Berbahayakah Konsumsi Garam?

December 24, 2014

garam

Dalam dunia masak-memasak, garam menjadi bumbu andalan sebagai penyedap rasa masakan. Tanpa garam, masakan akan terasa hambar. Namun, mungkin sebagian dari anda merasa takut untuk menambahkan garam secukupnya ke dalam masakan karena garam dianggap berisiko pada kesehatan. Tetapi, bagaimana pula jika tubuh kita kekurangan garam, apakah kesehatan tubuh kita juga akan berisiko?

Garam dapur merupakan sejenis mineral berbentuk padat kristal putih yang memiliki senyawa kimia natrium klorida (NaCL). Garam terdiri dari 40% natrium dan 60% klorida. Kedua unsur ini sangat dibutuhkan bagi tubuh untuk kesehatan. Sumber utama penghasil garam adalah air laut. Garam sangat mudah menyerap air. Garam tidak hanya menjadi bahan untuk mengasinkan masakan, tetapi juga menjadi elemen penting yang dibutuhkan oleh tubuh. Asupan garam yang cukup akan menjamin tubuh Anda sehat.

Garam sangat penting untuk mengendalikan keseimbangan cairan di dalam tubuh. Itu kenapa, ketika kita makan makanan yang asin akan membuat kita merasa haus. Kita akan minum air yang banyak, untuk mempertahankan cairan dalam tubuh. Selain itu, garam akan membantu saraf dan otot berfungsi dengan baik. Garam yang cukup akan membantu mengatur tekanan darah tetap stabil.

Garam bisa membantu memicu produksi air liur dan cairan lambung sehingga baik sekali untuk mencerna makanan. Garam juga menjaga keseimbangan asam-basa dalam tubuh, meningkatkan penyerapan zat potasium, dan meningkatkan kemampuan darah untuk membawa karbondioksida dari jaringan menuju paru-paru untuk bernapas.

Kebutuhan Garam dalam Tubuh

Secara tidak sadar, kita mengonsumsi banyak garam dalam keseharian kita. Sebab, garam sudah ada dalam makanan yang kita makan, seperti makanan cepat saji, makanan olahan, makanan kaleng, biskuit, atau keripik. Biasanya, makanan-makanan tersebut sudah mengandung garam yang tinggi. Sementara asupan garam yang dibutuhkan oleh tubuh kita tidak boleh terlalu banyak.

Kebutuhan garam berbeda-beda, tergantung usianya. Asupan garam bagi anak-anak, terutama usia bayi dan balita, sebaiknya lebih rendah dibandingkan orang dewasa. Seorang balita usia 1—3 tahun tidak boleh lebih dari 2 gram garam dalam sehari. Anak-anak usia 11 tahun ke atas, asupan garamnya sekitar 6 gram atau sekitar satu sendok makan penuh dalam sehari.

Sementara bagi orang dewasa, Food and Drug Administration merekomendasikan untuk mengonsumsi garam tidak lebih dari 2.300 miligram dalam sehari. Kalau badan kesehatan dunia WHO menyarankan untuk mengonsumsi kurang dari 2.000 miligram/hari. Lalu orang dewasa di atas usia 51 tahun, disarankan mengonsumsi garam sebanyak 1.500 miligram/ hari. Konsumsi garam juga perlu dibatasi bagi mereka yang memiliki tekanan darah yang tinggi, diabetes, atau penyakit ginjal kronis.

Pro-Kontra Konsumsi Garam

Kandungan dalam garam memang sangat dibutuhkan bagi tubuh agar organ-organ dalam tubuh dapat berfungsi dengan baik. Namun, masih banyak yang pro dan kontra terhadap konsumsi garam. Di satu sisi, konsumsi garam berlebih akan menyebabkan tekanan darah meningkat. Hal ini pun bisa menimbulkan serangan jantung, demensia, hingga penyakit ginjal.

Dalam penelitian yang dilakukan ilmuwan dari Harvard School of Public Health, secara global ada sekitar 1,65 juta jiwa yang meninggal dunia akibat kardiovaskular pada 2010. Ini disebabkan konsumsi garam yang berlebih, di atas 2.000 miligram dalam sehari.

Tingginya tekanan darah akan meningkatkan tekanan di pembuluh darah dan sejumlah organ dalam tubuh. Contohnya kemampuan organ ginjal untuk membuang air akan berkurang karena jumlah natrium dalam darah meningkat akibat konsumsi garam yang berlebih. Tekanan darah tinggi karena cairan ekstra dan tingginya tekanan pada pembuluh darah halus menuju ginjal juga bisa merusak ginjal. Ginjal pun tak mampu lagi berfungsi dengan baik sehingga racun-racun yang tidak bisa dibuang akan meracuni organ-organ tubuh.

Tekanan darah yang tinggi juga bisa menyebabkan arteri menjadi sempit sehingga mengganggu peredaran darah ke seluruh tubuh. Organ-organ tubuh yang biasa menerima darah dari arteri akan kekurangan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan. Hasilnya, organ-organ tubuh pun akan rusak dan akibatnya bisa fatal. Misalnya, organ jantung pun akan mengalami gangguan karena darah yang dibutuhkan tidak sampai ke jantung akibatnya seseorang bisa mengalami serangan jantung. Perlu diingat, tekanan darah yang tinggi tersebut tidak secara langsung “membunuh” diri kita.

Konsumsi garam berlebihan memang akibatnya akan menjadi fatal bagi kesehatan tubuh. Namun, di sisi lain kita juga tidak perlu menghentikan konsumsi garam sama sekali atau menjadi anti pada garam. Sebab, kekurangan garam juga akan membahayakan bagi tubuh. Menurut Niels Graudal dari Copenhagen University Hospital di Denmark, kurang konsumsi garam bisa memicu respon sistem hormon yang mengatur tekanan darah dan keseimbangan cairan dalam tubuh.

Tubuh akan membuang natrium melalui air seni, keringat, ketika kita muntah, dan diare. Jika terlalu banyak natrium yang terbuang, tingkat cairan dalam darah akan menurun yang disebut dengan hiponatremia. Tidak hanya itu, tingkat natrium yang rendah akan membuat kram pada otot, mual, muntah, dan pusing. Bahkan kekurangan garam bisa menyebabkan tubuh syok, koma, hingga kematian.

Konsumsi Garam dengan Bijak

Terlalu banyak maupun terlalu sedikit mengonsumsi garam akan berisiko pada kesehatan. Untuk itu, sebaiknya gunakan garam dengan bijak dalam setiap makanan yang kita makan. Kita bisa menyiasati penggunaan garam dalam keseharian.

Dr. Suzanne Oparil dari University of Alabama di Birmingham menyarankan untuk mengonsumi makanan alami. “Masaklah makanan Anda sendiri daripada makan makanan fast food atau snack,” kata Oparil.

Kemudian, makanlah makanan yang kadar garamnya rendah atau makanan yang tidak menggunakan garam. Pada awalnya, rasanya akan terasa hambar, tetapi lama-kelamaan Anda akan terbiasa seperti kita meminum teh tawar. Tambahkan garam dalam masakan hanya jika diperlukan saja agar masakan terasa lebih enak. Jadi, konsumsilah garam dengan bijak.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: