Bahaya Merokok, Hanya Slogan atau Realita?

September 11, 2014

bahaya merokok

Hampir semua keluhan tentang rokok biasanya tidak datang dari perokoknya, tapi orang lain yang ‘menjadi korban si perokok’. Para perokok sendiri mempunyai sekumpulan alasan demi mempertahankan semua ‘yang dianggapnya benar’. Akhirnya orang lain lelah dan putus asa untuk menghentikan kebiasaan pecandu rokok.

Satu hal yang perlu kita ingat: “tidak ada satu orang pun yang dapat merubah saya kecuali saya sendiri yang menginginkan perubahan itu dan membuatnya terjadi”.

Mungkin untuk menjadi langsing dan berhenti merokok tidak penting bagi banyak orang. Mereka tidak mempunyai alasan apa pun untuk berhenti ‘makan ngawur’ dan berhenti ‘mengepulkan asap rokok’ selain untuk ‘bikin senang’ orang lain. Sebaliknya, mereka punya sederet panjang alasan untuk tetap makan seperti apa yang diinginkan (“ga enak dong kalau ditraktir teman? Masa nolak sih”.. “abis makan sayur susah sih, ribet”,..”istri jarang membelikan, stok sayur sering habis”…“Hidup cuma sekali, kalau ini gak boleh, itu gak bisa,..apa nikmatnya hidup?”). Punya alasan juga untuk tetap menikmati setiap batang rokoknya (”ah,… teman kakek saya sudah 90 tahun ngerokok juga gapapa..”)

Yang bisa disampaikan sederhana saja: Jangan sampai pola makan akhirnya terpaksa harus diubah seketika itu juga setelah ’dihajar penyakit’. Padahal tidak ada penyakit yang datang mendadak. Begitu pula ’kenikmatan merokok’ pun akhirnya berujung henti mendadak ketika serangan jantung membuat perokok mendekam di Intensive Cardiac Care Unit, ICCU. Orang-orang seperti itu perlu dihadapkan pada pertanyaan: pentingkah buat saya untuk memulai hidup sehat dan berhenti merokok? Apa yang bisa menjadi perbedaan buat saya apabila saya menjaga berat badan dan mengurangi begitu banyak risiko penyakit?

Apa yang bisa menjadi perbedaan bagi saya apabila saya berhenti merokok selamanya? Sudah menjadi sifat dasar manusia, apabila ia tidak bisa menemukan apa yang menguntungkan bagi dirinya, mustahil ia akan memilih suatu tindakan.

Buat apa ’membuat orang lain senang’ terus. Barangkali cara ’membuat dirinya senang’ adalah dengan ’makan enak’ dan merokok dengan beribu pembenaran. Terkadang walaupun kelihatannya ’kejam’, justru ada waktunya bagi kita untuk berhenti menjadi seorang ibu (’mothering’) bagi siapa pun yang bukan lagi berstatus di bawah umur. Berhentilah ’membuat mereka sadar’ atau ’berubah’. Hanya mereka sendirilah yang perlu berjuang bagi diri mereka dan mengambil risiko apa pun dari keputusan-keputusannya.

Tapi bukan berarti kita membiarkan mereka meracuni diri kita dengan asap rokok. Kedengarannya cukup banyak orang Indonesia yang membiarkan dirinya menjadi ‘korban’, seakan-akan tidak ada pilihan sama sekali. Tentu saja ini sangat tidak benar. Pilihan tetap ada. Untuk membuat klien tidak merokok di depan anda misalnya, banyak sekali jalan yang bisa ditempuh. Justru yang menjadi hambatan adalah anda sendiri – yang ’merasa’ bahwa menegur orang untuk tidak merokok adalah hal yang tidak sopan.

Suatu perbuatan yang nyata-nyata tidak berguna bahkan memberikan kebiasaan serta dampak buruk, tidak mungkin diatasi dengan kompensasi apa pun. Artinya, tidak ada makanan atau suplemen yang bisa ’menutup’ efek buruk rokok. Satu-satunya cara adalah berhenti merokok dan jadi korban para perokok. Sebagai kebalikannya, jadilah bertanggung jawab. Saya bertanggung jawab terhadap kesehatan saya dan orang lain dengan sikap yang saya tunjukkan.

Iklan rokok sama sekali bertolak belakang dengan kenyataan yang didapat di kemudian hari. Dengan merokok, tidak ada jaminan seseorang merasa nyaman – itu hanya hal yang sifatnya subjektif dan sangat individual. Orang bisa merasa nyaman dengan duduk berkaos oblong di depan rumah sambil merawat tanaman atau hewan kesayangan. Alasan merokok untuk kelihatan seksi dan macho menggelikan karena laki-laki macho berani menghadapi apa pun tanpa perlu kabur dengan mengisap rokok barang 10 menit.

Pada waktu merokok, yang dihisap adalah 4000 bahan kimia, termasuk penyebab penyakit kanker: naphthylamine, pyrene, cadmium (seperti pada baterai), benzopyrene, vinyl chloride (bahan pralon), polonium-210, dibenzacridine dan urethane. Masih ada pula acetone (penghapus cat), methanol (bahan bakar roket), naphtalene (kamper), butane (bahan bakar korek api), arsenic (racun semut putih), toluene (pelarut industri), ammonia (pembersih lantai) dan hydrogen cyanide (racun untuk hukuman mati).

Asap rokok juga mengandung gas karbon-monooksida (CO) yang jauh lebih mematikan dari sekadar karbon-dioksida (CO2). CO akan tetap beredar dalam udara bebas walaupun si perokok jauh. Celakanya, CO tidak berbau, tidak berwarna, tidak nampak. Namun begitu CO dihirup, masuk paru-paru dan bersentuhan dengan sel darah merah yang di dalamnya terdapat hemoglobin (Hb) maka Hb akan langsung lengket dengan CO. Padahal, Hb fungsinya adalah mengikat, membawa oksigen ke seluruh tubuh. Hb yang sudah ’lengket’ dengan CO tidak lagi mampu mengikat O2 sehingga tubuh kekurangan O2. Pada anak yang sedang tumbuh atau bayi dalam rahim maka pertumbuhannya akan terhambat, dari kecerdasan hingga kesehatannya secara keseluruhan. Pada orang dewasa, pembuluh darah akan lekas menyempit karena perlu berhemat oksigen yang sangat minim beredar.

Jadi, satu-satu nya tujuan merokok pada akhirnya adalah untuk membuktikan kemungkinan bagi si perokok dan orang lain untuk mengidap semua penyakit yang sudah dijanjikan oleh produsen rokok seperti yang tercantum pada kemasan hingga iklan rokok. Kita bisa berhitung berapa banyak biaya dihemat dari kebutuhan berobat dan angka insidens penyakit kanker yang dapat ditekan atau bayi dengan berat badan lahir rendah tidak akan terjadi kalau saja negri ini bebas rokok. Belum lagi penghematan yang bisa dilakukan seorang ayah bila berhenti rokok dan mengalihkan dananya demi lauk anak-anaknya atau pendidikan yang lebih. Sayangnya, memang ada kepentingan-kepentingan lain yang tetap masih bermain dalam percaturan ekonomi dan bermakna politis. Sesungguhnya, menutup pabrik rokok bukan berarti memberhentikan pegawainya, melainkan tetap mempekerjakan pegawainya untuk sektor industri yang lain.

Menghadapi perokok, kadang persis seperti halnya kita menghadapi pecandu atau penjudi. Adiksi terhadap jenis makanan tertentu atau rokok bukan hanya sekadar masalah emosional, tetapi juga pada akhirnya saraf menghasilkan protein yang disebut delta-Fos-B. Protein ini akan menumpuk pada sel-sel saraf dan efek terburuknya: menjadi saklar genetik yang memberi “kerusakan” otak. Sekalipun perilaku ketagihan/adiksi itu berhasil dikendalikan, perubahan menetap tak terelakkan akibat kerusakan saklar genetik yang memengaruhi sistem dopamin. Dengan kata lain, adiksi terhadap narkoba maupun adiksi untuk makan secara kompulsif memberikan perubahan kimia yang sama pada otak.

Apabila keinginan untuk mencintai lebih besar dari keinginan untuk mengakibatkan masalah kesehatan pada diri dan orang lain, maka langsunglah berhenti. Sakaw? Bisa jadi. Apapun drama yang diciptakan (termasuk nafsu makan jadi tambah, takut gendut, mulut rasanya asem, kerja nggak kosentrasi) – ingatlah bahwa anda harus berhenti karena cinta.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: