Bahaya Dibalik Gurihnya Mie Instan

June 17, 2015

bahaya mie instan

Siapa yang tidak kenal mie instan? Walau sering disindir sebagai makanan bencana alam, nyatanya mie instan tersimpan di hampir setiap rumah. Dari anak kecil hingga orang lanjut usia menyukai mie instan. Selain rasanya yang gurih, mie instan juga praktis dan hanya butuh waktu singkat untuk disiapkan. Bahkan, mie instan juga sudah banyak yang menggunakan cup sehingga dapat diseduh kapan saja dan dimana saja. Namun, ada yang perlu Anda waspadai dari mie instan. Jangan sampai hobi makan spaghetti Asia ini membawa penyakit ke tubuh Anda. Apa saja bahayanya? Yuk, kita simak.

Mengandung Lilin

Sejak dahulu, mie instan memang kerap mendapat tuduhan yang tidak menyenangkan. Mulai dari proses produksi yang menggunakan lilin, hingga menyebabkan perlengketan usus, penyakit hati, dan sebagainya. Bahkan, dengan adanya kabar burung ini banyak orang yang akhirnya tidak berani menggunakan air rebusan mie sebagai kuah alias mengganti kuah dengan air yang baru. Benarkah mie instan mengandung lilin?

Anda tentu tahu mie basah. Mie yang baru dibuat ini bersifat kenyal dan sedikit elastis. Masalahnya, mie basah tidak tahan lama. Rasa mie basah juga mudah berubah dan tidak lagi dapat dikonsumsi jika telah dibiarkan berhari-hari tanpa dimasukkan ke dalam kulkas. Untuk mengakalinya, produsen mie instan ‘mengawetkan’ mie dan mencegah mie melekat satu sama lain dengan cara menggoreng atau mengeringkannya bersama minyak jagung.

Tidak heran jika air rebusan mie tampak sedikit berminyak. Inilah yang menyebabkan mie instan diduga mengandung lilin. Kenyataannya hal tersebut memang benar, tetapi lilin yang digunakan adalah lilin yang dapat dimakan (edible wax).

Sebenarnya, yang menimbulkan kekuatiran bukanlah keberadaan lilin tersebut. Proses pembuatan mie dapat menghasilkan lemak jenuh yang berbahaya bagi kesehatan angka panjang. Untuk mencegahnya, mie harus diproses pada suhu yang tepat. Selain itu, minyak yang digunakan untuk menggoreng juga harus diganti sesering mungkin. Sama halnya saat kita memasak di rumah, proses memasak dengan suhu yang terlalu panas dan menggunakan minyak yang sama berulang kali dapat membuat struktur minyak berubah. Akibatnya, minyak sayur yang sebenarnya sehat, berubah menjadi lemak jenuh yang dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah.

Antara Mie Instan, Hipertensi dan Kegemukan

Meski jenis lilin yang melapisi mie instan adalah lilin yang dapat dimakan, bukan berarti Anda boleh makan mie instan dengan leluasa. Rupanya, ada beberapa fakta penting lainnya yang perlu Anda ketahui sebagai konsumen pintar. Salah satunya adalah konsumsi mie instan lebih dari dua kali per minggu dapat menyebabkan hipertensi dan obesitas beserta komplikasinya, terutama pada kaum wanita.

Kandungan natrium pada mie instan sangat tinggi, yaitu rata-rata mencapai 800 mg. Ini karena mie instan mengandung zat tambahan makanan yang mengandung natrium. Padahal, asupan maksimal natrium per hari hanya 2.400 mg. Konsumsi natrium berlebih dapat mencetuskan terjadinya hipertensi dan berbagai komplikasi seperti serangan jantung, stroke, gagal ginjal, dan lain sebagainya.

Selain natrium, mie juga mengandung kadar karbohidrat yang tinggi. Konsumsi mie instan yang sering dan berlebihan dapat dengan cepat menaikkan angka timbangan Anda. Karena kebiasaan orang Indonesia makan kalau belum ketemu nasi. Apalagi, makanan berat yang dianggap camilan ini rendah serat dan vitamin. Ditambah lagi, konsumsi mie instan diduga dapat mengganggu dan memperlambat absorbsi zat-zat makanan yang baik untuk tubuh. Akibatnya, orang yang hobi makan mie instan dapat mengalami obesitas dan berbagai komplikasinya, termasuk meningkatkan risiko terjadinya diabetes mellitus.

Banyak Pengawet dan Bahan Tambahan Makanan

Tak bisa disangkal, rasa gurih mie instan berasal dari kandungan monosodium glutamat (MSG). Penting untuk diketahui, MSG dapat menimbulkan reaksi alergi berupa rasa seperti terbakar, nyeria atau kemerahan di dada dan wajah, serta sakit kepala.

Mie instan juga mengandung humektan, yaitu zat yang membantu menjaga agar mie tidak kering. Zat yang disebut propylene glycol ini dapat diserap oleh tubuh dan menumpuk di hati, jantung, dan ginjal. Lambat laun, penumpukan tersebut dapat menimbulkan penyakit, kerusakan organ, hingga penurunan kekebalan tubuh terhadap penyakit.

Terakhir, ada sejumlah zat di dalam mie instan yang dapat menyebabkan terjadinya kanker. Ditambah lagi, mie instan yang disajikan dalam kemasan styrofoam dapat melepaskan sejumlah zat berbahaya jika dipanaskan.

Gurih, mengeyangkan dan murah, daya pikat yang dimiliki mie instan memang luar biasa namun Anda tetap harus mementingkan kesehatan. Jadi lebih bijaklah lagi dalam mengonsumsinya.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: