperti hipertensi. 90% kasus hipertensi memang merupakan hipertensi primer, yaitu jenis hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya. Karena itu, kebanyakan kasus hipertensi tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dikendalikan melalui gaya hidup sehat dan obat-obatan.

Masalahnya, gaya hidup sehat sepertinya cuma ada di awang-awang. Kesibukan, malas, dan ingin tetap makan enak, membuat orang memilih untuk minum obat saja. Walhasil, penderita tekanan darah tinggi terpaksa harus meminum obat setiap hari seumur hidup.

Eits, tunggu dulu. Ternyata solusi praktis seperti ini pun masih sulit dijalani. Terbukti dari hasil studi yang menyatakan bahwa penderita hipertensi dan penyakit jantung tetap malas meminum obat. Dikatakan bahwa lansia yang mendapat obat hipertensi hanya meminum 49% obatnya dalam setahun. Semakin banyak penyakit yang menemani, seperti penyakit jantung atau diabetes, makin baik kepatuhan minum obat.

Alasan Mogok Minum Obat

Obat-obat hipertensi adalah obat yang dapat membantu menurunkan tekanan darah. Obat hipertensi ada berbagai macam, di antaranya ACE inhibitor, penyekat kanal kalsium, diuretik tiazid, penyekat beta, dan penyekat reseptor angiotensin. Apa pun obat yang sedang diminum, sangatlah tidak dianjurkan untuk menghentikan obat-obat ini tanpa anjuran dari dokter.

Meski demikian, tidak sedikit pasien yang mengabaikan anjuran ini dengan berbagai alasan. Ada yang merasa dirinya sudah sembuh, karena tidak ada lagi gejala atau karena saat diperiksa di dokter tekanan darah dinyatakan normal dan baik. Ada juga yang merasa harga obat yang diminum terlalu mahal, sehingga menghentikan salah satu atau dua obat. Ada lagi yang tidak puas dengan pengobatan dokter, karena merasa tekanan darahnya tidak kunjung turun meski sudah meminum obat.

Pasien-pasien yang ‘lari’ ke pengobatan alternatif juga tidak jarang diminta untuk menghentikan obat dokter. Pasien juga mungkin berhenti minum obat karena efek samping seperti pusing, hidung tersumbat, dan gangguan seksual. Selain itu, pasien mungkin merasa takut dengan bacaan-bacaan yang mengatakan bahwa terlalu lama dan banyak meminum obat dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal.

Semua alasan di atas, sebenarnya disebabkan karena ketidaktahuan pasien dan dapat dimentahkan dengan komunikasi dan edukasi yang baik mengenai hipertensi dan penyakit jantung, risiko terhadap kesehatan, efek samping obat, biaya pengobatan, serta pentingnya meminum obat. Menurut dr. Nani Hersunarti, SpJP(K), dari Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler FKUI/RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta, pasien yang merasa sembuh dan tekanan darahnya sudah normal, harus diingatkan bahwa itu adalah efek sementara obat dan harus dijaga seperti itu untuk mencegah timbulnya komplikasi di kemudian hari. Jika setelah ‘dikorek-korek’ dokter mendapati pasiennya enggan minum obat karena harganya yang mahal, berikan obat generik atau pilihan obat lain yang harganya lebih terjangkau.

Bagi pasien yang belum mendapat manfaat obat, perlu dijelaskan bahwa dokter sedang berusaha untuk menyesuaikan dosis dan jenis obat untuk memperoleh kombinasi yang paling tepat baginya. Pasien yang enggan minum obat karena efek samping dapat dihindari jika dokter mengingatkan ada kemungkinan ini, dan sebaiknya membicarakan dengan dokter jika obat ingin diganti atau dihentikan.

“Dan bagi pasien yang takut ginjalnya menjadi rusak, perlu dijelaskan bahwa efek samping stroke dan serangan jantung akan lebih berbahaya dan terjadi sangat cepat, jauh sebelum ginjal terganggu fungsinya, jika pasien memutuskan untuk menghentikan pengobatan,” tambahnya.

Dampak Malas Minum Obat

Ada dua kelompok pasien yang malas minum obat. Yang pertama, pasien yang berhenti minum obat sama sekali karena merasa dirinya baik-baik saja. Yang kedua, pasien yang malas minum obat, tapi minum obat sesekali, entah karena sedang merasa ‘bersalah’ makan makanan yang dilarang, atau karena sudah merasa leher pegal-pegal, atau lagi sedang ingin minum obat. Kelakuan semacam ini bisa membahayakan diri sendiri. Andakah salah satunya? Ayo, cari tahu mengapa kebiasaan buruk itu tidak boleh dipelihara.

Minum obat hipertensi dan jantung sesuka hati dapat berbahaya. Saat kita meminum obat setiap hari, maka tubuh perlahan-lahan akan berubah. Seiring waktu, tubuh akan mulai beradaptasi dengan manfaat baik obat. Sebaliknya, saat obat tidak lagi berada di dalam tubuh, tubuh juga akan membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Pada kasus hipertensi, tiba-tiba berhenti minum obat dapat menyebabkan tekanan darah naik lagi dan denyut jantung menjadi tidak teratur.

Studi menunjukkan bahwa dalam dua hari setelah berhenti minum obat hipertensi, tekanan darah dan frekuensi denyut jantung dapat tiba-tiba naik lagi. Akibatnya, komplikasi hipertensi dapat bermunculan, mulai dari serangan jantung, gangguan ginjal, hingga stroke.

Tak lain ubahnya dengan obat-obatan untuk penyakit jantung. Pasien jantung yang malas minum obat memiliki risiko serangan dan gangguan jantung lebih tinggi. Bagi pasien yang enggan minum obat karena ingin berhemat, tentu hal ini tidak cocok karena akhirnya Anda harus keluar uang lebih banyak lagi untuk perawatan di rumah sakit.

Kalau Sudah Terlanjur

Kondisi tubuh dan penyakit dapat terus berubah seiring waktu. Oleh sebab itu, sangat dianjurkan untuk kontrol ke dokter setidaknya sebulan sekali. Hal ini juga berlaku bagi Anda yang sudah terlanjur menghentikan obat, dan berencana untuk ‘bertobat’. Dengan kunjungan rutin, dokter dapat memantau kondisi Anda dari waktu ke waktu dan me-
nyesuaikannya dengan obat-obatan yang diberikan.

Jangan heran jika pada awal berobat kembali, dokter akan meminta Anda untuk lebih sering datang, karena saat itu tekanan darah masih liar dan dokter perlu mencari obat yang untuk menjinakkannya. Tidak semua penderita hipertensi cocok dengan obat-obatan yang sama. Karena itu, juga tidak dianjurkan untuk meminum obat yang sama dengan yang diminum orang lain tanpa konsultasi dengan dokter Anda,” jelasnya.

Patuhi Sebelum Terlambat!

Minum obat memang tidak menyenangkan. Namun demi kebaikan Anda, kikis keengganan Anda dengan melakukan tips berikut ini.

  • Pasang alarm untuk jadwal minum obat, atau minum obat pada waktu yang sama setiap hari (misalnya setiap pagi atau setiap malam sebelum tidur) untuk menghindari lupa.
  • Jalin hubungan baik dengan dokter dan jangan malu bertanya.
  • Minta obat yang terjangkau di dompet dan jika mungkin minta obat yang hanya perlu diminum satu kali setiap hari.
  • Banyak membaca mengenai hipertensi dan penyakit jantung, dan risikonya jika Anda tidak patuh minum obat.
  • Konsultasikan dengan dokter jika Anda merasa tidak cocok dengan obat tertentu dan jika ingin menghentikan atau mengganti obat.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: