Berbahayakah Penggunaan Obat Tidur Alprazolam?

September 18, 2014

obat tidur alprazolam

Dalam pengakuannya di salah satu wawancara, seorang artis muda mengaku sering diberikan obat tidur oleh ibunya jika ia mengeluh tidak bisa tidur. Nama obat yang disebutkan tentu sudah tidak asing di telinga para insomniak. Namun, banyak yang tidak tahu bahwa alprazolam, kandungan obat tersebut, sebenarnya bukanlah obat tidur dan dapat menimbulkan kecanduan.

Sering Dikira Obat Tidur

Insomnia adalah salah satu gangguan tidur yang paling sering dikeluhkan masyarakat. Beberapa orang bahkan dapat mengalami insomnia setiap hari dan sepanjang malam. Akibatnya, manusia-manusia ‘kelelawar’ ini kerap mengantuk di siang hari dan produktivitasnya menjadi terganggu. Yang lebih berbahaya lagi, jika kantuk menyerang saat harus berkonsentrasi berkendara atau saat mengoperasikan mesin.

Jika Anda pernah mengalami insomnia, Anda pasti tahu bahwa sulit tidur itu menyiksa. Detak jarum jam seolah terdengar makin kencang, dan makin jauh jam bergerak, makin frustasi juga kita berusaha untuk tidur. Bayangkan jika hal ini terjadi setiap hari. Tidak heran jika penderita insomnia kronis memilih ‘jalan pintas’ demi memejamkan mata, yaitu dengan meminum obat tidur.

Obat tidur adalah sejenis obat yang menimbulkan sedasi atau perasaan damai yang akhirnya memunculkan narkosis atau tidur. Secara umum, obat tidur dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan benzodiazepin dan nonbenzodiazepin. Alprazolam adalah obat yang termasuk dalam golongan benzodiazepin.

Sebenarnya, alprazolam adalah obat yang disetujui penggunaannya oleh BPOM sebagai antiansietas, yaitu untuk orang-orang yang sering merasa cemas berlebihan atau mengalami gangguan panik. Namun, obat ini ternyata juga memiliki efek samping mengantuk. Akibatnya, alprazolam kini justru lebih populer sebagai obat tidur ketimbang sebagai obat antiansietas. Bahkan, alprazolam lebih banyak diresepkan oleh dokter sebagai obat tidur ketimbang obat yang memang digunakan sebagai obat tidur, seperti zolpidem. Padahal, obat golongan benzodiazepin terkenal dapat menimbulkan kecanduan yang sulit dilepaskan.

Bekerja di Otak

Alprazolam bekerja menimbulkan rasa kantuk dengan memengaruhi reseptor GABA, yaitu sejenis penghantar sinyal listrik saraf di otak yang menimbulkan efek menenangkan. Akibatnya, waktu yang diperlukan untuk tidur menjadi lebih singkat.

Meski demikian, obat ini tidak dapat membantu orang yang sering terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Berbeda dengan zolpidem yang dapat membantu penggunanya untuk mencapai tidur yang lebih nyenyak.

Banyak orang mengatakan, jangan terlalu sering minum obat tidur jika tidak perlu. Hal ini benar, karena meski menimbulkan efek jangka pendek yang menyenangkan, alprazolam ternyata memiliki efek jangka panjang berupa gangguan ingatan. Perlu diingat, pengguna alprazolam tidak perlu waktu lama untuk merasakan efek samping yang merugikan. Gangguan kemampuan kognitif (berpikir) adalah salah satu efek jangka pendek penyalahgunaan alprazolam. Orang dapat menjadi sulit untuk berbicara dengan baik dan terdengar seperti orang mabuk. Semakin tinggi dosis yang digunakan, bicara akan semakin pelo. Selain itu, dapat terjadi kebingungan dan disorientasi saat obat bekerja. Rasa mengantuk yang dihasilkan juga dapat bertahan selama tiga hingga empat hari, sehingga tentu tidak cocok untuk Anda yang harus bekerja di keesokan harinya.

Penggunaan alprazolam jangka panjang ternyata dapat cepat membuat Anda pikun. Ingatan dapat terganggu. Meskipun sifatnya ringan dan hanya mengenai memori jangka pendek, tapi hal ini akan terus berlanjut dan sulit dipulihkan. Karena itu, obat ini tidak cocok untuk orang muda yang masih aktif. Sedangkan pada orang tua, alprazolam dapat menyebabkan gangguan koordinasi, sehingga dapat menimbulkan jatuh dan kecelakaan termasuk saat berkendara pada lansia.

Efek samping yang lebih serius di antaranya reaksi alergi berat berupa ruam kulit, kejang, dan sesak. Dapat juga terjadi perubahan mood serta depresi. Kedua hal terakhir perlu diwaspadai, karena adanya efek samping ini mungkin menimbulkan dorongan bunuh diri. Karena itu, penggunaan dan peresepan alprazolam harus dilakukan secara sangat hati-hati.

Bikin Kecanduan

Satu hal yang perlu Anda garis bawahi saat hendak menggunakan alprazolam. Alprazolam dapat menyebabkan kecanduan, sama seperti kecanduan obat-obatan terlarang. Meski umumnya kecanduan terjadi pada dosis tinggi, dokter yang meresepkan juga harus ingat bahwa pasien terkadang menambah sendiri dosis obat tidurnya tanpa menanyakan terlebih dahulu ke dokter. Hal ini sangat berbahaya.

Ada orang yang awalnya hanya coba-coba menggunakan alprazolam untuk melihat efeknya. Alprazolam dapat membuat seluruh tubuh terasa rileks dan tidur terasa enak. Karena perasaan yang nyaman ini, mereka jadi semakin sering menggunakannya. Seiring waktu, tubuh tidak lagi bereaksi pada dosis tersebut, sehingga ia menambah dosisnya. Pada dosis yang lebih tinggi inilah ia kemudian akan mengalami kecanduan dan ketergantungan. Jika sudah begini, tubuh jadi tidak dapat bekerja dengan normal jika tidak menggunakan obat. Pengguna pun menjadi semakin sulit untuk melepaskan kecanduannya.

Risiko kecanduan akan lebih besar pada mereka yang pernah mengalami kecanduan alkohol atau obat-obatan lain. Oleh sebab itu, alprazolam biasanya tidak diberikan pada orang dengan riwayat seperti ini, meski sekarang ia sudah sembuh.

Cari Tahu Penyebab Insomnia

Untuk menghindari penggunaan obat tidur yang dapat menyebabkan kecanduan, ada baiknya untuk memeriksakan diri dan mencari tahu apa sebenarnya yang menyebabkan Anda mengalami insomnia. Penggunaan alprazolam harus berdasarkan anjuran dokter dan dosis yang diresepkan. Dosis biasanya disesuaikan berdasarkan kondisi penyakit, usia, serta respons terhadap terapi.

Alprazolam sebaiknya juga tidak diberikan sebagai obat tidur. Obat ini diberkan kepada mereka yang mengalami gangguan cemas atau panik. Pada kenyataannya, alprazolam seringkali diresepkan dokter untuk berbagai rasa tidak nyaman yang dikeluhkan pasien. Akibatnya, banyak pasien yang merasa tidak dapat menghadapi situasi hidup tanpa meminum obat ini. Kalaupun sudah berhenti meminumnya, banyak yang masih menyimpan tablet tersebut di kotak obat untuk “berjaga-jaga”.

Alprazolam masih boleh diberikan pada penderita gangguan panik saat atau sebelum mereka menghadapi hal yang dapat membuat hidupnya terganggu. Pemberian obat biasanya juga tetap disertai dengan terapi psikologis. Dengan demikian, penderitanya tidak bergantung pada obat dan dapat mengikis rasa cemas atau paniknya secara bertahap.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: