Bahaya Emboli Air Ketuban

February 5, 2014

air ketuban

Air ketuban yang berfungsi melindungi janin ternyata dapat membahayakan bahkan mengancam jiwa ibu hamil, yaitu ketika masuk ke dalam pembuluh darah dan menciptakan emboli. Emboli ini akan menghambat kelancaran sirkulasi darah sehingga dapat mengakibatkan terjadinya gagal pernafasan, gagal jantung, sampai pendarahan

Paska melahirkan seharusnya menjadi saat yang berbahagia bagi sang ibu dan keluarganya. Namun, kegembiraan ini bisa berubah drastis dalam sesaat ketika ibu yang melahirkan mendapatkan emboli. Baru-baru ini heboh kasus seorang ibu di Manado yang meninggal sehabis melahirkan. Menurut para ahli, kemungkinan kematian disebabkan oleh emboli air ketuban. Apa sebenarnya kondisi medis yang membuat seorang dokter dipenjara itu?

Jarang Terjadi Kasus Emboli Air Ketuban

Emboli air ketuban memang berpotensi menimbulkan kematian mendadak pada ibu bersalin. Kondisi ini sebetulnya jarang terjadi, baik di Indonesia maupun di Negara Amerika dan Eropa. Menurut Dr. Yudianto Budi Saroyo SpOG(K), pakar Fetomaternal, Departemen Obstetric dan Gynecology FKUI/ RSCM, emboli air ketuban diartikan masuknya air ketuban ke dalam jaringan pembuluh darah ibu hingga menciptakan emboli yang menghalangi sirkulasi. Emboli bisa muncul selama kehamilan atau sesaat setelah persalinan.

Meski kasusnya jarang ditemukan, emboli air ketuban bisa bersifat fatal bagi penderitanya. Pada tahun 2000 hingga 2002 di Inggris, emboli air ketuban merupakan penyebab kematian ke tujuh. Setidaknya terjadi 60 kematian, dimana 8% diantaranya merupakan kematian langsung pada ibu. Sementara di Perancis, 13% kematian disebabkan oleh emboli air ketuban, hingga dikatakan sebagai penyebab ketiga kematian tertinggi, di negara tersebut. Di Singapura, lebih dari 30% kematian maternal langsung disebabkan oleh emboli air ketuban. Sementara di Amerika Serikat dan Australia, emboli air ketuban bertanggung jawab pada sekitar 7,5% dan 19% kematian maternal.

Gejala dan Faktor Resiko

Emboli air ketuban dicirikan dengan turunnya tekanan darah secara tiba- tiba (syok), turunnya kesadaran, dan terjadinya pembekuan darah tersemi (disseminated intyravascular coagulation/DIC). Emboli biasanya terjadi saat persalinan atau sesaat setelah persalinan (kurang dari 30 menit). Jarang dilaporkan kejadian lebih dari 48 jam. Dapat juga terjadi saat ketuban pecah, beberapa kasus bahkan lebih lambat lagi terjadi setelah 48 jam setelah proses kelahiran.

Faktor risiko emboli air ketuban cukup banyak, yaitu usia ibu lebih dari 35 tahun, persalinan presipitatus (persalinan cepat), persalinan caesar, persalinan dengan vakum dan forceps, plasenta previa, dan eklampsia. Faktor yang lain adalah grande multipara, laserasi serviks, fetal distress, dan induksi persalinan.

Sangat Bahaya

Terjadinya emboli air ketuban pada saat persalinan disebabkan oleh robeknya selaput ketuban dan banyaknya pembuluh darah uterus yang terbuka, sehingga air ketuban pun dengan gampangnya masuk ke dalam pembuluh darah tersebut kemudian terbawa hingga menuju rongga jantung dan diteruskan ke arteri pulmonalis. Pada saat cairan tersebut masuk ke pembuluh darah akan terjadi syok anafilatik, dimana reaksi tergantung dari lokasi hambatan.

Bila emboli air ketuban cukup untuk menyumbat kedua arteri, kematian bisa segera terjadi. Jika hanya menyumbat 1 arteri, kemungkinan tidak langsung terjadi kematian. Namun, bila emboli air ketuban cukup meluas, kematian dapat terjadi dalam beberapa jam hingga beberapa hari kemudian. Efek lainnya, untuk mengatasi sumbatan ini, jantung berkontraksi lebih kuat. Lama-kelamaan jantung lelah dan terjadi gagal jantung. Risiko lainnya adalah terjadi perdarahan. “Gagal nafas, gagal sirkulasi dan perdarahan adalah 3 hal yang paling ditakutkan dokter kandungan,” bebernya.

Diagnosis

Diagnosis emboli tidak mungkin ditegakkan sebelum pasien meninggal, tutur Dr. Yudi. Namun paling tidak dokter mengetahui manifestasi klinis yang ada. Berdasarkan riset, gejala paling banyak timbul akibat adanya emboli adalah hipotensi karena syok kardiogenik, hipoksemia dan kegagalan pernafasan, disseminated intravascular coagulation (DIC), serta kejang atau koma. Syok atau koma biasanya terjadi jika benda asing dari janin tersebut sudah masuk hingga ke otak.

Menurut Dr. Yudi, ada beberapa keadaan lain yang menggambarkan gejala akibat emboli, misalnya lepasnya plasenta sebelum waktunya (solusio plasenta), rupture uteri, atonia uteri, eklamsia, peripartum kardiomiopati. Sementara dari bidang anastesi ditandai dengan spinal yang tinggi, dan anastesi local toksikasi. Kondisi lain bisa merupakan manifestasi emboli seperti emboli paru, emboli udara, anafilaksis, syok sepsis, aspiratif massif, reaksi transfuse dan infark miokard.

“Dalam menegakkan diagnosis emboli air ketuban, semata-mata hanya berbasis pada klinis, sehingga dibutuhkan kepekaan dokter untuk menentukan bahwa ini suatu emboli atau bukan. Dibutuhkan kerjasama multidisiplin ilmu dokter dan juga rumah sakit untuk melakukan pertolongan pada kondisi ini.”

Kerjasama Holistik

Emboli air ketuban merupakan kejadian yang tidak dapat diperkirakan dan dicegah. Kejadiannya sangat jarang (muncul pada 8.000 sampai 80.000 kelahiran). Istilah kerennya unpredictable dan unpreventable. Tidak terdapat penatalaksanaan yang bersifat spesifik, karena sangat bergantung dari kondisi lokal setiap rumah sakit di Indonesia baik kemampuan teknologi serta tenaga profesionalnya.

Dr. Yudi mengatakan, penanganan emboli air ketuban memerlukan kerjasama yang baik dari beberapa multi disiplin ilmu. Ketika pasien mengalami gangguan nafas atau gangguan sirkulasi maka tenaga yang dibutuhkan bukan hanya dokter kandungan, tetapi diperlukan dokter anastesi, dan begitu terjadi gangguan koagulopati dibutuhkan juga dokter penyakit dalam.

Langkah awal, untuk mengkoreksi hipoksemi dan hipotensi, dilakukan pengkajian awal yang meliputi, saturasi hemoglobin, frekuensi nadi dan ritme, serta frekuensi nafas dan tekanan darah. Perlu juga pemasangan kateter arterial dan vena sentral, oksigenasi, support hemodinamik, dan obat-obat vasoaktif. Dibutuhkan juga darah karena biasanya terjadi kegagalan pembekuan yang mengakibatkan perdarahan. Pasien juga membutuhkan cairan IV, yang mengharuskan pasien masuk di Intensive Care Unit (ICU). Selanjutnya, perlu dilakukan pemantauan terhadap sistim jantung, pernafasan, saluran cerna, sistim pembekuan darahnya dan juga tingkat kesadarannya.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: