Benarkah Sekarang Lebih Banyak Penyakit?

September 19, 2013

penyakit

Apakah sekarang memang lebih banyak jenis penyakit dibanding dulu? Tidak mudah menyamaratakan jawaban untuk semua jenis penyakit yang muncul. Kecenderungan itu bisa jadi memang betul. Apa dasar alasannya?

“Tubuh kita memang tidak didesain untuk menghadapi abad modern,” ujar Prof. Randolph Nesse dari Universitas Michigan. Sebagai tokoh “Darwinisme medicine” ia teguh pada pendirian, bahwa pola dan gaya hidup modern yang membuat lebih banyak orang sakit, selain jenis penyakit (baru) bermunculan.

“Penyakit manajer” yang di dunia medis dikenal sebagai “Manager’s diseases” merupakan bukti, bahwa ada ketidaksesuaian pasak dari tiang (mismatch) antara tubuh manusia dengan lingkungannya. Rumah sakit modern banyak merawat orang yang menjadi korban mismatch, yang kondisi fisiknya tidak lagi seperti nenek moyangnya dulu. Salah satunya, soal diet.

Tubuh kita sesungguhnya didesain untuk berjalan kaki 20 mil sehari untuk mencari makan dan minum. Dietnya dipetik dari alam dari jenis yang serba berserat, rendah lemak, dan amat sedikit garam dapur. Kultur makan seperti itu yang masih tersisa di zaman modern kita menemukannya pada orang Eskimo, suku dayak, dan suku-suku di pedalaman lainnya. Mereka tidak gemuk, tidak darah tinggi, tidak pula mengidap sakit jantung, atau kanker sebanyak orang modern.

Perjalanan evolusi manusia yang menyebabkan mengapa kebanyakan manusia sukar mematuhi nasihat kesehatan. Tubuh kita juga mudah beradaptasi untuk menyukai yang sebetulnya tidak sehat, seperti merokok, menu berlemak, dan kurang gerak. Itu sebabnya, penyakit-penyakit yang dulu tak muncul, kini bermasalah.

Manusia semakin jadi pecundang setiap kali menempuh perjuangannya melawan penyakit. Misal, kurang menu berserat, banyak lemak dan daging, tak lancar buang air besar yang banyak dikeluhkan orang modern merupakan penyebab mengapa kanker usus besar semakin meningkat pada orang modern.

Satu dari 11 orang di dunia mengidap darah tinggi. Suku Hunza di Pakistan rata-rata panjang umur. Mereka lebih banyak makan sayur, umbi-umbian, dan buah-buahan. Terbukti sekarang bahwa mereka yang vegetarian seperti suku yang rata-rata berumur panjang itu tensi darahnya lebih rendah dibanding orang yang menu hariannya banyak daging. Kita tahu daging dicerna lebih lama dibanding sayur. Untuk mengompensasi pencernaan itulah tubuh membutuhkan oksigen lebih banyak dalam metabolismenya.

Penyakit kultur modern menggiring kita makan lebih banyak garam dapur. Asin menjadi cita rasa dominan kultur modern. Asupan garam dapur orang Amerika, seperti juga kultur modern umumnya, rata-rata 9 Gram (hampir dua sendok teh), yang diperoleh dari makanan siap saji, restoran, dan makanan kemasan. Padahal, kebutuhan tubuh paling banyak hanya 2,5 gram saja.

Kelebihan sodium itu yang membebani tubuh, dan itu yang berakibat tingginya angka hipertensi di kalangan orang modern. Sebagai contoh, angka hipertensi penduduk di salah satu desa (yang kebanyakan suku Sunda) yang berobat ke puskesmas cukup tinggi. Selidik punya selidik ternyata asupan garam dapur hariannya sangat tinggi. Mereka yang rata-rata suku Sunda itu mengonsumsi lebih banyak ikan asin, dan menunya cenderung serba asin. Menu serba asin itulah yang membuatnya jadi darah tinggi. Darah tinggi ternyata bukan monopoli orang gedongan.

Sekarang di negara maju, seperti yang dilakukan di Amerika, para dokter berlomba menciptakan diet sehat DASH untuk mengendalikan hipertensi (Dietary Approach to Stop Hypertension). Dasar ilmiahnya menekan kandungan natrium (sodium) menjadi serendah mungkin, dengan pilihan menu lebih banyak sayur dan buah ketimbang dedagingan. Asupan sodium orang Amerika yang mengonsumsi 9 gram garam dapur sekitar 3,5 gram/hari. Itu jauh melebihi kebutuhan harian sodium tubuh.

Ketegangan hidup orang modern juga merangsang saraf simpatik (penggiat), akibat hormon stres adrenalin terus diperas membanjiri darah. Itu juga yang memacu tekanan darah orang yang hidup di kota besar menjadi lebih meningkat (diastolic hypertension), batas tekanan bawahnya cenderung terus meninggi.

Tidak jarang, orang modern yang sebetulnya tidak berbakat darah tinggi (sebagian hipertensi sebetulnya bawaan), tensinya berfluktuasi naik turun melompat-lompat secara tak terkendali. Diduga tensi yang liar begini disebabkan, antara lain, oleh konsumsi daging, lemak, kolesterol yang berlebihan. Pembuluh arterial cenderung menguncup (konstriksi). Kalangan medik menjuluki gejala ini sebagai kultur “McDonaldization”, ketika gerai burger di mana-mana dunia sudah merambah masuk desa-desa.

Dulu tradisi makan orang desa rata-rata bersumber dari ubi, singkong, jagung, yang oleh kultur orang modern berubah menjadi roti, makanan kaleng, penyedap, dan menu olahan. Pada saat yang sama, orang modern sendiri kini sudah mulai menyadari pentingnya mengubah menu yang kembali ke alam, dengan memilih sayur dan buah organik, makan gandum, umbi-umbian, dan menjauhi menu restoran dan makanan siap saji.

Orang modern belakangan ini banyak belajar dari cara makan orang Eskimo dan penduduk Okinawa, Jepang, yang lebih banyak mengonsumsi ikan. Dari orang Italia yang doyan makan kacang-kacangan. Dari suku Hunza yang panjang umur sebab menu utamanya dari alam. Sementara pada saat yang sama hampir semua hidangan menu modern banyak kehilangan zat gizi yang dikandung bahan alam. Sebagian zat gizi yang bersifat esensial.

Jangan anggap enteng kekurangan zat nutrisi dalam menu harian. Gejala orang modern menderita kekurangan gizi, bukan isapan jempol belaka. Kejanggalan itu terjadi lantaran cara kita merawat hidup sudah menyalahi kaidah hidup yang sesuai dengan desain tubuh kita. Struktur dan susunan gigi-geligi manusia saja sudah memperlihatkan kalau tubuh kita juga didesain untuk lebih banyak makanan berserat ketimbang makanan daging.

Kekurangan sejumlah vitamin, mineral, elemen, yang ternyata berpotensi memunculkan penyakit baru, atau penyakit yang seharusnya tidak perlu ada. Peran vitamin B6, B12, asam folat (folic acid) terhadap homocysteine, misalnya.

Belakangan ini diketahui kalau asam amino homocysteine yang ada dalam darah ini menyumbangkan efek pembentukan karat lemak pembuluh darah koroner maupun otak (Dr. David Tanne). Kadar homocysteine ternyata lebih tinggi dibanding orang normal pada orang-orang yang mewarisi gen itu. Maka faktor homocysteine merupakan penimbang lainnya yang menyokong terbentuknya karat lemak dinding pembuluh darah (atherosclerosis).

Kolesterol tinggi saja belum tentu membentuk karat lemak bila homocyteine tidak tinggi, atau bila tidak ada peradangan pembuluh, atau bila tak ada lemak jahat lainnya. Itu maka perlu dilihat kalau kejadian terbentuknya karat lemak disumbangkan oleh banyak faktor, selain oleh tingginya lemak darah saja.

Kadar homocysteine yang tinggi bisa ditekan oleh vitamin B6, B12, dan asam folat, yang murah dan mudah didapat dalam menu harian. Namun, bila menu harian kita kebanyakan menu olahan, bukan menu alam, bisa jadi berisiko kekurangan vitamin yang murah itu.

Begitu juga bahaya kekurangan elemen selenium, manganese, magnesium, kendati dalam takaran yang amat sedikit, tetap dibutuhkan demi kesehatan jantung, misalnya. Peran coenzyme Qio (CoQio) pada fungsi jantung demikian pula. Diduga, menu dan cara makan orang modern banyak menurunkan kecukupan zat gizi harian yang dibutuhkan tubuh. Sebagian zat gizi esensial, yakni yang tidak boleh tidak harus ada tersedia dalam menu, sebab tubuh tak bisa membuatnya sendiri.

Maka, teori yang menyebutkan bahwa tubuh kita diprogram untuk mampu hidup sampai 120 tahun, akan sia-sia saja bila tidak didukung oleh upaya perawatan yang optimal. Kunci besar untuk itu ada pada diet harian kita.

Sel-sel tubuh kita yang miliaran jumlahnya sudah kekurangan pasokan semua jenis zat gizi yang dibutuhkan tubuh akibat menu modern yang semakin tak lengkap itu. Lama-kelamaan “dapur” tubuh itu sudah tidak mampu lagi menyediakan semua kecukupan zat gizi tubuh kita lagi. Sel-sel tubuh lalu menjadi layu, lemah, dan tidak utuh lagi fungsinya.

Dengan cara itu kita dapat menjelaskan, sambil melihat fakta, bahwa masih ada sebagian orang Amerika (yang kita anggap sudah makmur hidupnya) ternyata masih kekurangan asupan kalsium, vitamin C, vitamin A, dan sejumlah mineral dan elemen lainnya, akibat menu harian yang semakin tidak bijak.

Maka perlu diluruskan sikap hidup kita, untuk mulai kembali ke fitrah desain tubuh sebagaimana sediakala kita tercipta. Kita sudah semakin sukar berkompromi dengan lingkungan yang sudah rusak tercemar oleh aneka pollutant dari mana-mana, dengan dosis yang tak bisa ditoleransi oleh tubuh kita lagi. Dan bila benar tubuh kita tidak didesain untuk menghadapi lingkungan yang sudah kuyup tercemar aneka polutan itu, maka cara paling bijak untuk hidup lebih panjang dan masih tetap sehat (healthy aging), tentu perlu mencari kembali lingkungan yang relatif masih bugar dan perawan.

Alangkah sehatnya apabila para usia lanjut, kaum pinisepuh, lebih memilih hidup di lingkungan pedesaan. Di sana secara fisik udaranya masih bersih, dan kandungan oksigennya masih tebal ketika udara di kota semakin tipis zat asamnya. Bahan makanan dari alam pun masih lebih sedikit terpolusi.

Selain itu air minum di pedesaan juga lebih kecil terpolusi logam berat, kuman, atau zat polutan lainnya. Lingkungan sosial pedesaan lebih bersesuaian dengan gerak hidup usia lanjut yang lebih alon. Irama hidup pedesaan lebih cocok untuk pikiran yang sudah memerlukan tetirah, pergaulan sosial yang lebih ramah dibanding beringasnya orang dan kehidupan kota.

Kalau saja memindahkan puntung kehidupan ini ke wilayah yang lebih bersesuaian dengan kondisi tubuh, jiwa, dan spiritualitas kaum sepuh, maka bukan mustahil kenyataan bisa meraih hidup panjang sampai 120 tahun, sebagaimana tubuh kita diprogram bisa sepanjang itu, akan bisa tercapai.

Selama ini kita semakin keliru merawat tubuh kita, sehingga rata-rata orang modern yang terus bergumul di kota-kota besar, dan menganut pola dan gaya hidup modern, cenderung menjadi lebih tua dari umur kalendernya, selain lebih sering sakit-sakitan yang sebetulnyalah tak perlu terjadi. Sepakatkah Anda?

 

 

loading...

Previous post:

Next post: