Cara Efektif Menghilangkan Stress Dalam Hidup

September 19, 2014

menghilangkan stress

Stress adalah satu gejala, di mana pikiran seseorang sedang dalam keadaan tegang tidak tenang. Penyebab utama stress adalah orang yang terlalu banyak keinginan, tidak mensyukuri apa yang dia sudah dapat, berpikir negatif, dan tidak mau menerima kenyataan hidup secara rasional. Orang tersebut tidak menganut falsafah “Berbahagia dan kayalah bagi orang yang tahu cukup”.

Stress bukanlah suatu penyakit, tetapi keadaan stress bisa mengakibatkan terkena penyakit yang cukup serius. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui simtom stress secara dini. Dengan mengenal tanda-tanda dan simtom stress secara dini, akan membantu kita mencegah akibat stress yang lebih buruk. Perlu segera menghentikan kebiasaan minum banyak alkohol dan merokok sebagai “jalan keluar” menghilangkan stress yang tak ada gunanya sama sekali.

Pernah dilaporkan oleh praktisi kedokteran di Inggris, bahwa penyakit yang diderita manusia, 90% disebabkan oleh stress yang berkepanjangan tanpa ada jalan keluarnya. Maka, bila stress berlarut terus tanpa solusi, akan banyak penyakit yang bersarang di tubuh kita. Akibatnya, kesehatan terganggu, umur juga tidak bisa dipertahankan lebih lama, atau dengan kata lain, orang tersebut akan meninggal dunia sebelum waktunya.

Stress bisa saja bersumber dari luka batin dan rasa bersalah (guilty feeling) yang menjadi beban rohani hingga melampaui batas kemampuan rohani itu sendiri. Oleh karena stress, seseorang tidak mampu lagi mengontrol diri dengan akal sehatnya.

Namun stress tidak selalu negatif, misalnya stress karena pekerjaan yang sudah dijadwalkan tapi belum selesai dikerjakan, atau waktu ujian sekolah sudah tiba tapi belum selesai dipersiapkan dengan baik. Jika pekerjaan sudah diselesaikan sebelum tenggat waktunya, dan pelajaran sudah dipersiapkan dengan baik sebelum saat ujian tiba, stress itu bisa hilang dengan sendirinya. Maka, stress bisa berubah menjadi sebuah tantangan bernilai positif dan tidak lagi menjadi beban pikiran.

Jadi, stress bisa punya dampak negatif atau, sebaliknya, positif. Semuanya tergantung pada diri kita sendiri, apakah kita mampu mencari solusinya. Dengan kata lain, stress bisa jadi hambatan atau sebaliknya menjadi tantangan. Bila kita sedang dalam keadaan stress berat, hormon stress akan meningkat di dalam darah. Ada tiga hormon stress yang penting, yaitu:

(1) Adrenaline

Hormon ini disekresi oleh kelenjar adrenal atas “perintah” dari otak; dalam keadaan stress, hormon ini segera hadir di dalam darah.

(2) Norepinephrine

Sama seperti adrenaline, hormon ini disekresi dari kelenjar adrenal, kehadirannya juga atas “perintah” dari otak.

(3) Cortisol

Ini adalah hormon steroid, biasanya dikenal sebagai “hormon stress”, juga disekresi oleh kelenjar adrenal.

Catatan: Kelenjar adrenal, besarnya seperti kacang, ada dua butir di atas ginjal kanan kiri.

Fungsi hormon stress adalah untuk menghadapi tekanan dan ancaman dari simtom stress tersebut. Jika tekanan atau ancaman itu sudah berlalu, kadar hormon stress dalam darah dengan sendirinya menjadi normal kembali. Bila simtom stress berlanjut terus, hidup akan disandra oleh simtom stress itu. Maka, hormon stress perlu bertahan terus di dalam darah untuk mengatasi simtom stress yang berkepanjangan itu. Jika tidak, tubuh bisa diserang berbagai penyakit kronis, seperti tekanan darah tinggi, jantung koroner, stroke, dan sebagainya.

Hormon stress mampu memobilisasi energi ke dalam otot tubuh, biasanya disertai dengan denyut jantung (heart rate) yang bertambah cepat, tekanan darah meningkat, frekuensi napas lebih cepat, pencernaan terganggu, nafsu makan hilang, libido seks menurun, dan sistem imunitas juga ikut melemah karena produksi antibodi menurun.

Stress yang berkepanjangan dapat mengakibatkan hormon stres dalam darah meningkat lebih banyak, yang akan menguras habis cadangan energi di dalam tubuh, meningkatkan tekanan darah, menjadikan siklus menstruasi tidak teratur, dan memungkinkan terjadinya serangan jantung tiba-tiba, sakit maag ulcer, dan sebagainya.

Stress bisa bersumber dari berbagai faktor, seperti ekonomi yang belum mencukupi kebutuhan keluarga, lingkungan keluarga yang tidak harmonis, atau suasana tempat kerja yang tidak menyenangkan karena tidak cocok dengan atasan. Selain itu juga bisa berasal dari faktor organisasi yang tidak cocok dengan idealisme yang dimiliki atau faktor karakter kepribadian yang tidak bisa diterima oleh lingkungan masyarakat sekitar.

Manajemen Stress (Stress Management)

Orang yang tidak bisa mengelola stressnya dengan baik dan rasional, bisa terkena banyak penyakit, misalnya sakit kepala, sakit lambung, sulit tidur, mudah terkena penyakit batuk-pilek, dan depresi. Stress bisa dikelola dengan introspeksi diri, meditasi, olahraga, curhat kepada orang lain, atau menghabiskan waktu dengan hobi tertentu. Dari semuanya ini, yang paling penting adalah kita mau menerima apa adanya di dalam hidup ini dengan hati terbuka.

Ahli Taoisme Zhuang Zi mengatakan:

“Bulu burung bangau putih dan burung gagak hitam. Jangan kita membuang waktu dan energi terlalu banyak untuk mempersoalkan kenapa dia putih dan dia hitam? Warna bulu putih dan hitam adalah produk alam, yang tidak mungkin kita mampu mengubahnya. Maka, masalah itu janganlah dipersoalkan lagi.”

Artinya, untuk mengurangi stress dalam hidup ini, janganlah kita suka menilai atau menyalahkan orang lain — kenapa dia begitu, tidak begini; dan kenapa dia tidak seperti aku, atau aku tidak seperti dia. Dia adalah dia, aku adalah aku, aku bukanlah dia, dan dia bukanlah aku. Jangan membuang-buang waktu untuk mempermasalahkannya. Sebaiknya kita menerima apa adanya dengan lapang dada. Bila tidak, hidup ini akan penuh dengan stress dan pikiran tidak bisa tenang dan damai.

Master Buddhisme Xing Yun mengatakan:

“Dalam hidup ini, kita sering kali menjumpai 8-9 dari 10 kasus tidak berkenan di hati kita.”

Xing Yun melanjutkan, bila kita menemui masalah di dalam hidup:

“Janganlah menggerutu kepada Tuhan dan menyalahkan orang lain.”

Jika kita menggerutu terus, tidak mau menerima kenyataan hidup, kita akan menderita stress berkepanjangan. Sering kali kenyataan di dalam hidup ini tidak sesuai dengan keinginan kita. Senang atau tidak senang, mau atau tidak mau, kita harus bisa menerima kenyataan hidup apa adanya, agar kita terhindar dari stress.

Langkah pertama untuk mengontrol stress adalah mengetahui dari mana simtom stress (kausa) itu datang. Tetapi mengenali simtom stres bisa jadi lebih sulit daripada yang dipikirkan orang. Kebanyakan orang yang sedang stress tidak tahu atau tidak menyadari bahwa mereka sedang stress. Ketika stress itu sudah memengaruhi fisik dan mentalnya, barulah dia sadar bahwa dirinya sedang terkena dampak negatif stress.

Kebanyakan stress bersumber dari terlalu banyak nafsu keinginan yang tidak bisa tercapai, atau sang “Aku” terlalu melekat di dalam dirinya. Bila kita bisa bebas dari segala nafsu keinginan, dan telah melepaskan pelekatan sang “Aku”, serta dengan lapang dada mau menerima apa adanya di dalam hidup ini, dengan sendirinya penderitaan atau stress itu akan lenyap dari diri kita.

Tubuh kita telah dirancang-Nya untuk bisa menghilangkan stres dalam dosis rendah. Tetapi, kita tidak dilengkapi untuk menghilangkan stress yang lebih berat dan berkepanjangan. Tidak ada stress kronis yang tidak berkembang menjadi lebih buruk dan menimbulkan akibat buruk.

Stress bisa memengaruhi semua aspek dalam hidup ini, termasuk emosi, kelakuan, kemampuan berpikir, dan kesehatan fisik. Tidak ada bagian tubuh kita yang tidak terkena dampak buruk dari simtom stress. Namun, setiap orang mengatasi stress dengan metode yang berbeda. Simtom stressnya juga bervariasi. Maka lebih baik mengonsultasikan keluhan Anda kepada dokter.

Berdasarkan penelitian psikolog, yang termasuk simtom stress adalah sebagai berikut.

  • Gampang sekali teragitasi, frustasi, dan suka murung.
  • Mudah berubah perasaan, sebentar merasa memiliki dan sebentar kemudian merasa kehilangan.
  • Sulit membuat diri sendiri santai (relax) dan sulit menenangkan pikiran.
  • Menilai buruk diri sendiri (kurang menghargai diri sendiri), suka mengasingkan diri, merasa diri tak berharga dan depresi.
  • Menghindari orang lain.

Ada orang-orang yang ingin menghilangkan stress berat dengan banyak merokok, minum alkohol, atau menggunakan narkoba. Mereka menganggap jalan keluar seperti itu dapat menghilangkan stress. Sayangnya mereka salah. Jalan keluar seperti itu bukan saja tidak bisa mengatasi masalah stress, tetapi bahkan menimbulkan masalah baru yang lebih serius lagi. Yang penting, cari dulu akar permasalahan stress itu, baru kemudian bisa mencari jalan keluar yang mampu menyelesaikan masalahnya.

Untuk menghindari stress, yang diutamakan adalah memelihara dan mengembangkan pikiran yang tenang dan damai, yaitu mempertahankan “peace of mind”. Kalau sudah mencapai keadaan “peace of mind”, stress akan menjauh.

Orang yang pernah berbuat sesuatu yang melanggar hati nurani, pikirannya sering kali tidak bisa mendapatkan kedamaian. Karena ia selalu dibayang-bayangi perasaan bersalah. Pada akhirnya, simtom stress itulah yang akan menemaninya sepanjang hidupnya, dan sulit hilang, sehingga nafsu makannya berkurang, tidak enak tidur, dan pikirannya selalu tegang. Akibatnya kesehatannya terganggu.

Jika sudah begitu, mau tidak mau kita harus mengubah “mind set”. Kita harus rela melepaskan dan menerima keadaan. Peristiwa yang lalu tidak akan bisa diperbaiki lagi. Yang penting adalah mulai banyak berbuat baik kepada orang lain untuk menebus kesalahan yang lalu.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: