Bye-Bye Disfungsi Ereksi

June 2, 2013

disfungsi ereksi

Penyebab infertilitas pada pria yang lain adalah karena gangguan ereksi, yang masuk kategori infertilitas non-spermatozoa. Dari pedoman terbaru konsensus disfungsi ereksi, menganjurkan untuk dilakukan evaluasi axis HPG dengan melakukan pemeriksaan kadar testosteron, testosteron bioavailabel dan testosteron bebas pada pasien dengan disfungsi seksual dan mereka yang memiliki risiko. Atau pada mereka yang dicurigai mengalami hipogonadisme, sebagai salah satu penyebab infertilitas pada pria. Disfungsi ereksi merupakan salah satu tipe disfungsi seksual,yang umumnya mencakup masalah libido, ejakulasi, disfungsi ereksi atau kombinasi dari semua tipe.

Berkurangnya libido dapat diakibatkan oleh penyebab organik atau psikologik. Keadaan ini sering disertai kadar testosteron serum yang rendah atau kadar prolaktin yang meningkat. Perubahan ini dapat terjadi secara primer maupun sekunder. Menurut beberapa literatur, kekurangan hormon testosteron akan menyebabkan penurunan kemapuan seks. Seperti terjadinya disfungsi ereksi yang berujung pada depresi dan ketidakmampuan untuk mendapatkan keturunan. Untuk mengatasi masalah ini, penderita dapat diterapi menggunakan hormone testosteron.

Penelitian terbaru menunjukkan perbaikan jangka pendek yang signifikan dalam kasus disfungsi ereksi, serta perbaikan jangka panjang dalam hasrat seksual dan kualitas hidup pasien, setelah terapi testosteron. Testosteron merupakan hormon yang sangat berpengaruh dalam kesehatan pria, terutama dalam kinerja organ seks. Testosteron juga diketahui merupakan hormon yang berpartisipasi dalam pembentukan otot dan suara berat pria, pertumbuhan rambut tubuh serta keseluruhan fungsi organ vital pria.

Perlu diingat bahwa tujuan terapi sulih hormon testosteron, adalah untuk meningkatkan konsentrasi testosteron dalam darah sampai di tingkat normal dan menyesuaikan pengobatan dengan kebutuhan individual pasien. Kisaran kadar testosteron normal untuk pria adalah 300-1000 ng/dl (AACE merekomendasikan 280-800 ng/dl). Biasanya, target terbaik untuk pemberian testosteron adalah mencapai nilai tengah kisaran normal, untuk menghindari puncak suprafisiologis yang berlebihan.

Terapi Testosteron

Terdapat beberapa sediaan testosteron di Indonesia, di antaranya testosteron intramuskular, testosteron tempel, gel transdermal, tablet bukal, pelet subkutan dan tablet atau kapsul oral. Testosteron intramuskular telah tersedia selama 50 tahun, dan biasanya merupakan pilihan pengobatan termurah. Testosteron ester, testosteron enanthate atau testosteron cypionate , bisa diberikan di klinik atau di rumah oleh pasien atau anggota keluarga lain. Karakteristik testosteron ester suntik: setelah suntikan, kadar testosteron serum naik sampai kadar suprafisiologis. Setelah itu, secara bertahap menurun sampai kisaran hipogonadisme pada akhir interval dosis.

Beberapa pasien menunjukkan variasi paralel dalam kelembutan payudara, aktivitas seksual, kestabilan emosi (marah atau depresi) dan kesehatan secara umum, ketika kadar testosteron berubah dari waktu ke waktu. Frekuensi suntikan biasanya satu kali setiap 2 minggu. Oskilasi pada kadar testosteron serum, bisa diturunkan dengan meningkatkan frekuensi suntikan menjadi sekali seminggu. Pada beberapa kasus, untuk mendapatkan konsentrasi testosteron dalam kisaran normal secara kontinu perlu penyuntikan dalam frekuensi yang lebih sering dengan dosis kecil. Fluktuasi suasana hati dan fungsi seksual, dapat ditekan dengan memberikan dosis rendah yang ditingkatkan secara perlahan.

Formulasi testosteron undecanoate, testosteron ester lainnya, sudah tersedia di Eropa dan negara-negara lain. Sediaan ini hanya memerlukan empat suntikan setahun, dan memiliki profil farmakokinetik yang superior dibandingkan formulasi testosteron injeksi lain.

Pada beberapa penelitian yang dilakukan terhadap pria hipogonadisme menunjukkan, ketika kadar testosteron kembali pada kisaran normal stabil, terjadi peningkatan libido, fungsi seksual, suasana hati dan tingkat energi yang lebih baik. Selama periode 6 bulan, dilaporkan terdapat penurunan massa lemak tubuh, peningkatan massa tubuh ramping, dan perbaikan IMT di bagian tulang pinggul serta tulang belakang. Perbaikan gejala lebih lanjut dapat terlihat setelah penggunaan testosteron jangka panjang. Beberapa penelitian menunjukkan, resistensi insulin membaik setelah pengobatan testosteron. Ini umumnya diyakini sebagai hasil penurunan massa lemak, setelah terapi testosteron.

Source : dari berbagai sumber

 

 

loading...

Previous post:

Next post: