Biji Chia, si Kecil yang Besar Manfaatnya

June 25, 2015

biji chia

Nama biji chia (chia seed) mungkin terdengar asing di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia. Tidak heran jika banyak yang belum mengenal biji chia karena biji-bijian yang satu ini memang bukan berasal dari Indonesia. Padahal jenis biji yang baru dikenal akhir-akhir ini memiliki manfaat yang besar bagi kesehatan, terutama melancarkan pencernaan dan memenuhi kebutuhan serat tubuh.

Kaya Nutrisi dan Serat

Berasal dari Amerika Latin, tepatnya di Meksiko dan Guatemala, biji chia sebenarnya merupakan biji dari tanaman mint berbunga biru yang memiliki nama latin Salvia hispánica. Biji chia merupakan salah satu sumber tanaman pangan penting serta sering diolah sebagai minuman bernutrisi di daerah tersebut. Tanaman yang merupakan herba tahunan tersebut biasa dibudidayakan untuk diambil bijinya sebagai bahan pangan yang kaya asam lemak Omega-3 serta kandungan serat sekitar 34.4 gram setiap 100 gram bijinya. Hingga saat ini terdapat dua jenis biji chia yang banyak dikenal orang yaitu biji chia putih dan hitam. Kedua jenis tersebut sebenarnya berasal dari jenis tumbuhan yang sama, hanya ditanam pada tempat yang berbeda. Namun beberapa penelitian menyebutkan bahwa kandungan antioksidan pada biji chia hitam lebih tinggi dibandingkan biji chia putih.

Chia dalam bahasa Suku Maya berarti ‘kekuatan’ dan dikenal sebagai ‘makanan pelari’ karena banyak dikonsumsi para pelari serta prajurit selama perang. Selain dapat dikonsumsi langsung, biji chia juga dapat ditambahkan ke dalam berbagai makanan dan minuman seperti smoothies, sereal, granola, yoghurt, serta adonan roti atau kue. Seorang guru yoga, Nick Arthur dalam bukunya ‘Cooking with Chia’ dalam laman Femina menyebutkan bahwa biji chia cocok mengantikan telur dalam adonan kue karena konsistensinya yang mirip telur, sangat bagus digunakan sebagai bahan pengembang dan pengikat.

Berbagai Manfaat Biji Chia

Kaya kandungan mineral seperti kalsium, zat besi, magnesium, kalium, dan fosfor yang baik bagi kesehatan tulang, chiaseed juga merupakan sumber vitamin B, protein, dan berbagai asam amino esensial seperti riboflavin, asam folat, serta triptofan yang penting untuk mengatur nafsu makan, pola tidur, dan menjaga mood. Selain itu kandungan serat dan berbagai nutrisi penting bagi tubuh dan otak membuat biji chia dinobatkan sebagai salah satu ‘healthiestfood on the planet’. Seperti dilansir Authority nutrition, biji chia juga kaya antioksidan yang berfungsi menangkal radikal bebas yang dapat merusak molekul sel serta berkontribusi dalam proses penuaan dini dan berbagai penyakit seperti kanker.

Saat dilarutkan dalam air atau air kelapa, biji chia dapat menyerap hingga 12 kali beratnya serta memberikan lapisan lendir yang kental. Larutan lendir inilah yang mengandung serat dan berguna dalam proses detoksifikasi untuk membantu mengeluarkan racun dari empedu dan usus. Selain itu lapisan seperti jel tersebut juga membuat cepat kenyang, sehingga bermanfaat menekan nafsu makan bagi mereka yang sedang berdiet dan menurunkan berat badan. Biji chia juga tinggi protein sehingga dapat menjadi salah satu alternatif sumber protein bagi para vegetarian yang tidak mengonsumsi protein hewani.

Manfaat lain yang bisa didapat dari biji chia adalah dapat meningkatkan metabolisme tubuh serta mengurangi resiko diabetes tipe 2. Hal ini didukung hasil penelitian dalam British Journal of Nutrition yang menyebutkan bahwa biji chia memiliki kemampuan menurunkan kadar gula darah serta mengurangi jaringan lemak perut (visceral) pada tikus percobaan. Namun tetap dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui hasilnya jika diterapkan pada manusia. Sebuah penelitian lain mengenai manfaat biji chia untuk kesehatan menyebutkan bahwa biji-bijian yang satu ini dapat menurunkan tingkat kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida, serta meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL) seperti dilansir Huffingtonpost, Kanada.

Menurut artikel yang dipublikasikan jurnal ‘Reviews on Recent Recent Clinical Trials’ disebutkan manfaat tanaman chia sebagai antikoagulan, antioksidan, dan memiliki efek antivirus sehingga bermanfaat dalam menjaga kesehatan terutama mengatasi kanker, penyakit jantung koroner, gangguan hormon, hipertensi, serta stroke.

Kemampuan biji chia dalam mengatasi kanker payudara dan serviks (mulut rahim) dipublikasikan dalam Journal of Molecular Biochemistry (2013) yang menyebutkan bahwa biji chia kaya akan Alpha Lineic Acid (ALA), suatu senyawa asam lemak Omega-3 yang berperan dalam mengurangi pertumbuhan sel kanker payudara dan serviks.

Efek Samping Biji Chia

Biji chia cenderung aman dikonsumsi, serta hanya memiliki sedikit efek samping yaitu perasaan kembung yang dirasakan setelah mengonsumsinya.

Hal ini biasanya wajar terjadi karena biji chia mengandung serat yang cukup tinggi sehingga menyebabkan rasa kenyang berlebihan pada sebagian orang. Selain kembung, tekstur kental mirip jel pada biji chia yang dilarutkan juga dapat menimbulkan perasaan mual pada beberapa orang sehingga dapat menyebabkan muntah atau gangguan saat menelan. Untuk menghindari hal tersebut, maka sebaiknya campurkan biji chia ke dalam minuman yang memiliki rasa seperti sirup, sehingga rasa hambar bijinya tidak terasa. Selain itu gunakan perbandingan biji chia dan air 1:10 atau sekitar 1,5 sendok makan biji chia ke dalam segelas air dan dibiarkan sekitar 30 menit hingga 2 jam sebelum dikonsumsi.

Sebuah studi kasus mengenai efek samping biji chia di Carolina’s Health Care System menyebutkan bahwa biji chia yang dilarutkan ternyata dapat memblokir saluran kerongkongan sehingga menyebabkan kesulitan menelan atau menyumbat saluran udara dan menimbulkan gangguan pernafasan. Selain itu biji chia dapat menyerap banyak air sehingga jika dikonsumsi tanpa dilarutkan sebaiknya diimbangi dengan memperbanyak konsumsi air untuk menghindari tubuh kekurangan cairan (dehidrasi) akibat penyerapan cairan tubuh oleh biji chia.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: