Demensia, Pikun, Penyakit si Lanjut Usia

December 27, 2013

demensia pikun

Sering tidak disadari namun memberikan dampak yang tidak baik bagi orang-orang sekitarnya. Itulah yang dinamakan demensia, atau yang dalam bahasa awam sering disamakan dengan pikun. Orang tua yang mengalami demensia biasanya tidak menyadari hal itu, ia sering lupa menaruh barang, sering marah-marah tanpa alasan, sering melamun, bahkan sering menangis tanpa sebab. Namun orang-orang di sekitarnya merasakan ada perubahan pada orang tua tersebut.

Pikun identik dengan sifat pelupa pada orang lanjut usia. Definisi ini tentunya berbeda dengan demensia dan Alzheimer. Jika tidak dikelola dengan baik, maka para lansia yang pikun ini tidak hanya tidak produktif, tapi juga akan membebani orang-orang di sekitarnya. Padahal jumlah lansia di Indonesia jumlahnya semakin meningkat dari tahun ke tahun, dimana tahun lalu rasionya adalah 1:10.

Pikun, Demensia, Alzheimer

Pikun, seringkali dianggap enteng namun dapat membuat frustasi penderita maupun orang-orang di sekitarnya. Pikun umumnya dialami oleh mereka yang telah lanjut usia, namun tidak jarang disebabkan oleh penyakit. Beberapa kasus pikun dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Jika hal ini telah terjadi, maka ia disebut dengan demensia. Salah satu penyebabnya adalah penyakit Alzheimer.

Perbedaan Demensia dan Alzheimer

Jika demensia adalah gejala, maka Alzheimer adalah salah satu penyakit yang menjadi penyebabnya. Demensia adalah perubahan kognitif dan menurunnya fungsi mental seseorang secara bertahap, yang bukan disebabkan oleh proses penuaan yang normal. Penderita demensia seringkali berbicara kacau, sulit berkonsentrasi, bingung saat menghadapi masalah, melakukan penilaian, perencanaan dan organisasi. Ini akan mengganggu kehidupan sosial dan pekerjaan sehari-hari. Padahal, sebelumnya penderita mungkin saja orang yang sangat aktif.

Demensia dapat terjadi mendadak akibat matinya sel-sel otak, misalnya karena penyakit stroke atau cedera berat pada kepala. Ia juga dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti AIDS, demam tinggi, dehidrasi, hidrosefalus, penyakit lupus, penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan, kekurangan vitamin, hipotiroid, tumor otak, dan Parkinson. Pada kasus tersebut, biasanya proses terjadinya demensia berlangsung lebih lambat dan bertahap.

Menurut Dr. Manfaluti Hakim, Sp.S dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, penderita demensia umumnya mengalami kesulitan dalam memahami orang di sekitarnya dan sulit menjalani aktivitas sehari-hari. Ia menjadi sulit berkonsentrasi, dan bisa tiba-tiba lupa apa yang sedang ia kerjakan. Belum lagi timbul halusinasi, paranoid, dan delusi. Oleh karena itu, tidak jarang penderitanya mengalami frustasi dan depresi.

Demensia dapat terjadi sementara, misalnya akibat gangguan tiroid atau kekurangan vitamin. Jika kondisi ini diperbaiki, maka penderita dapat kembali normal. Namun, kebanyakan demensia bersifat permanen. Misalnya disebabkan oleh penyakit degenerasi pada otak. Salah satunya adalah Alzheimer, yang merupakan penyebab 70-80% kasus demensia. Jumlah penderita Alzheimer meningkat seiring dengan usia. Meski demikian, terjadinya Alzheimer bukan merupakan bagian dari proses penuaan yang normal. Alzheimer lebih banyak mengenai wanita dibanding pria, dan orang yang memiliki kerabat dengan Alzheimer pada usia muda, memiliki risiko lebih tinggi mengalami Alzheimer di kemudian hari.

Untuk mendiagnosis Alzheimer bukanlah merupakan hal yang mudah. Diagnosis pasti Alzheimer hanya dapat ditegakkan setelah penderita meninggal, yaitu melalui otopsi jaringan otak. Selain mempengaruhi memori, Alzheimer juga akan menyebabkan perubahan mood dan perilaku. Seiring dengan waktu, gangguan kognitif yang dialami akan makin berat. Penderita juga menjadi mudah berubah emosinya, gelisah, dan bisa menjadi kasar. Bahkan, kepribadiannya juga bisa berubah.

Diagnosis Demensia dan Alzheimer

Menurut Dr. Manfaluti Hakim, untuk mengetahui seseorang menderita demensia atau tidak, diperlukan pemeriksaan menyeluruh terhadap riwayat kesehatan seseorang, termasuk pemeriksaan fisik dan neurologisnya. Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan pada orang-orang terdekat pasien. “Pasien juga akan diperiksa status mental dan kemampuannya dalam mengingat,” tambahnya. Untuk mengetahui penyebab demensia, diperlukan pemeriksaan seperti pemeriksaan darah, rontgen, MRI, PET Scan, atau CT Scan.

Yang Terjadi di Otak

Pada setiap sel otak terdapat saluran-saluran yang berfungsi untuk menyampaikan nutrisi dan informasi. Pada demensia dan Alzheimer, saluran ini mengalami kerusakan dan terurai. Pada akhirnya sel-sel saraf akan mengalami kematian sehingga komunikasi antar sel saraf terganggu. Bagian otak yang pertama terkena pada Alzheimer adalah hipokampus. Hipokampus merupakan bagian otak tempat diprosesnya informasi dari luar dan mengirimnya ke bagian otak yang lain untuk disimpan, termasuk memori. Inilah sebabnya penderita demensia dan Alzheimer seringkali menanyakan hal yang sama berulang kali, karena informasi yang ada tidak dapat disimpan di otak.

Secara mikroskopis, ada 3 hal yang menjadi tanda khas terjadinya Alzheimer, yaitu penumpukan plak amiloid (sejenis protein abnormal yang menumpuk di antara sel saraf), neurofibrillary tangles (terbentuk dari sel-sel saraf yang mati), dan kematian sel saraf dan terputusnya hubungan antar sel saraf. Kematian sel saraf mengakibatkan menyusutnya otak, terutama di hipokampus, sehingga rongga di dalam otak terlihat lebih besar. “Lama kelamaan, kematian sel otak akan menjalar ke bagian otak lain, menimbulkan gejala baru yang lebih berat dan akhirnya berujung pada kematian,” ujarnya.

Perjalanan penyakit Alzheimer

Setiap penderita akan mengalami perjalanan penyakit yang berbeda-beda. Gejala yang timbul mungkin tidak sama dan memiliki tingkat yang berbeda-beda.

Derajat 1: tidak ada gangguan (fungsi normal)

Derajat 2: penurunan kognitif yang sangat ringan (dapat karena usia atau tahap awal Alzheimer). Penderita merasakan kesulitan dalam mempertahankan memori, melupakan kata atau lokasi tertentu, namun belum ada tanda yang ditemukan pada pemeriksaan atau dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.

Derajat 3: penurunan kognitif ringan. Gangguan mulai dirasakan oleh orang terdekat. Pada pemeriksaan dapat ditemukan gangguan memori atau konsentrasi. Misalnya sulit menemukan nama atau kata yang tepat, sulit mengingat nama orang yang baru dikenal, sulit melakukan pekerjaan, menghilangkan benda, sulit membuat rencana atau mengatur sesuatu.

Derajat 4: penurunan kognitif sedang. Pemeriksaan kesehatan menemukan gejala seperti lupa akan kejadian yang baru dialami, kesulitan dalam berhitung, melakukan hal yang rumit, lupa akan riwayat hidupnya sendiri, mood berubah-ubah atau menarik diri dari lingkungan

Derajat 5: Penurunan kognitif sedang-berat. Terlihat adanya kesenjangan antara memori dan berpikir, mulai memerlukan bantuan orang lain dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Misalnya lupa alamat atau nomor teleponnya sendiri, lupa akan nama sekolahnya dahulu, bingung ia sedang berada di mana.

Derajat 6: penurunan kognitif berat. Gangguan memori makin berat, terjadi perubahan kepribadian, dan memerlukan bantuan orang lain dalam melakukan aktivitas sehari-hari, ia tidak lagi dapat mengingat riwayatnya, melupakan nama pasangan, kesulitan dalam berpakaian, kesulitan dalam menggunakan toilet, dll.

Derajat 7: penurunan kognitif yang sangat berat. Ia tidak lagi mampu merespon lingkungan, berkomunikasi, dan mengendalikan gerakan. Tidak dapat tersenyum, duduk tanpa bantuan dan kesulitan dalam menegakkan kepala. Refleks menjadi abnormal dan otot menjadi kaku, serta terjadi gangguan dalam menelan.

Terapi

Menurut Dr. Manfaluti Hakim, pada demensia yang bersifat sementara, pengobatan terhadap penyebab dapat mengembalikan ingatan pasien ke kondisi semula. Misalnya pada demensia yang berkaitan dengan kekurangan vitamin, tumor, alkohol atau penyalahgunaan obat, reaksi obat, atau gangguan hormonal.

Berbeda dengan demensia, sampai saat ini belum ada terapi yang dapat menyembuhkan Alzheimer. “Obat yang ada sekarang ini bertujuan untuk menghambat perkembangan penyakit Alzheimer agar berlangsung lebih lambat dan memperbaiki kualitas hidup,” jelasnya.

Terapi standar yang diberikan untuk penderita Alzheimer adalah golongan inhibitor kolinesterase dan antagonis parsial N-metil-D-aspartat. Sedangkan untuk gejala penyerta (depresi, agitasi, agresi, halusinasi, delusi, gangguan tidur) diberikan obat sesuai gejala. Beberapa obat yang digunakan adalah antidepresi, anti cemas, obat anti parkinson, beta-bloker, obat anti epilepsi (untuk mengatasi perubahan perilaku), neuroleptik. Jika penderita menunjukkan kondisi yang tidak stabil, mungkin diperlukan perawatan di rumah sakit. Terutama jika membahayakan dirinya atau orang lain.

Pada kasus Alzheimer ringan sampai sedang, dapat diberikan inhibitor kolinesterase dan latihan mental (mengisi teka teki silang atau kuis) untuk mencegah atau memperlambat kemunduran kognitif pada pasien. Meski demikian, ia tidak dapat mengatasi penyebab terjadinya degenerasi sel-sel saraf. Obat yang termasuk golongan ini antara lain Tacrine, Donepezil, Rivastigmin, dan Galantamin. Obat ini juga dapat membantu mengurangi rasa marah, perasaan ingin berkeliaran, dan perilaku yang tidak pantas.

Untuk Alzheimer sedang sampai berat, obat yang diberikan adalah golongan antagonis parsial N-metil-D-Aspartat memantadine. Obat ini akan memperlambat penumpukan kalsium dan mencegah kerusakan saraf lebih lanjut. Ia juga dapat diberikan bersama dengan inhibitor kolinesterase.

Dalam menghadapi pasien dengan demensia dan Alzheimer diperlukan kesabaran dari orang terdekat dan orang yang merawat. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Kenyamanan penderita, mulai dari nyeri, lapar, haus, konstipasi, buang air kecil, adanya infeksi, atau iritasi pada kulit.
  • Hindari komentar atau argumen keras yang menentang penderita, meskipun yang dikatakannya salah atau bertentangan dengan kenyataan.
  • Alihkan perhatian pasien dan usahakan selalu bersikap suportif dengan merespon emosinya, bukan terhadap perilakunya.
  • Ciptakan suasana yang tenang, hindari suara berisik, cahaya dan ruangan yang tidak nyaman, termasuk televisi.
  • Istirahat yang cukup setiap ada kejadian yang merangsang kemarahan dll.
  • Perhatikan alasan di balik setiap perilaku menyimpang.
  • Jangan menganggap perilaku pasien terlalu serius, berbagi pengalaman dengan orang lain.

10 tanda Alzheimer

  1. Hilangnya ingatan yang mengganggu kehidupan sehari-hari. Penderita melupakan tanggal dan kejadian penting, menanyakan hal yang sama berulang-ulang, lebih sering menggunakan alat bantu seperti notes atau reminder dibanding sebelumnya. Berbeda dengan lupa akibat usia, biasanya lupa akan nama atau janji, namun dapat mengingatnya kemudian.
  2. Kesulitan dalam membuat perencanaan atau menyelesaikan suatu masalah. Penderita kerap mengalami kesulitan dalam berhitung sederhana, atau memasak, sulit berkonsentrasi dan memerlukan waktu lebih lama dibanding biasanya. Berbeda dengan penuaan yang menyebabkan kesalahan biasa dalam menghitung.
  3. Kesulitan dalam menyelesaikan tugas atau kegiatan sehari-hari. Bingung saat menyetir ke tempat kerja atau belanja, lupa cara memainkan permainan yang disukainya.
  4. Tidak mengenali tempat dan waktu. Lupa ia sedang berada di mana dan bagaimana bisa berada di tempat tersebut, bingung akan pagi, siang dan malam.
  5. Kesulitan dalam memahami gambar dan ruang. Sulit menentukan jarak antar benda, menentukan warna, dll
  6. Kesulitan dalam berbicara atau menulis. Sulit mengikuti pembicaraan, bingung bagaimana meneruskan pembicaraan atau bicara berulang-ulang. Kadang salah menyebutkan benda atau nama
  7. Salah meletakkan benda dan bingung mencarinya kembali. Sering meletakkan benda di tempat yang bukan biasanya dan mungkin menuduh orang lain yang mencurinya.
  8. Menurunnya kemampuan menilai. Sulit melakukan penilaian atau membuat keputusan, memberikan uang banyak pada orang yang tidak dikenal, sulit berkonsentrasi dan menjaga kebersihan diri.
  9. Menarik diri dari pekerjaan atau kegiatan sosial. Tidak mau lagi bekerja, berolahraga, atau melakukan hobinya.
  10. Perubahan mood dan kepribadian. Sering bingung, merasa curiga, depresi, takut atau gelisah. Sering marah-marah di rumah, di tempat kerja. Marah dengan temannya atau jika berada di tempat di luar zona nyamannya.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: