Cara Pencegahan Kanker

October 16, 2013

pencegahan kanker

Banyak orang sering bertanya, apa kanker bisa dicegah. Pertanyaan menarik sekaligus ada manfaatnya bagi banyak orang. Mengapa? Oleh karena sebetulnya, kanker penyakit yang masih mungkin dicegah. Bagaimana caranya, kita membicarakannya di sini.

Belajar dari kesalahan orang yang hidup di negara industri, bagaimana kita seharusnya melakoni hidup tidak perlu mengekor mereka lagi. Ketika orang- orang yang hidupnya makmur di belahan negara maju, tak sedikit masyarakat di negara tengah berkembang meniru gaya hidup orang makmur. Soal makan, misalnya.

Kenapa anak-anak kita sekarang membuang bekal yang disiapkan ibunya di rumah dan lebih suka memilih burger, atau ayam goreng. Kenapa lebih banyak anak gemuk? Lebih tragis lagi, kenapa lebih banyak orang mati muda, dan yang dirawat RS jantung ketika usia belum lagi tua? Ternyata itu soal salah memilih gaya hidup.

Mengubah gaya hidup tak segampang menulisnya. Kalau dari kecil lidah anak terbiasa mengecap cita rasa gurihnya daging bakar, atau steak, tak mudah membujuknya jadi suka menu nenek. Salah orang tua kalau anak meninggalkan sayur lodeh, dan sayur asam.

Kecenderungan cita rasa lidah pada menu diciptakan sejak kecil. Keliru membiarkan anak mengekor semua menu restoran, karena selain jadi gembrot, anak menyimpan penyakit lain. Gembrot bukan saja awal dari semua penyakit degeneratif, khususnya kencing manis, jantung, ginjal, dan darah tinggi. Lebih dari itu, orang gemuk berisiko kena kanker juga.

Gemuk terkait kanker payudara, misalnya. Maka, di mana-mana dunia, kegemukan itu dilarang. Bukan saja supaya rakyatnya sehat, tapi anggaran kesehatan negara bisa jebol. Angka penderita kanker di Amerika Serikat terus meningkat setiap tahun. Di antara risiko kanker, faktor diet penyebab terbesar.

Diet apa? Diet yang kebanyakan daging ketimbang zat pati, sayur mayur dan buah-buahan, diet yang jahat. Protein berlebih terbukti memicu kejadian kanker. Maka, sekarang diyakini, bukan gen kanker benar yang perlu kita takuti, melainkan apa yang kita makan setiap hari.

Menu seimbang itu hukum ilmu gizi. Tapi menu seimbang saja tak cukup jika pilihannya tidak tepat. Jika lebih banyak daging dibanding sayur dan buah. Bukan tak boleh makan daging. Tapi kelebihan makan daging bikin runyam sel tubuh. Mengapa?

Daging selain berarti protein, juga lemak. Kelebihan protein sama jeleknya dengan kelebihan lemak. Dua akibat kelebihan daging. Bukan saja menambah risiko penyakit degeneratif, tapi juga memperbesar risiko kanker.

Kanker itu penyakit gaya hidup juga. Perlu mengubah gaya hidup agar kanker menjauh. Bukan saja pilihan menu, aktivitas fisik semakin nyata memengaruhi risiko terkena kanker. Termasuk bila lebih suka memilih menu olah dan bukan yang alami.

“Carcinogen” di mana-mana

Betul, hidup kita sudah dikepung oleh beraneka ragam kimia kanker atau carcinogen. Paling banyak berasal dari apa yang kita konsumsi. Mungkin dari jajanan. Bisa jadi dari menu restoran. Mana tahu dari dapur kita sendiri ketika bahan baku menu sudah taklagi segar, terkontaminasi pupuk, pestisida, herbisida, dan salah mengolahnya.

Daging sendiri sudah tidak menyehatkan jika dikonsumsi berlebih. Tapi daging yang diberi sodium nitrite yang bikin daging berwarna merah segar sekaligus sebagai pengawet, juga kimia kanker. Proses pembuatan gula pasir melibatkan kimia. Minyak goreng yang berkali-kali dipakai juga bertabiat buruk sama bagi tubuh. Termasuk udara dan gelombang elektromagnetik yang memapar tubuh kita setiap hari. Mana mungkin kita berkelit.

Kimia kanker bersekutu dengan radikal bebas di mana-mana. Mungkin ada dalam minuman, cat tembok, atau di oncom yang kita makan. Mana tahu juga ada di ikan asin, permen dan makanan bayi. Jadi, semakin sulit kita mengelak dari itu semua.

Barangkali itu sebabnya, kanker semakin banyak . Hidup kita sudah dikepung oleh faktor yang menyuburkan sel kanker bertumbuh. Sebagian masih mungkin kita elakkan kalau tahu pencetusnya. Berapa bahaya kimia pada kulit apel impor? Berapa buruk kimia bentukan dari makanan asap (heterocyclic amines)? Sekadar gosong satai pun perlu diwaspadai.

Bukan tembakau peringkat atas pencetus kanker, melainkan diet harian kita. Maka, faktor diet harus dicermati betul. Kembalilah ke menu nenek, dan menu Barat yang sudah diakui kalau mereka keliru, dan berbondong-bondong mereka kembali ke menu alami, harus dibuang jauh. Jangan pula kita malah mengekor memilih menu mereka yang tak tepat itu.

Bukti ilmiah ihwal menu terkait kanker tidak sedikit dilaporkan. Perlu diingat, tidak semua yang berasal dari alam tentu aman. Aflatoxin dalam oncom yang berkapang, mencetuskan kanker hati. Kapang yang sama juga mungkin ada di jamu buatan rumah, atau tembakau, atau kecambah, atau apa saja hasil bumi yang penyimpanannya tidak baik. Maka, berhati-hatilah mengonsumsi kacang-kacangan dan padi-padian.

Ikan asin mengandung kimia kanker nitrosamine. Kebanyakan ikan asin berisiko kanker juga, apalagi kalau sudah disemprot obat nyamuk supaya tidak ada belatungnya. Kerupuk merah kinclong, seperti halnya saus tomat murah hampir pasti memakai pewarna tekstil (rhodamine B) yang juga carcinogen. Hampir semua pemanis buatan jajanan memakai yang murah dan tak aman bagi tubuh. Dilaporkan kimia kanker dioxin sudah merambah sampai ke makanan bayi. Kimia ini produk akhir bakaran industri.

Kimia kanker itu yang mengubah tabiat sel tubuh yang sehat. Sel tubuh berubah tidak lagi mematuhi aturan biologis dalam berbiak diri. Sel bertumbuh abnormal dan membentuk tumor. Jika tumor berkembang menjadi jalang, maka ia berubah menjadi kanker. Kanker berarti tumor yang tidak jinak.

Gen kanker tak selalu berujung kanker

Kanker tumbuh dari sel yang menyimpan gen kanker. Gen kanker memang diwariskan melalui garis darah orangtua. Namun, tidak setiap gen kanker berujung kanker. Faktor gaya hidup, termasuk diet, lebih menentukan apakah gen kanker berkembang menjadi kanker.

Maka, penting mengendalikan faktor gaya hidup agar sekiranya benar memiliki gen kanker, kankernya batal muncul. Gen kanker yang kita miliki tak mungkin kita hapuskan. Pencetus kanker itulah yang masih mungkin kita kendalikan, agar kanker gagal hadir.

Penyakit kanker; sebagaimana penyakit degeneratif umumnya, tidak langsung muncul. Prosesnya memerlukan waktu. Kanker yang muncul sekarang, proses penyakitnya mungkin sudah dimulai sepuluh tahun lalu. Mungkin juga lebih. Tapi kita tak menyadarinya kalau tak memeriksanya.

Pemeriksaan rutin berkala

Maka, perlu melakukan pemeriksaan kesehatan. Selain pemeriksaan fisik, dengan melakukannya sendiri seperti mengenali dini kanker payudara, mewaspadai setiap kemunculan benjolan, tahi lalat, perdarahan, keputihan, kencing berdarah, batuk-batuk tak kunjung sembuh.

Sekarang semakin banyak penanda tumor (tumor marker) bisa diperiksa dari darah. Walau tidak semuanya spesifik untuk satu jenis kanker, kita bisa mulai waspada sekiranya ada nilai penanda tumor yang abnormal. Memeriksa rutin leher rahim (carcinoma cervix) perlu rutin dilakukan, selain pemeriksaan prostat pada pria.

Pemeriksaan perlu lebih intensif dilakukan bagi mereka yang berisiko kena kanker. Mereka yang memiliki orangtua atau saudara kandung kanker. Termasuk pekerja khusus di tambang, percetakan, dan industri kimia yang berisiko terpapar cemaran kimia tertentu. Diperkirakan 80 juta rakyat China akan mati muda 25 tahun ke depan akibat asap batu bara dan rokok.

Selain mengendalikan faktor pencetus kanker agar seberapa bisa tidak terlalu membanjir dalam tubuh, tubuh perlu dikuatkan dengan menambah antioksidan. Radikal bebas telah kuyup membanjir pada tubuh berasal dari apa yang kita makan, minum, dan hirup dari udara. Radikal bebas juga datang dari obat, herbal, dan asap industri.

Antioksidan yang tubuh buat sudah tak lagi mencukupi untuk meredam radikal bebas yang membanjiri tubuh. Maka, perlu bantuan suplemen ekstra antioksidan dari luar. Vitamin C, vitamin E, betacarotene sumber antioksidan yang bisa kita pilih.

Lebih dari itu hidup juga perlu ditata lebih santai, dan tidak tegang terus. DNA dalam sel tubuh kita sesungguhnya bisa disetel untuk merusak tubuh, atau memeliharanya. Stresor dalam hidup bisa memperburuk perusakan tubuh oleh DNA yang merusak. Sel tubuh rusak yang berubah sifat itu jangan sampai terjadi agar peluang menjadi sel kanker tetap tertutup.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: