Bahaya Kalau Berdiet Kebablasan

December 29, 2013

berdiet

Seorang ibu terserang penyakit lumayan berat memasuki usianya yang ke 80 tahun. Di rumah, kondisi penyakitnya memburuk dengan cepat sehingga memerlukan perawatan rumah sakit. Pemeriksaan laboratorium darah menunjukkan ibu ini kekurangan sejumlah zat selain mineral. Melihat penampakan fisiknya, ibu ini juga anemia. Dibanding derajat dan jenis penyakit yang dideritanya, kelihatan ibu sangat jauh lebih menderita. Mengapa?

Ternyata si ibu sangat ketat menjaga makannya. Sejak usia muda, selain porsi makannya tidak banyak, ia sangat menjauhi segala jenis makanan yang menurut nasihat dokter tergolong jenis yang harus dipantang. Sangat patuh membatasi konsumsi minyak, lemak, susu, keju, dan semua yang serba daging.

Dibilang vegetarian juga bukan. Saking amat ketat berdiet, berat badannya di bawah rata-rata. Kebiasaan menu hariannya lebih banyak rebusan, tim, pepes, dan menjauhi ikan, apalagi daging. Takut sekali makan telur dan jarang makan gorengan.

Lesu, letih, dan lemah

Ibu ini mengaku jarang sekali sakit. Paling sering masuk angin. Namun, menurut anaknya, hampir setiap hari mengeluh kurang bertenaga, sering lesu, dan lekas letih. Ini jenis keluhan kebanyakan orang yang gizinya tidak cukup.

Kalau bangun tidur badan seperti kurang bugar. Rasanya tidak cukup tidur, padahal lama tidurnya lebih dari normal. Bangun tidur badan terasa masih pegal, terkadang ngilu, dan tak kuat banyak jalan. Baru sekali masuk mal, rasanya seperti habis berolahraga berat. Pulang piknik, esoknya perlu lebih banyak tidur, dan minta dipijat.

Bukan saja mineral darahnya di bawah normal, kadar kalsium darahnya juga rendah. Bisa dipastikan kadar trace element-nya, yakni jenis mineral yang berjumlah belasan jenis, sebagian bersifat tidak boleh tidak ada dalam makanan, juga di bawah normal. Padahal, mineral dan trace element dibutuhkan untuk metabolisme, pembuatan hormon, enzim, selain membantu keija organ-organ vital tubuh, termasuk fungsi jantung.

Rata-rata orang modern yang makannya normal saja pun berisiko kekurangan zat gizi karena menu harian orang sekarang tak lengkap lagi kandungan zat gizinya. Belum kalau menunya tergolong monodiet (satu-dua menu saja di meja makan). Padahal, untuk memenuhi kebutuhan 40-an zat gizi yang tubuh butuhkan, diperlukan lima-enam jenis menu sekali santap, di luar empat-lima porsi sayur dan buah.

Hal lain, kendati menu harian serba lengkap pun, beras, jagung, kentang maupun sayur-mayur serta buah, sudah tak lengkap lagi kandungan zat gizinya. Lapisan atas tanah (topsoil) sudah kritis. Padahal, lapisan subur tanah ini yang memberi kelengkapan zat gizi pada tanaman atau tumbuhan yang bertumbuh di atasnya. Termasuk bagi ternak pemakan rumput dan dedaunan di atasnya.

Hal tersebut sudah terjadi di semua negara bagian di Amerika Serikat. Lapisan tanah yang kaya dengan mineral ini sudah luruh memasuki sungai dan danau. Itu berarti semua budidaya, termasuk ternak pemakan rumput, tidak terpenuhi kecukupan zat gizinya. Sebut saja kandungan zat gizi dalam bayam, apel, kentang, jagung yang ada sekarang tidak persis lagi selengkap tiga dasawarsa lalu.

Jadi, apabila menu hariannya hanya satu dua macam saja, dan kenakeragaman bahan makanannya pun terbatas, kelengkapan konsumsi tubuh belum tentu terpenuhi kandungan semua zat gizi yang tubuh butuhkan. Tubuh terancam kekurangan gizi.

Kita tahu, di antara kekurangan zat gizi dari makanan, ada yang bersifat esensial. Artinya tidak bisa tidak ada dalam menu harian, karena tubuh tak bisa membuatnya sendiri. Ada puluhan jenis protein esensial (asam amino), selain ada lemak esensial juga yang harus ada dalam menu harian. Kekurangan jenis-jenis zat gizi esensial, mengganggu fungsi organ tubuh. Mesin tubuh jadi pincang berputar. Mungkin tidak sampai jatuh sakit. Keluhan lesu-letih-lemah itu bisa jadi datang dari tubuh yang sedang kekurangan zat gizi.

Gangguan kulit, gangguan kerja jantung, gangguan mata, dan kerja usus, misalnya, bukan tak mungkin gara-gara kekurangan suatu zat gizi. Sebut saja peran mineral alit selenium terhadap kerja jantung, atau zinc terhadap prostat, dan chromium terhadap kencing manis. Padahal, semua itu mestinya terkandung dalam menu harian.

Bukti bahwa orang yang hidupnya kecukupan bisa menderita kurang gizi, sudah dibuktikan oleh Departemen Pertanian AS sejak tiga dasawarsa lalu. Sebagian orang AS kedapatan kekurangan kalsium, vitamin A, vitamin C, selain sejumlah trace elements yang hilang dari menu modern.

Berdiet dan takut makan

Belajar dari kasus ibu di atas, besar kemungkinan sudah sekian tahun ibu kekurangan sejumlah zat gizi akibat terlampau ketat berdiet tanpa alasan yang jelas. Bahwa orang dengan kadar lemak darah (lipid) tinggi perlu membatasi lemak, benar adanya. Bahwa orang kencing manis harus membatasi gula, jelas alasannya. Namun, tidak berarti sama sekali tidak boleh. Tubuh tetap membutuhkan semua jenis lemak termasuk lemak jenuh (jahat) dan kolesterol sekalipun untuk membuat hormon, enzim, dan pemeliharaan kulit.

Tubuh juga membutuhkan protein untuk memelihara sel, dan menjaga daya tahan tubuh. Kalau bukan dari makanan, dari mana kecukupan 40-an zat gizi yang harus ada dalam makanan, tubuh bisa dapatkan. Jika lemah daya tahan tubuh, malah gampang sakit. Pulang jalan-jalan dari mal, atau kembali dari pesta, langsung “masuk angin”. Bisa jadi lantaran daya tahan tubuh yang lemah.

Melihat menu modern dan gaya makan orang sekarang, tidak berdiet pun tubuh berisiko kekurangan zat gizi. Selain akibat tidak lengkap terpenuhi 40 jenis zat gizi, tercukupi pun belum cukup kalau porsinya kurang. Maka, melihat pola dan gaya makan orang sekarang, cenderung berisiko kekurangan lebih dari satu jenis zat gizi.

Namun, sayangnya, penyakit kekurangan zat gizi orang modern tidak selalu nyata keluhan dan gejalanya. Kelihatannya saja normal, namun kalau diperiksa ada yang kurang. Yang kurang itu bisa tampak sebagai tanda dan gejala (rabun senja, kulit bersisik, lekas katarak), atau muncul sebagai gangguan jantung (kekurangan kalium, natrium, atau selenium), gangguan pemakaian gula darah (chromium), atau sama sekali tidak terasakan kalau darah tidak diperiksa.

Apalagi kalau pantangnya ketat. Selain zat gizi yang tubuh butuhkan tidak lengkap, sekaligus porsinya tidak mencukupi. Padahal, dengan berubahnya gaya hidup, sebut saja faktor stres, kebutuhan tubuh akan vitamin C jauh bertambah. Demikian pula kebutuhan akan antioksidan yang tubuh dapatkan dari beta carotene (calon vitamin A), vitamin E, selain vitamin C untuk meredam polusi radikal bebas (free radicals).

Hal lain, kendati zat gizi dalam mena harian lengkap, belum tentu mencukupi bila penyerapan oleh usus sudah menurun dengan bertambahnya usia. Kendati makannya banyak dan lengkap jenis zat gizinya, namun tidak semua zat gizi yang kita makan diserap utuh oleh usus. Demikian lazimnya terjadi dengan kalsium. Hanya kalsium dalam susu yang diserap lebih sempurna.

Periksa darah dan “hair analyisis”

Untuk membuktikan tubuh kekurangan salah satu atau lebih zat gizi perlu dilakukan pemeriksaan darah. Terbukti kalau ibu di atas betul menderita kekurangan gizi saat diperiksa darah di rumah sakit. Sejumlah zat gizi sudah sangat berkurang. Selain banyak organ tubuhnya yang terganggu fungsinya, atau fungsinya tidak optimal, sebagian sudah mengganggu sebagai sebuah entitas penyakit, seperti tak sempurnanya kerja otot dan persendian.

Bukti bahwa memang si ibu sudah kekurangan sejumlah zat gizi, menjadi nyata benar ada ketika setelah diberikan makanan lewat sonde (selang langsung dimasukkan ke lambung) sebab tidak bisa makan normal. Kita tahu paket menu makanan sonde berisikan bukan saja menu lengkap tinggi kalori tinggi protein, melainkan takarannya pun dihitung sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Setelah beberapa hari di rumah sakit dengan makanan sonde serba bergizi, kondisi si ibu yang tadinya lesu-letih- lemah, berangsur menjadi lebih segar. Yang tadinya tidak bereaksi bila ditanya, setelah seminggu diberi asupan gizi
yang berkualitas, berangsur mulai berekspresi, dan penyakit pokoknya berangsur pulih, lalu bisa pulang dari rumah sakit dengan kondisi yang jauh lebih segar.

Kapan perlu suplemen?

Sering orang bertanya, kapan perlu suplemen? Banjirnya produk suplemen sekarang berangkat dari alasan semakin miskinnya kandungan zat gizi menu orang sekarang sebagaimana dipublikasikan oleh temuan Departemen Pertananian AS sejak tiga dasawarsa lalu. Bahkan dibuat pula larutan “garam” khusus pengganti sejumlah mineral dan trace elements yang diperkirakan telah hilang dari tanah di bumi sekarang ini. Garam tersebut diambil dari danau tempat luruhnya lapisan atas tanah yang kaya akan mineral.

Jadi, kalau ditanya apa perlu mengonsumsi suplemen, tentu perlu apabila dari menu harian kita tidak lengkap dan cukup memenuhi kebutuhan seluruh zat gizi tubuh. Tergantung apa jenis zat gizi yang diperkirakan kurang, suplemen itu yang perlu ditambahkan.

Mereka yang berisiko osteoporosis perlu lebih banyak suplemen kalsium. Yang gangguan prostat dan organ reproduksi perlu suplemen zinc, yang gangguan jantung waspada jika kekurangan natrium, kalium, dan kalsium juga, selain selenium. Pengidap kencing manis perlu cukup chromium, dan seterusnya.

Itu bagi yang makannya normal dan tidak pantang. Perlu perhatian lebih bagi yang berdiet ketat, atau banyak menu yang tak disukainya, perlu lebih menambahkan beragam suplemen. Paling kurang suplemen dasar, seperti multivitamin-mineral, antioksidan (beta carotene, vitamin E, dan vitamin C), serta kalsium yang rata-rata orang Indonesia berisiko kekurangan sebab sudah berhenti minum susu (sumber kalsium terbaik) sejak usia balita.

Kita perlu merasa niscaya, bahwa sebagian dari sosok kesehatan tubuh kita, termasuk kesehatan jiwa dan sosial, banyak ditentukan oleh apa yang kita makan. Sekali lagi, bahwa kesehatan itu ada di dapur, dan bukan di restoran. Mengapa?

Oleh karena menu restoran itu tergolong menu tak seimbang. Menu yang lebih banyak kandungan lemak, gula, garam, dan zat aditif lainnya yang tidak menyehatkan, selain membuat tubuh tambun, namun berisiko kekurangan gizi. Risiko kekurangan gizi bertambah hebat jika memilih berdiet serba ketat tanpa alasan jelas.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: