Bayi Rewel Terus, Apa yang Harus Dilakukan?

June 22, 2015

bayi rewel

Ira gelisah. Bayinya, Adit yang berusia 8 minggu, menangis terus menerus semalaman. Padahal, Adit minum susu, tidur, dan buang air besar serta kecil seperti biasa. Hanya saja, jika sudah menangis Adit akan terus meraung dan sulit didiamkan meski berbagai cara sudah dicoba. Selain itu, putra pertamanya ini juga sering gumoh setiap habis minum susu. Tidak hanya stress mendengar tangisan sang bayi, Ira juga jadi jatuh sakit karena kurang istirahat. Tidak tahan dengan kondisi ini, Ira kemudian memeriksakan Adit ke dokter anak.

Selalu Rewel

Sesungguhnya menangis adalah cara yang dilakukan bayi untuk berkomunikasi dengan orang tuanya. Namun, jika menangis jadi berlebihan, orang tua harus mencurigai adanya hal yang tidak beres pada bayinya, entah karena adanya distress atau keinginan si kecil yang tidak terpenuhi.

Menangis berlebihan yang tidak dapat dihentikan dengan dihibur dalam istilah medis disebut sebagai kolik. Di sisi lain, menangis juga dapat merupakan tanda bahwa bayi sedang lapar, mengalami nyeri, popoknya penuh, adanya rasa tidak nyaman misal terlalu banyak stimulasi, suhu ruangan yang terlalu dingin/panas, bayi lelah, dan sebagainya.

Tidak semua bayi mengalami kolik, dan tidak setiap kali bayi menangis disebut kolik. Diagnosis kolik pada bayi dapat ditegakkan jika bayi rewel terus menerus dengan intensitas meningkat, menangis yang dimulai dan berhenti tanpa penyebab yang jelas. Menangis ini dapat berlangsung selama tiga jam atau lebih setiap hari, dan berulang minimal 3 hari per minggu, serta terjadi pada bayi yang sehat tanpa gangguan pertumbuhan.

Menurut penelitian, kolik terjadi pada 5-20% bayi. Jumlah bayi penderita kolik yang minum ASI dan susu formula sama. Demikian juga pada bayi perempuan atau laki-laki. Penyebab terjadinya kolik belum diketahui secara pasti. Meski demikian, penyebabnya diduga berasal dari gangguan pada pencernaan si kecil. Misalnya akibat intoleransi makanan, kurangnya enzim pencerna susu, alergi protein susu sapi, gastro-esofageal reflux disease (GERD), dan ketidakseimbangan kuman-kuman di usus.

Jangan Langsung Ditidurkan

Umumnya, kolik pada bayi disebabkan oleh GERD. GERD adalah membaliknya susu atau makanan dari lambung ke kerongkongan si kecil. Pada bayi, kita sering menyebut hal ini sebagai gumoh. Untuk menghindari terjadinya GERD, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan. Di antaranya tidak memberi makan terlalu banyak pada bayi, memberikan susu formula yang dikentalkan, dan pemberian susu terhidrolisat. Selain itu, kita perlu memperhatikan posisi bayi saat memberikan ASI atau susu. Posisi mendatar dapat menyebabkan makanan keluar kembali. Karena itu, dianjurkan untuk memberi makan atau minum dengan posisi kepala ditinggikan. Setelah minum susu, bayi juga tidak dianjurkan langsung dibaringkan terlentang. GERD yang terjadi tidak sama dengan GERD pada orang dewasa. ‘Kalau dewasa mengalami GERD biasanya dengan pemberian obat antasid akan segera membaik.

Selain GERD, kolik juga dapat disebabkan oleh aktivitas laktase atau enzim untuk mencerna susu yang rendah. Secara fisiologis, fungsi saluran cerna bayi belum sempurna saat lahir, termasuk diantaranya produksi enzime laktase. Enzim yang tersedia untuk mencerna susu hanya memenuhi 70% kebutuhan bayi, dan hal ini berlangsung sampai bayi berusia kurang lebih 3-4 bulan. Akibatnya, susu yang diminum tidak tercerna dengan baik dan menjadi makanan bagi bakteri di usus. Proses pencernaan susu oleh bakteri ini akan menghasilkan gas di dalam usus. Gas ini selanjutnya menyebabkan kembung pada bayi, dan kemudian bayi menjadi rewel.

Picu Depresi Orangtua

Kolik sesungguhnya bukan hal baru. Pada abad 2 sebelum masehi (SM), seorang tabib bernama Galen pernah meresepkan opium untuk menenangkan bayi yang rewel.

Di Eropa pada abad pertengahan, ada banyak ibu dan perawat yang melapisi puting susu menggunakan lotion opium sebelum bayi menetek. Dan pada abad ke 19 dan 20, bayi dengan kolik diobati menggunakan obat-obat penenang seperti phenobarbital, diazepam, alkohol, dan antispasmodik. Tentu saja, penggunaan obat-obatan ini malah dapat menyebabkan komplikasi yang fatal sehingga tidak lagi dianjurkan.

Ibu-ibu yang memiliki bayi kolik biasanya memiliki cerita yang hampir sama. Periode menangis biasanya terjadi di malam hari. Hal ini disertai dengan kaki yang ditarik ke atas perut, wajah memerah, tangan mengepal, kening berkerut, dan menangis dengan nada yang tinggi.

Kolik tidak boleh dibiarkan begitu saja karena dapat memengaruhi stabilitas keluarga. Terutama kecemasan jangka pendek atau bahkan depresi pada ibu. Tidak hanya di situ, kolik dapat menyebabkan kelelahan dan stress pada kedua orangtua, bahkan tidak jarang menyebabkan perselisihan perkawinan. Selain itu, kolik pada bayi juga dapat menyebabkan ibu berhenti menyusui sebelum waktunya, bahkan ada juga yang berujung pada pelecehan atau kekerasan pada anak.

Untuk mengatasi kolik, diperlukan penanganan berupa modifikasi pemberian makanan atau susu. Beberapa penelitian menunjukan bahwa penghentian produk yang mengandung protein susu sapi dapat sangat membantu mengurangi kolik. Selain itu, perlu dilakukan modifikasi dengan pemberian makanan melalui botol. 68 persen bayi yang diberikan makanan melalui botol mengalami perbaikan.

Cara lain adalah dengan mengganti susu sapi menjadi susu kedelai atau susu yang terhidrolisasi. Susu formula yang mengandung casein terhidrolasi terbukti mampu mengurangi lama menangis menjadi 7,4 jam per hari hingga 2,5 jam per hari. Whey (air dadih) terhidrolisis juga dapat sangat mengurangi rata-rata lama menangis serta menurunkan jumlah episode kolik. Untuk membantu mencerna susu, pemberian laktase juga mampu menurunkan lama menangis hingga 45%. Selain makanan yang diberikan pada bayi, ibu yang menyusui juga dapat melakukan modifikasi pada makanannya. Konsumsi makanan rendah alergen pada ibu ternyata dapat menurunkan lama bayi menangis hingga 74%.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: