Daun Sendok, Gulma yang Berkhasiat Obat

December 13, 2014

daun sendok

Tumbuhan daun sendok merupakan tumbuhan kecil yang mungkin diabaikan begitu saja. Terlihat sangat biasa, tumbuhan yang kerap menjadi gulma perkebunan ini terlihat tidak menarik perhatian. Namun siapa sangka, inilah salah satu tumbuhan obat dengan pemakaian tradisional yang meluas di berbagai penjuru dunia.

Sesuai dengan namanya, tumbuhan daun sendok memiliki bentuk daun yang cekung dan tangkai daun panjang seperti sendok dengan ukuran besar. Daun sendok memiliki nama ilmiah Plantago major, dari kata planta yang berarti jejak kaki. Di Indonesia, tumbuhan ini memiliki banyak nama daerah. Antara lain Daun urat, Ekor angin, Kuping menjangan. Orang Sunda menyebutnya Ki Urat atau Ceuli Uncal.

Tumbuhan daun sendok diyakini berasal dari Asia dan Eropa. Tumbuhan ini merupakan tanaman tahunan dengan tinggi 60 – 80 cm, tumbuh di tanah yang terkena sinar matahari mau pun yang agak teduh. Daun sendok kerap ditemukan sebagai gulma di perkebunan teh dan karet. Juga ditemukan tumbuh liar di hutan, ladang, dan di hampir semua tempat yang agak lembab.

Tumbuhan daun sendok memiliki keunikan tersendiri. Seolah lentur dengan keadaan sekitar, daun sendok bisa tumbuh tinggi jika berada di antara tumbuhan tinggi, dan bisa tumbuh mendatar atau pendek jika berada di antara tumbuhan pendek. Daunnya bisa lengkung tegak ke atas seperti sendok, dan bisa juga terlihat datar saja.

Daun sendok memiliki banyak bahan aktif, antara lain musilago, tannin, glikosida iridoid termasuk aukubin, katalpol, aukkubigenin, flavonoid, vitamin dan mineral termasuk zink dan kalium.

Manfaat Daun Sendok

Daun muda tumbuhan ini bisa dimakan sebagai sayuran. Ini cukup baik bagi tubuh karena daun sendok muda mengandung banyak vitamin B1, vitamin A, vitamin C dan riboflavin. Tumbuhan ini juga sudah sangat lama digunakan sebagai obat tradisional. Bahkan beberapa suku menjadikan tumbuhan sebagai obat tradisional serbaguna untuk segala penyakit. Setelah diteliti para imuwan, sebagian dari klaim-klaim akan khasiatnya sebagai obat tradisional ternyata dapat dibuktikan.

Tumbuhan ini sudah digunakan untuk pengobatan tradisional sejak sekitar 2000 tahun lalu di Eropa dan China. Penggunaannya bervariasi dari mengobati batuk, sakit lambung, diare, luka bakar ringan, dan sengatan binatang. Komisi Kesehatan Jerman bahkan menyetujui penggunaan daun sendok untuk mengatasi radang tenggorokan dan inflamasi pada kulit.

Daun sendok juga di beberapa tempat digunakan sebagai obat tradisional peluruh air seni karena bersifat diuretik. Setelah diteliti, daun sendok memang memiliki kandungan kalium cukup tinggi, yang bisa membantu meluruhkan air seni dan melarutkan endapan garam kalsium di dalam ginjal dan kandung kemih. Oleh karena itu, pada banyak pengobatan tradisional daun sendok digunakan untuk mengatasi gangguan pada saluran kemih.

Di beberapa daerah di Indonesia, daun sendok juga digunakan sebagai obat tradisional untuk membantu mengatasi gangguan seksual. Namun, bukan berdiri sendiri melainkan dengan memadukannya dengan herbal lain yaitu Tapak Liman. Kedua herbal ini kerap dijadikan ramuan untuk mengatasi masalah seperti mani encer dan rendahnya dorongan seksual.

Di beberapa negara seperti Meksiko dan Honduras, daun sendok digunakan untuk mengatasi gangguan pada saluran pernapasan, seperti serangan asma, batuk ataupun sebagai ekspektoran. Penelitian pada hewan percobaan menunjukkan bahwa daun sendok memiliki efek sebagai pelega saluran pernapasan.

Daun sendok yang segar bisa juga digunakan sebagai obat luar. Antara lain untuk luka ringan, sakit kulit dermatitis, atau gigitan serangga. Caranya dengan melumatkan daun sendok segar untuk dibubuhkan pada bagian kulit yang luka atau sakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun tumbuhan ini memiliki efek antibakteri terhadap beberapa jenis bakteri termasuk Staphylococcus aureus, Shigella sonnei, Micrococus flavus serta Bacillus subtilis.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: