Berbagai Manfaat Bawang Putih Sebagai Obat Tradisional

December 29, 2014

bawang putih

Bawang putih memang unik. Sering dikelompokkan sebagai makanan, juga dikelompokkan ke dalam obat herbal. Bahkan bawang putih termasuk salah satu tanaman yang paling awal digunakan sebagai obat tradisional sepanjang catatan sejarah manusia.

Memiliki nama ilmiah Allium sativum, tanaman bawang putih merupakan herba semusim berumpun dengan tinggi sekitar 60 cm. Tanaman ini menyukai lahan di kawasan pegunungan yang berlimpah cahaya matahari. Batangnya merupakan batang semu berwarna hijau. Umbinya berwarna putih, terbagi dalam siung-siung tersendiri yang masing-masing dilindungi bungkus yang tipis. Bawang putih memiliki daun yang memanjang pipih, sedangkan bunganya seperti payung berwarna putih. Bawang putih termasuk ke dalam suku Liliaceae atau bawang-bawangan, sama halnya dengan bawang daun dan bawang merah.

Bawang putih diyakini berasal dari Asia, terutama dari kawasan yang beriklim subtropik di wilayah Cina dan Jepang. Kemudian bawang putih menyebar ke seluruh Asia, Eropa, dan akhirnya ke seluruh dunia. Tidak diketahui pasti kapan tepatnya bawang putih masuk ke Indonesia, namun diyakini yang membawanya dahulu adalah para saudagar Cina dan Arab. Yang jelas, bumbu yang beraroma tajam ini segera populer untuk kuliner dan pengobatan tradisional di Indonesia. Di berbagai negara, bawang putih dimakan dengan diolah seperti dipanggang, dijadikan acar, dan banyak lagi cara pengolahan lainnya.

Allicin dan Bahan Aktif Lain

Jika bicara bawang putih, mungkin yang pertama kali muncul di benak kita adalah aromanya yang tajam dan khas. Aroma menyengat ini disebabkan bawang putih memiliki senyawa-senyawa sulfur (belerang). Allicin merupakan komponen bioaktif yang utama dari bawang putih. Komponen ini pertama kali dilaporkan oleh Cavallito dan Bailey di tahun 1944. Allicin merupakan zat kunci yang membuat bawang putih memiliki efek antibakteri dengan spektrum yang lebar. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa allicin berperan dalam menurunkan kadar lemak dan kolesterol dalam darah, mencegah pembekuan darah, menurunkan tekanan darah, memiliki efek antikanker, antioksidan dan antimikrobia. Penelitian lain menunjukkan bahwa saat allicin dicerna dalam tubuh, akan dihasilkan asam sulfenat, yang cepat bereaksi dengan radikal bebas. Karakter ini membuat bawang putih diyakini memiliki potensi antiaging yang baik.

Para peneliti memang menaruh perhatian lebih pada senyawa allicin ini dibandingkan bahan aktif lainnya di dalam bawang putih. Senyawa ini akan terurai menjadi beberapa senyawa sulfat yang berbau tajam dan bisa membuat napas berbau tajam. Senyawa sulfat tersebut bisa bereaksi dengan sel darah merah, menghasilkan sulfida hidrogen yang membantu melebarkan pembuluh darah sehingga melancarkan aliran darah. Pada kadar rendah, senyawa itu berperan penting dalam membantu komunikasi antar sel-sel tubuh. Bahkan senyawa itu juga bisa bekerja dengan mekanisme tertentu untuk melebarkan pembuluh darah. Ini menyebabkan menurunnya tekanan darah, memperbesar kapasitas darah untuk mengangkut oksigen ke organ-organ penting, serta mengurangi tekanan pada jantung.

Meski allicin ini sangat penting, namun komponen tersebut tidak ada pada bawang putih segar. Sifat kimia bawang putih sangatlah rumit, dan allicin merupakan suatu komponen yang tidak stabil. Tanaman bawang putih segar mengandung enzim yang disebut allinase dan alliin, yang terdapat di berbagai bagian, bukan hanya di umbi. Struktur unik tersebut merupakan mekanisme pertahanan bawang putih terhadap bakteri patogen yang ada di dalam tanah. Jika ada patogen tanah seperti jamur menyerang siung-siung bawang putih, maka membran akan terbuka dan dalam waktu 10 detik akan terjadi perubahan dari alliin menjadi senyawa baru yang disebut allicin.

Bawang Putih Sebagai Obat Tradisional

Dari ribuan tanaman obat yang digunakan di dunia, bawang putih termasuk salah satu yang tertua dan paling luas penggunaannya.

Bawang putih sudah lama diyakini memiliki khasiat obat, terutama dalam melawan penyakit infeksi seperti flu. Menurut Medical News Today, pemanfaatan bawang putih sebagai obat tradisional sangatlah banyak, dan penelitian modern menegaskan sebagian klaim akan khasiat tersebut. Situs Green Med Info membuat daftar pemakaian bawang putih sebagai obat tradisional, dan ternyata jumlahnya melebihi 150 jenis pemakaian.

Bawang putih cukup efektif dalam melawan bakteri yang resisten terhadap obat. Bawang putih juga menurunkan risiko penyakit jantung, termasuk serangan jantung dan stroke, membantu menormalkan kadar kolesterol darah dan tekanan darah. Berbagai studi awal juga menunjukkan bawang putih berpotensi memiliki efek antikanker, antara lain kanker otak, kanker paru, dan kanker prostat. Juga mengurangi risiko osteoartritis dan nyeri sendi.

Bawang putih juga mengurangi rasa nyeri dan meredakan gejala-gejala lainnya pada para penderita rheumatoid arthritis. Salah satu penggunaan tertua bawang putih adalah sebagai antibiotik. Bawang putih diyakini memiliki efek antibakteri, antijamur, antivirus, dan parasit. Bawang putih sering digunakan untuk mengatasi kondisi seperti kapalan, diare karena virus, dan bakteri Helicobacter pylori penyebab tukak lambung.

Tanaman Obat Tertua

Bukan tanpa alasan jika bawang putih disebut sebagai salah satu tanaman obat yang tertua di dunia. Banyak peradaban kuno di berbagai penjuru dunia yang memanfaatkan bawang putih dalam pengobatan tradisional. Sebut saja peradaban Mesir kuno dan situs-situs kuno di Yunani, diketahui sudah memakai bawang putih sebagai obat. Banyak resep obat tradisional dari Mesir, Yunani, Romawi, China dan India yang menggunakan bawang putih sebagai bahannya.

Di jaman Mesir kuno, bawang putih diberikan kepada para buruh kasar dan para budak untuk meningkatkan stamina. Beberapa sumber menyebutkan, para pekerja yang membangun piramida juga makan bawang putih untuk menambah kekuatan tubuh. Naskah kedokteran Mesir Kuno yang dsebut Papirus Ebers, membeberkan penggunaan bawang putih untuk pengobatan. Pada papirus tersebut bawang putih tercantum untuk untuk mengatasi masalah pada aliran darah dan penyakit karena infeksi serangga dan parasit. Bahkan ada juga awetan siung-siung bawang putih yang ditemukan di makam Firaun Tutankhamen yang berkuasa 1334-1325 SM.

Di Yunani Kuno, bawang putih dijadikan bagian dari menu harian untuk serdadu militer. Bawang putih diyakini membantu meningkatkan semangat dan keberanian mereka. Pada Olimpiade di Athena, para atlet pun mengonsumsi bawang putih untuk meningkatkan penampilan mereka.

Hippokrates yang disebut sebagai Bapak Kedokteran, juga meresepkan bawang putih untuk keluhan-keluhan di sekitar paru-paru dan perut. Pada masa Romawi Kuno (8 SM sampai 476 M), tabib utama dari pasukan Nero menyuruh penggunaan bawang putih untuk membersihkan pembuluh darah. Saat itu, sistem peredaran darah belumlah diketahui. Bawang putih juga digunakan untuk mengatasi gangguan saluran cerna, gigitan serangga, nyeri sendi dan kejang-kejang. Dalam buku kedokteran kuno Histórica Naturalis, dicantumkan 23 manfaat bawang putih untuk berbagai gangguan termasuk membersihkan racun dan beberapa jenis penyakit hati degeneratif.

Bangsa China dan Jepang

Bangsa China dan Jepang sejak dulu menggunakan bawang putih sebagai pengawet makanan. Bawang putih juga menjadi bumbu masak sehari-hari untuk berbagai jenis masakan. Bawang putih juga digunakan untuk mengatasi gangguan pernapasan, dan pencernaan, serta sebagai obat diare dan cacingan. Bawang putih juga diresepkan untuk membantu pasien depresi. Ada juga yang menggunakan bawang putih untuk meningkatkan vitalitas pria.

Bawang putih sudah dikenal dalam sistem pengobatan Ayurvedha sejak masa awal catatan sejarah India. Dalam naskah kedokteran berjudul Charaka-Samhita, bawang putih digunakan untuk mengobati penyakit jantung dan arthritis. Dalam sebuah manuskrip kuno yang dikenal sebagai manuskrip Bower, bawang putih digunakan untuk mengatasi kelelahan, parasit, penyakit pada saluran cerna, dan lepra.

Eropa dan Amerika juga tidak ketinggalan menggunakan bawang putih. Penyebutan bawang putih sebagai obat tradisional sangat menonjol pada manuskrip The Hortulus. Bawang putih diyakini bisa mengatasi sembelit jika dikonsumsi bersama minuman. Sementara itu pekerja yang banyak berada di luar rumah disarankan mengonsumsi bawang putih untuk mencegah sengatan panas.

Bawang putih juga ditanam di kebun-kebun tanaman obat di universitas-unversitas terkemuka, untuk diteliti khasiatnya. Seorang dokter abad 16, Dr. Pietro Mattioli dari Siena, meresepkan penggunaan bawang putih untuk gangguan pencernaan, batu ginjal, dan membersihkan rahim pasca persalinan. Penduduk asli Amerika menggunakan bawang putih untuk mengatasi gejala flu. Bawang putih digunakan pada katalog herbal Shaker sebagai penyegar, pelega tenggorokan, dan tonikum.

Singkatnya, penggunaan bawang putih sebagal obat tradisional memang sudah tua dan meluas sekali. Luasnya pemanfaatan tersebut memicu para peneliti modern untuk membuktikan klaim akan khasiat-khasiat tersebut.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: